03 Beda Usia

now browsing by category

 

Kekasih, Tunggu Aku Di Pintu Surga

by Riga @attararya

Pukul 11.30 malam. Langit malam begitu hitam. Bulan dan bintang bersembunyi di balik kelambu awan. Keheningan terasa begitu mencekam jiwa. Di luar rumah tua dan kosong tempat mereka bersembunyi hanya terdengar suara jangkrik dan sesekali suara katak yang ribut menanti hujan. Rumah itu sendiri terletak di ujung sebuah jalan kecil, di dalam gang yang tak terlalu lebar. Rumah terdekat berjarak sekitar 50 meter dari rumah itu. Rumah kosong itu dihiasi sesemakan rimbun dan sebatang pohon mangga besar dan rindang yang menambah kesan seram. Beberapa papan di dinding sebelah kanan dan kiri tampak rapuh. Namun bagian depan rumah masih utuh, dengan pintu dan jendela yang tampak kokoh.

“Gimana keadaan di luar, Danar?” Rana berbisik. Ia mengenakan kaus biru, sweater hitam dan celana jeans warna biru muda. Di depannya hanya ada sebatang lilin yang menyala redup, sesekali siur angin meliukkan nyala lilin. Ada dua nasi bungkus di dekat mereka, teronggok begitu saja sebab tampaknya tak ada yang merasa lapar. Ruangan tempat mereka duduk dulunya adalah kamar yang cukup luas, terletak agak di belakang rumah. Lantai ruangan sudah dibersihkan sekadarnya dengan kain bekas yang ada di lemari usang di kamar samping.

“Ga ada orang, Mbak.” Lelaki muda yang mengintip dari jendela menyahut pelan. Wajah remajanya tampak kuyu. Keletihan yang begitu dalam membayang di bola matanya.

“Danar.” Panggil Rana pelan. Remaja itu menoleh. “Duduklah di sini.” Ia menurut.

“Ya, Mbak?”

“Kau mencintaiku?”

“Mbak! Kenapa masih tanya seperti itu? Jelas aku mencintaimu!” Danar mendadak gusar.

“Tenanglah, Sayang, jangan marah. Aku hanya ingin memastikan. Aku menyesal sekali telah membuat keadaanmu jadi seperti sekarang ini. Semestinya saat ini kamu menyiapkan diri untuk mulai kuliah, jalan bareng teman-teman kamu, menikmati dunia remaja. Tapi–”

Sebuah ciuman menghentikan ungkapan penyesalan Rana. Hangat. Rana yang semula terkesiap, akhirnya luluh dan membalas dengan lembut. Ah…lelaki ini, kekasihku. Usianya memang masih belia, tapi ia tahu caranya menyenangkan dan menenangkan hati Rana. Ia yang berusia 12 tahun lebih tua pun terkadang gentar menghadapi kenyataan yang sedang mereka alami sekarang. Cinta di antara mereka berdua memang kuat. Meski begitu apa yang bisa diharapkannya saat memutuskan pacaran dengan ‘anak ingusan’? Ia ingat pandangan seperti apa yang diberikan orang-orang ketika mengetahui mereka berdua punya hubungan khusus. Tatapan mencemooh, merendahkan, bahkan jijik. Rana adalah perempuan yang berusia jauh di atas Danar. Seorang janda pula.

Bukan sekali dua kali orang tua Danar mendatangi rumah Rana, menyuruh Rana menjauhi Danar, kadang dengan kata-kata bernada ancaman. Tapi setiap ia sampaikan hal itu kepada Danar, Danar selalu menguatkan dirinya, meminta ia bersabar. Sampai suatu malam seseorang tak dikenal melempari rumah Rana dengan batu yang diselipi selembar kertas berisi ancaman. Tindakan itu membuat jiwa Rana guncang. Ia meminta Danar menjauhinya, tapi justru Danar yang mengusulkan agar mereka kabur. Dalam kekalutan, Rana menyetujui usul Danar. Dan hal itulah yang membawa mereka sampai di sini saat ini. Bersembunyi seperti tikus ketakutan.

“Aku tidak menyesali apapun, Mbak. Aku memilih kabur bersamamu sebab aku tahu Papa dan Mama tak akan pernah merestui hubungan kita. Mereka menganggap tak mungkin tumbuh cinta di antara anak remaja dan wanita matang seperti kamu. Tapi mereka salah, Mbak. Sangat salah.”

Suara Danar memutus lamunan Rana. Dipandanginya wajah tampan yang mengguratkan kelelahan. Ditatapnya mata sayu yang menyimpan bara cinta sedemikian kuatnya. Tangan Rana terangkat, jemari lentiknya membelai wajah Danar. Sejenak Danar menikmati sentuhan sederhana tapi penuh makna itu, lalu meraup jemari Rana, menciumnya hangat, dan menangkupkannya ke dada.

“Besok, ketika keadaan sudah aman, kita akan kabur dari kota ini. Kita akan memulai hidup kita sendiri, Mbak. Mencari pekerjaan lalu kita akan menikah!” Mata Danar berbinar demikian bahagia. Rana menatap mata kekasihnya dengan pandangan haru. Ah, kamu masih begitu muda, Sayang. Semangat kamu masih tinggi. Sementara kamu belum mengerti sekeras apa dunia di luar sana, gumam batin Rana.

“Yang jelas, aku tidak mau berpisah denganmu, Mbak. Aku ingin memilikimu selamanya. Menjadi suamimu.”

