201 Perempatan

now browsing by category

 

E=MC2 (Part 5)

by Johan Mahardi @jpmahardi

Well, terima kasih sudah menyelamatkanku tadi pagi.“ Profesor bangkit dari duduk dan beranjak meninggalkan pria cina yang masih menyeruput teh dari cangkir porselennya.

“Sekarang keputusan ada di tangan Anda…“ lanjutnya. Sedikit bercak darah tampak di kerah baju dan celananya bagian bawah. Sisa dari peristiwa bunuh diri massal di Stonehenge pagi harinya.

Pria cina meletakkan cangkir di atas meja. Diam. Raut wajahnya yang selalu tenang tampak sedikit tegang. Tak ada pilihan lain baginya, ia harus membebaskan Watson secepat mungkin dan membiarkan mereka pergi.

***

“Namanya Nyi-Ma. Bukan orang Cina, ia berasal dari Tibet.“

Taxi melaju cepat berkelok-kelok di jalan kecil dan lorong-lorong di antara bangunan apartemen. Hanya sekali memasuki jalan besar, lalu kembali menyelusup ke jalan-jalan tikus.

“Ia telah mengikuti kuliah-kuliah dan jurnal ilmiahku selama beberapa tahun terakhir ini. Ia menginginkan hasil penelitianku…” kata-katanya terhenti.

Profesor mengalihkan pandangannya dari jalan dan menoleh ke arahku di kursi belakang. Ia tahu, ia tak pernah bercerita apapun tentang penelitiannya padaku.

“Maafkan aku, my dear Watson,” ia menatapku. “Akan kuceritakan semuanya padamu nanti, I promise.”

Mobil terus bergerak lincah dan mulai memasuki jalan yang lebih besar. Banner dan billboard 2006 Wimbledon Tennis Championships terlihat di sepanjang tepi jalan dan persimpangan. Sopir bernama Tenzin ini tampak begitu serius mengendarai taksinya.

Satu-dua polisi mulai terlihat di beberapa perempatan yang kami lalui. Aku menundukkan wajah, berpura-pura membaca kertas-kertas selebaran yang berserakan di sebelah kursiku. Profesor pun melakukan hal yang sama.

Selebaran-selebaran ini berisi ajakan demonstrasi untuk memprotes peresmian stasiun kereta milik Cina yang akan segera beroperasi di Tibet. Unjuk rasa di depan kedutaan Cina, beberapa hari lagi, disponsori oleh komunitas orang Tibet di Inggris. Tidak mengherankan kalau sopir taxi ini juga pasti berasal dari Tibet.

“Tenzin, tolong kurangi kecepatan. Pelan-pelan saja!“ pinta profesor tiba-tiba.

“Maaf, Tuan. Tapi Tuan Ma meminta saya mengantar Anda secepat mungkin…“

“Lambat saja, Tenzin, please!“

Tenzin tampak ragu, tapi kemudian laju taksi melambat.

Profesor lama membisu, hanya menengok ke kanan dan kiri, memandang ke depan dan sesekali ke belakang. Sesuatu seperti baru ia sadari, kemudian menoleh lagi ke arah Tenzin.

“Belok kanan di perempatan berikutnya, Tenzin!“ pintanya lagi.

“Anda yakin, Tuan? Menuju Piccadilly Circus?…“

Piccadilly Circus, persimpangan paling sibuk di London. Apalagi di musim panas menjelang turnamen Wimbledon, semua turis yang datang menyaksikan tenis akan juga mengunjungi persimpangan itu dan paling tidak berfoto di sekitar air mancurnya. Puluhan polisi akan tersebar di setiap sudut untuk mengurangi aksi copet dan mengatur lalu lintas. Aku memandangi profesor, berusaha membaca apa yang tengah ia pikirkan.

Taksi mengambil lajur paling kanan dan berbelok memasuki ruas jalan yang lebar. Di kanan dan kiri mulai terlihat deretan toko-toko, kafe, restoran, dan pejalan kaki yang padat di trotoar.

***

Genggaman jemari Kapten Bauer sedikit melonggar setelah mengintip ke dalam kamar pasien VIP. Ia memasukkan pistol kembali ke sarungnya sebelum melangkah masuk.

