217 Lydia-48-Germo
now browsing by category
Om Baik Hati
By Novita Poerwanto @LVCBV
Demi putri semata wayangnya, Lydia berhenti peduli pada omongan orang. Asal Arimbi bisa sekolah, tak kurang makan, dan tidak berakhir seperti dirinya. Itu saja. Kesendirian juga sudah berhenti mengusik, pun menelisiknya. Asal Arimbi tetap berceloteh riang sepagian sebelum berangkat ke sekolah, lalu semalaman sebelum mereka kembali terlelap sembari berangkulan.
Demi putri semata wayangnya, sore ini Lydia setuju dipertemukan dengan om Baik Hati. Demikian Arimbi memanggilnya. Om yang rajin membawakan Arimbi penganan kecil dan sari buah tiap pulang sekolah. Lelaki itu berkumis lebat, bersenyum karamel, berjaket tebal. Familiar. Pelanggan tetap, seorang sado-masokis yang kerap memukuli dan minta dipukuli oleh PSK binaannya di Wisma Rindu. Wisma yang selama ini menghidupi dirinya dan putrinya.
Anak Rumahan
By Petronella Putri @petronellaLau
Beberapa tahun lalu, aku terbelit masalah keuangan dan seorang rentenir menawarkan pinjaman dengan jumlah besar. Namun kini, saat aku terdesak dan meminta tunggakan waktu seminggu, lelaki hidung belang itu meminta Sasha-ku sebagai gantinya. Aku dilema. Sasha adalah putri kesayanganku, aku tidak akan membiarkan keperawanannya hilang sampai ia menikah nanti!
Dan akhirnya hari terkutuk itu tiba. Tak ada suara, hening. Setelah pintu terbuka hanya tampak sesosok mayat tergeletak di kamar Sasha. Sementara Sasha sendiri duduk tenang sambil menyulut rokoknya, “Percuma tinggal di rumah bordil selama 18 tahun kalau tidak belajar licik,” desisnya, “Iya kan, Mami?”
Aku tersenyum penuh arti. Sasha-ku berhasil mempertahankan kesuciannya. Masalah baru, mencarikan makam darurat bagi si laknat itu.
Haruskah Sekarang?
By Pramoeaga @pramoeaga
“Lisa mau berangkat ngaji, kan? Sini, Mama dandanin. Biar cantik.” Aku berusaha membujuk Caca, anak perempuanku yang sedari tadi cemberut. Ia membisu, hanya menggeleng.
“Kenapa, Sayang?”
“Mama jahat!!”
Aku mengernyitkan dahi. Kudekati bocah sepuluh tahun itu.
Memangnya Mama jahat kenapa? Karena Mama belum beliin boneka Dora?” Caca tetap menggeleng tegas. Aku semakin bingung. Tak biasanya Caca bersikap defensif seperti ini.
Tangan mungil itu mengucek-ucek matanya yang tiba-tiba basah. Suara tangis perlahan mulai terdengar.
“Kata teman-teman, mamanya Caca itu orang jahat. Germo. Ga bisa masuk surga.”
Bagai disambar petir siang hari, aku merasa tertampar. Aku tahu keadaan ini pasti akan segera datang. Cepat atau lambat. Tapi jujur, aku belum siap menjelaskannya, Gusti..
Kebahagiaan Sesaat
by Diana Siti Khadijah @andiana
“Mam, ada stok baru datang. Pesanan Mami tempo hari,” bisik Ujang di dapur kantor lantai lima.
“Di mana?” Lisye balik bertanya.
“Di lantai dua. Suruh naik aja?”
“Jangan. Suruh tunggu di kantin belakang yang sepi.”
Ujang mengangguk.
Di kantin, Lisye melihat lima orang gadis muda duduk dengan patuh dan kikuk. “Selamat sore. Yuk, kita lanjutkan perjalanan. Saya tahu kalian lelah. Nanti sekalian makan malam.”
**
Di sebuah rumah mewah. “Bos, stok baru. Semuanya masih orisinil. Udah transfer?” bisik Lisye pada Adam.
“Barusan. Menurut lu mana yang oke?”
“Tuh, yang pakai baju biru. Kamar biasa, kan?”
Adam mengangguk.
**
“Panen!” Lisye menenggak birnya. Tak lama ia tergeletak dan tewas seketika. Serangan jantung.
Mami
by Ryan Pradana @rya4nn_
“Heh! Mana setoran lainnya? Masa’ seharian hanya dapet segini?”
“Iya, Mam. Soalnya pelanggan hanya tiga. Om Darto juga mainnya lama banget, jadi aku tak sempat melayani tamu yang lain.”
“Aaaahh!! Alasan kamu! Sana masuk kamar!”
**
Namaku Lydia, dan itulah cuplikan hidupku sehari-hari. Mengomel sana-sini karena mereka tak becus melayani tamu. Padahal mereka sudah kudidik dengan baik. Aku memang bukan ibu yang baik untuk mereka. Aku juga tak menyuruh mereka mencontohku. Aku hanya ingin mereka bisa mencari uang. Itu saja.
Aku tak ingin menikah, karena aku lebih nyaman hidup begini, di sebuah wisma dengan kedelapan anak kandungku. Semuanya cantik dan pintar melayani tamu.
“Marni! Itu ada tamu!’
“Yang lain aja, Mam! Capek!”
