268 Shopaholic

now browsing by category

 

(Bukan) Pemboros!

By Rizki N. Annissa @kikikuik

Mereka bilang, terkadang hidup itu membosankan,
Ada juga beberapa yang mengatakan hidup itu berat.
Ada kalanya hidup memang tidak menyenangkan,
Tapi menurut saya, bergantung dari kita sendiri.
Bagaimana kita mau menikmati dan mensyukurinya…

Sheila tersenyum lebar menatap hasil belanjaannya hari ini. Sepuluh jenis dress bermerek Mango dan Zara, lima pasang sepatu, tiga buah tas, dan dua kacamata Charles & Keith, serta berbagai macam aksesories keluaran Seibu.

Sambil menenteng semua kantung belanjaannya tersebut, ia kemudian masuk ke sebuah salon terkenal untuk memanjakan dan merilekskan tubuhnya setelah seharian mengitari mall, sebelum kembali ke apartemen pribadinya.

***

Belanja tidak hanya menjadi kebutuhan bagi Sheila. Lebih dari itu, belanja sudah menjadi bagian dari hidupnya. Bahkan baginya, belanja adalah obat. Bila ia merasa bosan atau penat dengan segala permasalahan apapun, ia akan segera kabur ke pusat perbelanjaan manapun yang ia mau.

Sebenarnya hobi berbelanja Sheila baru muncul setelah beberapa bulan ia bekerja. Ia diterima sebagai asisten salah satu direktur di sebuah perusahaan besar yang sudah pasti pula diimbangi dengan gaji yang memuaskan.

Suatu kali, atasan Sheila, Ibu Melinda, mengritik penampilan Sheila yang biasa-biasa saja.

“Coba kamu sesekali ke mall atau butik. Cari outfit yang branded supaya tidak memalukan saya di depan kolega dan klien kita.”

Kalimat tersebut sangat mengena di hati Sheila. Ia sempat tersinggung tapi akhirnya berusaha mengikuti kemauan atasannya.

Hingga seterusnya, Sheila menjadi sangat menikmati kebiasaannya tersebut. Bahkan ia mengajukan aplikasi kartu kredit pada beberapa bank, untuk semakin memudahkannya berbelanja.

Sheila menolak dan akan marah bila teman-temannya menjulukinya sebagai Miss Shopaholic. Padahal dalam hati ia mengakui memang ia pantas disebut demikian

Terkadang ada juga yang menyindir dan mencemoohnya sebagai perempuan materialistis karena semua barang yang dimilikinya harus serba bagus dan bermerek. Ia cuek saja karena memang ia tidak bisa menggunakan barang-barang yang biasa saja dan tidak bermerek.

‘Saya mencoba untuk mensyukuri apa yang telah diberikan Tuhan dengan cara saya. Saya tidak mau menyia-nyiakan rezeki yang saya dapat. Orang-orang juga silakan saja mengatakan saya matre atau apalah, toh uang yang keluar hasil jerih payah saya sendiri, bukan memanfaatkan harta orang lain apalagi mengambil yang bukan hak saya.’

Begitulah kira-kira pendapat pribadi Sheila.

***

Sheila sedang jatuh cinta. Sudah beberapa belakangan ini ia dekat dengan Rendy, salah seorang penghuni apartemen yang satu lantai dengannya. Sebelumnya mereka sering berpapasan di lift atau bertemu di kafe depan apartemen. Rendy pun kemudian sering mengantar dan menjemput Sheila ke kantornya.

Rendy sangat baik dan perhatian terhadap Sheila. Terkadang Rendy menemani Sheila berbelanja dan membantunya membawakan barang-barang hasil belanjaan Sheila.

“Ren, Kamu yakin nggak apa-apa nemenin aku belanja terus begini? Kamu sendiri nggak beli apa-apa sama sekali?”

“Ahahahaa, nggak apa-apa kok, kalau aku memang tidak suka membeli sesuatu kecuali benar-benar membutuhkannya.”

***

Rendy pula yang membantunya menyelesaikan permasalahan kartu kredit yang dialami Sheila.

Ya! Sheila ternyata pernah menunggak pembayaran kartu kreditnya hingga jatuh tempo karena tagihannya tiba-tiba melebihi batas kemampuannya untuk membayar. Gajinya tidak cukup bahkan hanya untuk membayar tagihan pokoknya saja.

Entah bagaimana caranya, Rendy yang ternyata adalah manajer bank yang mengeluarkan salah satu kartu kredit Sheila, menolongnya. Hingga akhirnya Sheila tidak mengeluarkan uang sama sekali.