Selain dua orang yang tergeletak di luar kamar, dua orang lagi berseragam hitam meringkuk di lantai. Tempat tidur kosong dan tak lagi rapi sama sekali. Jendela terbuka lebar. Tirai tipisnya berwarna putih bergerak-gerak melambai tertiup angin.

Pria cina itu berdiri di dekat jendela. Beberapa meter di hadapannya, tiga orang berseragam hitam mengarahkan laras pistol tepat ke tubuhnya dari tiga arah yang berbeda.

“Steve?…“

“Ia menghalangi kami menangkap Tuan Watson, Sir,“ jawab salah seorang pria berseragam hitam.

Kapten Bauer diam. Matanya tajam memandangi pria cina. Otot rahangnya menonjol. Raut wajahnya berangsur garang, merah, seperti akan muntab.

“Tuan Ma…“ ucapnya tanpa bergerak dari tempat berdirinya.

“Watson tidak punya arti apa-apa bagi kami. Dan juga bagi Anda…“ lanjutnya.

“Ia tak tahu secuilpun tentang apa yang kita cari.“

Pria cina tak bereaksi. Wajahnya tenang, matanya tetap menatap ramah.

“Tentu profesor itu yang meminta Anda melakukan ini semua, bukan? Beritahu saya dimana profesor berada, Tuan Ma…“

Nyi-Ma tersenyum. Begitu cepat kapten polisi ini berpikir dan menyimpulkan.

***

Lalu lintas cukup padat menuju Piccadilly Circus. Perlu lebih dari lima belas menit untuk mencapai persimpangan lima jalan besar itu. Tenzin terlihat sangat gelisah.

Signboard elektrik raksasa berganti-ganti citra di salah satu sudut. Menarik perhatian, walaupun tak semegah layar-layar LCD dan neon di Tokyo atau Las Vegas. Di sisi yang berlawanan, pejalan kaki menyemut hilir mudik di trotoar dan pelataran terbuka, duduk-duduk dan berfoto di bawah patung cupid Eros yang bertengger di puncak air mancur.

Beberapa kelompok polisi terlihat di sudut-sudut persimpangan. Mereka berkemeja putih, mengenakan vest anti-perluru warna hitam, celana panjang hitam, juga helm tinggi berwarna hitam.

Profesor meminta Tenzin untuk terus jalan melintasi persimpangan. Taksi bergerak perlahan. Sebuah bis double decker berjalan pelan di depan taksi. Sebentar menunggu lampu berubah hijau lalu meneruskan perjalanan. Profesor menutupi bagian bawah wajahnya dengan kertas selebaran. Hanya kepala dan matanya yang tampak bergerak melirik kesana-kemari.

Setelah melewati air mancur dan museum Ripley’s, kini taksi kembali menelusuri ruas jalan dengan deretan toko-toko dan kafe.

“Berhenti di depan sana, Tenzin!“ pinta profesor sambil menunjuk ke sebuah ceruk jalan. Di dekat situ, dua orang polisi tengah berjaga mengawasi para pejalan kaki.

Tenzin menatap profesor, ragu. Profesor mengangguk.

Kedua polisi memandangi taksi kami yang menepi pelan hingga berhenti tepat di depan mereka. Aku berusaha menunduk dalam-dalam.

Sejenak profesor sibuk membereskan kertas-kertas di tangannya, kemudian membuka pintu dan melompat keluar taksi. Mata Tenzin yang sipit terbelalak. Jantungku berdebar. Apa yang akan ia lakukan sekarang? Sebuah atraksi sihir lagi?…

Profesor menyapa dan berbicara cukup lama dengan kedua polisi. Entah apa yang ia bicarakan. Terlihat seperti tengah menanyakan arah jalan, berbincang sangat akrab, bahkan tertawa bersama berkali-kali. Lalu, setelah menyalami kedua polisi ia kembali ke dalam taksi. Gerakannya biasa saja seolah tak ada yang janggal.

“Mereka sepertinya tak tahu-menahu sama sekali tentang kita…“ katanya kemudian.

Ada yang berbeda di wajah professor ketika ia menoleh ke arahku -sinar matanya menyiratkan ada sesuatu yang tak ia mengerti.

“Scotland Yard tidak mencari kita, Watson,“ bisiknya lagi. Kedua matanya menatapku dengan lirikan yang sudah lama kukenal: something is wrong here

Dahiku mengernyit. Aku membalas tatapannya.

