274 UGD

now browsing by category

 

Someone Like You

By Ryan Pradana @ry4nn_

Undangan berwarna cokelat muda itu tergeletak di meja kantorku. Aku membacanya. Inisial nama di amplop undangan itu masih membuatku mengernyitkan dahi. Baru setelah kubaca nama mempelai, tubuhku terkulai lemas. Hanna Anindita dan Adi Nugroho. Hanna.. Hanna, perempuan yang selama ini menjadi kekasihku dan baru setahun ini kutinggal ke luar kota karena tempat kerjaku dipindah.

Hanna.. Hanna.. Kenapa kau tega padaku? Selama ini kita selalu bersama. Tak pernah ada masalah yang berarti. Tak pernah kita bertengkar hebat karena segala sesuatu selalu bisa kita selesaikan dengan baik. Sekarang kenapa tiba-tiba kau menikah dengan lelaki lain, Hanna? Apa kau kesepian tanpa diriku di sana? Kalau iya, maafkan aku Hanna. Aku memang harus pindah karena tempat kerjaku juga dipindah. Namun aku berusaha mencari uang yang banyak untuk biaya pernikahan kita.

Kubaca lagi undangan itu. Mereka akan menikah di rumah Hanna, dua hari lagi. Tanpa pikir panjang, aku segera minta ijin untuk pulang cepat, pulang ke rumah untuk membawa beberapa barang dan kemudian bergegas ke terminal untuk pulang ke kota asalku. Kota tempat kisah cintaku dan Hanna bersemi dengan indah. Baru sejam di bis, tiba-tiba dari arah berlawanan ada truk besar yang oleng dan…

BRAAAKKK!!

Aku terbangun dengan rasa pusing yang luar biasa. Saat membuka mata, warna putih dominan langsung menyerbu mataku. Cahaya yang terang membuatku pusing lagi. Dan, sepertinya aku sudah di surga, atau neraka. Sebab kulihat ada Hanna duduk di sebelahku. Namun wajahnya nampak pucat dan cemas. Dia langsung menggenggam tanganku erat ketika aku mulai berbicara.

“Hanna.. Kaukah itu? Di mana aku?”

“Iya, Billy. Aku di sini. Kamu di rumah sakit, Bil. Bis yang kamu tumpangi mengalami kecelakaan kemarin. Kamu langsung dibawa ke sini dalam keadaan koma. Lihatlah sekeliling. Kamu masih di UGD ini, karena kondisimu masih sangat lemah kata dokter.”

“Oh UGD.. Lalu orangtuaku sudah tahu?”

“Sudah, Bil. Mereka menjaga dirimu semalaman. Baru saja mereka pulang, gantian dengan aku. Kasihan mereka, nampak letih dan sangat cemas.”

“Han, kau tahu alasanku pulang?”

“Aku tahu, Bil. Karena itulah aku langsung kemari ketika diberitahu bahwa kamu dirawat di sini. Aku minta maaf karena tak ada pemberitahuan apa-apa. Aku memang salah, Bil. Aku…”

“Ssstt.. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku hanya ingin dengar dari mulutmu. Apa yang sebenarnya terjadi setelah aku pindah? Apa kalian saling mencintai? Jika itu alasannya..”

“Billy.. Maafkan aku ya.. Jujur, setelah kamu pindah ke Jogja, aku merasa sangat kesepian. Kamu juga jarang menelepon karena kesibukanmu yang makin bertambah. Lalu orangtuaku merasa kasihan. Mereka menjodohkanku dengan anak laki-laki kolega mereka. Selain bisa mengusir kesepianku, laki-laki ini juga bisa memberikan nafkah yang baik padaku, Bil. Dia pemilik beberapa perusahaan. Tak heran orangtuaku begitu semangat menjodohkanku. Ditambah lagi, sebenarnya mereka tak begitu setuju aku berhubungan denganmu, Bil.”

“Karena gajiku yang tak seberapa dan belum bisa menjanjikanmu hidup berkecukupan, Hanna?”

