213 Toro-Poligami dengan 2 anak

now browsing by category

 

Boneka Mas Toro

By Vira Sukma @sukmavira

Aku, pada akhirnya, ikhlas berbagi atap dengan istri muda suamiku. Setidaknya itu yang kurasakan tiga tahun terakhir semenjak Mas Toro memutuskan untuk berpoligami.

Aku tidak pernah setuju dengan keinginan suamiku itu. Selain karena aku terlalu mencintainya, kami  memiliki anak perempuan usia empat tahun yang sedang sangat membutuhkan kasih sayang ayahnya.

Mas Toro bersikeras memiliki istri baru. Sedangkan aku sempat mengancamnya untuk menceraikanku saja jika ia tetap ingin memperistri wanita yang katanya lebih muda lima tahun dariku itu. Ia pun menikah siri tanpa sepengetahuanku.

Ia membawa istri mudanya di hari ia mengakui perbuatannya. Kami kemudian diperkenalkan. Aku terkejut bukan main. Aku menjabat tangan dan mencium pipi istri baru suamiku yang berupa plastik.

Kelabu

By Dalias Lisdiarum @daliaslisdia

Beranda ini kelabu, sejak hari itu. Kedua anakku tersedu di sampingku, dadaku sesak, seperti dipalu. Dulu kami kompak, seperti serdadu. Kini kami masih sebuah keluarga. Masih bersama, menunggu suamiku pulang dari bekerja. Di beranda ini. Tapi tak pernah sama lagi.

**

“Aku sangat mencintaimu, Toro.”

“Aku tau. Dan aku pun begitu, Mina. Masih mencintaimu”

“Bahkan setelah dua kali kamu menikah lagi.”

“Kamu tau alasanku. Tidak ada yang mau menikahi mereka selain aku.”

“Aku tidak keberatan. Aku akan melakukan hal yang sama jika aku jadi kamu.”

**

Kedua putriku yang kembar siam segera menyambut Toro. Aku tersenyum dari beranda. Meredam kesedihan. Bagaimanapun Toro adalah pahlawan keluarga. Hanya dia yang mau menikahi kedua anak kami.

Aku Pilih Kamu!

By Petronella Putri @petronellaLau

Mereka berdua sama-sama jelita, menawan, dan telah memberiku satu orang anak. Aku tidak bisa memilih salah satu, tapi aku juga tidak sanggup jika harus menyaksikan pertengkaran mereka setiap waktu. Mereka tidak akur, selalu membesarkan masalah. Aku merasa tidak sanggup adil lagi pada kedua istriku itu. Keterlaluan.

Jadi kuputuskan untuk berbicara empat mata dengan mereka berdua, “Apa kalian bahagia menjadi istriku?”

Istri pertama mengangguk, “Ya, aku selalu bahagia asal bersamamu, Mas.”

Istri kedua menyetujui, “Aku juga bahagia, selama kamu tidak melupakan kewajibanmu. Selama anakku bisa sekolah di sekolah bagus dan kebutuhanku tetap terpenuhi,” sahutnya yakin.

Sekarang jelas, “Aku jatuh bangkrut dan harus menceraikan salah satu dari kalian.” Aku beralasan sedikit, selesai perkara.

Mertua Ikut Campur

by Diana Siti Khadijah @andiana

Marni berusaha menahan airmata yang menggenang. Keguguran untuk yang ketiga kalinya tentu menyakitkan. Ia sedih mengingat ucapan pedas Bu Asih, mertua suaminya.

Ya, Marni adalah istri kedua. Istri pertama Mas Imron bernama Endang.

Baru tadi sore…

“Sudah Ibu bilang, Imron! Kamu tak usah menikah lagi! Perempuan tua dan jelek ini pun tak bisa memberikan keturunan. Apa yang kaucari? Seks? Tidakkah Endang cukup bagimu? Kamu gak kasihan pada Rafa dan Fitri? Mereka berdua lebih butuh perhatianmu ketimbang perempuan ini!”

“Bu, sudahlah,” Endang berusaha menenangkan.

“Kamu juga! Bukannya ngelarang suami kawin lagi, malah ngijinin!”

“Bu, saya ikhlas ijinkan Mas Imron menikahi Mbak Marni,” Endang mengingatkan.

“Ceraikan dia!” suara Bu Asih meninggi. Semua terdiam.

FAVORIT

by Aditya Nugraha @commaditya

“Kira-kira Papa lebih sayang siapa ya, Kak?”
“Iya ya? Bunda memang jago masak, tapi Mamah kan lebih muda; cantik.”
Kutinggalkan percakapan anak-anakku. Mereka tidak tahu siapa yang mendengarkan di balik pintu.

Who do you love, dear?
Tulisan tangan Joane memang klasik, di daerah putih fotoku; tergeletak di meja kerjanya.
Kubelai rambutnya yang terhampar di punggung kursi, tempat lelahnya tertidur.
Kau terlalu banyak berpikir, Jo.” Batinku.

“Siapa sebenarnya yang paling kamu cinta diantara kami, Buntoro?” Tanya Jenny kepada laki-laki yang diapitnya bersama seorang wanita yang lebih muda darinya. Foto keluarga diatas perapian ruang tamu ini, belum lama kami buat.

