275 Koma

now browsing by category

 

Aku Bahagia

By Ryan Pradana @ry4nn_

Mataku masih menatap lekat sosok dirinya yang terbaring tak sadarkkan diri di ranjang kamar rumah sakit ini. Dinda, perempuan manis yang telah mengisi hatiku hingga kini, sedang terbaring koma. Perempuan yang aku kenal ketika kami sama-sama duduk di kelas 1 SMP. Ah, aku masih saja ingat saat-saat indah itu, ketika aku menyapa dirinya sewaktu dia masuk kelas 1B.

Memasuki jenjang SMA, aku dan Dinda semakin akrab saja. Jalinan cinta yang kami bina terasa semakin menguat. Namun, aku harus menghadapi kenyataan pahit. Usaha yang dirintis oleh ayah rupanya tidak bisa dilanjutkan lagi. Ayah bangkrut dan meninggalkan hutang di sana-sini. Satu demi satu perabotan di rumah dijual guna menututupi hutang-hutang yang tak bisa dibayar. Dan aku, terancam tak dapat melanjutkan kuliah ke universitas yang aku inginkan, karena ayah benar-benar kehabisan uang dan tak sanggup membiayai kuliahku.

Terus terang, aku malu. Aku malu pada Dinda, aku malu pada semua teman-temanku, aku malu pada dunia. Akhirnya setelah lulus SMA, kuputuskan untuk pindah ke rumah nenek di Sukabumi, membantu nenek di toko mungil miliknya, sembari mengumpulkan uang sepeser demi sepeser demi biaya kuliahku nantinya. Berat? Pasti! Apalagi harus meninggalkan Dinda seperti ini. Aku bahkan malu menceritakan kondisiku yang sebenarnya.

Dan di sinilah aku sekarang. Hanya beberapa meter dari tubunya yang koma. Dibatasi oleh dinding dan kaca. Aku begitu ingin merengkuhnya. Membisikkan kata cinta ke telinga mungilnya itu. Membelai rambutnya yang lembut. Mencium pipinya yang selalu harum.

Kebetulan saat itu tak ada orang di kamar. Sehingga aku bisa menyelinap untuk mendekati Dinda. Kubisikkan kata-kata ke telinganya.

“Kembalilah, Dinda. Aku akan selalu menunggumu di sini. Aku berjanji. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Tapi saat ini, kembalilah. Aku mencintaimu, tapi aku yakin bahwa ayah dan ibumu jauh lebih mencintaimu. Aku berjanji, aku tak akan meninggalkanmu.”

Aku lalu mengeluarkan kotak kecil dari kantong kemejaku. Cincin dari bunga, yang kubuat ketika harus berpisah darinya, dan baru sekarang sempat kuberikan pada gadis terindah yang pernah ada dalam hidupku. Kusematkan cincin itu ke jari mungilnya dengan perlahan. Tak lupa kusertakan doa paling tulus.

Semoga cepat sembuh, Dinda.. Aku mencintaimu, forever and for always.

Dan aku bahagia..

Aku Bahagia

By Anginbiru @B7RU

Sudah sangat lama aku tidak bertatap muka langsung dengan kekasihku. Ya, sudah hampir satu tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya. Rindu yang kurasakan sudah benar-benar memuncak sepertinya. Dan duduk berdua di sebuah kursi kayu di pinggir danau seperti ini terasa sangat menyenangkan bagiku. Paling tidak, senyum ini tak pernah lepas dari wajahku—yang katanya—terlihat lebih berbinar.

Berada di sampingnya seperti saat ini memang hampir menjadi satu-satunya hal yang kuinginkan. Betapa tidak, hampir setahun aku tidak bertemu dengannya, bertemu seseorang yang benar-benar kusayang.