“Tolong jangan marah, Bil. Aku juga berpikir bahwa laki-laki yang mapan itu lebih cocok dijadikan suami daripada…”

“Daripada laki-laki seperti aku? Huh.. Lalu bagaimana dengan cinta kamu, Han? Apakah sudah kaubuang cintamu itu?”

“Takkan pernah! Cintaku untukmu sudah kubingkai dan kusimpan di dalam hatiku yang paling dalam. Sebagai penanda bahwa aku pernah mengalami masa-masa indah denganmu.”

“Kau akan selalu jadi cinta sejatiku, Hanna..”

“Terimakasih, Bil. Dan mungkin aku egois, tapi aku minta kau untuk merestui pernikahanku. Besok aku akan melangsungkan akad nikah”

“Kau tahu kan kalau itu tak mungkin? Merestuimu menikah dengan orang lain sama saja dengan menusuk jantungku sendiri.”

“Aku tahu, Bil. Tapi barangkali kau mau menusuk jantungmu sendiri, mengingat aku bukan lagi milikmu.” kata-kata itu diucapkan Hanna dengan nada sinis yang dingin. Jantungku langsung terasa ngilu.

“Bil, aku harus pergi. Calon suamiku sudah menjemput. Sekali lagi, tolong maafkan aku..”

Hanna berucap lirih sambil mengecup pipiku. Dari ujung mata aku bisa melihat Hanna keluar UGD untuk kemudian berjalan beriringan seorang laki-laki yang lebih gagah dari diriku, lebih tampan, lebih rapi, lebih kaya, dan pastinya lebih bisa mendapatkan Hanna. Tanganku mengambil undangan cokelat muda yang berada di meja sebelah ranjang. Aku membacanya pelan-pelan sambil menahan air mata agar tidak jatuh, karena tak ingin menangis di tempat ini. Namun terlambat, hatiku sudah lebih dulu menangis..

So long, Hanna. I wish nothing but the best for you. Don’t forget me, i begged..

Sometimes it lasts in love, but sometimes it hurts instead..

~ inspired by : Someone Like You. a song by Adele ~

Suatu Siang di UGD

By Sigit Raharjo @SigitHarjo

Aku berlari terburu-buru.  Tubuhku penuh luka.  Benturan dengan metromini tadi benar-benar meremukkan tubuhku. Sebelum orang-orang menolongku, aku berlari, selamatkan diri

Rumah sakit sesak. Ratusan orang menggantungkan nyawanya pada obat, suntikan, atau belaian dokter. Aku bergegas ke UGD, di sebelah kiri rumah sakit. Kuterobos antrean, dan masuk ke ruang perawatan.

Darah berceceran memenuhi ruang. Anyirnya bercampur dengan bau keringat dan airmata. Teriakan kesakitan membahana, beradu keras dengan suara tangis.

“Mbak, tolong saya!”

Perawat itu mengacuhkanku. Dia sibuk dengan handphonenya. Orang-orang pun tak ada yang perduli kepadaku. Semua asyik dengan kesakitannya sendiri.

Tiba-tiba sirene ambulan meraung. Perawat berlarian menyongsong dan mengeluarkan isinya.

Aku tertegun. Melihat tubuh yang digotong dari ambulan.

Tubuhku, terbujur tanpa nyawa

Cintaku Berakhir di Blankar UGD

By Inne @susterinne

Samar kudengar beberapa orang berteriak meminta dibukakan jalan, mataku tak bisa melihat jelas apa yang mereka lakukan. Sungguh, benturan pada kejadian tadi membuatku sedikit tak sadar.

Beberapa kali kudengar sirine ambulance berbunyi, sepertinya semua yang ada di unit ini sedang dalam keadaan gawat. Dua orang petugas, mungkin perawat memasukkanku ke ruangan yang sangat terang. Dokter-dokter berkumpul melihatku, salah seorang membuka mataku dan menyalakan senter kecil tepat di pupilku.

“Head injury grade I.”

Entah apa yang mereka bicarakan, seseorang membawakan alat yang dipasangkan di leherku.

Lalu aku melihat seseorang yang kukenal, seseorang yang selama ini kucari. Indira ada di sini, ia bertugas di rumah sakit ini. Tak kurasakan lagi sakit yang mendera tubuhku akibat kecelakaan tadi.