Seminggu ini keluargaku, lebih sering menanyakan siapa yang paling kucintai daripada mencari mayatku.

Ayahku Poligami

by Lia Sirait @echieLIA

Para mahasiswi itu terus penasaran tentang Namira, dosen mereka yang baru saja melahirkan dan akan mereka jenguk.

“Walau ini selentingan, tapi apa benar istri pertama suami Bu Namira itu mau hidup serumah dan berbagi dengan istri muda suaminya?” Ita terus bergumam tanpa menyadari teman-temannya sudah berhenti melangkah.

Ria mencium tangan ibunya ketika bertemu di lobby rumah sakit, setelah itu memperkenalkannya pada teman-temannya, Dhea, Dita, Dira, dan Ita.

Ria dan teman-temannya pun sudah menjenguk dosen mereka, yang baru melahirkan bayi lelaki yang diberi nama Choki Titala.

Suara Ria memecah kesunyian di koridor rumah sakit. “Wajar saja nama belakang anak itu sama denganku. Ayahku Toro Titala, ayah anak itu. Suami dari Bu Namira.”

Sabar Sebentar…

by Inne @susterinne

“Ceraikan istri pertamamu!!!” Istri mudaku memarahiku dan melempar beberapa piring.

Aku hanya duduk di bangku reyot itu sembari menghisap sebatang rokok.

“Aku masih butuh istri pertamaku,” lugasku pada Mia.

Mia meremas-remas daster batiknya yang sudah kumal.

“Kapan aku jadi yang pertama?”

“Sebentar lagi, Dek. Sabar sedikit.”

“Sabar! Sabar! Berapa tahun aku disuruh sabar?” bentak Mia.

Kedua anaknya yang sedang di dalam kamar mencuri dengar, meski tak satu ibu, mereka begitu akur.

Toro sangat sayang mereka, apapun diberikannya untuk Dian dan Nia, anaknya.

Ada suara samar dari pengeras suara masjid kampung sebelah.

“Innalillahi wa inna illaihi rojiun, telah meninggal dunia Ibu Eti.”

Wajah Mia sumringah, ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Toro.

Maafkan Aku Rina

by Ben Nazwar @benjalang

“Jadi siapa yang kelak menjadi temanku, Pa?” Istriku Rina berusaha tegar menanggapi niatku.

**

“Selamat Pak Toro, Anda akan segera menjadi Bapak.” Kugenggami tangan Winda. Aku benar-benar bahagia.

**

Makan malam kali ini begitu hangat, tampak kebahagiaan di wajah Winda. Sementara Rina seperti biasanya selalu manis, meski kutahu ia berusaha menutupi kegetirannya, saat kami membicarakan kehamilan Winda.

**

“Pak Toro, sepertinya kandungan istri Anda bermasalah, ia seperti mengalami depresi.” Aku menatap tajam ke arah Rina.

**

Rina pun pergi setelah memenuhi keinginanku, menjadi seorang ayah. Pada hari ini aku merasakan kedatangan dan kehilangan sekaligus. Aku mendapatkan sepasang buah hati dari Winda dan Rina, serta kehilangan seorang belahan jiwaku.

“Aku berjanji, akan membesarkan putri kita, Sayang”.

Kamar 111

by Momo DM @mazmocool

Sosok kekar berlari dalam temaram lorong hotel. Toro. Berhenti di kamar terakhir ujung lorong. Kamar 111. Sekali hentak, pintu kamar pun terbuka. Toro merangsek masuk.

Dua bayang raga tengah bergumul di atas ranjang, saling tindih. Kaki-kaki mulus beradu badan, tangan lentik saling menyentuh wajah.

“Hentikan!” teriakan sosok itu memecah keheningan.

“Ah… ah…”

Kedua sosok di ranjang itu terus merintih. Tak pedulikan teriakan Toro.

Toro berlari mendekat dan menarik paksa sosok gemuk, Winda, yang menindih sosok kurus, Sinta. Winda terguling dari ranjang. Tak mau menyerah, Winda hendak kembali menyerang. Toro segera menarik keluar Sinta yang tergeletak tak berdaya di ranjang. Menyelematkannya dari amukan Winda, istri pertamanya yang terduduk bersama tangisan kedua anaknya.

Sama Seperti Ayahnya

by Rinto @rinto_114

Pandangan saya nanar. Hati saya bimbang. Jantung berdegup tak berirama. Anak satu-satunya, masih tersedu-sedu menangis di pangkuan saya. Toro, baru saja mengaku bersalah, memiliki istri muda. Tanpa izin saya, ibunya, bahkan tanpa sepengetahuan istrinya.

Air mata Toro membasahi pakaian saya, tapi tak menggerakkan tangan saya untuk mengusap rambutnya yang lebat, seperti rambut ayahnya.

“Mana cucuku?” tanya saya, datar.

“Sama ibunya,” jawab Toro, masih menyembunyikan mukanya dalam pangkuan saya.

Kenangan lama melintas di pikiran saya. Toro anak saya satu-satunya, nyaris tak mengenal ayahnya. Saat ia berusia dua tahun, saya mengusir ayahnya karena ketahuan punya istri muda. Apakah saat ini saya punya nyali mengusir anak sendiri?

Toro masih terisak.  Saya masih belum bergerak.