228 Kaktus
now browsing by category
Saksi Bisu
by Nugraha Aditya @commaditya
Wanita itu menyiramiku dengan kasih sayang. Senyumnya, secerah sinar mentari pagi ini. Hasilnya, duri-duriku kokoh, runcing, dan banyak.
Kemudian lelakinya datang, membanting pintu, mulai memaki-maki. Si wanita membalas makiannya sambil menunjuk-nunjuk wajah si lelaki. Oh Tuhan, kata-kata mereka setajam duri-duriku.
Nampaknya si lelaki, kurang suka bila si wanita menyapa si jalang, selingkuhan si lelaki. Meski sebenarnya si wanita meminta baik-baik kepada si jalang agar berhenti mendekati lelakinya.
Makian mereka mulai tajam, pukulan dan tamparan berbalas. Barang-barang berterbangan, hingga sebuah handphone melayang menujuku.
Aku tersadar di tangan seorang detektif yang memperhatikan tubuhku. Kulihat jejak darah masih segar di dinding kamar. Di lantai, si wanita tergeletak dengan genangan darah di kepalanya. Wajahnya, rusak.
Bayaran
By M. Ali @maulaali
“Besok, satu lagi ya Mam?” pintanya manja padaku. Jajaran pot-pot hitam dengan kaktus kecil ada di meja samping ranjangnya, semua hampir berbunga. Dan aku baru tau kalau kaktus berbunga. Merah jambu, lucu.
Awal bulan menyesakkan, Adhi menangis, aku tak membawa pot kaktus seperti tiga minggu belakangan ini. Mau bagaimana lagi, uangnya semua terpakai. Aku harus periksa.
Adhi di pelukan, matanya sembab, terpejam. Kubaringkan dia. Aku termangu di depan jendela, bayanganku menempa kaktus.
Malamnya, jauh di alam mimpi seorang bocah, dua sosok makhluk putih bersayap menagih janjinya. Di atas ranjang tubuhnya terguncang. Sekuntum bunga kaktus tiba-tiba menghitam. “Jangan dulu ambil Ibu, bunganya besok mekar!” igau Adhi. Gelap jalanan, Ibunya ditemukan mati ditusuk.
Katamu Aku Seperti Kaktus
By Choro @cho_ro
“Kamu itu, disirami cinta setiap hari, hatinya malah mati mengenaskan. Membusuk. Nggak berkembang. Kamu juga menyimpan cinta terlalu banyak dalam diri kamu, malah nggak butuh cinta kayaknya,” katamu tersenyum ketika aku cerita aku dicampakkan lagi oleh pacarku yang kesekian. Sedangkan aku, cuma tersenyum masam sambil menatap cangkir kopiku.
“Ya kamu sih, sok bersikap kasar cuma karena takut sakit hati, kasihan lah orang orang yang tulus mencintai kamu. Kayak kaktus aja.”
Aku menyesap kopiku, “Ih, aku disamain sama kaktus.”
Dia terkekeh dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan aku yang kembali berbaring telanjang di balik selimut di kamarnya. Yang penuh dengan kaktus.
“Yang penting aku masih punya kamu,” gumamku pelan dan memejamkan mata.
Kadal yang Diam
By Reza Nuruf Fajri @rezanufa
Seekor kadal terjebak di antara duri-duri tajam, pada sebatang kaktus di gurun gersang. Dia menjerit sejadi-jadinya, mencari jalan keluar, sedang si kaktus tak pula peduli akan kesulitannya.
“Hey, Unta! Hancurkan duri-duri ini, bantu aku melepaskan diri!” teriaknya pada unta yang lewat.
“Keluarlah sendiri,” jawab unta.
“Keluarkan aku! Akan kutunjukkan padamu di mana rumput dan air berkumpul,” rayu kadal.
Angin gurun menebar debu, seketika menutup langit dengan tebalnya. Si unta terhenti seperti ragu dalam langkahnya. Dia lalu kembali dan melepaskan si kadal. Duri-duri itu dia hancurkan dengan kakinya yang besar.
Lalu, ada air mengucur dari batang si kaktus! Si kadal kabur dengan cepat. Dan tetiba, seekor elang menyergapnya dari langit yang tersembunyi.
Hujan Gurun
By Karadana @arcadana4
Hujan gurun, bukankah kita sudah berjanji untuk bercumbu lagi musim ini? Aku sudah menengadahkan tubuhku, siap engkau setubuhi hingga pagi. Akar-akarku panjang merayap menyesap tanah-tanah kering, lindap aku dalam kegelisahan musafir dalam perjalanan panjangnya.
Jangan bilang kau sedang pergi ke ladang, mencumbui padi yang menguning, menggauli buah-buah merah ranum, dan menghamili gandum-gandum utuh. Aku lebih menginginkanmu, lebih dari apapun.
Ingatkah kau akan janji di penghujung musim panas, di antara cibiran dedaunan sabana dan cemoohan burung elang. Kita bercinta seharian memanggang hari. Hari yang ingin kita bekukan, karena sehari saja sudah cukup bagi kita.
Seharimu menguapkan semusim yang kutunggu. Setetesmu cukup memuaskan orgasmeku. Seharimu membuatku menunggu, untuk satu musim lagi tanpa cumbu.
Si Tua yang Tersisih
By Petronela Putri @petronellaLau
Aku memandang keluar jendela toko dengan ekspresi putus asa. Sore sudah datang, sebentar lagi toko bunga ini akan tutup. Sepanjang hari tadi banyak bunga-bunga cantik yang telah dibeli beberapa pengunjung, sementara aku? Aku tua, hanya diam terpojok di sudut sini, tidak ada yang berkenan untuk membeliku, karena aku tidak mampu tampil cantik seperti mawar atau tulip.
Lamunanku tersadar ketika seorang lelaki muda dan gadis kecilnya memasuki toko. Ia tersenyum ramah saat pelayan menyapa, lalu membelai rambut sang gadis, “Bella mau bunga yang mana?”
Gadis cantik itu sempat menoleh ke arahku, aku tersenyum walau aku yakin dia tidak akan menyadarinya.
Anehnya, “Papa, aku mau kaktus itu..” Ia memilihku, bukan mawar atau tulip.
Rahasia Kamara Nomor 11
By Martina. P @boyish_dosy
“Jun, kenapa si Ferdy hengkang?” Wahyu bertanya. Juno diam. Dia asik memandangi kaktus kecil di hadapannya, sambil menghisap rokok putihnya.
“Jun?”. Juno tetap diam, malas menjawab. Sebetulnya tidak tahu harus menjawab apa. “Wah, ampun deh lo. Bolot”, Wahyu keluar dari kamar Juno karena jengah.
2 minggu lalu…
Ferdy memberikan kaktus kecil itu ke Juno sebagai permintaan maaf untuk bogem mentah ketika Juno menolak digagahi malam kemarinnya. Tak seorang pun penghuni kos tahu jika di balik pintu kamar nomor 11 yang mereka tempati itu, di sanalah hasrat dan cinta dua lelaki itu melebur. Tapi, Juno tahu jika sekali Ferdy menyakiti dia secara fisik. Maka, dia bisa mengulanginya lagi. Juno menyuruh Ferdy pergi.












D5 Creation