B 111 Kata September

now browsing by category

 

Pacarku yang Sempurna

By Isyia Ulfa @isyiaAyu

“Dia benar-benar tampan! Kamu  beruntung sekali, Vin!”

Rina, teman sebangkuku masih terus memuji Andi, laki-laki yang sudah delapan bulan ini menjadi pacarku. Tidak hanya tampan, dia juga pintar dan cerdas. Dia kapten basket sekolah, juga ketua OSIS. Yups, dia Andi, pacarku yang sempurna.

***

Aku bergegas ke UKS. Lagi-lagi aku datang bulan ketika upacara baru saja dimulai. Dan lagi-lagi aku lupa membawa pembalut. Seingatku, aku masih menyimpannya di UKS.

“Pembalut lagi, Vin?” Suara Bu Ranti, Pembina UKS sekaligus ibuku menyambut kedatanganku. Aku meringis. Di belakangnya, seorang laki-laki berseragam putih abu-abu tampak menggelayut mesra.

“Hai Vina…”

“Hai, Ndi…”

Yups, dia Andi, pacarku yang sempurna. Ah, tidak. Dia Andi, calon ayah tiriku yang sempurna.

Pecundang

By Nuzula Fildzah @zulazula

Ia cantik, tapi seperti belati yang perlahan menusuk hati.

“Hei PECUNDANG!” Suara itu masuk ke telingaku lagi untuk kesekian kalinya di hari ketiga. Lebih tepatnya memanggil julukan yang ada di dadaku ini.

“P-E-C-U-N-D-A-N-G..” Gadis berjaket almamater itu mengeja tulisan yang ada di papan namaku. Aku tertunduk dengan rasa jengkel, ingin sekali marah.

“Eh, Lin, lihat tangannya ia kepal! Kesel kali tuh!”

“Kenapa lo? Enggak suka gue minta elo pakai nama itu CUN? Tampang lo aja udah culun, panteslah!”

***

Tubuhnya seindah biola, dengan bibirnya yang tak bisa berbicara, aku terus bermain dengan segala yang bisa membuatnya berteriak hingga meronta-mendesah.

“Aku benar-benar pecundang bukan, Lin?” ucapku yang kemudian pergi membiarkan ia orgasme sendiri.

Masa Orientasi

By Ben Nazwar @benjalang

Kukecup bibir mungilnya, “Kau manis sekali.”

“Aku takut ketahuan senior lain, Kak.” Ia tampak cemas.

“Tenang saja, takkan ada yang tahu. Lagipula aku ketua panitia masa orientasi.”

Ia mengangguk, berangsur tenang. Kali ini kulumat bibirnya lebih lama, ia mulai merespon, tak lagi pasif seperti tadi.

“Jangan, Kak,” sergahnya ketika aku mulai membuka kancing seragamnya, “aku malu.”

“Kenapa malu, cuma ada kita berdua dalam toilet ini.” Aku berusaha merayunya. Ia menyingkirkan tangannya.

“Pelan-pelan, Kak. Geli.” Nafasnya mulai tersengal ketika lidahku mulai menjelajahi putingnya.

***

Kami berpapasan di koridor kelas, saling melempar senyum. “Ganjen deh, junior cewek disenyumin terus.” Temanku meledek.

“Karena cewek lebih bisa ngertiin kita yang cewek-cewek ini,” timpalku. Mereka pun tertawa.

Hari Pahlawan

irfanaulia

—oleh Irfan Aulia @irfanaulia

Pagi buta itu kakek telah terjaga. Usai shalat Shubuh, beliau menyiapkan sarapan dan menyeduh segelas kopi. Dari senandungnya, mood kakek sangat ceria hari ini.

Kakek menghabiskan sarapannya dalam sekejap. Kemudian, ia mengambil seragam veterannya dan mulai menyetrika. Senandung ceria itu belum selesai ia gumamkan. Berulang kali kakek menatap kalender penuh suka cita. Kulihat ada tanggal yang dilingkari spidol merah. 10 November. Pantas saja.

Ketika matahari keluar sepenuhnya, upacara Hari Pahlawan pun dimulai. Kulihat mata kakek berbinar-binar. Cengiran konyol terpasang lekat di mulutnya. Kakek benar-benar persis anak-anak.

Setelah beberapa saat, bagian favorit kakek pun tiba. Komandan upacara memberikan aba-aba. Bendera siap dikibarkan.

“HORMAAAATTT… GRAK!!!”

“KRAAAKKK!!”

Lagi-lagi kakek terlampau semangat. Petinya sampai jebol.

