216 Adam-18-Tukang Kebun yang Cakep
now browsing by category
Noura
By Petronella Putri @petronellaLau
Sudah genap setahun ia bekerja di rumah ini. Dan setahun ini pula, aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Adam, ia lebih cocok jadi model majalah pria ketimbang tukang kebun. Tubuhnya atletis, senyumnya ramah, selalu berhasil membuatku terbuai. Tentu saja terbuai diam-diam. Jika Mas Baskoro tau aku menaruh hati padanya, aku bisa dengan mudah mendapat talak tiga. Bagi lelaki kaya itu, mencari istri baru segampang membalik telapak tangan, dan sialnya aku menjadi istri keduanya.
Beberapa kali aku pernah mencoba memulai percakapan dengan Adam. Ia menyambut dengan ramah. Hingga suatu pagi, aku memutuskan mengungkap semua padanya, “Aku sayang kamu..”
Dia menggeleng lalu tersenyum tipis, “Tapi aku mencintai Noura” Sial! Itu nama anak tiriku.
Ini #kode
by Diana Siti Khadijah @andiana
“Anto! Itu gulungan selang kenapa masih berantakan?” teriak Vera dari arah dapur.
“Maaf, Bu. Nanti saya bereskan. Ini lagi ngerapiin cemara,” jawab Anto dari kebun belakang.
“Anggrek yang baru saya beli, sekalian ditata ya? Terserah deh di mana.”
“Iya, Bu.”
“Kalau sudah selesai, bantu saya bereskan dapur.”
“Iya, Bu.”
**
“Inah kapan pulang, Bu?” tanya Anto pelan.
“Hm, siapa? Inah? Oh, baru minggu depan. Sekalian ngaji seribu hari neneknya.”
“Bapak kapan pulang, Bu?”
“Harusnya nanti malam, tapi tadi BBM katanya langsung meeting di Paris tiga hari. Kenapa?”
Anto mendekati Vera dan langsung memeluknya dengan penuh hasrat. “Aku merindukanmu. Aku selalu menanti saat seperti ini,” bisiknya.
Vera langsung gemetar. Ia tak menolak.
Pesona Sang Pemuda
by Ryan Pradana @rya4nn_
Adam namanya. Pemuda delapan belas tahun itu baru saja bekerja di rumahku, menggantikan Pak Umar yang telah pensiun. Tubuh Adam yang tinggi dan atletis serta wajahnya yang tampan, tak ayal membuatku jatuh hati. Namun aku langsung mengubur dalam-dalam pikiran itu. Mana mau pemuda setampan itu denganku. Pasti banyak perempuan-perempuan cantik yang menggilainya.
**
Siang itu aku berenang di kolam belakang rumah. Ketika aku beristirahat di pinggir kolam renang, tiba-tiba sepasang lengan yang kekar merengkuhku dari belakang. Tubuhku dibaliknya, bibirku dicumbu tanpa ampun, pantatku diremasmya.
“Kau sangat menggairahkan,” katanya.
“Tapi, kau kan..”
“Sssttt.. Bolehkah kulanjutkan permainan ini? Tak usah takut, kau tak akan hamil.”
Jakunku naik turun. Senyumku mengembang.
“Tentu saja, sayang..” jawabku.
Satu Syarat
By Bunga S. Putri @bunga_sp
“Mulai sekarang kamu sudah tidak bekerja lagi dengan saya, Adam! Pergi!” Suara ibu menggelegar.
***
dua hari sebelumnya
Adam, pemuda tampan dari kampung. Keponakan bi Inah yang bekerja sebagai tukang kebun di kediaman kami. Adam seorang yang rajin. Selain tukang kebun ia juga mengerjakan pekerjaan lain seperti mencuci mobil.
“Den, mobil baru yah.” Tanya Adam pada kakak laki-lakiku, Juno. Sambil terus mengelap mobil ia bersuara;
“Kapan yah Adam bisa keliling Jakarta pake mobil ini.”
“Tentu bisa donk, Dam!” Celetuk Juno.
“Serius, den?” Adam begitu antusias.
“Tapi ada syaratnya!” Juno mendekat berbisik sesuatu.
“O.. Oke!”
***
“JUNOOOO!!!” Ibu berteriak sekencang mungkin. Tanpa sengaja ibu masuk ke kamar Juno, tanpa busana ia tengah berciuman begitu mesra, dengan Adam.
Dan Kini Dia Sangat Membenciku
by Ben Nazwar @benjalang
“Aku mencintaimu, izinkan aku menjadi Ayah bagi anakmu.” Dia hanya diam.
**
Namaku Adam, 18 tahun. Sementara wanita itu adalah Nona, 24 tahun, anak majikan di tempatku bekerja sebagai tukang kebun.
Nona seorang gadis cantik dan sangat baik terhadapku. Semua itu yang membuatku jadi melunjak, tertarik padanya. Bahkan sangat terobsesi untuk memilikinya.
**
“Pasti karena aku cuma seorang tukang kebun?”
“Adam, kamu lelaki baik. Sejujurnya aku juga menaruh hati padamu. Apa kamu tidak menyadari sikapku selama ini terhadapmu?” Matanya berkaca-kaca.
“Seharusnya aku bersyukur, karena kamu mau menikahiku, memikul tanggung jawab pemerkosa bejat itu. Tapi ini tak adil bagimu.” Air matanya meluruh.
Aku bersujud di kakinya, “Akulah pemerkosa bejat itu, ampuni aku”.