Kucoba meraih tangannya, dengan terbata-bata kupanggil namanya.

“In-dira.”

Ia menoleh, cantik sekali. Mataku yang lebam tak jelas melihat wajahnya.

“Jangan bicara dulu, biar dibersihkan dulu luka-luka di wajahmu ya.”

Aku memberinya tanda dengan berkedip.

Satu jam kemudian mungkin lukaku telah bersih. Aku mencari sosok Indira. “Suster Indira mana?”.

“Tadi ia merawat pasien lain. Ada yang bisa dibantu, Pak?”

“Tidak, terima kasih.”

Sial! Aku belum sempat bicara dengannya. Pencarianku selama ini sia-sia.

Seorang lelaki tampan berjas putih menghampiriku, kuyakini ia adalah dokter yang menanganiku. “Anda Tuan Diar?”

“Ya.”

Ia memeriksaku dengan stetoskop lalu mencatat sesuatu dalam sebuah map hijau. Kulihat sebuah cincin sederhana yang indah melingkar di jarinya. Ia tersenyum dan berlalu tanpa banyak berkata.

Sosok Indira menghampiriku, “Bagaimana keadaanmu?”

“Bila ada kamu semua tampak baik-baik saja.”

Indira cantik sekali dengan cap dan rambut dicepol. Tatapanku tersita oleh kalung yang dipakainya. Pada kalung itu menggantung sebuah cincin yang sama persis dengan dokter yang memeriksaku tadi.

Tetiba dadaku sesak. Tak ada oksigen yang dapat kuraih.

Hari yang Melelahkan

By Anginbiru @B7RU

Sepertinya aku benar-benar lelah. Sudah sejak kemarin aku belum pulang ke rumah untuk sekedar mengistirahatkan badanku. Pagi hingga sore aku bekerja sebagai petugas pengajar di Fakultas Kedokteran universitas ternama di kotaku. Setelah itu aku langsung berpindah ke klinik kesehatan kecil di sebuah daerah, tempat aku memeriksa para lansia. Melelahkan memang, tapi rasa senang ketika melihat senyum tulus para lansia itu sungguh tidak tergantikan oleh apapun.

Begitu jam periksa para lansia itu selesai—terkadang masih harus lembur karena masih ada pasien yang menunggu—aku segera beralih tempat lagi. Selepas jam makan malam, aku harus bergegas ke salah satu radio di kotaku, untuk menjadi narasumber sebuah acara talkshow tentang kesehatan. Well, biasanya memang tentang problem seksualitas, sesuai dengan spesialisasi yang nantinya akan kuambil. Di situlah aku bisa menyalurkan dua kegiatan sekaligus. Pertama, salah satu hobiku adalah menjadi seorang broadcaster. Entah kenapa, aku merasa suaraku enak didengar. Paling tidak, ada salah seorang kolegaku yang pernah memujiku—entah benar-benar tulus memuji atau hanya sekedar basa-basi. Ia bilang aku seorang dokter paket komplit. Ganteng. Mempunyai suara yang enak dan merdu. Dan pintar katanya. Aku hanya tertawa saat itu. Oya, yang kedua, aku menyukai hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas. Menurutku, menjadi seorang dokter spesialis kulit dan kelamin adalah pekerjaan paling “santai” bagi seorang dokter. Aku tidak harus bangun dini hari demi merawat satu pasien yang tiba-tiba mengalami stroke atau hal-hal semacamnya. Hampir tidak ada kasus penyakit kulit dan kelamin yang bersifat gawat darurat.

