240 Air
now browsing by category
Penantang Ombak
By Ade Yusuf @sibangor
Namanya Gondes, bocah berusia 10 tahun, berkulit gelap dengan rambut ikal kering setengah pirang. Bukan karena dipulas cat rambut, tapi karena warna hitamnya luntur alami. Entah akibat terlalu sering berenang di air asin atau karena rambutnya yang tipis.
Gondes, setiap pagi usai sholat subuh, pasti berlari ke pantai. Ia berdiri di atas potongan pohon kelapa yang nyaris lapuk. Menantang gemuruh ombak yang bergulung setinggi 5 meter menuju ke arahnya, seolah mulut raksasa yang menganga siap melahap dirinya. Tapi mulut itu mengatup saat mendekati pantai dan kembali tersurut ke tengah laut lepas.
Gondes berteriak keras, “Pengecuuuut! Ayo telan aku. Seperti kau menelan bapak dan ibuku.”
Ia pun mulai berenang ke tengah. Menghampirinya.
Jaga Aku
By Nurul Humaeroh @_nurulch
Aku selalu ada di sekitar kalian. Aku yang dikeluhkan saat kekeringan dan banjir melanda. Meskipun sering diperlakukan seenaknya, aku tidak pernah marah. Tapi, aku sedih jika ingat kalian tidak peduli, tidak memikirkan masa depanku, tidak menjagaku, mengotoriku. Tak sadarkah, semua itu melukaiku.
Saat kemarau datang, kalian bingung dengan kelangkaanku. Salah sendiri. Dulu saat keadaanku baik, bukannya dijaga, sebagian tempatku malah dirusak. Sampah, limbah, kalian limpahkan padaku. Aku jadi bau, tidak sehat, bahkan tak jarang warnaku berubah menjadi hitam pekat. Belum lagi saat musim hujan tiba. Tempat-tempat yang seharusnya dapat kulewati dengan lancar, tidak dapat kulewati. Aku terhambat, meluap.
Andai tangan kalian tidak iseng. Ah, peduli apa, bukankah kalian sendiri yang rugi.
Air Langit
By Ali @maulaali
“Semua orang pernah melihat hujan. Aku?!”
Bulan sepertinya mendadak sabit, air muka Dirga berubah surut, obrolan romantis yang dibangun pecah belah ombak kecil. Impian menyunting kekasih hatinya itu terbawa pecahan kapal yang menjauhi pantai.
“Aku ingin hujan, bawakan benda bernama hujan itu!”
“Hujan hanya mitos, dan itu menakutkan.” suaranya berbisik, ketakutan.
“Tak mau tahu!”
**
Di depan lemari, Nira mematut diri dengan selendangnya. Dia akan punya hujan.
Bulan samar di langit. Dari kejauhan Dirga tertatih menggotong buntelan, ejek masyarakat menyertai perjuangannya.
**
“Inikah hujan?”
Gelap. Mereka lari ketakutan menuju gubuk.
Nira kibaskan selendang merahnya, lalu berlalu ke balik awan, menuju Bumi, meninggalkan Dirga, meninggalkan berkah. Tetes hujan, menyiram habis ketakutan mitos akan air.
Air dan Angin
By Tino Trinugraha @Tino_fin
Aku adalah air, dia adalah angin. Dulu kami pernah bersama kala itu aku berupa awan, saat itu aku belum paham apa inginku.
Telah lama kami berpisah, aku mengalir bersama air lain. Menyusuri sungai, bertemu batu, lumpur, bercanda dengan mentari.
Menjadi pasang dan surut karena senyum dan cemberut bulan. Bermain di danau, mengalir ke laut. Di laut kami bertemu.
Aku sang air dan dia sang angin, bergulung-bergulung menjadi ombak, riang, penuh cinta.
Aku dibantu mentari menjadi awan, aku air dan dia angin kembali dekat lekat, namun sesaat. Dia kembali pergi, bersanding dengan angin lain.
Aku mendung, menjadi hujan di puncak bumi. Membeku, menanti waktu ketika aku akan mengalir kembali dan bercinta .
Mengalir Bersama Air Mata
By Uniench @anggi_
Tiang Bumi Pertiwi menyapa. Letusan gunung Merapi berdehem kuat sekali. Getaran skala richter melumpuhkan kota itu lebih dari seminggu. Ribuan warga Jogja lari ke sana ke mari menyelamatkan diri. Entah sejauh apa mereka berlari. Yang ada di pikirannya adalah menyelamatkan diri sejauh mungkin dari tempat tinggalnya.
Abu Merapi menutupi penerbangan kami. Di 8 tahun lalu aku dan dia pernah tinggal di sana. Aku selalu rindu pantai selatan. Eldeweis Jawa di puncak gunungnya. Warung angkringan tempat kami menghabiskan waktu bersama. Riuh rendah deru hujan deras 4 November 2010 di puncak Merapi mengalir bersama air mataku. Lahar dingin itu menyerupai perasaanku.
“Kenapa kamu tidak menjawabku? Waktu 6 bulan yang kuberikan tidak cukup?”
“Tidaaaak”
Warna Atau Rasa?
By Sary Ahd @saryahd
Aku mengenal dua orang yang mempunyai masalah dengan air. Orang pertama adalah Dewi, teman sekolahku. Dia tidak bisa minum air kalau tidak ada warnanya. Katanya itu disebabkan trauma masa kecil. Rasa tidak menjadi masalah untuk Dewi. Jadi dia bisa meminum air tawar selama warnanya merah, kuning, oranye, hijau, dan lain sebagainya. Sampai saat ini Dewi mengaku tidak punya masalah kesehatan yang disebabkan kebiasaannya minum air berwarna-warni.
Orang kedua adalah Rangga, sepupuku. Minum air putih bisa membuatnya muntah. Katanya rasanya tidak enak, membuat mual. Jadi setiap hari dia hanya minum air teh, susu, atau sirup. Dan rasanya harus manis.
Seandainya Dewi dan Rangga sepasang suami istri, anak mereka minum air apa ya?
Boros Air
By Mirandha Redhiawata @redhiw
Aku termenung di atas sini bersama teman-teman senasib. Kami sedang menunggu giliran dipanggil. Kulihat satu persatu temanku melambaikan tangan. Mereka tersenyum bahagia, lalu turun dan menghampiri ibu masing-masing.
Sebagian besar ibu mereka menyambut anaknya dengan tangisan gembira. Namun tak jarang yang menangis penuh derita. Seolah kami adalah makhluk menjijikkan yang harus segera dienyahkan dari muka dunia.
Kulihat di bawah sana ibuku sedang menangis. Ayahku mencoba menghibur, walaupun kutahu beliau juga sama sakitnya. Dengan tangan lembutnya ibu menggenggam secarik kertas kecil di mana satu garis merah melintang di tengahnya.
Ah, Ayah. Seandainya sewaktu muda kau tidak memboroskan air berharga milikmu, mungkin kertas itu sudah bergaris dua sekarang.
Malaikat tak kunjung menyuruhku turun.












D5 Creation