Saat Adam Bertemu Ayah

Oleh Carolina Ratri @RedCarra

“Hai, Sayang!” sapanya begitu kubukakan pintu.

“Masuk dulu, Dam. Aku ambil tas dan sepatu.” Aku menariknya masuk, dan kudorong dengan lembut untuk duduk di sofa.

Kemudian aku berlari kecil menuju kamar. Kupakai sepatu, kusambar tas dan pergi ke dapur untuk berpamitan pada Ibu.

Lamat kudengar suara Adam di ruang depan. Mungkin sedang menelepon.

“Ciyee, mau kencan, ciyeee …” goda Ibu. Aku hanya tertawa, dan mencium pipinya.

“Yuk, Dam! Berangkat!” Kutarik tangannya.

Adam berdiri. “Ayah kamu asyik banget, Ta. Ramah banget. Aku sempet segan loh. Ternyata enak banget diajak ngobrol. Kamu beruntung! Dan aku akan jadi menantu yang beruntung.” Tawanya berderai.

“Tapi, Dam, Ayah sudah meninggal empat belas tahun yang lalu …”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>