Tanda Lahir
by Pramoeaga @pramoeaga
Hari-hariku berubah setelah tak sengaja berpapasan dengan pemuda belasan tahun yang menjadi tukang kebun di rumah Tarunodirja, tetanggaku. Wajah tampan, kulitnya yang merah terbakar, dan badan atletis berbalut singlet itu berhasil memenuhi pikiranku.
Sebagai istri simpanan, malamku lebih sering kesepian. Berbekal basa-basi busuk dua hari lalu, malam ini aku mengundang Adam minum wine di sebuah vila pinggir kota. Tentu saja ini adalah kode. Dan benar, ia menyetujui tanpa banyak syarat.
Dua jam berlalu.
Sembari meneguk gelas ketiga, ia membuka kemejanya. Jantungku berdetak cepat, bukan karena dada bidang telanjang dan perut yang terpahat. Tapi, tanda lahir di dada kiri yang mengingatkanku pada bayi 6 bulan yang kutinggal 18 tahun lalu. Tuhan, diakah…
Pria Beruntung
by Saryahd @saryahd
Dari jendela kamarku di lantai dua, aku bisa puas mengamati dia. Namanya Adam, umurnya 18 tahun. Dia menolongku waktu jatuh dari motor. Karena tidak punya tempat tinggal dan pekerjaan tetap di Jakarta, aku mengajaknya bekerja di rumah sebagai tukang kebun.
Sudah setahun dia bekerja di sini. Tahun ini dia akan mulai kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Ternyata Adam juga pintar. Aku berinisiatif membiayai kuliahnya dengan syarat dia tetap mengurusi tanaman-tanamanku setelah pulang kuliah.
Satu tahun sudah cukup bagiku untuk mengenal Adam. Selain pintar, dia juga baik hati dan jujur. Wajahnya juga tampan. Aku sudah bulat dengan keputusanku, menjodohkan Adam dengan Ranti anak semata wayangku dan mewariskan seluruh kekayaanku kepada mereka berdua.
Suatu Hari di Kebun Belakang
by Kellin Fermosa @phobiaamatikus
“Cintaku padamu selebu samudera, sedalamnya, setinggi angkasa, seluas jagad raya,” ucapku romantik di sela kebersamaan kami yang tengah bercumbu ringan. Di antara semak-semak kebun, peperduan, dipayungi barisan rimbun pohon-pohon akasia yang menyemilirikan segenap kesejukan alami.
“Ah, bisa saja, puitis amat dirimu siang ini! Ngomong-ngomong, bolehkah aku memanggil dengan sebutan “kau”?” sahutnya sembari menggempurku dengan kecupan-kecupan menggelitik yang mengitari jenjang leher mulusku.
“Apa yang tidak untukmu Adamku yang cakep, hebat, walau kau hanyalah tukang kebun 18 tahun, namun ah.. Kau mampu membangkitkan gairah mudaku. Sesuatu yang diidamkan wanita seperti diriku. Apalagi sejak memasuki masa menopause, rindu benar aku dengan cumbuan.”
“Mumpung rumah sepi, majikan pergi!” sahutnya menggoda.
“Dan walaupun aku istri orang!”
Jakarta, 08 Juni 2011. 19:38
Kado untuk tukang kebun keluarga kami yang berulangtahun hari ini: Pak Sutarmin.
Terima kasih atas pengabdiannya.
Senja Ke-111
by Momo DM @mazmocool
Suara mesin pemotong rumput memecah kesunyian senja di sebuah rumah megah.
“Adam!” seru tuannya.
“Iya Pak,” jawab Adam.
Pemuda tampan berusia 18 tahun itu segera masuk.
“Kamu tahu ini apa?” tanya tuannya menyodorkan hasil tes kehamilan.
“Tidak tahu, Pak.”
“Berapa kali kamu berhubungan badan dengan nyonyamu?”
“Tidak pernah, Pak!”
“Tidak usah mengelak! Saya tahu dari pembantu di rumah. Lagipula sudah hampir empat bulan aku tidak pernah menjamahnya, karena aku sibuk mengurus kebun di kampungmu.”
“Maafkan saya, Pak. Itu bukan mau saya.”
“Tidak perlu minta maaf. Justru aku berterima kasih padamu.”
“Lho kok?”
“Iya. Istriku hamil karenamu. Itu artinya aku punya alasan menceraikannya dan bisa segera menikah dengan ibumu di kampung.”
Adam limbung.
Ternyata Benar Kata Orang…
by Isyia Ulfa @isyiaAyu
Aku menatapnya, sekilas, lalu pergi. Airmatanya pasti pura-pura juga, sama seperti cintanya. Ternyata benar kata orang, kadang yang mengkhianati kita adalah orang yang dekat dengan kita. Lalu kuputuskan untuk melupakan bahwa aku punya pacar, juga sahabat.
**
Aku menatapnya, sekilas, lalu pergi. Air matanya pasti pura-pura juga, sama seperti kehamilannya. Ternyata benar kata orang, bila terdesak, dia akan kembali padamu. Lalu kuputuskan untuk berhenti jadi tukang kebun di rumah Pak Prapto, agar tak bertemu dia, sang pembantu, juga kamu, anak majikanku.
**
Aku menatapmu, sekilas, lalu menatap nisan itu. Ternyata benar kata orang, jangan selalu percaya pada apa yang kamu lihat dan kamu dengar. Kadang mereka bisa menipu.
“Adam, anakmu kubawa pergi,” tulisnya.












D5 Creation