JejaKelas
now browsing by category
Bab 10 – MERIAHKAN PESTAMU!
Oleh Pramoe Aga @PramoeAga
Yuhhhhuuuu…. akhirnya kita sampai juga di akhir JejaKelas edisi pertama yaitu Kelas Prosa. Sembilan bab sudah kita pelajari, saatnya kini kita menuntaskan ilmu kita sebelum masuk kelas yang kedua. Apakah yang akan kita bahas di bab terakhir ini?
Sebelum berbicara tentang bab terakhir di JejaKelas ini, saya ingin bertanya kepada Cubipupils. Siapa yang suka pergi ke pesta atau perayaan, tunjuk kaki—eh, jari! Yak, satu, dua, sembilan, limabelas. Aha! Rata-rata manusia memang suka pergi ke pesta. Selain suasana yang ceria dan segala keriaan di sana, sebuah pesta yang memorable tentu tak lepas dari dekorasi yang kece.
Seperti halnya dengan pesta, sebuah tulisan juga memerlukan tambahan dekorasi –meskipun tidak mutlak—untuk membuatnya berbeda dan tak monoton. Nah, seperti apakah sebuah dekorasi dalam prosa? Tak usah bingung. Saya yakin, pasti Cubipupils sudah sering mendapati sebuah dekorasi dalam sebuah prosa yang dibaca, hanya mungkin tak menyadarinya. Contoh mudahnya adalah pemberian ilustrasi di dalam cerita yang kita tulis. Selain untuk memvisualkan jalan cerita, fungsinya juga untuk memperindah dan membuatnya tak monoton. Bisa juga dengan menambahkan puisi panjang di dalam tengah-tengah tulisan. Atau, menulis cerita dengan gaya berbalas pesan singkat seperti cerpen dari Pratiwi Fitriani yang berjudul Save My Last Message ini.
Contoh:
Jadi temen kamu itu mau pulang? Trus apa hubungannya sampe kita hrs putus? Sender : Chika <+6281321199353> Sent : 14/02/2008 20:58:33 Kamu sendiri tau kan alasan ak jadian sama kmu cuma gara2 kesepakatan bodoh ortu kita aja. Skrng udah waktunya kita pilih jalan masing2. Sender : ryan_luv <+628128484420> Sent : 14/02/2008 20:59:15Nah, sudah cukup jelas kan, apa yang dimaksud dengan dekorasi pada prosa? Tentu ya. Tapi bila memang masih ada yang ingin ditanyakan, jangan sungkan-sungkan untuk mengirim email atau mensyen langsung momod-momod kecenya.
Oke, Cubipupils, sampai ketemu di JejaKelas kedua ya! Ciao…
BAB 8 – MAJU KENA, MUNDUR KENA
Oleh: Pramoe Aga
“Aduh, cerpen ini bikin bingung. Ceritanya maju-mundur ngga jelas.”
Sebagai pembaca sastra, pernahkah ada di posisi seperti di atas? Pasti pernah. Yang dimaksud dengan ‘cerita maju-mundur’ pada kalimat tersebut adalah alur cerita. Sebenarnya, tanpa adanya alur cerita tidak akan ada sebuah cerita. Nah, sebagai Cubipupils yang tentunya bukan cuma membaca tapi juga menulis, yuk kenalan sama si alur cerita ini. Makin kita kenal, makin kita sayang nanti.
1. Alur Cerita
Apakah alur? Alur adalah pergerakan cerita/peristiwa dari waktu ke waktu. Ada tiga (3) macam alur yang dikenal. Pertama adalah alur lurus/progresif (A-B-C). Alur cerita ini menceritakan kejadian dari awal hingga akhir. Alur yang kedua adalah alur mundur/flashback (C-B-A). Alur ini kebalikan dari alur lurus. Kejadian yang diceritakan dari akhir hingga awal kejadian. Dan, nomor tiga adalah alur campuran antara kedua alur yang disebutkan di atas.
Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi (action) dari tokoh-tokoh cerita. Alur yang baik akan sangat membantu pembaca untuk menangkap gambaran utuh dari cerita yang disuguhkan dalam sebuah cerita. Bagi penulis, penguasaan alur cerita sangat menolong agar tidak kehilangan jejak, atau blank di tengah jalan.
2. Plot
Setelah kita mengenal alur cerita, ada baiknya kita juga mengenal plot. Sebagian orang masih menganggap alur dan plot sama. Kita cari tahu nanti perbedaannya.Plot adalah hubungan yang mengaitkan satu kejadian dengan kejadian lainnya sehingga saling berhubungan dan memicu terjadinya krisis sehingga menggerakkan cerita menuju klimaks (puncak konflik). Plot inilah yang sesungguhnya menggerakkan cerita dari awal sampai akhir dan menghiasi jalannya cerita yang kita tulis dengan ketegangan, konflik dan penyelesaian (ending).
Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dialami tokoh cerita digesekkan dengan persoalan lain sehingga menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, lalu dibawa ke puncak krisis (klimaks), dicari penyelesaiannya dan dibawa ke akhir cerita. Plot seperti ini disebut plot “klasik” atau “gunung plot”.
Lalu apa beda cerita dan plot? Beberapa perbedaan antara alur dan plot:
- Alur berisi kronologis cerita, susunannya bisa maju, kilas balik atau gabungan.
- Alur hanya rangkaian cerita dari awal sampai akhir.
- Alur bisa dijabarkan dengan gaya narasi, deskripsi, eksposisi dan narasi. Sedangkan plot sebagian besar dengan narasi dan dialog.
- Plot adalah pergerakan cerita dari satu kejadian demi kejadian yang saling berkaitan, bahkan terkadang sengaja dibenturkan untuk menimbulkan adanya ketegangan, klimaks (puncak konflik), antiklimaks (penurunan konflik) sampai ending.
- Alur adalah badan cerita sedangkan plot adalah ruh yang menggerakkan cerita.