Namanya Rio. Kami saling mengenal sejak hari pertama masuk SMP. Saat itu ia yang pertama kalinya menyapaku ketika aku masuk ke kelas I B. Senyumnya benar-benar tak terlupakan. Sejak saat itu kami berteman baik, hingga akhirnya kami pacaran. Namun karena satu hal tak terduga, kami harus berpisah setelah kami lulus SMA. Katanya perpisahan itu hanya untuk sementara. Aku menangis? Tentu saja! Berpisah dengan seseorang yang sudah sangat dekat selama beberapa tahun itu tentu tidak mudah.

Dan di sinilah kami sekarang. Di pinggir danau yang indah, di bawah pohon yang teduh pula. Kami berbincang, kami bercanda, kami saling bercerita tentang hidup. Satu hal yang akan selamanya kuingat adalah, baru saja ia membuatkanku cincin dari bunga, dan ia pasangkan cincin itu ke jariku. Klise memang, tapi apa sih yang bisa membahagiakan wanita selain hal-hal romantis seperti ini?

Kami masih berbincang santai ketika akhirnya ia berkata, “Kembalilah, Dinda. Aku akan selalu menunggumu di sini. Aku berjanji. Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu berada di sampingmu. Tapi saat ini, kembalilah. Aku mencintaimu, tapi aku yakin bahwa ayah dan ibumu jauh lebih mencintaimu. Aku berjanji, aku tak akan meninggalkanmu”.

Aku hanya bisa menangis, tanpa isak. Namun kata-katanya meyakinkanku bahwa pada saatnya nanti kami akan bersatu kembali.

**

Aku membuka mataku perlahan. Aku melihat kedua orang tuaku di sana. Mereka tampak sangat bahagia, bahkan ibu menangis.

“Alhamdulillah, Nak, kamu sudah sadar,” ucap ibuku berkali-kali sambil memelukku.

Aku melihat sekeliling. Tak ada danau, tak ada pohon rindang. Yang ada hanya sebentuk cincin bunga, melingkar di jari manisku. Aku tersenyum.

“Terima kasih, Tuhan,” batinku. Meskipun masih lemah, aku kembali tersenyum.

Aku Suka di Sini

By Nurul Humaeroh @_nurulch

Entah di mana sekarang, Lalita tidak peduli. Ia sedang merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Pantas jika ia seperti itu, sebagai anak tunggal Lalita sangat dimanja dan dijaga orang tuanya. Bahkan mungkin, seekor nyamuk pun tak akan dibiarkan melukai tubuh Lalita. Apapun yang diinginkannya pasti akan segera dikabulkan. Ah ingin rasanya ia hentikan waktu agar bahagia yang ia rasakan saat ini tidak berlalu begitu saja.

***

“Bagaimana keadaan keponakan saya, Dok?” tanya wanita berkemeja putih itu dengan raut wajah cemas.

Dokter menghela nafas cukup panjang. “Belum ada perubahan. Keadaannya masih koma,” jawab dokter.

“Kasihan Lalita.. Anak sekecil dia harus menderita seperti itu,” ucap tantenya pelan.

“Jika pun ia sadar, keadaannya tidak akan kembali sama. Ada gangguan pada bagian belakang kepalanya, mungkin karena benturan keras,” lanjut dokter lagi. Sang tante tak dapat berkata apa-apa. “Baiklah, saya permisi dulu. Jika ada apa-apa panggil perawat atau dokter jaga.” Dokter itu pamit, lalu keluar dari ruangan.

“Kejam. Ya orang tuamu kejam, Lalita. Tega sekali mereka menyiksa tubuh mungilmu,” ucap tantenya lirih. Air matanya tertahan. “Cepat sadar ya, Sayang, kita bermain lagi. Bermain bersama tante jika kamu tidak ingin kembali pada ayah dan ibumu..” ucapnya lagi sambil mencium kening Lalita.

***

“Tante, Lalita suka di sini. Lalita tidak ingin kembali. Di sini ayah dan ibu baik pada Lalita. Lalita tidak ingin pulang. Lalita suka di sini.” Kata-kata Lalita di mimpinya semalam masih terngiang jelas di ingatan sang tante.

“Ia tak ingin kembali. Jaga ia Tuhan..”