215 Mbah Tardjo-83-Veteran Perang
now browsing by category
Lebih Dari Penjajah
by Ben Nazwar @benjalang
“Permisi Mbah, sepertinya Si Mbok harus segera dipindahkan”.
“Memangnya kenapa harus dipindah ya, Pak?” Mbah Tardjo bertanya dengan
reaksi penuh rasa heran.
“Terpaksa Mbah, pemakaman ini akan segera digusur. Pemerintah
berencana mengembangkan daerah ini. Jadi makam ini harus segera direlokasi.”
*****
“Jadi ini balasan kalian?” Dalam usia 83 tahun, masih tampak
keberanian seorang prajurit dalam diri Mbah Tardjo. Ia berdiri paling
depan, menghadang petugas yang akan mengeksekusi makam.
“Dulu kami berjuang, berperang pertaruhkan nyawa untuk mengusir
penjajah! Demi kemerdekaan negara ini! Sekarang, setelah kalian
menikmati semua, kalian bahkan tidak memberikan kami sebidang tanah
saja untuk berkubur. Sesungguhnya kalian itu lebih bengis dari
penjajah!!”
Percuma, alat-alat berat itu tak punya hati dan perasaan.
Mampir di Desa Kenangan
by Vira Cla @veecla
“Mbah, kami sudah siap!” teriak Anto.
“Iya, iya, sebentar. Mbah ambil tempat dulu,” balas seorang kakek tua berpeci kuning yang biasa dipanggil Mbah Tardjo.
Ia duduk bersandar pada pohon rindang. Beberapa anak kecil duduk berhadapan dengan Mbah Tardjo. Ini kedua kalinya mereka berkumpul, duduk di hamparan rumput. Mbah Tardjo kemudian memulai kisahnya, tentang perang gerilya melawan penjajah yang dilewatinya di desa itu. Anak-anak mendengar Mbah Tardjo dengan takjub. Mbah Tardjo bercerita dengan dramatis tentang masa lalunya di desa penuh kenangan.
**
Malam saat Anto mengerjakan tugas sekolah, ibunya bicara tentang Mbah Tardjo.
“Mbah Tardjo dari desa seberang meninggal tadi sore setelah koma dua hari. Besok kamu mau ikut melayat sama ibu, Nak?”
Kubunuh Mereka
by Te@embunbeningpagi
Mbah Tardjo yang tinggal di kampung sebelah itu seorang veteran perang. Mengingat usia Beliau 83 tahun pastilah dia ikut berperang pada jaman penjajahan.
Beliau tinggal sendiri. Istrinya sudah lama meninggal sejak jaman penjajahan itu. Hingga kini dia tak menikah lagi tanpa anak . Tak ada yang merawat lagi. Hanya kebaikan seorang Mantri secara rutin mengunjunginya.
Akhir-akhir ini kesehatan Mbah Tardjo menurun. Beliau sekarang lebih sering mengomel panjang. Berbicara sendiri. Sepertinya kesadaran jiwa Mbah Tardjo makin menurun.
Kasihan. Dia pahlawan perang, banyak membunuh musuh.
“Aku membunuh penjajah itu, juga istriku. Bukan orang itu yang hendak memperkosanya, tapi mereka yang berbohong.”
Gosip pun beredar. Mbah Tardjo hampir tak lagi dianggap seorang pahlawan.
Semalam Itu Siapa?
by Imamul Muttaqin @Imamul_
Jam Sembilan malam. Kulihat Mbah Tardjo tengah sendirian di ruang tamu. Pelan kuhampiri dia.
“Kemari, Nak! Tak usah malu-malu”
Sepertinya ia mengetahui kedatanganku.
“Kakek kenapa belum tidur? Kakek kangen nenek?”
“Iya, Nak! Kakek ingin bertemu nenekmu lagi. Dulu, kalau kakek sempat menyelamatkan nenekmu dari bidikan tentara Belanda, mungkin sekarang ia masih hidup,” lanjutnya sambil mengusap kerutan di pipi.
“Ya sudah, jangan sedih terus, Kek. Besok aku antar kakek ke makam nenek ya!”
**
Paginya, saat aku terbangun, kuceritakan kejadian semalam kepada mama. Tapi mama tak percaya.
“Kamu ini bicara apa sih? Dua bulan yang lalu kakekmu sudah pindah ke Panti Jompo, Sayang. Apa kamu lupa?”
“Lalu yang semalam itu siapa, Ma?”
Ngambek
by Rinto A.Navis @Rinto_114
“Mbah Tardjo, dulu ikut perang apa? Perang Padri atau Perang Diponegoro?”
“Hahahahaaa…. Itu tahun 1800-an, cucuku. Mbah belum lahir. Mbah ikut perang tahun 1945 sampai 1950.”
“Lho? Tahun segitu khan kita sudah merdeka?”
“Iya, tapi masih ada pemberontakan di sana-sini. Belanda mau masuk lagi ke sini.”