Dan, di sinilah aku sekarang, di sebuah UGD pinggiran Jogja. Yah, selesai talkshow tadi, aku segera berjaga di rumah sakit ini. Tugas jaga kali ini cukup membuatku kewalahan. Ada beberapa kejadian yang tentunya tidak terlalu diharapkan oleh dokter manapun selama bertugas jaga. Salah satunya, sejak kedatanganku ke rumah sakit ini, ada seorang pasien yang baru saja mengalami kecelakaan berat. Belum lama ia berada di UGD, tingkat kesadarannya mulai menurun. Aku sudah berusaha untuk “menyuruh” pihak keluarga memindahkan pasien itu ke rumah sakit yang lebih besar, terutama rumah sakit yang mempunyai fasilitas ICU dan CT-Scan. Namun sebagaimana kuduga, saranku ditolak mentah dengan alasan ekonomi. Akhirnya pasien itu dirawat di kelas III rumah sakit tempatku bekerja.

Aku mulai mencoba menghubungi rumah sakit-rumah sakit besar di kotaku untuk merujuk pasien ini, tapi sepertinya pekerjaan merujuk memang tidak mudah. Hampir setiap rumah sakit yang kuhubungi selalu menolak dengan berbagai alasan. Dan aku hanya bisa mencoba untuk berpikir positif.

Di tengah kesibukan itu, aku mencoba melakukan segala cara dan berpikir keras, bagaimana harus kurawat pasien itu. Hingga suatu ketika, aku mendapat telpon dari seorang suster yang melaporkan keadaan pasien itu tadi. Aku segera bergegas menuju bangsal itu. Di sana, kudapati pasien sudah semakin memburuk. Singkat kata, kusimpulkan pasien itu mengalami Mati Batang Otak. Beberapa cara sudah kulakukan untuk mempertahankan hidup pasien tersebut—tentunya sesuai dengan standar kerja seorang dokter, namun memang Tuhan sudah berkehendak lain. Dengan berat hati, akhirnya aku menemui keluarga pasien dan mengabarkan kematian pasien itu. Sungguh berat bagiku, terlebih ketika melihat istrinya yang sedang hamil besar. Tapi aku pun tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa berbuat semampuku, Tuhan yang menentukan semuanya.

Selesai membuat surat kematian, aku bergegas menuju kamar istirahat. Sebelumnya aku sudah memberikan pesan kepada suster yang berjaga, jika ada pasien lain yang mengalami kondisi gawat darurat, aku berada di kamar istirahat.

Sesampainya di kamar ini, aku segera merebahkan badanku di kasur yang ada, tanpa melepas jas terlebih dahulu. Sepertinya aku memang terlalu lelah. Dan memang tampaknya, tanpa butuh waktu lebih lama lagi, aku sudah terlelap. Sampai suatu ketika, aku mendapati ragaku diguncang-guncang oleh seorang suster yang mencoba membangunkanku. Tak mendapati aku terbangun, ia mulai panik. Tak berapa lama, ia sudah kembali ke kamar itu dengan seorang dokter jaga lainnya. Aku hanya bisa menyaksikan tubuhku diobservasi oleh dokter itu, dari pojok kamar. Yah, malaikat pencabut nyawa ternyata sudah mengincarku sedari tadi. Tanpa kesakitan yang luar biasa, ia berhasil mencabut nyawa dari ragaku. Dan sekarang, aku menunggu di sudut kamar itu, berteman pasien yang mengalami kecelakaan semalam.

Dialisis

By Uniench @anggi_

Rumah-rumah tetangganya terlihat ramah. Namun Beth tidak melihat keramahan tetangga sekitar rumah padanya. Dia selalu dihantui rasa dendam mamanya. Sesekali dia menyapa melalui kunjungan ke rumah tahanan. Mamanya dituduh membunuh kakak ipar suaminya. Namun, yang tetangganya tau bahwa suaminyalah pembunuhnya. Cap penjahat dan orang bermasalah adalah label untuk suaminya.

Pernikahannya penuh kepura-puraan hingga akhirnya dia menyadari statusnya itu. Suami yang selalu menanti cintanya hadir selalu ia tampik. Sampai ia siap menerima statusnya itu. Akhirnya Beth begitu mencintai suaminya. Tapi mamanya membuatnya putus asa.

Suatu hari, salah satu tetangga yang kerap memusuhinya, menderita gagal ginjal. Kegiatan di-dialisis jadi biasa. Penantian bunuh dirinya dipersembahkan sebagai upaya damai dengan cinta terpendam dan ginjalnya.