- Alur ada pada jenis tulisan lain seperti feature dan esai. Sedangkan plot khusus ditemukan dalam cerpen dan novel.
Nah, sudah kenalan dengan alur dan plot. Sekarang makin sayang, kan? Coba tulis cerita dengan alur yang tak biasa ditulis. Minta teman-temanmu membacanya. Apakah alur dan plotnya sudah “menyatu”? Ini bukan tugas, hanya latihan biasa. Selamat menulis, selamat berlatih!!
Bab 7 – Bermain-main dengan Bahasa
by Daniel Prasatyo
Apa kabar, CubiPupils? Semoga masih semangat, ya…
Kali ini, kita akan mengulik tentang permainan bahasa dalam penulisan fiksi. Dalam hal ini, tentunya, Bahasa Indonesia.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih gaya bahasa yang sesuai dengan jiwa kisah kita. Pertama, tentu saja genre dari tulisan kita. Karya yang bernuansa komedi akan lebih mudah dinikmati dengan gaya bahasa percakapan sehari-hari. Ini bertujuan untuk menghidupkan suasana komedinya. Sementara untuk genre yang romantis, tentu saja, penggunaan gaya bahasa yang mendayu akan lebih sesuai.
Selain genre, kita juga perlu memperhatikan sudut pandang. Ini akan erat hubungannya dengan pelukisan karakter kita. Jika karakter kita seorang yang terpelajar, dan sudut pandang pengisahan adalah dari kacamatanya, maka struktur bahasa yang digunakan pun sebaiknya terkesan “terpelajar”. Bukan berarti harus menyisipkan istilah-istilah ajaib; hanya strukturnya, tak perlu kosa katanya.
Yang juga tak kalah pentingnya adalah setting waktu dan tempat. Ingat, era tahun 80an, belum ada Syahrini, bukan? “Sesuatu”-nya Syahrini akan sangat mengganggu untuk setting waktu 80an. Juga, misalnya, penggunaan bahasa prokem seperti doski, doku, sepokat; tidak cocok digunakan bila settingnya adalah tahun 2011.
Bagaimana dengan tempat? Ini justru memegang pengaruh yang luar biasa penting. Dengan setting di Jogja, misalnya, akan terkesan tak wajar apabila tak ada satu-dua kosa kata atau ungkapan bahasa Jawa yang muncul.
Bagaimana bila settingnya di luar negeri? Ini memang dilematis. Bila tokohnya tidak berbahasa Indonesia, masa iya, dia bicara dalam Bahasa Indonesia? Bagaimana pemecahannya?
Intinya, ketika tokohmu berbicara, masuklah ke dalam karakternya. Apa yang akan kamu katakan kepada tokoh lain yang sedang diajaknya berbicara? Ataukah menggunakan bahasa yang sopang atau yang sehari-hari?
Nah, selain yang sudah disebutkan di atas, cobalah untuk kembali menguji kalimat-kalimat yang sudah kamu tuliskan. Apanya yang diuji?
Pertama, efektivitas kalimatnya. Ini bukan pidato pejabat ya. Satu kalimat sepanjang setengah halaman A4 itu bukan hanya tidak efektif, tapi akan membuat pembacamu merasa sedang membaca jurnal untuk mencari data skripsi. Buka kembali buku pelajaran bahasa Indonesiamu; pelajari kembali bagaimana menulis kalimat yang efektif.
Kedua, ejaannya. Ya, tetaplah mengacu pada EYD, meski tidak mutlak pada kasus bahasa kolokial. Penggunaan ejaan dan cara penulisan yang patuh pada kaedah-kaedah EYD tidak hanya memudahkan pembaca memahami karyamu, tetapi juga membuka peluang penerbit untuk menerbitkan karyamu. Biasakan untuk membaca ulang tulisanmu, mencari kesalahan eja atau kesalahan penggunaan tanda baca sebelum menganggapnya seratus persen jadi.
Banyak penulis yang berpendapat bahwa masalah bahasa — terutama ejaan — adalah urusan dan pekerjaan editor. No, no, no. Editor akan dengan senang hati mengembalikan tulisanmu atau malah mengeklik tombol delete begitu membaca tulisan yang membuatnya berpikir seribu kali hanya dari kalimat pertamanya. Apalagi yang menggunakan cara penulisan SMS.
Adakah cara belajar menuturkan cerita dengan bahasa yang baik dan benar? Sebenarnya mudah saja. Perbanyak referensi. Perbanyak bacaan. Mulailah membaca secara kritis; rasakan gaya bahasa suatu bacaan, apakah sesuai atau tidak, membingungkan atau tidak. O ya, maksudnya di sini adalah agar wawasan kita terbuka ya, bukan meniru apalagi menjiplak gaya bahasa seseorang. Karena kita masing-masing sebenarnya sudah punya gaya bahasa yang unik.
Hmmm, sepertinya sekian dulu.
O ya, tugasnya adalah membaca ulang kisah yang sudah kamu tulis, lalu coba kaji kembali ketepatan dan kesesuaian gaya bahasanya.
Kalau ada pertanyaan, silakan layangkan email.
Salam!
BAB 5 – Siapa Bilang (Kisah) Cinta Tak Perlu Logika?
by Daniel Prasatyo @daprast
Cinta memang tak perlu logika, tetapi bagaimana dengan kisah cinta?
Sebelum mulai berpanjang lebar membahas bagian ini, izinkan kami para pengampu JejaKelas memohon maaf sebesar-besarnya. Beberapa waktu ini memang agak tersendat dalam penayangan materi, mengingat alasan-alasan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Namun demikian, bukan berarti terkatung-katung begitu saja. Kelas Penulisan Kreatif akan terus berlanjut.
Kembali ke pembahasan kali ini.
Pernahkah CubiPupils melihat satu adegan di sinetron yang serupa ini:
Seorang wanita muda mengangkat telepon, kemudian ia menjerit, “Apa?! Papa masuk rumah sakit?”
