Belenggu

“Ibu, mengapa kau buka?”

“Ibu tak tega melihatmu menderita. Pergilah sejauh-jauhnya.”

“Ibu nggak takut aku mengamuk?” tanyaku ragu.

“Ibu percaya padamu.” Sesaat Ibu menghentikan usahanya membuka rantai besi di pergelangan kakiku. Aku ketakutan, jangan sampai Ibu tidak jadi membukanya. Maka kuberikan senyumanku yang paling waras.

Rantai itu lepas! Aku bebas! Seperti kuda liar aku menandak-nandak, lalu kuambil parang pada dinding dan berlari keluar.

“Nduk, untuk apa itu?” Ibu panik mengejarku.

“Untuk menebas kepala setan itu, Bu. Aku mau membunuhnya!” Aku berlari ke jalanan, mencari lelaki yang telah merusakku.

“Jangan, Nduk.” Ibu menangis menyayat. Aku menoleh, melihat Ibu berurai air mata, hatiku perih.

“Rantai aku lagi, Bu. Aku nggak jadi membunuh Bapak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>