“Trus, Mbah pegang senjata apa? Bambu runcing ya?”
“Mbah pegang bedil.”
“Kok pegang bedil? Kok gak bambu runcing? Mbah gak keren.”
“Eh, anak kecil tahu apa? Kalau gak ada Mbah, negara ini gak akan merdeka.”
Lalu terdengar suara, “Dito, sini main sama Mama. Si Mbah lagi capek.”
“Capek apa”, gerutuku dalam hati. “Wong dari pagi sampai pagi lagi aku tiduran terus.”
Aku mau mati saja.
Demo Untuk Mbah
by Damay Dante @nongdamay
Rapat koordinasi untuk demo di Hari Pahlawan sudah selesai. Saatnya menyiapkan diri untuk besok, karena aku menjadi koordinator demonya.
Ini harinya, segala aspirasi aku keluarkan melalui orasi selama 30 menit ini. Dilanjutkan oleh aksi teatrikal dari teman-temanku tentang pengorbanan yang telah dilakukan oleh para pahlawan. Tuntutan-tuntutan yang berisikan agar para veteran perang diperhatikan kesejahteraannya pun terus diserukan.
“Ini yang bisa aku lakukan, Mbah. Semoga demo ini berhasil. Aku akan selalu memperjuangkan Mbah,” gumamku sambil teringat wajah Mbah Tardjo.
Mbah Tardjo, usianya mencapai 83 tahun. Dia seorang veteran perang. Dulu dia korbankan jiwa raganya untuk bangsa dan negara. Namun sekarang Mbah Tardjo harus mengumpulkan paku-paku di pohon bekas reklame untuk menyambung hidupnya.
Wasiat
by Isyia Ulfa @isyiaAyu
“Dasar tidak tahu diri! Kalian para penjajah harusnya pergi saja dari sini!” Bambu runcing itu dilemparkannya ke arah kerumunan orang yang disebutnya penjajah itu.
“Sana pergi! Berhenti menyiksa kami! PERGIII…!!!” Para penjajah lari tunggang langgang. Tak ada yang berani mendekatinya lagi. “HIDUP INDONESIA! MERDEKA! MERDEKAAA…!!!!”
**
“Kenapa Al?”
“Biasa, diganggu anak-anak komplek.”
“Lagi?” Alvin mengangguk.
“Harusnya tidak usah dijemput saja. Bukannya malah menyusahkan? Bagaimana kalau yang terjadi malah sebaliknya? Pasti kamu yang disalahkan.”
Alvin diam. Roni benar. Harusnya dibiarkan saja dia di sana. Harusnya begitu. Harusnya…
“Jaga Mbah Tardjo, Vin. Dia sudah tua, sudah 83 tahun. Jemput dia di rumah sakit, rawatlah sendiri. Dia kakekmu satu-satunya.” Kata-kata ibunya tiba-tiba menggema, lagi.
Masih Dijajah
by Inne @susterinne
Seorang kakek berbaju oranye sedang menyapu jalanan di siang yang terik ini. Aku yang sedang duduk di tepian jalan, tergerak untuk menyapanya.
Aku membeli dua botol air mineral dan beberapa gorengan untuk disuguhkan.
“Pak, bisa ngobrol sebentar?” Kakek itu mengangguk dan mengikutiku.
“Wah, bapak masih kuat ya bekerja meski udah tua.”
“Panggil saja Mbah. Kalo Mbah ndak kerja, nanti Mbah kelaparan, Mbah bisa mati”.
Aku meretas senyum lalu menyodorkan air mineral dan gorengan.
Tak terasa dua jam berlalu, aku mengenalnya sebagai Mbah Tardjo, 82 tahun, seorang veteran. Hidup sendirian, tak punya sesiapa.
Sungguh potret negeri yang memilukan, ia belum juga merdeka setelah dijajah lama. Aku malu dengan semangatnya. Apa kamu juga?
Bangun Dari Koma
by Sary Ahd @saryahd
“Hati-hati dengan pasien di ranjang nomor 9,” kata suster kepala kepadaku. Malam ini kali pertama aku bertugas jaga di ruangan ICCU Jantung di rumah sakit tempatku bekerja.
Jam setengah duabelas malam. Semua pasien di sini tidur atau koma. Hanya suara mesin pacu jantung, dengkuran, dan detak jam yang terdengar. Kubuka buku daftar pasien. Nomor 9, Sutardjo, umur 83 tahun. Ada keterangan tambahan tertulis di situ, veteran perang, dengan tinta merah.
Jam duabelas malam. Pasien nomor 9 tiba-tiba bangun dari tidurnya, mencabut selang infus dan kabel-kabel alat pacu jantung di dadanya. Berjalan ala tentara berbaris ke arahku, telanjang bulat. “Merdeka!” katanya dengan lantang.
***
Setiap tengah malam, Mbah Tardjo bangun dari koma.












D5 Creation