Lalu adegan berikutnya, tampak ia tengah tergopoh-gopoh masuk ke rumah sakit, dan bertemu dengan serombongan tenaga medis yang sedang mendorong ranjang beroda memasuki rumah sakit tersebut.
Nah, adegan yang sesederhana itu menyimpan banyak kejanggalan. Kenapa?
Dengan setting di Jakarta, ada beberapa hal yang sebenarnya kita semua tahu:
1. Ada BANYAK rumah sakit di Jakarta.
2. Butuh waktu untuk mengeluarkan mobil atau menelepon/mencari taksi.
3. Butuh waktu untuk melintasi jalanan Jakarta yang macet menuju rumah sakit.
4. Bagaimana mungkin masih bisa bertemu dengan papa-nya di depan rumah sakit?
Atau coba ingat-ingat kembali film Di Bawah Lindungan Ka’abah. Dengan setting waktu 1922, benar-benar janggal jika tokoh utamanya membeli Kacang merek tertentu, yang baru diproduksi tahun 1987.
Nah, sekarang, yang perlu dilakukan, setelah merancang setting waktu, tempat serta plot, adalah memeriksa ulang logika dari keseluruhan kerangka.
Perhatikan sekuens waktunya. Tidaklah tepat jika bersetting Jakarta 1980an, dan tokoh kita berkomunikasi lewat Blackberry, misalnya. Atau nongkrong di Sevel. Atau hanya menempuh waktu 15 menit dari Senayan ke Soekarno Hatta.
Perhatikan lagi setting tempatnya. Kalau di Jogja belum ada Seven Eleven, ya jangan biarkan tokoh kita nongkrong di sana. Jangan sampai seperti film Eat, Pray, Love, yang menggambarkan Julia Roberts naik sepeda dari Ubud ke pantai, dan tidak berkeringat sedikitpun.
Jangan lupa juga untuk memeriksa logika bahasanya. Nanti akan dibahas lebih detil di Bab 7, tetapi mulailah dalami karakter tokoh kita masing-masing. Kalau memang tokoh kita tidak bisa berbahasa Indonesia, alias orang asing, ya jangan diberi dialog berbahasa Indonesia. Jangan mengulangi keteledoran Ayat-ayat Cinta.
Demikian; Selamat melogikakan kisah cinta!
BAB 4 – Berapa Banyak Jalan ke Roma?
by Rendra Jakadilaga @therendra
Bagi sebagian penulis, membuat plot itu seperti memilih jalan dari tempatnya berdiri ke Roma. Ia bisa memilih naik pesawat, bertemu dengan seorang pujangga andada yang duduk di kursi 25D, jatuh cinta, dan mungkin melalui 500 hari bersama. Ia bisa memilih berjalan kaki, menghabiskan 500 hari untuk sampai di sana, bertemu dengan berbagai jenis manusia, mengalami berbagai jenis kisah. Bagi sebagian lainnya, membangun sebuah plot seperti menjalin jaring yang taut menaut. Setiap simpul adalah satu peristiwa, yang bila ia bergetar, maka simpul-simpul bertautan akan ikut bergetar bersamanya.
Tapi sebelum itu, mari kita pahami apa itu plot.
PLOT – Sekumpulan peristiwa yang membangun nyawa sebuah kisah, yang tersusun menurut suatu pola, tata urutan tertentu, hubungan sebab-akibat, atau mungkin sekadar kebetulan. Tujuan plot adalah menjamin tersampainya pesan, menggugah emosi, dan merangsang imajinasi.
STRUKTUR SEBUAH PLOT – Secara umum, plot memiliki beberapa unsur yang harus selalu ada, untuk menjamin kualitas kisah. Biasanya, kisah dimulai dengan sebuah PENGENALAN. Pengenalan ini mungkin mengantar kita ke dalam jagad cerita, memperkenalkan para tokoh dan sifat dasar mereka, dan membuka nuansa. AWAL KONFLIK memperkenalkan potensi-potensi terjadinya lentingan, ledakan, puntiran, atau apapun anda menamainya. Lalu konflik perlahan memanas, hingga terjadi KLIMAKS. Dari situ, para tokoh mengalami RESOLUSI, semua kesalahpahaman terurai, pertanyaan terjawab, dan kesimpulan mendekati penarikan. Adalah penting untuk merancang sebuah ENDING yang tak terlupakan.
Lupakan apa yang baru saja saya ajarkan. Plot tidak selalu harus seperti itu. Banyak penulis cukup jeli memanfaatkan rollercoaster emosi, menulis kisah dengan beberapa klimaks mengagetkan atau satu klimaks yang sudah diduga namun tetap membuat jantung copot. Sebagian penulis menyukai gelombang: ketegangan dalam cerita yang naik turun. Ada juga yang unik meletakkan klimaks bersamaan dengan resolusi dan ending. Ini aturannya: TIDAK ADA ATURAN!
Bahkan ketika anda berpikir, anda harus benar-benar memikirkan sebuah plot, ternyata tidak juga. Anda bisa memulai dari kertas yang benar-benar kosong. Menciptakan karakter lalu membiarkan karakter itu melakukan sesukanya di atas kertas yang anda hadapi tadi. Saya melakukannya. Bagi penulis, hal tersebut pengalaman menarik.
Bagaimanapun juga, menulis oret-oretan tentang bagaimana kisah anda akan berjalan tidaklah menyakitkan, dan itu membantu banyak dalam menjaga anda tetap dalam jalur. Saya tidak akan membahas tentang lebih baik mana, pakai outline atau tidak. Ini pilihan dan seringkali menyangkut kenyamanan pribadi.
MULAI MEMBANGUN PLOT – Ada beberapa pendekatan yang akan saya perkenalkan, jika anda betul-betul tidak punya bayangan bagaimana membangun plot. Langkah pertama yang harus anda ambil adalah “memulai”. Kedengarannya konyol, tapi itu kunci dari nyaris semua kesuksesan. Mari mulai dengan yang paling sederhana: berangkat dari sebuah peristiwa.
