A Profesi
now browsing by category
Perempuan Senja
By Ryan Pradana @ry4nn_
Perempuan senja itu berjalan tergesa-gesa memasuki studio. Dia membawa beberapa lembar kertas berisi script berita yang akan dia bacakan di hadapan kamera. Sampai di meja depan kamera, dia duduk, merapikan blazer gelapnya, lalu menata kertas-kertas script itu di atas meja. Wajahnya dibuat setenang mungkin sambil menunggu kameramen menghitung mundur.
Saat on air pun tiba. Dia membacakan berita demi berita dengan suara lancar, tanpa gemetar sama sekali. Baru bekerja sebagai pembaca berita selama beberapa bulan di sana, sudah membuatnya terbiasa dengan pekerjaannya itu. Hingga akhirnya, acara berita itu pun usai.
Ah ya, dia dipanggil ‘perempuan senja’ karena hanya terlihat pada berita sore hari saja, ketika matahari mulai terbenam. Ketika para pembaca berita lain sibuk terlihat di berbagai macam acara lain, si perempuan senja hanya terlihat pada satu acara saja. Berita sore hari. Tak ada yang tahu apa alasannya. Setiap ditanya, dia hanya tersenyum.
Setiap pulang kantor pun dia selalu langsung pulang. Tidak mampir-mampir seperti semua temannya. Tak suka menunggu macet sambil berbelanja di mall. Tak suka menghabiskan waktu dengan ngopi-ngopi bersama sambil bergosip. Dia rela disergap macet daripada menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Tak ada yang tahu kenapa demikian.
Hingga suatu hari, dia mulai membaca berita sore hari dengan tenang. Seperti biasa. Ketika matahari beranjak pulang, dia membacakan berita tentang seorang perempuan yang baru saja tewas mengenaskan tertabrak kereta api. Mukanya pucat sejenak, namun dengan ketenangan luar biasa dia bisa menguasai diri. Terlebih ketika dia melihat foto close up sang korban yang wajahnya hancur.
Acara berita itupun selesai. Dia melenggang keluar dari studio dan menyapa teman-teman kerjanya. Berbasa-basi beberapa menit, melihat arloji, dan kali ini dia mengajak mereka semua makan malam di luar. Teman-teman kerjanya keheranan dengan perubahan perilaku sang perempuan senja. Namun akhirnya mereka menyambut antusias ajakan itu.
Senyum terus mengembang di bibir sang perempuan senja. Kali ini, misinya berhasil. Misi dengan persiapan berbulan-bulan itu pun akhirnya terlaksana. Perempuan berwajah sangat mirip dirinya itu berhasil tewas diterjang kereta api, tepat di kala senja. Sekarang hidup sang perempuan senja bisa tenang, tanpa saudara kembar yang sering sekali mengganggu hidupnya dan merebut tunangannya.
Senja sudah menghilang, senyum sang perempuan senja tak juga menghilang. Dia menang..
Istri Direktur
By Sary Ahd @saryahd
Ada yang berubah dari sikap Alice belakangan ini. Jadi lebih menyebalkan tepatnya.
“Ya ampun, gak tahu ya kalau aku sedang sibuk? Dari tadi ponsel ini bunyi terus.” Sambil menggerutu Alice mengeluarkan Blackberry barunya dari dalam tas. Kemudian dengan gaya angkuh, mungkin juga pamer, dia menunjukkan isi pesan yang baru diterimanya.
“Coba dengar,” katanya. “Bu Irawan, terima kasih ya untuk pemberian baju-bajunya kemarin, masih bagus-bagus semua. Oya, Bu, maaf saya mau bertanya, ibu pakai sabun cuci dan pelembut pakaian merek apa ya? Soalnya wanginya saya suka, lembut.”
