Ingatan (Bagian 5)

Aku tercekat. Aku yang baru saja duduk menjadi sedikit gelisah. Oh, bukan. Aku mulai panik. Tatapan mata pemuda di hadapanku ini menajam dan napasnya memburu. Aku mencoba mencari pegangan agar tidak terjatuh, namun justru kakiku terpeleset. Aku jatuh dan tertimpa kursi besi besar tempatku duduk menyendiri selama seminggu terakhir. Sekilas aku mencari tahu penyebab kakiku seperti licin dan melihat kulit pisang di belakang kaki Galang. Kapan aku memakan buah itu?

Aku tak sempat menjawab pertanyaanku sendiri. Galang membantuku duduk di lantai dan bersandar di dipan. “Pak, maafkan saya. Kami hanya ingin memastikan bahwa Bapak bisa mulai mengingat sesuatu. Sekecil apapun itu. Buktinya tadi Bapak bisa menyebut lokasi Kaliurang dengan kata Jogja. Artinya, ingatan Bapak pun…” Galang mengatur napas dan volume suaranya. Tatapannya kembali bersahabat. Oh, setidaknya tak sebuas tadi.

“Pak, bantulah kami,” sela dokter Rahmawati dengan suara pelan namun penuh tekanan.

“Harusnya saya yang dibantu,” jawabku defensif. Kesadaranku dipasang penuh. Aku tak boleh lengah. “Saya sama sekali tak ingat. Saya…”

Aku memegang kepala yang berdenyut nyeri sekali. Ruangan terlihat berputar. Aku berteriak berusaha menahan rasa sakit luar biasa. Air mataku mengalir. Aku merasa dadaku panas. “Aaaaarrrggghhh… Lepaskaaaann!! Tinggalkan saya sendiri! Biarkan saya hidup!” Aku mulai meracau tak jelas. Sekelebat, aku melihat seseorang melintas. Mataku mengerjap. Bayangan itu menghilang.

Wajah itu mirip pria yang ada di hadapanku. Hanya saja, dia berkacamata, sementara Galang tidak. Pria itu berkumis, sementara Galang sedikit bercambang. Aku menatapnya lekat. Ya, mirip. Siapa? “Aaaaarrrgghhh…” Kembali kepalaku seperti tersengat dan aku meronta. Galang berusaha menenangkanku. Aku menangis. “Galang… Saya ndak sanggup. Saya mohon, izinkan saya beristirahat. Kepala ini sakit sekali.”

Galang membantuku naik ke tempat tidur. Dia menyelimutiku sambil menggumamkan kata-kata aneh.  Aku menatap nanar dokter Rahmawati yang mengawasi kami dari pintu kamar. “Saya minta maaf,” ujarku gemetar.

“Istirahatlah, Pak. Hari ini melelahkan untukmu. Ya, juga untuk kami. Saya harap, Bapak bisa secepatnya pulih. Banyak hal yang harus Bapak ketahui. Nyawa Bapak dan nyawa kami bergantung dari ingatan Bapak,” Galang menatapku tanpa ekspresi kali ini.

Aku mengangguk pelan. Aku sudah tak bisa menanggapi ucapannya. Kulihat mereka keluar dari kamar sambil bercakap dalam bahasa aneh itu.

Lelah sekali. Juga lapar. Tuhan, aku ingin makan tempe bacem. Mendadak, aku menyebut satu nama dalam hati. Mbakyu Tarsih. Tuhan, mengapa di saat seperti ini, aku ingin masakan seseorang yang entah siapa?

Aku melihat sekeliling kamar. Adakah alat perekam atau sejenisnya? Sudut langit-langit, meja, ujung tempat tidur, nakas, lemari baju, dan jendela. Tak ada. Atau tak terlihat? Apakah sebaiknya aku tak bersuara atau menyuarakan apapun yang mencurigakan mereka? Toh seminggu ini, aku juga tak mengingat apa yang kuucapkan.

Aku baru saja hendak terlelap ketika sebuah suara mengejutkanku. Dari arah jendela. Batu yang dilempar. Oh, kerikil? Ah, mungkin angin. Tapi, masa iya? Semenit kemudian, bunyi lagi. Aku menaikkan kesadaranku kembali. Menit berikutnya, suara orang. “Pakcik!”

Jantungku berdebar tak karuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>