Bu, Jangan Sakit Lagi

Oleh: Rizki Amalia S @rizki_amalias

Hidungku memanas setiap kali mengingat sosoknya. Masih teringat jelas sabetan pelepah pisang di pahaku atau raupan sambal di mukaku menjadi  tradisinya tiap kali kulewatkan mandi sore demi bermain layang-layang. Aku sangat membencinya kala itu.

“Nak, belikan Ibu OBH”, pintanya sambil menyorongkan selembar lima ribuan.

Sudah setahun ini kami hanya mampu mengobati batuk kronisnya dengan obat warung. Gajiku sebagai sales hanya cukup untuk makan kami berdua. Aku, anak semata wayangnya yang tak kunjung kawin hingga usia 40 tahun hanya karena tak sanggup membayar jujuran* wanita yang kutaksir.

“Bu, aku minta obatnya ya”, kataku sambil menenggak obat Ibu. Obat yang telah kucampur dengan racun serangga. “Bu, jangan sakit lagi”, kataku sambil memeluknya erat.

 

* Jujuran: sejumlah uang permintaan pihak perempuan yang harus dipenuhi oleh pihak laki-laki jika akan menyunting perempuan keturunan Suku Banjar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>