“Ya, dan saat itu kamu harus mengubah panggilanmu kepadaku. Aku tak mau terus dipanggil ‘Mbak’!” Gurau Rana.

Danar tertawa pelan. Lelucon kecil itu sanggup mengendurkan sejenak urat saraf mereka yang tegang sejak pelarian mereka kemarin sore. Keluarga Danar pasti sudah menyadari kepergian anak kesayangan mereka. Mungkin saat ini mereka sudah minta bantuan polisi. Ah, entahlah. Rana tak ingin memikirkannya terlalu jauh.

Mendadak suara sirene memecah keheningan malam. Rana dan Danar terkesiap. Sigap merapatkan badan ke dinding kamar. Jantung mereka berdegup kencang. Berdoa semoga mereka tak terlihat oleh siapapun yang ada di luar rumah sekarang. Dengan gerakan perlahan, Danar mengintip ke luar melalui kain usang yang menutupi jendela tanpa kaca. Wajah tegangnya segera mengendur.

“Ada kebakaran rupanya, kulihat ada asap tebal di sebelah barat sana. Tadi mobil pemadam kebakaran yang lewat di depan gang.” Danar menghembuskan napas lega. Tubuh Rana merosot ke lantai diikuti Danar. Perasaannya kini semakin cemas. Setiap ada suara di luar rumah, hatinya langsung berdegup kencang.

Sejenak tak ada yang berbicara. Masing-masing memilih untuk menikmati sunyi yang hadir lagi. Rana melamun, membayangkan seperti apa kelak hidupnya jika sudah menikah dengan Danar. Ah, lamunan yang terlalu jauh. Hati Rana menepis bayangan indah di benak. Yang terpenting, besok pagi kami harus sudah pergi jauh dari kota ini. Mungkin ke Jakarta. Ya! Kenapa tidak? Di sana ada banyak pekerjaan. Dia bisa melamar di restoran, jadi pelayan toko, syukur-syukur dengan ijazah D3 ia bisa melamar jadi karyawan. Senyum di bibir Rana mengembang. Danar hanya menunduk di sampingnya sejak tadi.

“Sst, mbak..ada yang datang.” Suara Danar mendadak tegang. Dari balik kain usang tampak berkas-berkas lampu senter yang menyorot ke seluruh penjuru rumah. Tiga orang tampak mendatangi rumah itu dari kejauhan. Hati Rana ciut. Semua khayalan manis menguap begitu saja. Kini dia duduk tak bergerak di samping Danar. Hatinya cemas, bibirnya gemetar berdoa.

“Ayo! Kita mesti pindah dari sini, Mbak. Mereka orang suruhan Papa. Aku mengenali salah satu dari mereka.”

Tanpa suara, Danar beringsut pelan. Tubuhnya bergeser di sepanjang dinding kamar, mendekati pintu. Mereka harus bergerak hati-hati sebab saat keluar dari kamar, tubuh mereka akan gampang terlihat dari luar. Pintu dan jendela depan rumah memang tertutup rapat, tapi tak ada kain yang menutupi jendela-jendela itu.

Rana mengikuti apa yang dilakukan Danar. Saat mereka mencapai pintu kamar, Rana merebahkan diri dan merayap pelan menuju pintu belakang rumah. Sudah tak dipedulikan lagi pakaian mereka yang kotor menyapu lantai. Dada mereka berdegup demikian kencang. Setelah mencapai pintu belakang, Danar menutup rapat daun pintu, bergegas mengendap menjauhi rumah.

“Ada orang di dalam?” Sebuah suara berat milik seorang lelaki memecah sunyi. Senter ia sorotkan ke dalam melalui jendela tanpa kaca. Hanya ada kesunyian yang menjawab pertanyaannya.

Lelaki yang menyorotkan senter memberi isyarat pada dua temannya yang juga memegang senter. Salah satunya mengangkat ponsel dan mulai menelepon.

“Ada rumah kosong di dalam gang kecil ini, Pak. Kelihatannya tidak ada siapa-siapa. Tapi akan kami periksa lebih lanjut ke dalam.” Lapornya. Sesaat ia hanya diam mendengarkan, mengangguk, lalu mematikan ponsel.

“Lihat ke dalam, Min! Dul, bantuin!” Kata lelaki itu kepada dua  temannya yang memegang senter. “Oke, Jat!” jawab Min.

Dua lelaki yang dipanggil Min dan Dul mengitari rumah itu dari dua arah yang berbeda. Dul yang bergerak ke arah samping kanan rumah mengintip ke dalam dan berseru keras.

“Lihat, Jat! Ada lilin! Pasti mereka ada di sini. Ayo, kita dobrak saja!”

Serempak Min, Dul, dan Jat berusaha masuk ke dalam rumah. Min dan Jat mencoba membuka paksa pintu depan. Tapi sial bagi mereka, pintu itu tergembok. Membuka paksa hanya akan menimbulkan keributan memancing perhatian warga sekitar. Dul yang melihat jendela kamar samping bolong tanpa kaca, mencoba membuka selot. Berhasil!

“Kemari!” Serunya.

Ketiga lelaki itu masuk bergantian ke dalam kamar. Mata mereka liar menyapu seisi ruangan. Memandangi sebatang lilin yang kini tinggal separuh. Ada dua nasi bungkus yang belum dimakan dan dua plastik air minum diletakkan di sudut kamar. Min menyentuhkan jarinya ke salah satu nasi bungkus.