Polisi Inggris tidak mencari kita? Mereka tak mengetahui peninggalan-peninggalan sejarah yang rusak itu?…

Lantas, siapa orang-orang berseragam hitam itu?… Dan pria Tibet itu?…

Profesor, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi…

Wajah Kenangan

by Ika @ikavuje

Persimpangan ini lagi, entah sudah keberapa kali kulihat dalam mimpiku. Tempat aku bertemu pria misterius itu. Aku tak akan tertarik bila aku tanpa sengaja memergokinya menyembulkan sayap.

Kuikuti dia, hampir saja teraihku andai tak ada truk besar tiba-tiba melintas. Dia pun menghilang. Aku yakin aku tak salah lihat. Mungkin orang di sekitarku tak memperhatikan. Sebab itulah aku penasaran.

Aku pulang dengan kelelahan, pikiranku terus menuju padanya. Pria tinggi bertubuh kurus, ia sangat mirip almarhum ayahku ketika muda.

Aku mandi dan merebahkan tubuhku. Pukul dua pagi. Besok aku akan ke sana lagi, siapa tahu ia lewat lagi.

Benar, ia ada di sana, menungguku. Menggenggam tanganku. Menyembulkan sayapnya, tersenyum sederhana. Setelahnya aku tidur sangat lelap. Tersenyum gelap.

Reuni

By Bunga S. Putri @bunga_sp

“Sempurna!”

Aku tersenyum lebar memandangi diriku dicermin. Tampan, aku membatin. Hari ini teman-temanku semasa SMA mengadakan acara temu kangen di kediaman Rina, sang ketua kelas.

Jalan Matahari 2 No 10. Aku mengingat-ingat alamat itu sambil juga mengingat kembali kata-kata Rina seputar tempat-tempat yang dilewati menuju rumahnya. Aku bergegas meraih kunci mobil dan melangkah riang ke garasi. Tidak boleh telat, ini acara penting.

***

Laju mobilku terhenti di sebuah perempatan jalan dalam satu komplek perumahan yang tidak terlalu ramai. Aku mengingat-ingat perkataan rina, setelah bertemu perempatan belok kanan atau kiri ya. Hmm aku lupa! Tidak terlihat orang setempat lalu lalang. Dan baru kusadari ponselku tertinggal. Huuf! Aku menghela napas dalam-dalam. Baiklah aku kekanan saja, kalau salah tinggal putar balik, toh rumah Rina tidak jauh dari perempatan ini, pikirku. Aku mengemudikan mobilku sepelan mungkin sambil melihat-lihat rumah demi rumah.

Seorang laki-laki terlihat ada di depan rumah yang kulewati. Kuperhatikan sejenak. Rinto! Ya Rinto! Teman sekolahku, pasti ini rumah Rina, pikirku. Aku segera memarkir mobil dan bergegas menghampirinya.

“Hey Rin! Inget gw gak?” Aku menepuk pundaknya.

“Anas! Hey nas, mau kerumah Rina juga kan? Yuk bareng kebetulan rumah Rina gak jauh dari sini, gw udah lama tetanggaan sama dia.” Aku terdiam. Ini berarti bukan rumah Rina. Tapi tak apalah, toh Rinto juga akan kesana.

“Oh ya, masuk sebentar yuk Nas, gw kenalin sama anak dan istri gw.” Aku mengikuti Rinto dari belakang.

“Maaa.. Mamaaa..” Rinto memanggil-manggil istrinya.

“Kok belum jalan sih pa, katanya mau reunian.” Terdengar suara pelan dari dalam kamar.

Seorang wanita cantik keluar dari kamar. Aku melotot. Itu istriku. Pramugari, 3 hari lalu ia izin tugas terbang ke Kalimantan.