“Apa-apaan ini,” kata Alice berang. “Berani-beraninya ada yang kirim pesan seperti ini sama ibu direktur? Gak tahu apa ya, kalau suamiku itu sudah diangkat jadi direktur? Masa bertanya soal sabun cuci kepada ibu direktur?”
Ya Tuhan, aku sudah muak. Padahal dulu Alice selalu senang kalau ada istri rekan kerja Irawan yang minta saran soal urusan rumah tangga. Alice memang ibu rumah tangga ideal, jago masak, ibu hebat, istri yang luar biasa. Tapi itu dulu, sebelum Irawan pindah kerja ke Jakarta dan diangkat menjadi direktur keuangan.
Beberapa hari yang lalu, aku menerima pesan singkat dari Alice. Isinya tentang dia yang berencana melakukan operasi plastik untuk mempercantik penampilannya. Lengkap dengan bagian-bagian mana saja yang ingin dia permak, dokter, biaya, dan lain sebagainya, yang tidak lagi merupakan pesan singkat untukku. “Sekalian, Mel, mumpung mas Irawan sedang dirawat di rumah sakit, aku bisa ikutan numpang biayanya,” katanya.
Tidak hanya itu, perbincangan kami tidak lagi menyenangkan. Kalau dulu yang menjadi inti pembicaraan kami tentang anak-anak, sekarang semua tentang Alice, Alice, dan Alice. Alice yang takut tua, Alice yang belajar tarian telanjang demi menyenangkan Irawan di kamar, Alice yang ingin operasi keperawanan. “Perempuan Jakarta kejam, Mel,” jawab Alice ketika aku bertanya alasan dia melakukan semua itu. “Satu-satunya cara supaya mas Irawan tidak selingkuh adalah aku mempercantik diriku dan memuaskan dia di tempat tidur. Aku takut jadi tua dan ditinggalkan,” katanya lagi. Aku diam. Alice yang sekarang bukan lagi Alice sahabatku yang aku kenal sejak bangku kuliah dulu.
***
Surat kabar dan televisi sedang heboh dengan pemberitaan tentang pemecatan seorang direktur keuangan sebuah perusahaan BUMN berinisial I. Tuduhannya korupsi. Dan istrinya diduga ikut terlibat, memanipulasi pembayaran cek rumah sakit suaminya untuk kepentingan pribadi.
Sebuah Dasi Tua Milik Ayah
By Rizki N. Annissa @kikikuik
Aku, dasi warisan ayahmu dulu, yang dipakaikan ibumu untuk pertama kalinya saat kau ujian skripsi. Aku yang mengantarkanmu kepada gerbang kelulusanmu sebagai sarjana.
Aku, dasi lusuh kesayangan almarhum ayahmu, yang setia menemanimu kemana-mana saat kau berjuang mencari pekerjaan. Aku yang membawamu ke dalam sebuah perusahaan besar dengan jabatan cukup menjanjikan.
Seringkali kurasakan penat dan lelahmu, lalu aku akan melonggarkan diriku dari lehermu agar kau lebih santai. Kamu pun akan membelaiku dengan lembut sambil tersenyum. Aku suka sekali saat-saat seperti itu.
Hari ini tepat sebulan kau bekerja. Kulihat senyum lebarmu di depan mesin ATM saat akan mengambil gaji pertamamu. Aku ikut bahagia, sampai kemudian kudengar kau bergumam, “Aku butuh banyak dasi baru.”
Tetaplah di Atas Kebenaran, Maria!
oleh Dian Utami @dyznt
Lagi-lagi teroris, untuk kesekian kalinya aku harus menjadi moderator dalam diskusi malam ini. Lelah? Ya! Tak bisakah pimred mengangkat tema yang membuat senyum Indonesia?
Sepuluh menit sebelum acara dimulai, aku sudah bersama tiga orang panelis yang disebutkan dalam rapat redaksi tadi siang. Fyuh, untungnya tidak susah menghubungi mereka. Yang pertama adalah seorang kepala lembaga pengamat politik, seorang lagi kepala lembaga penanggulangan terorisme, dan seorang lainnya adalah mantan pelaku tindakan teror yang masih menjadi tahanan rumah, atas izin kepolisian kami berhasil menghadirkannya.