Berangkat dari Sebuah Peristiwa – Peristiwa yang hendak anda jadikan titik acu adalah yang kurang lebih bisa menjadi nyawa kisah anda, meski implisit. Dari peristiwa itu anda bisa melakukan dua hal: menariknya ke belakang, menjadi sejarah; dan mendorongnya ke depan, menjadi konsekuensi.
Misalnya: Seorang buta terduduk di depan sebuah makam, menangis.
Peristiwa ini sederhana, tetapi punya dua kekuatan: ini bukan sesuatu yang setiap hari terjadi, dan ini mengundang tanda tanya dalam kepala pemirsa. Kita bisa menyusun ratusan kisah dari peristiwa sesederhana itu.
Coba anda tarik kisah itu ke belakang: bertanyalah, makam siapakah itu? Apakah itu istrinya? Anaknya? Seseorang yang ia tabrak? Siapa? Sesudah anda menentukan siapa pemilik makam, anda bisa mulai menggali tentang mengapa ia menangis? Apakah ada peristiwa khusus yang berkaitan dengan makam itu? Ataukah ia hanya sekedar meromansakan kenangan orang silam? Apakah anda bisa membayangkan kemungkinan yang bisa anda susun hanya dengan bertanya?
Mengurai sejarah biasanya menghadirkan sesuatu yang kelam, entah mengapa.
Sila anda sekarang dorong kisah itu ke masa depan. Apakah ia hendak membangkitkan orang itu dari kubur? Apakah ia akan bunuh diri karena depresi ditinggal kekasih tercinta? Anda bisa bertanya tentang apa yang akan dilakukan orang buta itu selepas dari makam. Anda juga bisa bertanya… apa saja. Saya akan berhenti menjelaskan ini di sini. Anda sudah menangkap apa maksud saya.
Jawab pertanyaan anda sendiri, maka anda akan memiliki sebuah cerita. Sila meliar, tapi cobalah tetap relevan.
Konsekuensi Ya-Tidak – Cara kedua yang sederhana untuk membangun plot adalah menyusun ranting peristiwa. Hampir mirip drama interaktif. Dengan demikian anda bisa memilih alur yang memang memiliki kekuatan berkisah paling kuat.
Mulai dari depan: Desi menunggu bis di halte. Tiba-tiba seorang Cowok ganteng turun dari bis yang akan ia naiki.
Pertanyaan ranting: Apakah Desi akan naik ke bis itu?
(1) YA – Desi naik ke bis dan merasa menyesal tidak sempat berkenalan dengan cowok itu.
(2) TIDAK – Desi tetap di halte dan berharap akan muncul momen di mana ia bisa berkenalan dengan cowok itu.
Nah, kita bisa menyusun ranting lagi dari kemungkinan (1) dan (2) ini. Katakanlah kita memilih (1), maka kita bisa menciptakan kejadian di luar kuasa tokoh, misalnya sebagai berikut:
(a) Dompet Desi tertinggal di halte dan ditemukan cowok itu.
(b) Cowok itu merasa salah halte, dan naik bis itu lagi
(c) Bisnya mogok karena Desi berdoa demikian (?)
Tentu saja, kita tidak boleh melulu membebankan “menjawab pertanyaan” pada tokoh andalan kita. Kejadian di luar kuasa tokoh ini juga terhitung sebagai ranting. Jadi ranting sesungguhnya adalah kemungkinan-kemungkinan belaka. Kita penulis yang menentukan arah.
Bermain dengan Imajinasimu – Cerapan visual kerap sangat membantu penyusunan sebuah alur cerita. Namun, cerapan visual paling berguna sebetulnya ada dalam kepala kita. Imajinasi. Kita tak bisa memandangi luar angkasa saja untuk bisa sampai menulis kisah penjelajahan planet Saturnus.
Bayangkan suatu tempat, cari sesuatu yang unik, misalnya “Kebun Anggur”, “Puing-puing rumah”, dan sebagainya. Ini akan menggugah lokus ide di otak anda. Tutup mata anda dan bayangkan sejelas-jelasnya apa yang anda ingin cerap. Begitu anda mendapat gambarannya, langsung tulis serincinya. Oh, anda harus membuka mata dulu tentunya. Gunakan gaya menulis anda senyamannya saja.
Tutup mata anda lagi, masuk ke tempat yang sama, lalu amati apakah ada obyek yang anda bisa interaksi dengannya? Mungkin sepotong ranting, mungkin sebuah jendela, apa saja. Sentuhlah (dalam benak anda), rasakan teksturnya, baunya, apa saja yang bisa anda indera dari situ. Mulai dari perasaan itu, gugahlah respon anda terhadap setting. Anda membencinya? Anda menyukainya? Mengapa? Lalu apa yang anda akan lakukan tentangnya? Tuliskan.
Tutup mata anda lagi, masuk ke tempat yang sama, di tangan anda masih ada benda tadi. Tiba-tiba datang karakter lain. Bayangkan seperti apa karakter itu. Badut menyedihkankah? Petani tersesatkah? Seorang bayi lucu? Siluman Naga Hijau? Apa saja. Tuliskan.
Tutup mata anda lagi, bla bla bla, berinteraksilah dengan karakter lain itu. Berbicaralah dengannya. Tanyakan apa pendapat dia tentang benda di tangan anda. Tanyakan bagaimana harinya. Tuliskan.
Jika anda seorang penulis, seharusnya tidak ada masalah melakukan iterasi imajinasi yang sedemikian. Biarkan berjalan alami. Jangan anda paksa.
Bangunlah Jaring-jaring Kisah – Pernah baca Naruto? Anda tahu alur utama kisah itu? Ya, seorang ninja muda yang tubuhnya dipakai menyegel siluman rubah ekor sembilan, berusaha mewujudkan impiannya menjadi Raja Kampung (Hokage) dan membina kedamaian di seluruh dunia. Cerita yang sangat orisinil dan luar biasa.