“Masih hangat,” serunya. Mereka kian semangat mencari ke seluruh penjuru rumah. Nihil! Danar dan Rana tak mereka temukan.

Jat menelepon lagi. “Barusan mereka di sini, Pak. Pasti belum jauh. Kami akan kejar mereka melalui jalan di belakang rumah ini.”

“Ayo!” serunya pada Min dan Dul. Bertiga mereka mengejar Danar dan Rana.

*********

Danar dan Rana terus berlari. Langkah kaki mereka tiba di sebuah perkebunan sawit. Cucuran keringat meleleh membasahi seluruh tubuh. Kelelahan lahir dan batin begitu mendera. Sekali Rana terjatuh sebab kakinya tersangkut akar pohon. Kaki kanan Rana terkilir dan memar. Ia tak mampu lagi berlari. Danar segera menggendong Rana dan tersaruk-saruk mereka melanjutkan pelarian.

“Mbak, lihat! Ada gudang di depan. Itu pasti milik perkebunan ini. Kita lihat, barangkali kita bisa sembunyi di sana.”

Rana menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah. Matanya berusaha fokus ke arah yang ditunjuk Rana. Tapi penerangan yang minim membuat Rana menyerah. Ia memasrahkan semua pada Danar.

Gudang itu pengap dan tanpa penjagaan. Danar dan Rana berhasil memasukinya setelah mencungkil selot pintu belakang gudang menggunakan gancu yang mereka temukan tersandar di dinding belakang. Mungkin ini adalah gudang penyimpanan hasil kebun. Namun saat mereka berhasil masuk, ternyata gudang itu kosong. Danar menyelot pintu gudang dengan gancu, sekedar penghalang agar orang luar tak melihat pintu gudang terbuka.

“Masih sakit kakinya, Mbak?” tanya Danar sambil menurunkan Rana perlahan di sudut sebelah kiri dari pintu gudang.

Rana menggeleng dan berusaha tersenyum. Sesungguhnya pergelangan kakinya teramat sakit. Ia hanya tak ingin menambah beban Danar. Semakin ia pikirkan semua ini, semakin ia merasa bersalah. Danar masih sangat muda, masa depannya terbentang luas. Dengan dukungan finansial dari keluarganya, sangat mungkin hidup Danar akan sukses di masa depan. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Membuang diri bersamaku? Rutuk hati Rana.

Danar berjalan mengitari gudang yang tak terlalu luas itu. Matanya mencari-cari ke seluruh penjuru. Di sebuah sudut ia berhenti. Entah apa yang sebenarnya ia cari. Sementara Rana terus berperang dengan batinnya sendiri.

Rana, kau jangan egois! Kecam sebelah hati Rana. Danar masih muda, jiwanya masih labil. Harusnya kau menasehati dia, bukannya malah setuju diajak kabur. Sebelah hati yang lain menyahut. Memang dia masih muda, tapi pendiriannya demikian mantap. Dia lebih dewasa ketimbang usianya.

Sebelah hati Rana mencibir. Lalu, apa akibatnya sekarang, Rana? Kalian kabur. Jadi pelarian. Masa depan Danar bagaimana? Bisa kerja apa dia dengan ijazah SMA? Ah! Ijazah SMA pun dia tak punya ‘kan sekarang? Sadari itu Rana!

Pergulatan hati Rana kian keras. Akhirnya Rana menyerah. Ia telah tiba pada sebuah keputusan. Keputusan yang seharusnya sudah ia ambil sejak kemarin.

“Danar, kemarilah!”

Danar menoleh, dan bergegas mendekat lalu berlutut di sebelah Rana. Wajah Danar tampak khawatir. Di tangannya ada selembar kain untuk membebat kaki Rana. Sesuatu berkilat di antara lipatan kain itu, tapi Rana tak begitu memperhatikan. Danar meletakkan kain itu di lantai lalu mengelus perlahan kaki Rana. “Kakinya sakit lagi, Mbak?”

“Tidak, bukan tentang kakiku. Aku ingin bicara serius padamu.”

Wajah Danar semakin tampak khawatir. Dia mulai menyadari, yang akan dikatakan Rana benar-benar penting.

“Aku ingin kita hentikan saja pelarian kita ini. Kembalilah pada keluargamu dan……..tinggalkan aku.” Sungguh pedih hati Rana mengucapkan kalimat ini pada orang yang sangat ia sayangi. Tapi ia tahu, ini yang terbaik.

“TIDAK! Aku tidak mau, Mbak! Aku sayang kamu, Mbak. Aku rela jadi seperti ini karena cinta sama Mbak. Aku ingin terus bersama Mbak Rana.” Danar demikian emosi. Matanya berkilat merah. Napasnya memburu.

“Dengarkan aku, Sayang. Hidup tak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. Hidup tak selalu indah.” Rana terisak. “Jika terus bersama aku, hidupmu akan hancur, Sayang.”

Danar menangis. Air mata bercucuran membasahi pipinya. Suaranya kini serak.

“Aku tidak mau, Mbak Rana. Aku tidak mauu.”

Rana merangkul tubuh Danar yang terguncang. Mereka bertangisan melepaskan beban yang terasa amat  menyesak di dada. Berharap tetesan-tetesan bening itu dapat menyapu bersih penat di jiwa. Berbagi kekuatan lewat pelukan kekasih yang amat disayangi. Pada saat seperti itu, tampaklah seperti apa sebenarnya seorang Danar. Ia hanya remaja yang akhirnya goyah setelah diterpa masalah demikian berat. Semua sikap dewasa yang dia perlihatkan selama pelarian ini telah hilang tak berbekas. Dia tak tahan lagi.