“Selamat malam, Pemirsa, selamat berjumpa kembali dengan saya, Maria Rizky Herlina, dalam Berita Malam. Sudah hadir di hadapan kita kali ini Bung Adry seorang pengamat politik, Pak Ilham, dan Mas Rozak. Apa kabar bapak-bapak semua? Ya, seperti yang kita ketahui, tindakan teror akhir-akhir ini semakin marak terjadi di sekitar kita..”
Jeda iklan, aku berbincang sebentar dengan para tamu tersebut. Di depan kamera mereka sangat menjiwai peran yang sejatinya memang diarahkan demikian, sesuai dengan script yang kami berikan. Manis, diskusi yang tak banyak perdebatan, seperti hewan yang patuh pada tuannya. Aku tahu, kenyataan di lapangan tidak seperti yang diberitakan. Tidak seperti apa yang dikatakan bapak-bapak di hadapanku ini. Banyak yang dilebih-lebihkan oleh media, karena memang seperti itulah skenario yang disepakati setiap rapat. Jika mengubahnya pun hanya akan mendapat teguran dari atasan. Percuma! Suaraku kalah oleh kekuasaan.
Namaku Maria, seorang pembaca berita di salah satu stasiun televisi swasta. Sudah lebih dari tujuh tahun aku bekerja di sini. Sebelumnya aku hanya seorang jurnalis lapangan yang meliput di daerah, berkeliling Indonesia. Selama itu pula sering aku membuat video liputan pribadi yang kunikmati bersama keluargaku. The Ultimate Treasure of Indonesia, aku memberinya judul. Tanpa ada banyak tambahan dan sesuai dengan seleraku tentunya. Namun sejak dua bulan terakhir, setelah menjadi pembaca berita, aku kini memegang acaraku sendiri. Aku dipercaya untuk menentukan tim yang terlibat. Akulah yang menjadi ratu di acara ini. Tapi baru beberapa kali tayang, tahtaku diturunkan, kembali aku hanya sebagai moderator diskusi. Tak lagi bebas menentukan tim, tak lagi menguasai script, tak lagi bebas mengundang tamu. Semua harus disepakati dalam rapat redaksi, menurut mereka, beberapa konsepku sebelumnya tak sesuai dengan visi perusahaan. Visi perusahaan? Sebagai corong penguasa maksudnya? Tema kali ini pun yang menentukan pimred, aku diberi naskah yang sudah fixed sebelum briefing tadi, meski ikut rapat pendapatku tak lagi didengarkan seperti dahulu.
Ya, aku mengakui jika aku sedikit vokal. Aku memang tidak suka jika berita yang disampaikan tak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Tapi itulah yang terjadi. Di kantor berita ini, masyarakat hanya akan mendapatkan berita yang sudah dibumbui, oleh sebuah visi tak tertulis yang memang dibentuk oleh direksi dan kroni-kroninya. Tak jarang kudengar di lingkaran dalam ada semacam kesepakatan, entah kesepakatan apa yang dimaksud. Sekali lagi, aku hanya berusaha berbuat semampu aku bisa untuk perubahan. Hidup di dalam sistem yang bertolak dengan nurani sungguh tidak mudah, sangat tidak nyaman, apalagi mengubahnya terang-terangan sesuai keinginan kita, maka tunggulah saatnya invisible hands bermain.
Seperti malam ini, mau tidak mau aku harus menelan mentah-mentah idealisme yang ada di kepalaku dan hanya bisa menyerah dengan keadaan. Ketiga tamu yang didatangkan malam ini memiliki visi yang sama, karakter yang tak jauh berbeda, berseragamkan penjilat penguasa. Aku tahu siapa yang menggaji mereka. Aku pun tahu sebagian data yang disampaikan hanya dusta. Aku pribadi merasa banyak yang janggal dengan keterangan yang diberikan kepolisian. Fakta-fakta yang disampaikan seringkali berbeda dengan yang kudengar dari kawan-kawanku yang bertugas.