Namanya Maria

by Isyia Ulfa @IsyiaAyu

Aku melihatnya di taman setiap hari. Di bangku yang sama, di bawah pohon Akasia yang dikelilingi bunga-bunga Asoka. Perempuan dengan rambut sebahunya yang tertiup angin. Senyuman selalu menghiasi wajahnya yang tampak polos, meski kadang aku tak mengerti apa arti senyuman itu. Tatapannya lurus ke depan, ke arah perempatan jalan satu-satunya di komplek ini. Kadang matanya mengerjap jenaka, tapi tak jarang terlihat kosong. Aku tak pernah melihatnya bicara dengan siapapun. Dia selalu sendirian. Bila ada yang menyapa, dia hanya akan tersenyum atau melambai. Dia datang setiap hari, ketika jam besar dekat taman berdentang tiga kali, lalu pergi setelah senja meninabobokan matahari dengan sempurna bersama seorang anak laki-laki yang menjemputnya. Dan aku sudah melihatnya selama dua bulan terakhir, tepatnya ketika aku mulai tinggal di komplek ini. Entah dimana dia tinggal, aku sendiri tidak tahu. Yang kuketahui cuma satu. Namanya Maria.

***

Perempuan itu tersenyum bahagia. Kekasihnya yang ada di luar kota baru saja melamarnya. Dia akan datang malam ini bersama keluarganya. Semua teman-temannya mengucapkan selamat. Maklum, sudah tiga tahun mereka berpacaran. Meskipun setahun terakhir mereka menjalani pacaran jarak jauh karena kekasihnya itu ditugaskan keluar kota, sama sekali tidak membuat hubungan mereka menjadi renggang.

“Jangan tersenyum terus Maria, nanti bibirmu itu tidak bisa kembali seperti semula,” goda ibunya sore itu.

“Ah, ibu bisa saja.” Maria tampak tersipu malu. “Leon bilang aku harus menunggunya di sana,” katanya sambil menunjuk perempatan jalan yang ada di depan rumah. “Sebentar lagi mereka akan segera tiba.” Lanjutnya lagi sambil membawa buah-buahan yang sudah disiapkannya sejak tadi ke ruang tamu.

Belum juga Maria melangkahkan kakinya ke ruang tamu, adik laki-lakinya datang dengan tergesa. Wajahnya tampak pucat. Maria langsung pingsan setelah mendengar apa yang dikatakan adiknya.

Tidak ada pernikahan di rumah Maria. Mobil yang dikendarai kekasihnya mengalami kecelakaan tidak jauh dari gerbang komplek. Semua penumpang tewas seketika. “Aku akan menunggunya di perempatan,” kata Maria ketika sadar dari pingsannya. Setelah itu dia tidak pernah lagi bicara.

Beda Dunia

by Dewi Mutiara @dewimutiaraa

Rumahku berada di perempatan jalan.

Rumah itu bernuansa Bali.

Dari lantai dua, aku melihat anak laki-laki, mungkin sebaya denganku.

Dia mengamati pohon mangga di halamanku.

Tiba-tiba saja dia menaiki pagar dan mencuri mangga, ia tersenyum puas.

Ternyata bukan hanya mangga yang tercuri, hatiku pun juga.

Langsung kuputuskan mengikutinya sambil memegang tangannya.

***
Warga menyebutnya “Perempatan Bali”, mungkin karena ada rumah besar berornamen Bali di perempatan itu.

Rumah itu terbakar setahun lalu, menewaskan putri tunggal pemilik rumah.

Hari ini saat melewatinya, aku merasa diawasi.

Tapi itu tidak melunturkan niatku untuk mengambil mangga.

Tanpa berpikir, kupanjat pagar dan mengambil mangganya.

Semenjak itu tangan kananku sulit digerakkan, mungkin salah urat saat memanjat, tapi entahlah.

Perempatan Anatomi

by Hajral Sofi @HajralSofi

Dalam perempatan sunyi ini, aku mendesah. Bergeliat di atas empat bidang dada kekar lelaki dewasaku. Menjilat-jilat, lantas menghisap lantaran menggila bersama amukan setan dalam jiwaku yang mendera. Entahlah.

Perempatan sunyi ini, yang ku-setting sempurna dalam imajinasi liarku. Melebur, menyatukan dosa kelima cucu Adam. Aku mendesah puas. Nikmat. Sedapku memuncak melalui empat jalur kenikmatan yang mereka pilih sendiri. Mulut, lubang anus, lubang liang molekku yang kerap menganga. Walau yang satu ini tidak dapat dikatakan sebagai lubang, namun aku bersikeras menyebutnya sebagai lubang pula: di antara dua gundukan bukit kembarku yang ranum.

Perempatan sunyi dalam anatomi seorang janda peranakan tiga. Empat bibir birahi menyusu putingku. Setelah puas menjajah perempatan anatomiku.

Aku sadrah. Menyerah.