Ingatan (bagian pertama)

oleh Andika Rahmawati @naishakid

Tik. Tok. Tik. Tok.

Bunyi jarum jam yang berdetak di dinding ruangan ini tiba-tiba terdengar begitu keras. Aku terbangun bersimbah peluh dan degup jantung tak beraturan. Aku gagal mengingat mimpi apa gerangan yang singgah di tidurku. Sama gagalnya dengan usahaku mengingat kehidupanku sebelum tujuh hari terakhir ini.

Tepat seminggu lalu, aku terbangun dengan kondisi sama persis dengan hari ini. Kaget dan seketika disergap oleh kegelisahan dan perasaan kosong yang tak pernah aku bayangkan akan aku rasakan.

Aku menemukan diriku sedang berbaring di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Hanya cukup untuk satu ranjang, satu meja kecil beserta kursinya di sisi kiri, dan lemari pakaian dua pintu dengan cermin di sudut ruangan. Ruangan ini dicat warna putih dengan jendela nako berteralis yang jika dibuka akan mengalirkan udara sejuk dari taman di samping rumah. Benar-benar ruangan sederhana yang fungsional.

Sampai hari ini, aku tidak pernah berhasil mengingat apapun lebih jauh dari detail ruangan yang kulihat saat mataku pertama kali terbuka. Sudah seminggu dan kekosongan di pikiranku ini rasanya semakin mengganggu.

Aku merasa seperti bayi yang baru lahir. Tetapi sepertinya, bayi bahkan masih jauh lebih beruntung dibanding keadaanku sekarang. Bayi tidak mungkin dihantui oleh perasaan ada sesuatu yang hilang tetapi tidak berhasil mengingat hal yang hilang itu.

Tok. Tok. Tok.

Seseorang mengetuk pintu dengan lembut dan ritmis. Aku menyadari satu hal di tempat ini. Semua hal berbunyi dengan teratur. Detak jam, ketukan di pintu, langkah kaki yang kudengar dari luar ruangan, bahkan suara tokek dan decakan cicak.

Pintu dibuka setelah ketukan ketiga. Aku tidak pernah mengunci pintu atau lebih tepatnya tidak bisa. Ruangan ini menggunakan pintu tanpa kunci. Pintu yang bisa dibuka hanya dengan mendorongnya saja. Kepala seorang perempuan mungil muncul bersamaan dengan terbukanya pintu. Senyum ceria tersungging di bibirnya.

“Selamat pagi! Bagaimana keadaan Bapak hari ini? Merasa lebih baik?” Dia menyapa dengan suaranya yang riang. Aku tersenyum lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.

“Apakah sudah bisa ingat tentang foto yang saya berikan kemarin?”

Dia sedang membicarakan foto yang ditemukannya di saku pakaian yang terakhir kali kukenakan sebelum dia menggantinya dengan baju tidur yang warnanya sudah sedikit pudar tetapi bersih dan nyaman. Foto yang bagiku tampak sebagai sekadar foto usang yang tak bermakna apa-apa. Dia tersenyum lembut penuh pemakluman melihat wajahku yang pasti terlihat kosong dan bingung.

“Semalam saya membongkar tas yang Bapak bawa dan menemukan beberapa benda yang mungkin bisa membantu memulihkan ingatan Bapak. Apa Bapak mau melihatnya?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>