Aku teringat Galuh sahabat karibku, hanya saja aku dan Galuh tidak berada di media yang sama. Beberapa waktu lalu ia diutus untuk meliput salah satu penggerebekan yang terjadi di salah satu kota di Jawa Tengah. Ia bercerita jika beberapa tersangka ada yang dijebak kepolisian. Bukti yang dikumpulkan hanya diada-adakan, “Pemiliknya bukan mereka, itulah faktanya, Maria..” ucapnya suatu kali ketika mengakhiri laporannya. Galuh cukup dekat dengan keluarga tersangka teroris karena pendekatan yang dilakukannya cukup bagus, pun media tempatnya bertugas cukup adil memberi kabar. Sebagian besar tersangka teroris adalah kepala keluarga yang menjadi tulang punggung keluarga. Nasib keluarga setelah ditinggal tersangka-tersangka teroris itu tidaklah begitu baik. Tak sedikit dari mereka yang mengalami kekurangan. Apa kepolisian bertanggung jawab? Khususnya untuk korban salah tembak. Tapi lagi-lagi keadilan hanya milik penguasa. Di negeri ini, jangan sekali-kali bertanya tentang keadilan untuk rakyat.
Dan tadi pagi, aku kembali dikejutkan oleh telepon yang datang dari Galuh. Ia sedang berada di Medan, meliput kasus penodaan tempat ibadah yang dilakukan sekelompok orang di sana. Ia mendapat info bahwa kembali terjadi penggerebekan di daerah Jawa Barat. Uh, siapa dari tempatku yang diutus ke sana? Sesegera mungkin aku menghubungi kantor mencari tahu. Jika belum ada yang berangkat, maka akulah yang harus berada di sana, mendapatkan info langsung dari sumbernya. Aku tak percaya dengan laporan rekan kerjaku yang sudah terdoktrin atasan. Tak lama aku mendapat kabar yang diutus adalah Arif, salah satu rekan yang kupercaya, syukurlah.
Seharian aku menunggu kabar dari Arif untuk kemudian mengolah laporan yang sampai. Di hadapan yang lain, Arif sama sepertiku menyembunyikan idealisme. Namun kami mengelola satu media online dari jaringan kami sendiri. Dibantu Noval adikku sebagai webmaster, kami mengembangkan media online ini. Bagaimana pun kebenaran harus sampai di tengah masyarakat. Itu prinsip kami bertiga. Jika selama ini informasi hanya sampai dari pihak kepolisian, kami berusaha mengimbanginya. Tak ada rekan kami yang mengetahui tentang hal ini.
Sore tadi Arif berpesan agar aku tetap menjaga wibawaku malam ini, tak terbawa emosi. Tak gelisah memikirkan penggerebekan. Aku manut saja, ada gunanya juga mengikuti kelas teater dulu semasa sekolah. Aku mendapat banyak masukan baik dari tamu yang diundang maupun Arif. Ada yang missed disana. Ada ketidakseimbangan sumber berita. Selama ini atasanku memilih-milih data, fakta yang disampaikan tidak seluruhnya. Semacam ada intervensi dari penguasa untuk membuat citra di mata masyarakat dan pembentukan opini bahwa teroris itulah yang salah, pemerintah selalu berada di track yang benar. Begitulah diskusi malam ini, satu suara. Tak ada yang menyanggah meski ketidakadilan ada di depan mata. Aku, lagi-lagi hanya bisa mengelus dada. Kecewa, sedih, bercampur semua.
