317 Pingitan

now browsing by category

 

Gadis Pingitan

By Sigit Raharjo @SigitHarjo

Seminggu sebelumnya
Sesuai adat keluargaku, aku harus dipingit. Aku tak boleh keluar kamar, membaca koran, melihat televisi, bahkan memegang handphone. Semua aktivitasku dilakukan di dalam kamar. Semua keperluanku telah disediakan. Tersiksa memang, tapi itu semua harus kujalani.

“Hanya seminggu ini,” pikirku.

Dua hari kulalui dengan berat. Detik jam serasa malas berjalan. Hari ketiga dan seterusnya kujalani dengan lebih baik, meski dua hari terakhir ini mimpi buruk selalu menghantuiku.

Hari pernikahanku
Semalam aku tak bisa tidur. Debar-debur dadaku tak tertata. Pintu kamarku diketuk perlahan. Ayah, ibu, dan saudara-saudaraku mematung di depan pintu.

“Anton kecelakaan, dia meninggal kemarin,” kata ayah terisak.

Seminggu kemudian
Aku masih terkurung di kamarku, pasung melingkari kakiku.

Alasan

By Ika @ikavuje

Kuputuskan tak jadi menikah dengannya, seorang milyuner muda yang mempesona dan sangat digilai wanita. Dan sekarang banyak orang menganggap keputusanku gila.

Begitupun ibuku, wajahnya masam. Impiannya ke Eropa selama dua minggu, lenyap begitu saja. Maafkan aku, Ibu…

Alasanku tentu ada, sayangnya aku terancam. Dengan alasan membatalkan pernikahan kami, aku “dihadiahi” puluhan mata-mata yang siap membungkamku bila bicara soal ini.

Tapi mulutku susah dikunci, bacalah ini.

Syarat menikah dengannya:
~ Rela menjadi perawan hingga mati.
~ Segala yang kau mau ia beri, yang ia mau juga harus kau beri, misalnya ia menginginkan matamu, pun harus kau beri.
~ Kau tak boleh ke manapun tanpa dia, dipingit seumur hidup.

Memang ia sangat mempesona, tapi dia gila.

Injury Time

By Momo DM @momo_DM

Usianya sudah matang, 30 tahun. Dan, sebentar lagi dia akan menikah. Dia tidak sabar menunggu saat itu tiba. Begitu pula ibunya, orang tua satu-satunya, sejak ayahnya meninggalkan mereka sewaktu dia baru lahir. Saat itu ibunya masih sangat muda. Kebahagiaan ibunya adalah segalanya.

Suatu pagi, di rumah itu sudah mulai sibuk persiapan pernikahan. Semua tamu sudah berkumpul. Kedua mempelai pun juga sudah siap. Dia duduk di samping ibunya, berusaha menenangkan diri. Acara yang khidmat itu pun akhirnya selesai. Dia dan ibunya saling pandang.  Ibunya tersenyum bahagia.

“Kamu sabar ya, Nak. Ibu cuma tidak ingin, besok di hari bahagiamu, Ibu sendirian mendampingimu.”

Dia menyeka air mata karena itu berarti masa pingitannya diperpanjang.

Gandrung

By Riezky Oktorawaty @riezkylibra80

Besok aku menikah.

“Nduk, ini pas buatmu. Sesuai syarat eyangmu.”

“Bapak mana?”

“Belum waktunya, tunggu kamu menikah dulu.”

Lima tahun aku tidak bertemu dengan bapak. Aku dipingit ibu.

***

Tengah malam.

“Pak, belum sare?”

Tanpa kuduga bapak langsung menciumku dengan ganas. Aku tak sanggup berontak, pelukan bapak terlalu erat buatku.

“Eling, Pak! Ini Shinta, anakmu!” Ibu menjerit.

Ibu langsung menyeretku ke dalam gudang.

“Maaf ya, Nduk, ibu lupa cerita sama kamu.”

“Cerita apa, Bu?”

“Mata kamu itu bisa bikin pria manapun gandrung di umurmu yang ke-17, termasuk bapakmu.”

Semenjak itu aku dipingit. Aku harus menikahi perjaka bermata buta berdarah biru untuk melenyapkan ilmu gandrung.