Apakah anda juga tahu, ada puluhan subplot (ya, alur yang kecil-kecil itu namanya subplot) yang selain bertujuan memperkuat alur utama, juga memiliki nyawa sendiri yang dapat menggugah emosimu. Ada konflik dalam persahabatan antara Naruto, Sasuke, dan Sakura. Ada konflik dalam keluarga Sasuke Uchiha. Ada sejarah menarik dari ayah-ibu Naruto. Banyak sekali.
Kisah besar, yang epik, kolosal, biasanya punya pola seperti ini. Satu atau dua alur utama dan ratusan alur kecil-kecil bernama subplot. Sebut saja: Inuyasha, Tutur Tinular, Quantum Leap, Miyamoto Musashi, dan banyak kisah dari belahan dunia lainnya.
Mencapai titik ini tidak mudah. Selain membutuhkan pengalaman menulis bertahun-tahun, ia juga menuntut perencanaan yang rinci dan matang agar logika alur akan tetap terjaga.
MARI KITA SIMPULKAN
Tentu saja, keempat metode pembangunan plot yang saya bagi di atas bukanlah menu tunggal dalam ranah ini. Anda bisa saja membuat metode baru yang bisa anda sarankan bagi para penulis skrip sinetron.
Tahukah, beberapa penulis skrip serial televisi malah memulai dari tokoh. Mereka menyusun cerita berdasarkan apa yang bisa diungkap dari sebuah karakter. Tidak sedikit penulis yang tak memikirkan ending ketika menyusun sebuah kisah, dan tak jarang mereka terjebak dalam alur bertele-tele.
Materi tentang plot, narasi, dan metode menyusun alur berlimpah banyaknya di ranah maya. Ada yang menjelaskan tentang jenis-jenis alur. Ada yang mengupas komposisi alur secara rinci. Ada juga yang mengajak pembacanya menjelajahi pikiran mereka sendiri, menebak-nebak apa yang terjadi.
Pernah nonton Memento? Itu adalah cerita dengan alur tergila yang pernah saya tonton, seperti membaca buku dari belakang. Saya takkan menceritakan itu di sini, lebih menarik jika anda mencari sendiri. Uniknya, rasanya belum ada yang melakukan yang sama sebelumnya dan sesudahnya. Butterfly Effect? Kita maju mundur dalam garis waktu. Bukan kisah biasa. Mungkin Heroes lebih familiar sebagai cerita dengan alur berpuntir banyak di mata kita sebelum penulis skripnya nyaris mati terbelit kerumitan alur yang ia buat sendiri.
Saran saya, lakukan yang mesti anda lakukan. Pelajari berbagai jenis alur. Maju. Mundur. Maju-mundur. Seperti kata saya tadi: TIDAK ADA ATURAN! Mulailah. Dan hitunglah berapa banyak jalan menuju Roma.
TUGAS
(1) Ambillah sebuah gambar ilustrasi dari koran online yang menggugah emosi anda (Di Nat Geo mungkin banyak). Susunlah plot ringkas darinya, dan pakai tokoh anda pada latihan bab 2 lalu. 50 Kata Maksimum.
(2) Carilah dari daftar bacaan anda selama ini, kisah favorit anda, lalu ceritakan kembali alur utamanya saja, tidak lebih dari 50 kata. Semangat Kakak!
BAB 3 – Bantulah Ayu TingTing, Kawan!
Ide, sudah. Karakter tokoh, sudah. Lalu, apa?
Kita akan bicara tentang setting. Kisah yang sudah kita siapkan, bahkan pemerannya pun sudah kita himpun, tak akan utuh bila tidak kita letakkan pada suatu panggung, atau suatu realm atau apa pun itu.
Sebelum kita ulas lebih jauh, kembali kita menengok pada kisah yang telah lahir dari ide kita. Seberapa pentingnya setting dalam sebuah kisah?
Anggaplah kisah cinta segitiga yang kemarin dulu kita bahas, kita letakkan pada setting waktu sekarang. Tentunya kita sendiri cukup punya pengetahuan tentang bagaimana masing-masing tokoh berkomunikasi, gaya komunikasinya, dan juga trik-trik perselingkuhan jaman sekarang.
Bagaimana bila kita lempar kisah kita ke tahun 1760? Atau ke tahun 2315?
Mungkin saja Juliet tidak perlu pura-pura mati andai ia bisa berkirim pesan via blackberry messenger dengan Romeo.
Bagaimana dengan lokasinya?
Bila Andrew, Bianca, dan Charlie ketiganya kita tempatkan di Beijing; seberapa jauh kisahnya akan berubah?
Nah, ternyata setting, baik waktu maupun tempat sungguh berpengaruh pada jalan cerita.
Berikut hal-hal yang perlu digarisbawahi mengenai setting:
A. TEMPAT
Hati-hati memilih tempat atau lokasi terjadinya kisahmu. Kita tidak ingin pembaca kemudian bernasib sama dengan Ayu Tingting yang tersesat, bukan?
1) Akan sangat membantu jika kita benar-benar menguasai seluk beluk lokasi yang ada di kisah kita.
Mengapa? Karena tanpa pengetahuan yang mendalam tentang lokasi tersebut — entah itu kamar, kafe, sepenggal jalan, kota, negara — kita tidak akan bisa menyampaikan gambaran yang utuh kepada pembaca kita. Sementara penggambaran lokasi biasanya sangat menentukan kerangka yang hendak kita bangun di kepala pembaca!
2) Kita harus sudah pernah ke sana.
Dengan kata lain, lokasinya harus konkret. Setuju? TIDAK.
Meskipun pernah ke lokasi itu akan sangat membantu kita menggambarkan situasi dan suasananya, kita tidak harus kok. Mengapa? Pernah dengar yang namanya search engine?
