215 Mbah Tardjo-83-Veteran Perang

now browsing by category

 

Parman, Sembunyi Sekarang!

By Novita Poerwanto @LVCBV

“Lalu, Mbah, apa yang terjadi setelah itu? Apa yang mereka lakukan pada Mbah di dalam gudang mesiu tadi?”

Mbah Tarjo menggeser duduknya sedikit ke kanan. Membetulkan letak bantal pada punggungnya. Mengambil kaca mata yang gagangnya tanpa ampun dikelupas jaman, lalu mengenakannya pada matanya yang rabun.

“Parman, kenapa kamu ada di sini? Cepat sembunyi! Aku bisa mendengar langkah mereka dari tempatku meringkuk”

“Tapi, Mbah, aku Abi…”

“Tidak ada waktu lagi Parman, sekarang!”

Seorang wanita berkerudung jambon memasuki kamar. Meletakkan gelas air hangat dan obat-obatan di samping ranjang Mbah Tarjo.  Pelan didekatinya anak lelaki yang sebentar lagi remaja itu. Mengacak-acak lembut rambutnya. “Walau Mbah nggak ingat, bukan berarti Mbah nggak sayang kamu, Nak”

Harapan Kakek

By Petronella Putri @petronellaLau

Hari ini aku kembali bercengkrama dengan kakek tua itu. Namanya Mbah Tarjo. Ia masih tampak bersemangat di usianya yang ke-83.

“Dulu saya sering ikut perang, bersama teman-teman lainnya. Kami semua menaruh harapan besar pada bangsa ini.” Ia membuka percakapan pagi itu.

Aku tersenyum ramah, “Sekarang harapan Mbah sudah tercapai, kita sudah lama merdeka. Sekarang kia bisa mengibarkan bendera negara sendiri di tanah kita.”

“Belum!” Dia menggeleng tegas. “Negara ini belum sesuai harapan saya dan teman-teman saya. Masih penuh kepura-puraan. Tidak ada kejujuran yang sempurna.” Serunya kecewa.

Diam-diam membenarkan ucapannya barusan.

Mbah Tarjo, dia penghuni tertua di panti jompo ini. Tapi kadang ucapan para lansia bisa lebih jujur dari mereka yang muda.

Kakek di Kebun Belakang

By Pramoeaga @pramoeaga

Namanya Mbah Tarjo, aku mengenalnya sebagai sosok kakek yang ramah. Usianya sekitar 80-an, tapi ia masih tampak bersemangat. Bisa kulihat dari tatapan mata tuanya. Aku tahu beliau adalah veteran perang dari obrolan pertama kami. Semangat Mbah Tarjo ketika menceritakan masa mudanya sangat berapi-api. Terlihat sekali ia bangga dengan keberaniannya, juga teman-temannya untuk berjuang melawan penjajah.

Sesekali Mbah Tarjo menerawang jauh. Sambil terkekeh, beliau bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan istri. Mereka bertemu di tenda perawat, ketika beliau mengantarkan teman yang terluka.

Kemudian wajah pucatnya berubah tegas saat beliau menunjukkan sesuatu di punggung. Ada lima luka tembak yang masih tampak baru. Aku mencium bau anyir, disusul kuduk yang meregang. Lalu semuanya menjadi gelap.

Aku, Tardjo, 83, Sang Veteran Perang

By Fikri Abror @quickmimikri

Usiaku boleh saja sudah senja, tapi semangat itu akan selalu membara, sama seperti saat-saat aku berjuang membela kewibawaan negeri ini ketika dijajah dulu.

Senyum yang tersungging dari bibirku yang sudah dipenuhi keriput benar-benar bisa kurasakan kenikmatannya. Bebas, lepas,  dan jauh dari rasa was-was.

Kalau menoleh ke belakang, sungguh hari ini adalah sebuah berkah yang tidak ternilai harganya. Betapa kehadiran hari ini seperti suatu hal yang mustahil. Tapi Tuhan berkehendak lain, di umurku yang sudah kepala delapan, aku bisa menyaksikan anak cucuku tumbuh dan berkembang dalam perdamaian, tanpa terdengar suara dentuman meriam ataupun letupan senapan.

Terkenang di ingatan, “Kawan, perjuangan kita di medan gerilya bukanlah untuk kita. Biarlah generasi mendatang hidup merdeka.”

Cerita Dua Generasi

by Diana Siti Khadijah @andiana

“Jadi, dulu Eyang perangnya pake bambu runcing? Hebat dong! Penjahat itu semua kalah sama Eyang, ya?” mata Vano bersinar. Eyang Guntur terkekeh.

“Tapi Eyang juga pernah dipenjara,” ujar Eyang Guntur menatap penuh sayang cucunya.

“Kenapa? Emangnya Eyang salah apa? Mereka yang salah, kan?” tetiba Vano sedikit emosi. Ia berlagak memegang mainan pistol dan bersiap menghadang penjajah.

“Gak bisa gitu, Eyang. Masa pahlawan dipenjara?” Vano tetap ngotot.

“Saat itu keadaannya kan berbeda dengan sekarang, Vano. Mereka yang punya kuasa. Senjata mereka juga lebih lengkap,” jawab Eyang.

“Huh, untunglah mereka kalah!” seketika Vano memeluk Eyangnya penuh sayang.

“Jagalah semangat kemerdekaan itu dengan belajar yang benar ya?” nasihat Eyang bijak.

“Siap!” Vano memberi hormat.