Aku membawakan diskusi hambar ini tanpa semangat, tak ada gairah seperti biasanya. Sampai pada saat ada satu berkas kilas berita yang diberikan seorang rekanku di tengah acara, sebagai bumbu update kasus teror yang sedang terjadi. Aku membacakannya saat itu juga, “Telah terjadi baku tembak dengan pihak datasemen khusus setengah jam yang lalu dan menewaskan dua terduga teroris, salah satunya bernama Christian Noval Hermawan, 29 tahun warga Jakarta.”
Aku tergagap seketika, tak percaya pada apa yang kubaca. Noval? Adikku-kah?
Bu Guru
by Dian Harigelita @harigelita
Mama sedang sibuk mengaduk-aduk baju di dalam boks besar yang di atasnya ada angka lima dan nol. Dari tadi banyak sekali angka itu ditulis di kertas merah.
Bosan. Aku berjalan-jalan tak jauh dari tempat Mama.
Tiba-tiba terdengar suara bentakan seorang wanita, “Nangis aja terus! Bikin malu Mama!”
Aku mengintip dari balik rak baju. Bu Guru! “Udah tau ngga punya duit, masih ngerengek ini itu! Tinggal sana, sama bapak lo!” Dijewernya perempuan yang menangis kesakitan. Telinganya merah sampai ke pipi, pasti sakit sekali.
Setahuku, Bu Guru tak pernah marah. Tapi itu betul Bu Guru, tahi lalatnya di bawah mata kiri.
Pundakku disentuh. Aku nyaris melompat. Mama.
“Icha,” bisik Mama, lalu menggandengku pergi.
Meracik Kata
By unieche @anggi_
Menulis? Males.
Baca buku, boleh lah. Baca buku apa ya?
Yang ga pake mikir ada ga?
Jadi orang awam itu menyenangkan. Begitulah pikiranku sejak kecil. Membaca dalam artian belajar efektif cuma 2 jam sehari. Selebihnya jalan-jalan. Seneng-seneng, bebas aja. Kalo ada PR, urusannya harus serius. Hubungannya sama masa depan.
Setelah liburan sekolah, guru Bahasa Indonesia pasti ngasih tugas membuat karangan bercerita tentang liburan. Untuk saya hal ini menyenangkan. Betapa saya bisa cerita mengenai liburan saya. Menuliskannya. Dan menceritakan kembali di depan kelas. Sedaaap. Jiwa narsis bin hedon terpenuhi. Cumaaa, kok setelah di depan kelas selembar halaman yang diceritain cuma ¾-nya yaaa? Menulis seperti koki terlatih. Meracik kata-kata dalam bahasa yang enak.
Cantik Sempurna
By Unieche @anggi_
Sofia mau dirias penampilannya. Rencana nikah sudah sejak setahun sebelumnyaa disiapkan. Setiap tawaran jalan-jalan, mataku tertuju pada kain batik. Persiapan begitu penting bagiku. Motif cantik, kain yang sesuai, hingga selop yang akan dikenakannya nanti.
Payet indah kebaya merah cabe begitu menarik. Harga sebuah kain kebaya dengan motif anggun, mewah-lawas meringankan tangan untuk melaju ke kasir.
***
Kain kebayanya belum dapet. Kebaya itu kan berhubungan dengan pasangannya. Calon suamiku itu orangnya seperti itu. Supel. Berani. Tanpa tedeng aling-aling. Kebayaku juga warna merah, pas.
***
Betapa cantiknya setelah dijahit. Saya sampe kebingungan jika salah pilih. Wow, mewahnya batik yang akhirnya kutemukan. Cantik sempurna. Memanjakan diri di salon, kapster yang biasa, menawarkan diri jadi periasku.