Danar mengangkat kepalanya dari dekapan tangan Rana. Cepat ia hapus air mata yang masih menggenang di matanya. Mata itu, kini terlihat kembali keras.

“Kalau aku tak bisa hidup bersamamu, aku mau mati saja!”

Rana tersentak. “Danar! Jangan bicara seperti itu! Sadar, Sayang, hidupmu masih panjang. Mungkin kita bisa ketemu lagi lain waktu.”

“Tidak, Mbak. Tak ada lain waktu. Mbak tahu apa yang dikatakan Papa padaku kemarin sebelum aku memutuskan kabur? Dia bilang akan menguliahkan aku di Inggris. Ada saudara Papa yang bersedia menerimaku di sana. Entah berapa tahun aku akan di sana, Mbak. Aku tidak akan sanggup!”

Rana menangis. Ya, dia juga tak akan sanggup berpisah begitu lama.

“Dan Mbak tahu apa yang Papa katakan mengenai Mbak? Dia akan mengadukan Mbak ke polisi dengan tuduhan melarikan anak di bawah umur. Percobaan penculikan. Atau apapun asal Mbak bisa masuk penjara. Aku kenal Papa, Mbak. Dia orangnya keras. Dia tak akan mau merestui kita.”

Suara Danar kian meninggi. Mendadak tangannya bergerak ke arah kain yang tadi ia letakkan di samping kakinya, meraba sebuah benda, lalu mengacungkan tangannya. Sebuah silet ada di jepitan jemarinya. Rana menatap ngeri.

”Benda ini yang akan membuktikan cintaku kepadamu, Mbak. Aku akan mencintaimu sampai mati! Sampai mati!”

Tanpa dapat dicegah, Danar menyayatkan silet itu ke nadi tangan kirinya. Sontak darah segar menyembur. Rana histeris.

“Danar! Apa yang kamu lakukan, Sayang? Kenapa nekat begini?” Rana menghambur memeluk tubuh Danar. Tak dipedulikannya darah yang membasahi seluruh tubuhnya. Mata Rana melirik ke arah kain yang tadi dibawa Danar. Bergegas ia bebatkan ke pergelangan tangan Danar. Segera saja kain kumal itu memerah, basah dengan darah.

Mata Danar meredup tapi bibirnya tersenyum. Tubuh mudanya kehilangan banyak sekali darah. Kondisinya semakin lemah. Susah payah bibir Danar bergerak hendak mengucapkan sesuatu. Rana mendekatkan telinganya.

“Rana….aku mencintaimu. Selamanya.” Akhirnya kalimat terakhir keluar dari bibir Danar.

Perlahan kepala Danar terkulai. Matanya memejam dan napasnya tinggal satu-satu. Lalu hilang. Separuh jiwa Rana terasa terbang.

“DANAAAAAAAAARRRR!!!!”

Sementara di luar gudang, Min, Dul, dan Jat tersentak mendengar teriakan histeris Rana. Tanpa perlu dikomando, serempak mereka menuju asal suara, sebuah gudang di depan mereka. Tapi pintu gudang tak bisa dibuka. Ada sesuatu yang mengganjal dari dalam.

“Dobrak, Min!” perintah Dul.

Rana seperti tak peduli dengan keributan yang ditimbulkan tiga lelaki itu. Batinnya kini kosong. Semangatnya terbang bersama nyawa kekasihnya. Tubuh Danar yang masih hangat tetap ia peluk erat. Bibirnya tak mampu lagi menangis.

“Dobrak lagi, Min. Hampir kebuka!”

Kali ini suara Dul seperti menyadarkan Rana. Ia harus lakukan sesuatu. Mereka tidak boleh menangkapku! Perlahan ia rebahkan tubuh kekasihnya ke lantai gudang yang dingin. Rana menatap tanpa ekspresi pada silet berdarah yang tergeletak di samping tubuh Danar. Perlahan ia raih benda itu, memperhatikannya sebentar, lalu tanpa ragu ia sayatkan besi tipis dan tajam itu ke nadinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Rana tak lagi peduli. Dia hanya ingin segera menyusul Danar. Pelan tapi pasti, nyeri menguasai diri Rana.

Perlahan penglihatan Rana memudar. Air mata membayang di pelupuk. Ia tahu, ini adalah air mata bahagia. Sebentar lagi ia dan Danar bisa kembali bersama. Rana tersenyum samar. Ia membaringkan dirinya tepat di samping jasad Danar yang semakin dingin. Dibelainya rambut dan wajah Danar. Dipeluknya jasad Danar sambil mengecup mesra bibir yang membiru.

“Kekasihku, tunggu aku di pintu surga.”

Tubuh Rana terkulai. Nyawanya terbang sudah, menyusul Danar ke alam abadi.

KataKami

@PramoeAga ~ Aaaaahhhhhh!! :’(  *speechless

Yang ‘menggangu’ cuma 1 : kenapa Danar masih memanggil ‘mbak’ pada Rana? Ah, beda 12 tahun kan tetap bisa manggil ‘beb’.  :p

@daprast ~ Nggak perlu komentar lain, lah, selain EYD-nya. Belajar lagi ya, Riga!