Pelanggan Ke-111
by Momo Dm @mazmocool
“Mami, ini setoranku. O ya Mam, semalam itu beda lho,” kata Widya.
“Beda bagaimana?” tanya Lydia penasaran.
“Semalam Om itu cuma kuat sekali. Setelah itu mengajak ngobrol sampai pagi,” jawab Widya.
“Ngobrol apa sih? Sampai semalaman,” ledek Lydia.
“Banyak Mam. Tentang istrinya yang meninggalkannya 24 tahun yang lalu, saat anaknya masih bayi,” jawab Widya ringan.
“Sama dengan umurmu saat itu,” kata Lydia dalam hati.
“O ya Mam, selain memberi uang, Om itu juga memberi foto. Biar aku tetap ingat dia, katanya. Ini fotonya,” kata Widya menyodorkan foto.
Widya masuk kamar, sementara Lydia tertegun memandangi foto itu. Foto mantan suaminya.
“Itu artinya Winarno telah bersetubuh dengan darah dagingnya sendiri,” pikir Lydia.
Lydia shock.
Positif
by Uswatun Hasanah @uswah_hasan
Asap mengepul dari bibirku yang membiru.
”Sial! Aku baru menikmatinya sepuluh tahun,” fikirku.
**
“Saya tidak melakukan itu, Bos. Saya tidak korup!” Bunga, germo itu memekik ketakutan. Di hadapannya, Big Boss menghembuskan asap ke wajah Bunga, kemudian memberikan isyarat ke arah dua bodyguard di belakangnya. Bunga ketakutan setengah mati.
“Kau tidak mampu mengembalikan uangku. Ganti dengan nyawamu.” Big Boss tersenyum dingin.
Aku tersenyum. Rekayasaku berhasil dengan mulus.
“Lidya, kuserahkan anak-anak padamu.” Aku mengangguk.
“Aku tak akan mengecewakanmu, Boss.”
***
“Anda positif mengidap HIV.” Aku tersentak.
“Tapi, aku sudah tidak melayani pelanggan manapun, Dok. Bagaimana mungkin bisa?” Dokter itu melepaskan kacamatanya.
“Kau tidak lupa malam itu kan, Mih?” Dia tersenyum.
Aku terbelalak.
“Dokter sialan!”
Sebuah Tamparan Penuh Kasih
By Bunga S. Putri @bunga_sp
Hari ini. Pertama kali aku menginjakkan kaki di Jakarta. Beasiswa dari universitas ternama membawaku ke kota besar ini. Aku harus jadi sarjana! Itu janjiku pada nenek di kampung.
***
“Din, mau cari uang tambahan gak? Di Jakarta kita harus tampil semaksimal mungkin dan untuk itu perlu biaya yang banyak. Gampang kok? Mau?” Tina, teman sekamarku.
“Maksudnya, Na?
“Nanti malam ikut aku. Kukenalkan pada tante Lidya. Dia baik banget kok, tenang aja.”
Aku menurut saja. Sebenarnya masih tidak mengerti apa maksud Tina.
***
“Maam.. Mamiiii.. Aku bawa temen nih. Cantik lhooo.” Tina berteriak-teriak.
Aku menunduk saja. Tidak berani melihat sekitar. Tempat ini aneh.
PLAKKK!!!
“Hidupku memang sudah rusak. Tapi tidak dengan anakku!! Pergi!!”
Transaksi
by Te@embunbeningpagi
Lidya menghembuskan asap yang mengepul. Duduk di sofa merah. Posisi mengangkang lepas. Koper terbuka di atas meja berisi segepok bundel uang. Nilainya lebih dari harga-harga laku tubuhnya dimasa lalu. Perempuan anggun duduk hati-hati di sofa berhadapan.
“Cukupkah?” Perempuan anggun itu bertanya. “Kapan aku bisa membawanya?”
Asap tebal dari bibir merah Lidya makin menyesaki ruang itu. Seorang centheng membawa masuk keranjang besar.
“Bawalah,” kata Lidya. “Sampaikan pada Frid, suamimu, aku juga mencintainya. Ibu bayi itu sudah mati saat melahirkan. Terlalu muda. Dan Frid, pelanggan terbaiknya di sini.”
Melengos. Tanpa kata. Perempuan itu berlalu dengan keranjangnya. Kini juga anaknya, setelah sekian tahun perkawinan tanpa keturunan. Dibeli dari seorang germo.
Apa Ada Bedanya?
by Ben Nazwar @benjalang
“Apa-apaan ini Siska!! Jadi kamu anak wanita ini? Batalkan semua, aku tidak rela anakku menikah denganmu. Apalagi berbesan seorang germo”.
“Aku memang seorang germo yang hina, sampah masyarakat. Lantas kau ini disebut apa? Pria hidung belang yang suka mengencani pelacur-pelacur di tempatku. Apa istri dan anakmu tau perihal kebiasanmu?” Aku menyerang balik laki-laki itu. Dia terhenyak, mungkin ia lupa di sini ada istri dan anaknya.
“Apa maksudmu Lidya, kau jangan sembarangan menuduhku”.
“Menuduh kau bilang. Kau memang sangat bodoh Herman. Jika kau bilang aku menuduhmu, lalu dari mana kau tahu namaku, bagaimana kau mengetahui aku ini seorang germo, bisa kau jelaskan pada kami semua di sini?”, wajahnya yang angkuh kini memucat.












D5 Creation