“Ren, aku mau berterima kasih sama kamu. Tapi kamu harus mengaku, kamu kan yang membayar kartu kreditku?”

“Sudahlah, yang penting masalahmu sudah selesai. Ini semua aku lakukan karena aku sayang sama kamu.”

“Apa?”

“Iya Sheila, kamu pasti juga sudah merasakannya. Kita memang sedang saling jatuh cinta kan?”

Sheila mendadak tersenyum tersipu-sipu. Mukanya memerah. Ia yakin, sebentar lagi pria pujaannya akan memintanya untuk menjadi kekasihnya.

“Aku ingin sekali kamu menjadi pacarku…”

Senyum Sheila semakin mengembang, ia sudah menyiapkan jawaban untuk Rendy.

“Tapi aku tidak bisa.”

Deg! Raut muka Sheila berubah seketika.

“Jika aku bersamamu, berarti aku harus menyesuaikan diri dengan gaya hidupmu yang sangat berbeda denganku dan sepertinya itu sudah mengakar dalam dirimu. Kamu ingat kan? Aku tidak mau mengatur hidupmu dan hanya bisa mengingatkan saja, namun sepertinya sampai dengan saat ini kamu tidak berubah, bahkan semakin parah.”

“Tapi Ren…”

“Aku tidak akan sanggup. Kamu terlalu boros. Dan hanya materi yang selalu ada di kepalamu…”

Sheila terdiam dan air matanya mulai mengucur, semakin deras saat Rendy kemudian meninggalkannya yang terduduk sendiri di dalam kafe tempat mereka biasa bertemu.

‘Jika saja aku bukan pemboros… Aaah!’ Hati kecil Sheila menjerit demikian berkali-kali.

***

Bermula Dari

By Johan Mahardi @jpmahardi

Marketing strategy consultant. Sounds cool!
Penampilan super rapi, blazer warna pastel, rambut hitam mengkilap, wangi, segar, dan atletis. Setiap hari duduk makan siang dengan direktur pemasaran dari perusahaan-perusahaan besar, mulai dari perusahaan consumer product, retailer, periklanan, media, fashion, hingga perbankan.

Apa yang dibicarakan?
Apa saja yang berhubungan dengan public awareness, market behaviour, consumer insight, top of mind, public relation, company image, apa saja asal berakhir dengan kenaikan profit perusahaan.

Apa lagi selain makan siang dan bicara?
Studi, tentu saja. Penelitian literatur, survey, site visit, mengikuti pesta-pesta selebriti, hadir di cafe-cafe, mall, supermaket, hingga ke warung remang-remang di pinggir jalan. Diskusi dengan sebanyak mungkin orang, membaca, nonton, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi. Hingga kita bisa masuk ke dalam pikiran konsumen, membaca perilakunya, menjiwai, dan voila! Menemukan motivasi di balik perilaku konsumtif mereka.

Ada yang lain lagi?
Oh, tentu saja. Mengenali motivasi konsumen hanyalah hal yang biasa. Yang lebih menantang adalah menumbuhkan motivasi yang tadinya tidak ada, tidak dikenal, menjadi sesuatu yang dibutuhkan, dianggap penting oleh konsumen. Ini dia kerja yang sebenarnya.

Maksudnya?
Ya, bagaimana caranya mengubah sebuah produk baru yang tidak dikenal, tidak dibutuhkan, menjadi produk yang dicari, diinginkan oleh konsumen. Memanipulasi cara berpikir, mengubah nilai-nilai dalam diri konsumen, membangun kepercayaan.

Contoh praktisnya?
Kita bekerja sama dengan dunia media dan fashion untuk menampilkan iklan, sinetron-sinetron, artis-artis rupawan dengan gaya hidup yang kita atur. Mencipatakan trend dan standar gaya hidup yang baru.
Dipadukan dengan product launching dan promosi dari retailer dan manufacturer yang kita atur jadwalnya. Sehingga kita bisa membuat prediksi pasar, sekaligus memudahkan rencana produksi dan prediksi keuntungan.
Dengan dunia perbankan kita mengamati aliran uang ke rekening dan statistik penggunaan credit card. Berapa sering dan berapa besar credit card dipakai, di mana, kapan, siapa, dan kemampuan konsumen untuk membayar. Kita memilih pasar dan membuat rencana berdasarkan statistik ini.
Semua pihak yang terlibat dan merasakan keuntungan dari strategi besar ini kita ajak bekerja sama. Semuanya berkolaborasi sedemikian rupa sehingga…

Mas, kita jalan ke mall, yuk!
Lho, kamu kenapa?

Saya stress dengerin cerita kamu. Mendingan kita jalan, nonton, atau belanja, yuk!…