@therendra ~ Karya riga yang ini betul-betul padat. Intens. Saya dapat merasakan emosi demi emosi berkejaran. Ketegangan terbangun dengan baik. Ending yang luar biasa.

Seperti Ibuku

by Lia Khairunnisa @liakhairunnisa

Mengapa aku nyaman dengannya? Ya karena dia seperti ibuku.
Namanya Vega, wanita paruh baya dengan karir yang gemilang. Kaya raya dan punya segalanya. Hidupnya nyaris sempurna. Namun ada satu yang tidak dia punya, cinta.

***

Aku mengenalnya lewat sebuah acara. Kala itu temannya sedang merayakan pesta ulang tahun dan kebetulan aku adalah DJ yang disewa temannya untuk meramaikan pesta tersebut. Perkenalan kami terjadi begitu saja, hubungan kami yang awalnya teman semakin lama semakin naik tingkat. Pada awalnya tak sedikitpun aku berpikir untuk menjadikannya pacar, bahkan sempat terbersit dalam benakku untuk memanfaatkannya. Namun apa yang terjadi? Semakin lama aku mengenal dia semakin aku kagum padanya. Lalu perasaan itu datang. Perasaan yang biasa disebut cinta.

Umurnya tiga puluh sembilan tahun, lebih muda lima tahun dari ibuku dan lebih tua delapan belas tahun dariku.

Awalnya tak ada yang tahu hubungan kami. Hampir setiap hari aku menemuinya, namun tidak di cafe, bioskop, atau mall seperti yang dilakukan orang pacaran pada umumnya. Kami memang tak pernah terlihat mesra di depan umum. Kami berusaha menutupi hubungan ini serapat mungkin. Hingga pada suatu hari rekan kerjanya datang berkunjung dan mendapati aku yang sedang mencium bibirnya. Dan kebetulan rekan kerjanya itu adalah teman masa kecil ibuku.

Semenjak itu satu demi satu masalah datang. Ibuku jelas tidak merestui hubungan kami. Status Vega memang lajang namun umurnya tidak berbeda jauh dengan umur ibuku.

Namun cinta membutakan mata hatiku, tak kupedulikan ibuku yang tidak merestui hubungan kami. Aku lebih memilih pergi dari rumah dan menikahi Vega daripada menuruti apa mau ibuku. Ibu sangat terpukul. Anak satu-satunya yang sangat dikasihinya rela meninggalkannya demi wanita yang sesungguhnya lebih pantas jadi orang tuanya.

Pernah suatu ketika ibu berkunjung ke flat mewah kami, kala itu aku sedang tidak ada di rumah, hanya ada Vega di sana. Lalu berita yang aku dengar Vega mengusir ibuku. Tak lama setelah kejadian itu, ibu jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Kabarnya ibu sakit keras.

Keadaan ibu semakin hari semakin kritis. Aku memutuskan untuk menyambangi ibu, namun Vega masih saja melarangku untuk menemui ibuku. Dulu aku suka Vega, ya aku suka dia karena dia seperti ibuku. Dia bisa memberikan kasih sayang seperti yang ibuku berikan, juga perhatian yang sama besarnya dengan punya ibu, serta kenyamanan saat bersamanya terasa sama dengan rasa nyamanku bila dengan ibu.

Namun sekarang aku mengerti, dia bukan ibuku. Dia yang kini diselimuti amarah dan kebencian. Dia yang kini berbeda. Dia bukan lagi wanita yang aku puja puji. Bukan lagi sosok seperti ibu.

Aku bersikeras untuk pergi menemui ibuku. Vega menarik tanganku dan berkata selangkah saja aku keluar dari sini maka jangan harap aku bisa kembali. Namun aku tak gentar dengan ancamannya. Tekadku sudah bulat. Semua ini tidak bisa diteruskan lagi.

Vega memang seperti ibuku, namun bukan dari rahimnya aku ada, bukan dengan air susunya aku tumbuh dan bukan karena peluhnya aku dewasa. Jadi, jika harus aku memilih yang seharusnya kupilih, tidak lain tidak bukan adalah ibuku.

Kunjungi blog Lia di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Tante Vega yang egois nih! :P

@therendra ~ Setsetsetset. Ceritanya kayak ringkasan novel panjang. Terburu-buru. Kenapa tidak cuplik satu adegan saja dan kembangkan sedikit dari situ. Itu akan lebih mengakrabkan pembaca dan tokoh cerita.

@daprast ~ Konfliknya masih bisa dibuat lebih mantap dengan dialog. O ya, ”peduli” ya, bukan “perduli”.

Dongeng Bunga Matahari

by Anggun Prameswari @mbakanggun

Aku sangat menyukai tempat dudukku yang sekarang ini. Kelasku di lantai dua dan kursiku paling belakang tepat di samping jendela. Pemandangannya mengarah ke taman sekolah yang penuh dengan tanaman dan kembang-kembang.

Dan yang paling kusuka adalah bunga matahari. Ya memang aneh. Anak seumuranku memang harusnya suka pada bunga mawar merah muda yang terbalut kertas kaca dan pita. Seperti yang ramai ditata saat hari Valentine tiba. Tapi aku suka bunga matahari. Kelopaknya besar. Kuning cerah dengan rumbai kelopak yang lebat. Dan selalu menatap sang mentari. Ke mana mentari pergi, ke sanalah bunga matahari mengikuti. Sinar mentari seperti candu yang membuatnya tetap hidup.

