C Socio-Culture

now browsing by category

 

Harga Diri

By Afri Wildan @miskinkata

Panas matahari menambah beban saat berjalan menyusuri kampung menuju rumah. “Sudah lama aku merantau, saatnya bertemu keluarga, melepas rindu pada ayahku,” benakku.

Aku memantapkan langkah kakiku, membawa sejuta kebahagiaan karena aku sudah menjadi orang di negeri tetangga.

Sampai di depan rumah, kuhentikan langkah sejenak. Segera aku berlari ke dalam rumah, dan aku terkejut. ”Ada apa ini?!!! Apa yang terjadi pada bapak?!!” kataku sambil bergetar dan menangis. Adikku menjawab ”A, a, ayah dibunuh, Kak, gara-gara rebutan air di sawah.”

Kudekati jasad bapakku yang berselimut kain putih sambil kuusap wajahnya.

Di depan orang banyak aku berteriak ”Mak, mana cluritku? Mana?!!” Dengan tekad besar aku akan membalas kematian bapakku.

Harga diri keluarga akan kuutuhkan kembali.

Aku Si Ondel-ondel

By Ade Yusuf @sibangor

Aku si Ondel-ondel Betawi. Bermuka merah darah dengan mata belo dan rambut bercucuk hiasan kertas warna-warni, serta kumis hitam melintang di atas deretan gigi besar yang menyertai sungging senyum bibir tebal.

Terus bergerak menyusuri jalan tanah kampung, diikuti serombongan warga yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga yang berhamburan keluar rumah, begitu mendengar riuh rendah suara musik campur sorak sorai warga.

Ada yang ketakutan hingga histeris, ada yang bersorak mengejek atau kasihan pada setiap kehadiranku di kampung ini. Berbanding terbalik dengan aku yang kesal, marah, dan gemas mendapat perlakuan yang buatku bukan pujian tapi pelecehan. Pelecehan yang sudah sering kuperoleh sejak kecil.

Tapi kemarahan ini sebetulnya kutujukan pada bapak dan ibuku. Mereka bukannya membela atau bahkan melindungiku dari semua ejekan orang-orang kampung itu. Malah menjadikan aku sarana untuk mencari makan, dengan alasan uang hasil kamu menari lebih besar dari pemasukan bapak sebagai tukang sampah.

Awalnya aku rela menahan kemarahanku demi membaktikan diri pada orangtua. Tapi lama kelamaan, nuraniku berontak. Sejak 10 tahun lalu aku memutuskan kabur dari rumah. Merayakan kebebasan serta terutama melepaskan diri dari siksaan pelecehan seluruh warga kampung. Juga melepaskan diri dari deraan dan siksa bathin bapak ibuku. Mereka tak lagi melihat aku sebagai anaknya melainkan objek eksploitasi aji mumpung karena semakin hari, pemasukan kami dari hasil aku menari dan menghibur warga semakin besar. Bahkan mulai merambah ke kampung seberang. Aku benar-benar tak kuat lagi menahan beban ini.

Namaku Ondelondel. Wajahku buruk dan tubuhku besar bagai raksasa. Tapi aku bukan boneka. Aku manusia yang terlahir beda. Maafkan aku bapak dan ibu, begitu kataku sebelum meninggalkan mereka yang bersimbah darah di ruang keluarga.

Kicauan Maya

By Irene Wibowo @sihijau

Di sudut Moon Café, aku menunggumu. Kau tahu mengapa aku menyukai tempat ini? Karena di sinilah aku bisa bermimpi pada malam yang menghampiriku. Menghabiskan waktu, menunggu kicauanmu dan membalasnya.

Kau membawaku pada sebuah mimpi. Tempat ini adalah salah satu tempat favoritmu seperti yang selalu kau kicaukan. Pria berkacamata dengan lesung pipit, dan ramahnya matamu, selalu aku rindukan di dalamnya.

Aku terlalu malu mengatakan padamu aku adalah wanita penganggummu dari kicauan maya yang sangat ingin mengenalmu. Aku hanya bisa memandangmu.

Waktu menjawab, kau menghampirku dan menyapaku, “Halo, sepertinya kita pernah bertemu.” Aku memandangmu, kemudian aku menatap layar laptopku dan membaca kicauan terakhirmu.

@DimasSe Yes, I know you! Apakah ini hanya mimpi?

Ledakan Ondel-ondel

By Afri Wildan @miskinkata

“Ngiing ngiiing”

Terbaring di bangsal rumah sakit, sambil membayangkan kejadian kemarin.

Meriahnya karnaval tahun ini, diawali dengan rombongan mobil tokoh kartun, lengkap dengan badut menari yang mengikuti di belakangnya.

“Ibu, badutnya jelek!” kata anak kecil yang dipangku di pundak ayahnya, hanya dengan senyum kecil ibunya menjawab.

Tiba giliran rombongan ondel-ondel bermuka seram dengan iringan tanjidor di belakangnya,

“Ibu, takut!” Sembari pindah ke pelukan ibunya. Salah satu ondel-ondel perempuan mendekat, “Duarrr!!” Seketika itu ondel-ondel itu meledak. Melemparkan orang-orang di sisi jalan yang sesak. ”Aaahh… Tolong!” Masih mendengung jeritan kesakitan manusia akibat ledakan bom bunuh diri itu.

Kemudian suster datang, sambil menahan sakit aku bertanya “Sust, anak dan istriku mana?” Dengan mencoba merasakan kaki yang telah hilang.

Sosial

By Dian Harigelita @harigelita

“Selamat Pagi, epribadiiii!” Aku merasa lucu memainkan bahasa asing seperti itu. Padahal Ayah paling anti melihat kesalahan dalam berbahasa, apalagi yang disengaja.

Itu status Facebook-ku lima menit yang lalu. Kurang sreg, kuhapus dan kuedit dengan sesuatu yang durasinya bisa lebih lama, “Selamat berakhir pekan, semuanya!”

Puas dengan status itu, aku ke laman home, sekadar stalking sekaligus blogwalking.

Kusapa pacar dan teman-teman lewat Twitter sambil membahas rencana kongkow hari ini.

Kulirik jam, ternyata sudah pukul 10 pagi dan aku belum mandi. Bahkan, menginjakkan kaki ke luar kamar pun belum. Tapi kok rasanya lapar?

“Bunda?” panggilku manja sambil berlari-lari kecil menuruni tangga. “Bunda masak a–”

Di dasar tangga, Bunda tergeletak tak bernyawa.