Surat Mbah Tardjo

by Ryan Pradana @rya4nn_

Sehari setelah nenek meninggal, aku membersihkan kamar yang penuh kenangan manis itu. Tak sengaja kutemukan sepucuk surat yang disimpan di bawah tumpukan pakaian di lemari. Surat untuk nenek. Aku duduk lalu membacanya.

Sayangku..
Sekian lama aku mengenalmu. Sekian lama pula aku menyayangimu. Mencintaimu. Memimpikanmu. Sekian lama aku merasakan hangatnya cintamu. Sekian lama kurasakan eratnya pelukmu. Sekian lama pula kurasakan cintamu yang menggebu.
Umurku sudah memasuki tahun yang ke-83. Mungkin tak lama lagi aku harus pergi meninggalkanmu. Aku hanya ingin kamu ingat bahwa di manapun aku berada, berapapun jauhnya jarak kita, cinta kita tak akan pernah luntur.
Aku sayang kamu, Djinah..
Dari Tardjo.

Selesai membacanya, aku terhenyak. Nama kakekku kan bukan Tardjo!

Suara Apa Itu?

by Bintang Pradipta @bbintangb

“Dorrr! Siiiiiiing… DUARRRR!!!”

Di kamar sebelah…

“Suara apa itu?”

“Seperti biasa.”

“Aku baru sekali ke rumahmu.”

“Itu suara Mbah.”

“Kenapa Mbahmu?”

“Dia memang selalu begitu.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Suara peluru dan meriam itu, kamu pikir dia dapat dari mana?”

“Kamu pernah cerita dia mantan veteran. Itu?”

“Ya.”

“Lantas?”

“Hubungkan dengan nasi aking dan garam yang sedang kita makan.”

“Ah… erggghh! Ah…”

Di kamar sebelah…

“Suara apa itu?”

“Seperti biasa.”

“Baru dua kali aku ke rumahmu.”

“Itu suara Mbah.”

“Kenapa Mbahmu?”

“Dia memang selalu begitu.”

“Aku masih belum mengerti.”

“Suara desahan dan erangan itu, kamu pikir dia dapat dari mana?”

“Dari persetubuhan. Itu?”

“Ya.”

“Lantas?”

“Hubungkan dengan adik perempuanku yang hilang.”

Tanjungpinang, 5 Juni 2011

19.23 WaktuIndonesiaBebas

untuk Andi Anugerah

Bintang Jasa

by Ade Yusuf @sibangor

Tubuhnya kurus kering. Wajahnya cekung dengan tulang pipi yang menonjol, terbalut kulit keriput. Mbah Tarjo,  usia 84 tahun, berbaring lemah di tempat tidur.

Dengan nafas tersengal ia memaksa untuk berbicara. Walau sang cucu yang menemani berusaha mencegahnya.

“Panggilkan Temon.”

“Temon cucunya simbah Juju?”

“Ya… Sekarang… Waktuku tak banyak lagi.”

**

“Tardjo.. Awaas!!”

Bedjo melompat memeloek Tardjo jang sedang berdjongkok ketakoetan.

Duaaarrr!!

Seboeah bom meledak di samping mereka. Toeboeh Bedjo jang mendjadi tameng Tardjo, hancoer terkena serpihan bom.

“Djo.. Segera bawa dokumen ini ke markas…”

**

Matanya berair

“Kakekmu yang pantas dapat ini. Bukan aku.”

Mbah Tarjo menyerahkan sebuah bintang  jasa pada Temon, lalu terlelap.

Tak ada lagi suara mengigau,

“Aku pengecut.”

Mbah Tardjoku

By Bunga S. Putri @bunga_sp

Mbah Tardjo yang renta dengan pakaian dinas berwarna hijau mengayuh sepedanya menuju persimpangan jalan di mana sebuah rel terbentang. Tanpa palang. Tanpa sirine. Hanya peluit mbah Tardjo dan sebatang bambu.

Dari kejauhan aku melihatnya duduk di kursi reot tempatnya melepas lelah kala tak ada kereta yang lewat sambil mengipas-ngipas dengan topinya. Hari ini memang panas sekali.

Aku mendekat. Duduk di sebelahnya. Ia tersenyum seperti biasa.

“Panas banget ya, Mbah?”

“Udah biasa, Non. Hehehe.” Tawanya begitu khas.

“Bang, cendol dua ya.” Kebetulan ada penjual es yang lewat.

“Makasih, Non.” Mbah Tardjo riang meneguk esnya.

***

Aku ingin selalu di dekatnya. Satu-satunya keluargaku yang masih hidup sejak bencana menimpa desa kami. Meski pikun menderanya.

111 Warna

by Momo DM @mazmocool

Sore yang pucat saat seorang anak berdialog dengan kakeknya.

“Apa ini Mbah?”

“Ini adalah bendera saksi perjuangan. Tetap Mbah simpan, sampai sekarang usia Mbah 83 tahun.”

“Kok tidak merah, Mbah?”

“Cucuku, seusang apapun, warna merah pada bendera kita itu tetap merah.”

“Kita ganti yang baru ya, Mbah?”

“Tidak usah. Yang penting maknanya. Tidak ada yang bisa menggantikan bendera ini, dengan warna yang lebih indah sekalipun.”

“Kita pasang di luar ya. Biar semua tahu kalau Mbah seorang pejuang hebat.”

“Tidak usah. Kehebatan tidak perlu dipamerkan.”

“Kalau tidak begitu, bagaimana negara bisa tahu kalau Mbah itu seorang veteran perang?”

“Tidak perlu. Bisa melihat bendera merah putih tetap berkibar dan dihormati saja, Mbah bahagia.”