Kadang aku suka berkhayal. Dulu bunga matahari adalah penjelmaan seorang dewi di khayangan. Dewi yang sangat cantik, berkulit kuning langsat dan berambut emas. Tapi dewi ini jatuh cinta pada mentari yang menyinari bumi. Sang dewi ingin sekali memiliki mentari yang memiliki senyum yang bisa menghangatkan dunia, tapi itu menyalahi aturan semesta. Ia pun dikutuk menjadi bunga. Ia memohon, walaupun telah dikutuk menjadi bunga, ia masih tetap bisa menatap senyum mentari yang ia cintai, dan jadilah ia bunga matahari yang mengikuti ke mana sang mentari pergi.

Kisah cinta yang menyedihkan, bukan? Karena itulah aku sangat menyukai bunga matahari. Karena seperti itulah kisah cintaku. Seperti dewi khayangan yang jatuh cinta pada sang mentari, aku jatuh cinta pada yang tak boleh dicintai. Dan pasti sebentar lagi aku akan dikutuk.

“Selamat pagi anak-anak.”

Suara penuh kharisma itu sanggup meredakan riuhnya gumam-gumam yang memenuhi kelas saat pergantian jam pelajaran. Dan aku melihatnya. Berdiri sana. Tinggi. Dengan kulit kecoklatan dan mata bulat penuh semangat. Dan senyumnya itu, senyum yang sanggup menghangatkan seluruh dunia. Dialah sang mentari. Dan aku si bunga matahari. Dan sebentar lagi aku akan dikutuk.

“Kalian sudah siap untuk ulangan hari ini?” tanyanya sambil menyiapkan setumpuk kertas soal ulangan harian.

“Beluuuum!”

“Minggu depan aja, pak!”

Dan ia pun tersenyum lagi. Mataku seperti kelopak bunga matahari yang mengikuti ke mana cahaya itu pergi.

“Masukkan semua buku. Cuma ada pulpen di atas meja.”
Dan aku pun siap menerima kutukanku sendiri.

***

Pernahkah kau dengar dongeng bunga matahari
Pada mentari, sang bunga jatuh hati
Tanpa henti, selama sang mentari masih bersinar di bumi
Bunga matahari diam-diam menanti
Memiliki sinarnya seorang diri, bukan berbagi

Pernah datang awan gelap menghampiri,
Mentertawakan bunga matahari, dan menculik sang mentari
Agar tahu, bahwa cintanya cuma mimpi

Pernahkah kau dengar, lirih-lirih, di tengah hujan berderai
Suara merdu merapal doa serupa dewi yang sedang bernyanyi
Itulah si bunga matahari, berdendang rindu dan perih tak terperi
Agar sang mentari berhenti bersembunyi dan menyinarinya lagi

Aku hampir kena serangan jantung saat Pak Surya membacakan puisi itu di depan kelas selepas ulangan harian di jam pertama tadi. Ya, Pak Surya, itulah nama sang mentariku. DAN PAK SURYA MEMBACAKAN PUISI KARANGANKU! Ya ampun, itu kan puisi yang kutulis tentang cinta bunga matahari kepada sang mentari.

“Selamat ya Bunga,” ia tersenyum padaku. Senyuman yang didamba sang bunga matahari. “Puisi kamu lolos seleksi penulisan puisi pelajar tingkat propinsi. Nanti puisi ini akan bersaing dengan puisi lainnya di tingkat nasional.”

Aku masih mematung. Tak tahu apakah harus tersenyum. Atau menangis. Atau marah. Itu puisi yang sengaja kutulis untuk Pak Surya. Awalnya iseng kutulis, kucurahkan semua yang kurasakan. Tadinya hanya untuk tugas rumah pelajaran Bahasa Indonesia. Tadinya hanya agar Pak Surya membacanya dan menikmati puisiku. Tapi kini semuanya membaca dan mendengarnya.

“Bapak bangga punya murid seperti kamu, Bunga.”

Ucapan itu disambut tepuk tangan dan siulan jenaka teman-teman sekelas dan aku hanya bisa mematung.

Pak Surya tersenyum. Dan saat itulah aku paham kenapa dewi yang dikutuk menjadi bunga matahari itu tak pernah bisa melupakan sang mentari. Senyum orang yang kita sayangi bisa menghangatkan kesepian yang sudah mendinginkan hati kita. Dan aku hanya terpana. Terbius menikmati senyuman sang mentari untuk bunga matahari.

***

Pak Surya adalah guru Bahasa Indonesia di sekolah. Dua tahun lalu dia mulai mengajar di sekolah ini, tepat saat aku memasuki tahun pertama dengan berseragam putih abu-abu. Senyumnya adalah hal pertama yang membuatku suka. Senyum yang lembut. Hangat. Manis. Persis seperti senyum mentari.

Dan tentu saja bukan aku saja yang jatuh suka pada guru muda tampan yang belum menikah itu. Aku tahu beberapa murid perempuan lainnya yang naksir pak Surya.
Ada Anita yang sering kulihat menggoda Pak Surya dengan tawa genit dan canda renyah. Pak Surya juga sepertinya senang-senang saja ngobrol dengan Anita. Atau dengan Prita. Aku tahu Prita suka menulis cerpen untuk majalah-majalah remaja ibukota dan dia sering membahas cerpen-cerpen yang akan ia kirim ke redaksi majalah. Mungkin pak Surya memberikan satu atau dua masukan agar cerpen-cerpen itu lebih bagus. Kalau ada cerpen yang dimuat, Prita membawakan hadiah untuk Pak Surya. Biasanya brownies kukus atau kue lapis legit. Dan masih banyak lagi yang jatuh suka pada Pak Surya, tapi tidak setertutup aku.