Ada banyak cara untuk kita bisa mengetahui detil seluk beluk suatu lokasi, termasuk jaraknya dari lokasi lain, tanpa kita harus benar-benar ke sana. Pertama, berdayakan koneksi internetmu. Google bisa menjawab hampir semua pertanyaanmu.
Kedua, jadikan buku panduan wisata sebagai referensimu. Buku-buku ini bahkan memberi kita informasi mendetil mengenai harga, angkutan dan bahkan cuaca.
Intinya, riset.
3) Bagaimana dengan lokasi yang murni rekaan?
Sama sekali tidak diharamkan. Tetapi, hampir sama dengan karakter tokoh rekaan kita, kita pun harus punya gambaran detilnya di kepala kita. Beberapa penulis yang sudah cukup terkenal bahkan tak sungkan-sungkan menggambarnya, terkadang membuat maketnya.
B. WAKTU
Seperti yang terjadi pada Juliet dan Romeo versi kita, setting waktu menentukan ending cerita!
1) Beda waktu, beda teknologi
Sudah jelas kan, mengenai subjudul ini? Siti Nurbaya tidak mungkin berkirim pesan singkat pada Datuk Maringgih, misalnya. Atau di tahun 2089, masihkah ada kertas?
2) Beda waktu, beda bahasa
Bandingkan saja film Indonesia sekarang dengan yang sepuluh tahun lalu. Atau buku. Gaya bahasa tiap jaman selalu ada perbedaannya. “Engkau adalah pujaan hatiku,” akan terdengar ganjil untuk kisah bersetting sekarang, misalnya, meski tidak diharamkan.
3) Beda waktu, beda suasana
Jakarta tahun 1965. Mungkin kata macet belum ditemukan saat itu. Setuju?
Bandung tahun 2105. Masihkah sedingin sekarang?
Bisa ditangkap kan, maksudnya?
4) Beda waktu, beda stigma
Misalkan saja kita mau mengangkat tema homoseksual. Apakah stigma yang dikenakan masyarakat pada tema ini sama dari tahun ke tahun? Sekarang, mungkin sudah banyak yang bisa menerima dan tidak mempermasalahkannya. Sepuluh tahun yang lalu? Seabad yang lalu?
Demikian sekilas mengenai Setting Waktu dan Tempat. Selamat belajar!
Astaga. Hampir lupa. TUGAS!
Tugas
Masih berdasarkan sinopsis kalian, dan ditambah dengan uraian karakter tokoh kemarin, silakan lengkapi kerangka kisah dengan uraian mengenai setting tempat dan waktu. Seperti yang dilakukan dengan uraian karakter, lakukanlah sedetil mungkin. Bila perlu, sertakan gambar!
BAB 1 – Tak Ada Bayi yang Jelek, Begitulah Ide Pertama Kali Dilahirkan
by Rendra Jakadilaga
IDE DAN KREATIVITAS
Pikiran seperti Rumah Sakit Bersalin, begitu kata @hurufkecil dalam salah satu puisinya. Setiap hari ada saja yang lahir di sana. Itulah ide, yang akan kita kupas hari ini. Beberapa dari kalian mungkin berpikir, menggali ide itu sulit. Beberapa lainnya, mengganggapnya sama dengan bernapas. Sebelum kita berpikir lebih jauh, mari memahami dulu, apa yang mau kita pikirkan ini.
Ide—kalau saya diizinkan memberi definisi versi saya sendiri—adalah atom dari suatu karya. Pecahan terkecil yang mungkin menjadi pembangun tubuh dan jiwa karya tersebut. Seperti biji, mungkin ada ide yang tampak sama, tapi begitu anda semai, mereka mungkin akan mekar sebagai bunga berbeda. Amati pada beberapa akun termoderasi, mereka kerap melempar satu topik/tema yang kemudian dipakai para pengiringnya untuk menciptakan karya ringkas yang betul-betul berbeda wajah. Akan kita latihkan nanti.
Ide, meski adalah sesuatu yang dasar, bukanlah remeh. Mengolahnya, tentu saja, butuh sedikit keterampilan. Seperti yang dilansir dalam judul di atas, tak ada ide yang jelek, sekonyol apa pun kedengarannya. Tapi tak semua ide selalu bias anda pakai untuk memulai suatu karya. Oleh karena itu, kita membutuhkan DNA kedua kita: Kreativitas.
Kreativitas adalah kemampuan membuat sesuatu menjadi ada. Mencipta. Dari kata create. Tidak sulit, karena selagi saya mengetik ini, saya membuat sesuatu menjadi ada. Tulisan ini, misalnya. Saya tidak bercanda, tetapi kreativitas yang akan kita pahami di sini adalah sesuatu yang lebih kontekstual. Gampangnya saya akan paparkan seperti ini, sebuah ide akan disebut kreatif apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:
- Orisinil/Asli
- Unik
- Dapat dikembangkan
- Dapat diwujudkan
Empat poin tadi jangan dijadikan referensi, ya? Soalnya, itu murni hanya cara saya mempermudah (atau mempersulit, entahlah) apa yang ingin saya sampaikan. Keaslian tentu saja penting, agar kita dapat dengan bangga berkata “puisi ini milik saya”, misalnya. Plagiarisme menjadi isu penting dan sensitif dalam dunia pengaryaan, karena tak ada seorang pengarya pun yang rela ide yang ia lahirkan mendadak diklaim oleh pengarya lainnya. Tapi sekali lagi, keaslian sebuah ide sejatinya hanya ada dalam kejujuran seorang pengarya. Bila dua karya mirip, tentu yang lebih dulu lahir akan disebut sejati, meski mungkin mereka lahir sendiri-sendiri. Jujurlah dalam berkarya. Bila anda terinspirasi, akuilah bahwa anda terinspirasi dari mana, daripada anda dituduh meniru.