Jakarta Lawyer’s Club
By Elisabeth Purba
Malam itu, ada acara Jakarta Lawyer’s Club yang ditayangkan oleh salah satu TV swasta. Acara itu membahas masalah yang lagi marak disiarkan hampir di seluruh stasiun TV, media cetak, dan media online. SURAT MK PALSU. Itulah menjadi dasar mengapa dialog itu diadakan. Aku penasaran sekali dengan berita yang telah membuat orang bertanya-tanya, siapa lagi yang harus dipercayai di negeri ini?
Namun, aku terus menonton acara tersebut sampai habis. Namun aku juga tidak menemukan jawabannya, dan bahkan membuatku mencaci maki para penyelenggara negara yang tidak bertanggung jawab itu.
Terdengar suara dari kamar, “Ma, udah dech, jangan mau jadi bego gara-gara nonton acara begituan. Mau aja dikibulin dengan ucapan mereka. Yang namanya pengacara mana ada benarnya, pengacara menolong orang yang berduit.”
Aku tersentak mendengar ucapan suamiku itu. Tapi benar juga apa yang suamiku bilang. Dari pada repot mikirin ucapan pengacara, mendingan tidur. Besok harus masuk kerja lagi. Huah, huah, huah.
Riasan Malam
by Rosmen Rosmansyah @RosmenStation
Spons bedak menyusuri lekuk wajah yang bening temaram. Tak cukup sekali poles untuk menutupi lebam di kening. Tapi Karni tahu apa yang harus dilakukan. Sebagai penata rias berpengalaman, guratan biru demikian bukanlah halangan. Ia selalu bisa menjadi angsa. Tak peduli seberapa luka di wajahnya.
Delapan tahun sudah Karni merajut biduk rumah tangga, selama itulah lebam menyertai setiap malamnya. Itu sudah biasa, sebiasa ia berdandan menunggu sang suami pulang kerja.
Malam ini, suami Karni sudah pulang, bahkan sudah terlelap di peraduan. Karni mendekatinya perlahan. Ia tatap ngilu wajahnya. Darah masih melumuri kepala suami tercinta tapi goresan lipstik sudah mendarat manis di bibirnya. “Kamu selalu menyuruhku untuk berdandan. Kini, giliranku untuk mendandanimu, Sayang.”
Agen Rahasia
by Johan Mahardi @jpmahardi
Tahun 1968
Presiden yang pidatonya berapi-api itu resmi digantikan oleh tentara yang kalem dan berwibawa.
Presiden yang baru ini tidak tinggal di istana. Ia lebih suka tinggal di rumahnya di daerah Menteng, menyebabkan jalan-jalan masuk ke perumahannya dijaga ketat dan seringkali ditutup karena banyaknya tamu yang berkunjung.
Aku biasa bermain ke rumah teman baruku tak jauh dari situ. Aku memanggilnya Husein, namaku sendiri Hasan. Walaupun bukan nama depannya, aku tetap memanggilnya begitu agar panggilan kami terdengar seperti nama dua cucu Nabi, Hasan dan Husein.
Selepas pulang sekolah kami sering menyelinap di antara mobil-mobil dan kendaraan tentara, mengagumi seragam dan gagahnya para prajurit di pelataran rumah presiden. Atau, melambai-lambaikan tangan pada tamu-tamu berkulit putih yang sering terlihat di sana. Setelah itu kami bermain di rumah Husein dan menikmati suguhan kue buatan ibunya.
Ibunda Husein orang yang pintar, lulusan sekolah luar negeri, dan bisa bicara beberapa bahasa. Orang-orang kulit putih sering berkunjung ke rumahnya dan mengobrol sampai larut malam. Jika orang-orang itu bertamu, kami berdua akan disuruhnya bermain di luar rumah agar tak mengganggu.
”Mereka itu agen rahasia.” Husein memberitahuku suatu hari, dengan jari telunjuk tegak di depan bibirnya.
Tahun 1981
Banyak yang telah terjadi sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Presiden yang sama tepilih kembali berkali-kali, Timor Timur menjadi propinsi baru, pemberontakan di Aceh, harga-harga kebutuhan hidup mulai terkendali, dan mantan presiden yang pidatonya berapi-api itu pun telah wafat.
