Curiga

Aku menatapnya tajam. Bagaimana sikapnya masih tak berubah meski ber tahun lalu lelaki yang membuatnya cemburu karena mencintaiku, meninggal. Padahal dendamku padanya karena dia membiarkan penindihku lepas begitu saja, telah kuanulir sebab kularungkan racun trauma itu lewat tulisan-tulisan. Apalagi yang masih mendekam dalam pikirannya?

“Jangan sampai kamu kerja terlalu keras sampai mengabaikan pendidikan anak-anakmu,” tegurnya lagi, entah keberapa ratus kalinya. Apa aku tampak mengabaikan anakku?  Bukannya dia yang justru melempar kami dari rumahnya demi memenangkan anak bungsunya?

**

“Umi nggak adil. Selalu aku yang disalahkan, adik terus yang dibela,”teriak sulungku.

Aku ternganga bagaimana dia bisa menuduhku seperti itu sementara aku sudah berusaha seadil mungkin. Kini aku tahu bagaimana susahnya menjadi ibu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>