Keunikan adalah identitas paling distinktif karya. Unik membedakan satu karya dengan karya lain. Ambil sebuah lagu, I will always love you, misalnya. Di lidah Whitney Houston dan di lidah Dolly Parton, dia adalah individu berbeda. Karya berbeda. Mengapa? Masing-masing telah menyumbangkan DNA mereka pada karya tersebut. Sisanya, di bilik-bilik karaoke, adalah salinan buruk, sepiawai apapun anda bernyanyi. Dalam menulis, pastikan anda menjadi diri sendiri, bukan menjadi Dewi Lestari, Gunawan Muhammad, atau Sapardi Djoko Damono. Sumbangkan jiwa anda demi napas karya. Biarkan ia berbeda dengan karya lain.
Keterkembangan/ekspandabilitas ini menjadi penting karena alasan praktis: sebuah karya seharusnya universal. Tentu saja kemudian, ini menjadi bukan persyaratan mutlak. Ide yang kreatif seharusnya bisa diolah bukan hanya menjadi tulisan, melainkan juga lagu, lukisan, bahkan film.
Keterterapan ide adalah hal paling mutlak. Ide hanya boleh hidup bila ia bisa diwujudkan. Bayangkan bila anda punya hasrat untuk menghias tiap helai rambut anda dengan berlian. Bayangkan saja, ya, tidak usah didebat. Karena seorang putri di zaman antah berantah dikutuk ayahnya untuk tenggelam dalam telaga gara-gara meminta hal ini. Tapi lalu jangan kuatir, hampir semua ide, dalam dunia menulis, bisa diwujudkan. Bahkan hal mustahil seperti menulis novel dalam 30 hari. (Tentu saja saya bercanda mengatakan ini mustahil!)
Setelah paham tentang apa itu ide dan kreativitas, kita akan masuk ke bagian teknis: Bagaimana. Tentu saja pada titik ini saya menganggap anda sekalian sudah berdiri di platform yang sama tentang penggalian ide dengan saya.
BAGAIMANA MENGGALI IDE YANG UNIK, ORISINIL, TERTERAPKAN, DAN DAPAT DIKEMBANGKAN?
1. Mulailah dari Kehidupan Sehari-hari
Cara termudah untuk menjamin orisinalitas adalah dengan beranjak dari apa yang akrab dengan diri kita. Ambillah sebuah ide yang anda temukan dari apa yanganda temukan sehari-hari. Tidak mungkin yang beginian ini tidak ada.
Hindari memikirkan ide terlalu jauh, sebegitu jauhnya sampai aroma mengada-ngadanya tercium dari jarak dua mil. Yang paling tidak nyaman bagi pembaca adalah, ketika anda bercerita tentang Jakarta, padahal anda baru dari sana hanya dua jam. Itu pun cuma transit di airport. Pembaca akan menyadari kecanggungan dalam ceritamu. Percayalah.
Mungkin anda ingin menulis tentang Petualangan Ruang Angkasa, yang pastinya tidak anda alami sehari-hari. Tapi itu nanti, banyak cara menuju ke arah itu. Bersabarlah.
2. Pikirkan, Buang, dan Pikirkan Lagi!
Salah seorang teman pernah berbagi cara ia menulis puisi. Ia kerap memikirkan ide yang terbangkitkan dari sesuatu, lalu membuang 20 ide pertama yang muncul. Alasan dia, karena 20 ide tersebut pasti sudah terpikirkan orang lain.
Ambillah ‘kertas’ sebagai contoh. Yang terbersit pertama di kepala saya adalah: putih, menulis, sobek, surat, pulpen, tinta, buku, koran, dan beberapa kata lainnya. Di urutan 21, saya menuliskan ‘kado’, lalu ‘pembatas buku’, ‘foto’, dan beberapa kata yang lebih unik lainnya. Percayalah, semakin panjang daftar anda, semakin anda menemukan betapa ajaibnya kerja otak dalam mengolah materi.
Bila anda diberi tema, pikirkanlah sesuatu yang terdekat dengan tema itu, lalu buanglah. Pikirkan lagi sesuatu yang sedikit lebih jauh, dan buanglah, sampai anda mencapai jarak di mana anda yakin anda berada lebih jauh dari kebanyakan orang menggali ide.
3. Perkaya Diri Anda dengan Permata Pengetahuan
Judulnya agak sedikit lebay yah? Tak mengapa, karena saya memang memuliakan pengetahuan setidaknya setingkat dengan permata. Nah, mengapa pengetahuan itu penting?
Pernah membaca Detektif Conan atau Naruto? Anda lihat bagaimana seorang Gosho dan Kishimoto memaparkan rincian sebuah cerita. Gosho sangat andal dalam rincian tampak dan logika, Kishimoto dalam kesinambungan cerita. Mereka tidak begitu saja memikirkan cerita dan menulisnya. Gosho setidaknya telah khatam karya Conan Doyle, bahkan mungkin berbagai referensi detektif lainnya. Ia bahkan melakukan riset berbagai kasus pembunuhan dan kriminalitas lainnya. Kishimoto tidak memiliki gelar khusus di bidang keninjaan, tetapi ia setidaknya memahami teori konspirasi dan budaya ninja lebih dalam dari kebanyakan orang.
Inilah yang saya sebut dengan KAYA. Sebelum anda menulis, sebaiknya bekalilah diri anda dengan lebih banyak referensi. Pilih referensi yang bisa dipercaya dan bisa anda serap. Seperti pacul yang andal, semakin kaya referensi anda, semakin dalam ide itu bisa anda gali.
4. Pikirkan Bentuk Akhir yang Anda Ingin Wujudkan
Ada banyak arah yang bisa anda tempuh ketika berangkat dari ide. Anda bisa menulis sebuah puisi, prosa, melukis, menari, atau apa saja. Ini adalah murni pilihan anda.
