C Psycho
now browsing by category
Emma
By Johan Mahardi @jpmahardi
Kamu pasti tak percaya kalau kubilang OCD membuat hidupku lebih berwarna.
Lihat, aku baru saja menyusun bumbu-bumbu dapur berdasarkan abjad pertamanya: Bawang Merah, Bawang Putih, Baking Powder, Cengkeh, Garam, Gula, Kayu Manis, Kunyit, Merica, Oregano, Pala, Vanelli, dan Vetsin.
Manis, bukan?
Dan ketika suamiku pulang nanti, ia akan terkejut dan mencoba menemukan pola susunannya. Tebakannya selalu kutunggu-tunggu.
***
Sewaktu remaja dulu, mulanya kupikir hanya sekadar perfeksionis. Tapi lama kelamaan perasaanku selalu resah dan galau jika sesuatu tak tersusun rapi sesuai keinginanku.
Aku mulai mengatur segalanya berdasarkan susunan tertentu.
Berbulan-bulan aku akan memperhatikan rak buku dan mengubah susunannya 1-2 minggu sekali. Sekali kususun berdasarkan tinggi buku, kemudian kuubah berdasarkan tema buku, kuubah lagi menurut judul buku, warna buku, pengarang, penerbit, demikian berbulan-bulan hingga aku bosan dan mengalihkan perhatian pada hal yang lain.
Hingga dewasa dan menikah, aku sudah silih berganti ribuan kali mengatur susunan sepatu di rak, baju-baju di lemari, peralatan makan, pot-pot di taman, hiasan meja dan dinding, apa saja yang bisa kususun dengan urutan pola tertentu untuk menghilangkan keresahanku.
***
Setelah berumah tangga, terkadang ini jadi masalah yang serius. Paling tidak membuang waktu dan menghabiskan energi.
Aku selalu tak bisa tenang jika sedikit saja merasa resah. Aku akan mencari pelampiasan, barang apa saja yang ada dekat denganku, akan kususun rapi dengan pola tertentu yang kubuat-buat.
Beruntung suamiku adalah pria paling sabar yang pernah kukenal. Ia hanya akan membiarkanku hingga aku puas, kemudian dengan nada riang ia akan menebak pola susunan yang kubuat.
”Honey, perhiasan kamu ini disusun menurut harga belinya ya?” Dan ia tertawa sambil memandangku jenaka. Ia membuatku tak terlalu merasa bersalah dan jauh lebih tenang.
Ada waktu-waktu ketika aku tak bisa mengendalikan keresahanku, hingga menghabiskan sepanjang malam menyusun batu kerikil di pinggir kolam ikan. Ada pula waktu ketika suamiku kehabisan kesabaran, marah, dan meninggalkanku sendirian di rumah suatu malam.
Aku sesekali mengikuti terapi, agar penyakitku tak bertambah parah.
***
Suatu pagi, lima tahun yang lalu, suamiku baru selesai mandi dan menuju ke lemari pakaian hanya dengan mengenakan handuk dililitkan di pinggangnya.
Lama sekali ia memandangi deretan baju-bajunya di lemari, tapi ia tak bisa menemukan pola susunannya. Bukan tersusun berdasarkan warna, jenis kain, corak, brand, ataupun ukuran. Lima belas menit ia habiskan dalam keadaan setengah telanjang mencari petunjuk dan akhirnya ia menyerah.
”Honey, aku gak tau apa polanya…,” Ia terduduk lunglai di sisi tempat tidur.
Hari itu adalah pertama kalinya OCD menghilang dari hidupku. Entah bagaimana, mungkin karena terapi dan obat penenang yang kuminum, sejak hari itu tak ada lagi rasa resah ketika melihat benda-benda di sekitarku tak tersusun rapi.
Aku merayakan hari itu dengan membiarkan suamiku menyusun segalanya sesuai keinginannya, dan aku benar-benar tak merasa gelisah dengan hasilnya. Tak pernah ada lagi acara tebak-menebak dan pertengkaran ketika habis kesabaran.
***
Tapi itu sudah lima tahun yang lalu.
Beberapa bulan terakhir ini rasa resah dan galau itu datang kembali, akibat tergila-gila pada karakter tokoh guru SMA di sebuah serial TV. Seorang guru BK yang mengidap OCD dan menjalin kisah cinta dengan guru bahasa Spanyol.
Seorang pengidap OCD belum tentu tidak bahagia dan selalu galau, ia bisa juga sangat menarik dan pandai bernyanyi. Sweet and adorable! Ia mengingatkanku pada diriku sendiri dan kehidupan ’berwarna’ yang kumiliki lima tahun yang lalu.
Tiba-tiba saja, hari itu aku menyusun foto-foto di album keluarga berdasarkan jumlah orang yang ada di dalam foto. Foto sendirian diletakkan di bagian awal album, hingga foto bersama rombongan piknik sekompleks berada di paling belakang.
***
Nah, itu suara suamiku baru saja masuk ke rumah.
Aku tahu benar rutinitasnya: ia akan melepas sepatu, menuju kamar, meletakkan tas, dan membasuh muka. Aku diam-diam tersenyum di dapur.
Lima menit berlalu, tak terdengar suara apapun setelah ia masuk dan menutup pintu.
Tapi akhirnya, “Honeeeyyy!” Itu dia teriakan khasnya.
Aku menghampiri dan mendapatinya berdiri di depan rak sepatu sambil bertolak pinggang. Dahinya berkerut dalam. Ia memandangku dengan mata melotot. Sesaat saja, kemudian senyumnya mengembang lebar, lebar sekali.
”Ini kamu susun bedasarkan ketebalan sole sepatunya ya?”
Matanya jenaka. Aku seperti tersengat listrik. Begitu rindu mendengar tebakan jitunya lagi setelah bertahun-tahun. Aku pun tertawa dan memeluknya.
Ah, kamu pasti tak percaya kalau kubilang OCD membuat hidupku lebih berwarna…












D5 Creation