Ya, aku tak sekedar jatuh suka. Aku jatuh cinta dalam diam. Aku tak mengungkapkannya atau setidaknya, menunjukkan ketertarikan seperti Anita atau Prita. Aku memendamnya dalam hati. Bukankah tidak boleh ada cinta antara guru dan murid? Bukankah itu terlarang?

Maka bila aku tetap mencintainya, aku harus siap menerima akibatnya. Termasuk dikutuk menjadi bunga matahari yang selamanya mengikuti ke mana mentari pergi.

“Bunga,” panggil sosok itu. Pak Surya menghampiriku yang berdiri di depan jendela lantai dua yang menghadap ke kebun belakang sekolah.

“Ya Pak?” tanyaku lirih.

Aku benar-benar tak menyangka akan mendapatinya menghampiriku. Ini seperti sang mentari sengaja terbit di pagi hari dan mencurahkan semua kehangatan yang ia punya untuk bunga matahari saja.

“Puisi bunga mataharimu itu,”

“Kenapa sama puisi saya?”

“Iya, yang judulnya Dongeng Bunga Matahari itu.”

“Ah, itu puisi jelek, Pak. Puisi yang asal-asalan aja.” Aku memalingkan muka menyembunyikan semburat merah hangat di pipiku.

“Puisimu bagus. Seperti ada kisah nyata di baliknya. Seperti cinta bertepuk sebelah tangan.”

Aku menunduk. Rasanya aku ingin mengubur diriku di gundukan pasir atau menghilang begitu saja dari dunia ini. Ya Tuhan, kalau saja pak Surya tahu,…

“Jangan-jangan cinta kamu bertepuk sebelah tangan ya?” sindir Pak Surya sambil tertawa kecil.

Aku mematung. Tak tahu harus tertawa menanggapi leluconnya yang tidak lucu itu atau berteriak kesal karena guruku sayang ini tak kunjung juga mengerti.

“Sang mentari sebenarnya punya janji
Pada semesta, pada bumi, ada sumpah yang tak boleh dikhianati
Padahal, diam-diam mentari hanya mendamba cukup untuk sekali
Sang bunga matahari, sudi menyapanya, dan berkata selamat pagi.”

Aku tertegun mendengar Pak Surya membaca sebait puisi barusan. Puisi itu, entah kenapa seperti meresap masuk ke dalam hatiku. Seperti jawaban sang mentari pada nyanyian rindu si bunga matahari.

Dan Pak Surya tersenyum. Senyumnya begitu lebar dan hangat. Ia menatapku dengan mata berbinar seakan lega.

“Maaf ya, tadi bapak jadi kelepasan membuat lanjutan dari puisi kamu. Iya, kadang-kadang di dunia ini ada hal-hal yang jauh berbeda dari apa yang kita mengerti. Kasihan bunga mataharinya menanti sang mentari, padahal sebenarnya sang mentari juga menunggu si bunga matahari untuk memulainya duluan. Jadi, ya satu-satunya cara ya, harus berani jujur.”

“Begitu ya Pak?” aku makin tak sanggup menatap matanya.

“Eh tapi kok malah jadi melanjutkan puisi kamu ya?”

“Tapi bagus kok Pak,” jawabku pelan.

“Makasih. Bunga, puisi kamu itu sangat cantik. Kamu itu punya bakat. Jadi terus kembangkan.

Tante Ine

by Rida Astuti @RidaAstuti

Aku membuatnya menjadi semakin sulit, cintaku padanya membuat semakin pelik, anak-anaknya menolak dengan keras hubungan kami, tapi aku bener-benar mencintainya, Tante Ine buatku bukan sekedar pacar, tapi juga teman, ibu, sahabat yang benar-benar mengerti aku, setiap bersamanya aku bisa melupakan semua masalahku, kesabarannya, ketabaahan, membuatku bener-benar betah berlama-lama di sampingnya.

Bukan, kalian salah kalau menganggapku mencintai Tante Ine karena nafsu, bahkan kami belum pernah berciuman, Tante Ine membuatku sadar hubungan kami bukan melulu soal nafsu, dia sangat menghormati dirinya, menghormati hubungan kami dan aku menikmati tiap-tiap detik bersamanya.

Kalian salah lagi, Tante Ine tidak memberiku materi, justru membuatku bersemangat bekerja untuk aku bisa mendapatkan nya, dia membuatku menjadi laki-laki dewasa yang mengerti arti tanggung jawab.

Aku hanya berharap keluargaku, anaknya mau menerima hubungan kami dengan gembira. Karena  aku benar-benar mencintainya dan akan menikahinya, meski kami beda usia.

KataKami

@PramoeAga ~ Tante Rida, ayo kembangkan lagi ceritanya. Nanggung nih.. :D

@therendra ~ Karena temanya beda usia, saya menangkap kesan Tante Ine jauh lebih tua. Dan karena si tokoh tanpa nama ini punya anak-anak (jamak) yang sudah bisa menentang keras hubungan, maka setidaknya anaknya berusia di atas 15 tahun. Maka usia tokoh setidaknya 40 tahun. Pertanyaan ajaib saya: berapa usia tante Ine? Ini sebenarnya permainan logika saja. Tulisannya sendiri terus terang, tidak begitu kuat. Saya berharap konfliknya lebih disulut lagi.