Eksperimen Enigma

By Evan Saap @evansaap

Enigma merasa jenuh dengan upacara bendera di sekolahnya. Dia membuat sebuah variasi kecil.

Upacara bendera di sekolahnya selalu diselingi acara khotbah Kepala Sekolah yang berisi nasihat-nasihat untuk para murid. Khotbah Kepala Sekolah selalu memuji Factum, siswa yang berprestasi, dan selalu memojokkan Enigma, siswa jenius yang sering melanggar peraturan sekolah. Factum dan Enigma selalu menjadi antitesis dalam khotbah Kepala Sekolah.

“Kali ini, upacara bendera akan menyenangkan,” kata Enigma dalam hati.

Tidak seperti biasa, Kepala Sekolah jatuh pingsan sambil memegangi tiang mikrofon setelah lima menit berkhotbah. Upacara dihentikan.

Enigma tersenyum puas atas keberhasilannya mengekstrak senyawa racun dari kulit katak. Dia membubuhkan racun itu dalam secangkir kopi yang diminum Kepala Sekolah sebelum upacara bendera.

Cukup Aku Saja

By Nuzula Fildzah @zulazula

“Aku enggak mau kayak gini!” Bola mata Raisa seperti panah yang ingin menembus kedua bola mata Aga. Lelaki itu terlihat bingung, butiran air mulai keluar dari pori-pori keningnya.

“Apakah kau melakukannya atas dasar cinta?” tanya Raisa dengan nada pelan, namun terdengar memaksa. Aga menatap gadis di depannya itu dengan tatapan bersalah, lalu kembali memeluknya erat.

“Aku akan menikahimu Sa..”

**

Setahun kemudian

“Mas, kamu mau ke mana?”

“Ngumpul, penyambutan mahasiswa baru.”

“Aku ikut ya.”

“Jangan! Kamu bukan anggota senat.”

“Mas, jaga kepercayaanku.”

“Ya,” jawab Aga tenang. Entah mengapa Raisa merasa tidak tenang, setelah ponsel Aga berbunyi, dan melihat suaminya berjalan dengan senyuman.

Ga, di mana lo? Tiga Mahasiswi lugu udah menunggu kita!

Di Sela Upacara

By Ben Nazwar @benjalang

Aroma minyak angin menusuk hidung, pelan-pelan kubuka mata.

“Kau pingsan saat upacara.” Dido, teman sekelasku, menemaniku di ruang kesehatan.

***

Kurasakan sepasang tangan bermain di selangkanganku, dan lidahnya menjilati dadaku.

“Dido, jangan!” teriakku, namun suaraku terlalu lemah untuk menghentikannya. Aku berusaha melawan, namun sia-sia. “Tenanglah, sebentar saja. Hanya sampai upacara selesai.”

***

Kepala sekolah duduk di hadapan kami. Matanya menatap tajam, setelah ia memergoki Dido menyetubuhiku.

“Aku akan bertanggung jawab, Pa!” Dido membuka suara.

Aku menunduk, tak berani berkata-kata. Sakit kepalaku makin menjadi-jadi.

“Tanggung jawab? Kau mau menikahinya?!” hardik kepala sekolah.

“Tentu!”

‘Plakk…’ Tamparan mendarat di pipi Dido. “Gila! Dia calon ibu tirimu, dan sedang mengandung adikmu!”

Dido terhenyak menatapku, seolah tidak percaya.

Andai Saja

by Ben Nazwar @benjalang

“Kek, cocok gak?”

Aku tersedak, kenapa jaket almamater itu bisa ditemukan cucuku. “Sedikit kebesaran,” jawabku.

“Tadi aku tak sengaja menemukannya di gudang ketika bermain.” Ia tersenyum ke arahku. Sejak dikembalikan oleh Pratiwi—mantan pacarku, jaket itu kusimpan di gudang, sebab banyak kenangan buruk ada bersamanya.

“Oh iya, Kek, ini ada surat di dalamnya.”

“Surat?” tanyaku dalam hati dan mengambil surat beramplop lusuh itu.

“Aku yakin kau takkan datang. Tapi aku cuma ingin menyampaikan, datanglah besok ke pelabuhan jika kau benar-benar menginginkanku. Pratiwi.”

Aku terperanjat membacanya. “Jadi hari itu dia cuma ingin menguji perasaanku. Ah, kenapa aku tidak menyadarinya.” Aku benar-benar menyesal, selama ini berpikir dia memilih pergi meninggalkanku saat itu.