Husein melanjutkan sekolah dan kuliah di Amerika. Aku bertemu kembali dengannya ketika ia mengunjungi keluarganya di Jakarta.
“Negara ini begitu kaya raya. Banyak orang ingin menikmatinya. Pastilah kau masih sering melihat agen-agen rahasia itu berkeliaran di sekitar rumahku.”
Belasan tahun berlalu dan ia masih mengingat kesibukan orang-orang kulit putih itu.
“Di Amerika, perang dingin dengan Soviet semakin menggila. Menghabiskan banyak biaya. Sekarang agen-agen rahasia Amerika tersebar di seluruh penjuru dunia untuk merebut pengaruh dan membuat propaganda,” lanjutnya.
”Hasan, mereka juga sudah mempengaruhi kehidupan negara ini sejak dulu.”
Aku tertegun. Yang kutahu, negara ini tak memihak blok manapun. Presiden yang berwibawa itulah yang mengatur segalanya, menjadi produsen papan atas minyak dan gas alam, mencapai swasembada pangan, dan memimpin Asia Tenggara.
Di akhir tahun itu, Husein pindah kuliah ke perguruan tinggi lain di New York, mengambil jurusan Ilmu Politik.
Tahun 1998
Aku menerima surat dari Husein yang mengabarkan kelahiran putri pertamanya di Amerika. Ia tampak tersenyum bahagia, berfoto bersama istri dan bayinya yang hitam manis.
Tentu ia telah mendengar juga berita tentang krisis ekonomi dan kerusuhan di berbagai daerah hingga mundurnya presiden. Ia berkomentar sengit di dalam suratnya.
“Dukungan agen-agen rahasia itulah yang membuat pemerintah menjadi tirani, membiarkan korupsi, dan merusak lingkungan demi mengeruk kekayaan alam.”
Puluhan tahun berlalu dan ia masih bercerita tentang sepak terjang agen-agen rahasia itu.
“Tapi perang dingin sudah usai. Bantuan dan subsidi yang memanjakan sudah waktunya dihentikan. Sekarang saatnya agen-agen rahasia itu memperlihatkan misi mereka yang sebenarnya: mempromosikan kapitalisme ala Amerika,” tulisnya.
“Hasan, mereka sudah merencanakan ini semua sejak kita masih bermain gundu.”
Aku termangu. Sejak mengenal Husein aku hanya mengenal satu presiden yang terus-menerus kulihat di koran dan TV sepanjang hidupku. Barangkali selama itu pula aku terbuai dengan ilusi kemakmuran, stabilitas, dan harga-harga yang murah.
Hingga penghujung tahun itu, unjuk rasa menuntut penurunan harga masih berlangsung rutin hampir di seluruh propinsi.
Tahun 2009
Banyak yang telah terjadi sejak terakhir kali aku menerima suratnya. Presiden yang berganti berkali-kali, Timor Timur menjadi negara terpisah, tsunami dan perdamaian di Aceh, harga-harga kebutuhan hidup melonjak tinggi, dan mantan presiden yang kalem dan berwibawa itu pun telah wafat.
Aku memperhatikan berita di TV. Siaran langsung dari Washington DC.
Tak banyak yang pernah mendengar nama tengahnya sampai ia berdiri di podium dan mengangkat tangan kanan didampingi istrinya. Tersenyum lebar, teman masa kecilku itu mengucap sumpah dengan sedikit tersendat.
”Congratulations, Mr. President!” Ia disalami, disambut gemuruh tepuk tangan ratusan ribu orang.
Agen-agen rahasia itu kini resmi berada di bawah komandonya. Apa yang akan ia lakukan sekarang?
—-
Note: walaupun beberapa pertistiwanya nyata, cerita ini tetap fiksi belaka….












D5 Creation