@daprast ~ Aku tak pernah bisa selesai membaca tulisan ini. Aku yakin isinya bagus, tapi aku selalu kehabisan napas di kalimat pertama. Mbak Rida, coba untuk berlatih memenggal kalimat dengan tanda titik ya. Semangat!

Cinta yang Salah

by Vyna Arthalia @VyArthalia

Aku menyukai gadis itu, dia yang tersenyum menggoda dari tempat duduknya. Entah mengapa dia melakukan itu. Matanya bulat lucu, rambutnya panjang sebahu, bibirnya merah tipis. Namanya Anatasha, murid kelas X.b. Entah mengapa tiap aku berpapasan, hatiku tidak karuan. Seperti puber entah apa namanya. Aku tak tahu, tapi mungkin seperti yang namanya jatuh cinta. Dia selalu menyapaku tiap bertemu. Aku mencoba membalas sapaannya sekedarnya, padahal aku ingin lebih dari itu. Tapi mana mungkin, bisa jadi bahan pembicaraan satu sekolah jika aku melakukan hal yang lebih dari itu.

***

“ Sha, lo kenapa sih senyum-senyum terus ngeliati Pak Bagus?” ujar Freya. “Lo naksir ya sama pak Bagus?” ujar Nindi menimpali.

“Uhmm, emang  kenapa kalo gue naksir sama Pak Bagus?” Tanya Tasha.

“Ih, nggak waras nih orang. Pak Bagus digebetin. Kayak nggak ada cowok-cowok oke aja di sekolah ini,“ ujar Nindi sambil meraba keningku.

“Pak Bagus kan juga salah satu cowok kece di sekolah ini. Lagian gue denger-denger dia masih single

“Tapi dia udah tuaaaaa, Tasha!!! Dia itu seumuran om gue kali. Dih sukanya sama om-om,”  jawab Freya.

“Ya biarin aja, gue suka. Dia kebapakan, pinter, berwibawa, ganteng lagi.”

“Iya kumisan lagi. Jangan-jangan itu yang bikin lo tergila-gila,” ujar Nindi menimpali. Derai tawa mereka menggema di kelas yang kosong  yang terdengar jelas dari ruanganku. Aku tersenyum-senyum sendiri mendengar perbincangan anak-anak itu.

***

Tasha mendekatiku sepulang sekolah, dia bertanya-bertanya mengenai pelajaran sekolah. Aku mencoba menjawabnya. Lalu aku terkejut, ketika dia memintaku mengantarkannya pulang. Aku sebenarnya mau sekali, tapi aku tak ingin semua murid memandang aneh kami, dan aku tak mau Tasha menjadi bahan gunjingan mereka. Aku menolaknya halus, aku bilang belum bisa pulang sekarang.

Esoknya, Tasha memintaku mengajarnya privat di rumahnya. Sebenarnya aku tidak menerima kursus privat. Tapi karena yang meminta Tasha, aku menerima tawarannya, toh aku bisa lebih dekat dengannya di luar sekolah.

Di rumahnya, kami bisa lebih dekat, dan bahkan sangat dekat. Dan aku terkejut, ketika Tasha bilang dia mencintaiku. Sejak dari situ, kami berpacaran. Kami sepakat menyembunyikan hubungan ini. Karena aku tidak yakin banyak yang setuju dengan hubungan ini. Dia terlalu muda untukku, dan dia muridku sendiri. Tapi apakah salah jika aku mencintainya? Bukannya dia wanita, dan cinta milik siapa saja. Dia juga mencintaiku. Kami saling mencintai, itulah alasan kami bersama.

Orangtuanya tidak mencurigaiku, karena dia tahu aku adalah guru anaknya. Dan selalu bersikap ramah padaku. Sampai suatu ketika, tak sengaja ibunya memergoki kami berciuman mesra di kamar anaknya. Aku diusir tidak hormat dari rumahnya yang megah itu.

Dan esoknya di sekolah, polisi menggiringku. Aku ditahan karena diduga berbuat cabul pada anak muridku sendiri. Aku tertunduk lesu, dipandang oleh ribuan pasang mata. Aku yang menghindarinya di sekolah, takut menjadi aib bagi kami. Sekarang semuanya seakan naik ke permukaan. Semua mata menghakimiku. Seolah aku tersangka perbuatan biadab. Padahal ini tak lebih karena cinta beda usia.

Aku bersikeras membela diri, aku tidak bersalah. Aku mencintainya, dan dia juga. Kami saling mencintai. Terus mengapa semua orang menghakimi kami? Dan mengapa aku menjadi tersangka dari semua ini? Apa salahnya aku mencintai wanita yang jauh lebih muda? Apakah itu suatu kesalahan yang harus membuatku mendekam di balik jeruji besi?

Kunjungi blog Vyna di link ini

KataKami

@PramoeAga ~ Setragis itu ya cinta beda usia? pake survey ngga nih, Na? hehe.. Semangat terus menggali ide-ide lain dari tema yang lain juga ya.

@therendra ~ Jadi, PR kamu masih sama. Kamu ingin bercerita banyak sekali, tapi ruang yang kauberikan pada dirimu sedikit sekali. Jadinya, cerita melaju cepaaaaat sekali. Atur tempomu.

@daprast ~ Vy, “Terus” ya, bukan “Trus”. O ya, coba cek lini kalaku beberapa hari yang lalu, tentang penulisan kalimat langsung.