Mari saya bantu persempit. Karena kita membicarakan konteks menulis, maka kita fokus dalam apakah anda hendak menulis puisi atau prosa. Setelah anda menggali dan sampai pada ide yang hendak anda wujudkan, cobalah untuk menulis sebuah puisi empat baris, lalu buatlah sebuah kisah ringkas 111 kata. Mana yang menurut anda lebih mudah? Mana yang merupakan zona nyaman anda?
Kalau anda ingin perluas lagi, puisi bisa anda khususkan menjadi pantun, puisi bebas, puisi lama, soneta, puisi 140 karakter, lirik, dan berbagai bentuk puisi tradisional. Prosa punya lebih banyak varian lagi, mulai dari cerita pendek, cerita ringkas, cerita panjang, cerita sangat panjang, cerita bersambung, dan cerita yang sepertinya menolak untuk diselesaikan padahal tidak bagus-bagus amat.
Pikirkan dan tentukan. Atau jelajahi semua kemungkinan. Tak ada larangan.
5. Ingat, Anda Menulis Untuk Orang Lain
Banyak penulis yang merasa begitu idealis, segitunya sampai mereka tidak menerima masukan tentang apa yang mereka tulis. Bila anda sudah setingkat Arswendo atau Sapardi, yang sudah menjelma budaya itu sendiri, tak ada masalah. Tapi jika anda baru mulai menulis hari ini, bersiaplah: anda bukan hanya menulis untuk diri anda sendiri.
Mengapa ini perlu kita cermati? Kita hendak menyampaikan pesan lewat karya, bukan? Pesan itu bisa jadi pesan moral, bisa jadi pesan amoral, bahkan mungkin pesan kosong. Tapi intinya, anda hendak menyampaikan sesuatu. Nah, apa gunanya kalau kemudian pesan itu tidak sampai ke sanubari pembaca?
Secara praktis, ini maksud saya: bila anda menulis cerita untuk anak-anak, gunakanlah kata sesederhana mungkin; bila anda menulis cerita erotis, untuk apa menahan diri dengan bersopan-sopan; bila anda menulis kisah religius, tentunya kesantunan bertutur menjadi kebutuhan; bila anda… Ah, saya rasa sampai di sini anda semua mengerti apa yang hendak saya sampaikan. Bila tidak, bertanyalah.
Sekarang, saya tutup bahasan ini dan akan memberi anda sekalian latihan penting. Simak baik-baik, dikumpulkan hari Rabu besok pukul 18.00 WIB ya?
Lat 1. Pilihlah salah satu dari kata di bawah ini dan daftarlah 50 kata/frase yang terbangkitkan dari kata tersebut. Garis bawahi tiga kata yang menurut anda paling unik.
- Purnama
- Rokok dan Kopi
- Banjir
- Jakarta
Lat 2. Dari tiga kata tersebut, olahlah masing-masing sebuah konsep (rincian ide) entah berupa cerita, potongan puisi, atau apapun yang panjangnya tidak lebih dari 35 kata.
Lat 3. Kembangkan olahan ide tadi menjadi masing-masing tiga alternatif terapan. Ide dasar sama dengan latihan 2, tetapi memiliki jiwa dan bentuk berbeda. (Di sini anda mungkin ingin menerapkan apa yang saya sebut dengan pengayaan referensi tadi)
Kita akan membahas tanggapan dari kalian yang terpilih menjadi #cubipupil dan akan member masukan, terbatas pada pokok bahasan yang saya jelaskan dengan ribet sejak tadi ini. Semoga setelah ini, anda tidak lagi mengeluh mengenai “sulitnya menggali ide”. Anda harus tahu, sebetulnya jauh lebih sulit menggali sumur.
Sampai jumpa di pokok bahasan berikutnya! Mungkin dengan saya, mungkin juga dengan guru-guru yang tidak begitu tampan, tapi mungkin lebih cerdas. Ciao!
JejaKelas
Salam penulis, Cubinoters dan Cubilovers!
Genap setahun kita menulis bersama. Tiga ratus enam puluh tema membentang, tanpa barang sehari libur pun. Tentu tak semua tema dapat tergarap. Ada yang melampaui angka 100, ada yang hanya bertahan beberapa bulan pertama. Tapi kalian telah menulis, tanpa peduli apa profesi kalian.
Meski, sense of scheduling itu sangat penting dalam dunia menulis, tapi kualitas tak boleh dikorbankan. Karena itu, jejakubikel melakukan sedikit perubahan. Kita akan fokus dalam pengembangan kualitas.
Jalur menulis akan dibagi dua: JejaKelas dan JejaKarya. Mari, saya jelaskan.
JejaKelas adalah kelas menulis online yang diselenggarakan untuk 12 Cubipupils. Setiap 3 hari, moderator JK akan menayangkan 1 bab ringkas materi menulis. Setiap akhir bab, cubipupil akan diberi latihan. Semua pekerjaan cubipupil akan dikomentari secara pribadi oleh pemberi materi. Perkembangan akan dimonitor dengan ketat. Ada pertanyaan, kelas?
JejaKarya adalah tantangan regular JK, dengan tingkat lebih tinggi. Semua karya yang masuk akan disaring. Karyamu hanya akan tayang apabila kualitasnya memenuhi standard setidaknya dua dari tiga kurator JK. Akan ada saran perbaikan sebelum hari penayangan, jadi tak ada alasan untuk menulis jelek lagi! Rumit? Kelihatannya. Kamu cuma perlu menulis. Tema dilempar setiap 3 hari. Jadi kalian akan punya waktu untuk memperbaiki tulisan yang dikembalikan.
Ini akan menjadi tahun yang besar, guys! Seratus tema menanti manis sentuhan tanganmu di 2012. Mari ambil pena dan menulis lagi!
Oh! Dengan lebih baik. Tentunya!
(The cute momod)
PS:
Untuk keterangan tentang pendaftaran, silakan simak linikala @jejakubikel atau klik Page JejaKelas.
Pengumuman penerimaan siswa JK di TL tanggal 31 oktober 2011.












D5 Creation