Ingatan (4)

oleh Ryan Pradana @Ry4nn_

Galang dan Dr. Rahmawati saling berpandangan lalu keduanya tertawa bersama. Aku semakin bingung melihat kedua manusia di hadapanku itu. Plus, ingatanku masih samar. Apa yang terjadi sebenarnya? Di mana aku?

“Kaliurang adalah sebuah desa yang tak akan bisa kau temukan dalam peta, karena desa ini tersembunyi. Hanya penduduk Kaliurang yang tahu letak dan cara menemukan tempat kami ini,” jawab Galang tiba-tiba.

“Biasanya tak pernah ada orang yang bisa sampai ke perbatasan Kaliurang. Tapi Bapak ini perkecualian. Rupanya Bapak sudah berjalan jauh sekali hingga tiba di perbatasan tempat kami ini. Untung waktu itu saya sedang di rumah jadi bisa langsung menolong Bapak.” Dr. Rahmawati ikut menambahkan. Kepalanya bergoyang-goyang jenaka ketika bercerita. Tak lupa, senyum di bibir tipisnya itu terus mengembang.

“Dan… Bapak benar-benar tak ingat saya? Waoe garfj dani,” ujar Galang kemudian. Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal. Beberapa helai rambut ikut jatuh dari atas kepala yang semakin jarang ditumbuhi rambut itu. Bahasa yang asing.

“Maaf, maksudnya apa ya? Saya tak mengerti.”

“Ketika saya menolong Bapak, Bapak mengigau. Bahasa yang terucap dari mulut Bapak adalah bahasa kami tadi. jadi, pastilah Bapak paham.”

“Nak Galang, tolong saya. Saya berani bersumpah tidak pernah ke sini atau bahkan bertemu dengan kalian sebelumnya. Jadi tidaklah mungkin sampai bisa paham bahasa kalian yang aneh itu!” Aku mulai frustrasi sendiri. Kepalaku menjadi sangat pusing. Aku lalu duduk kembali setelah sempat berdiri sejenak.

Kulihat Galang tertegun. Dia lalu bercakap-cakap dengan Dr. Rahmawati dengan volume suara sangat pelan, barangkali takut terdengar olehku. Lalu kemudian, mereka mengarahkan pandangannya padaku lagi.

“Bapak yakin tidak pernah ke sini? Tidak pernah ke Kaliurang sama sekali?”

“Seingatku sih iya.”

“Tapi bukankah ada bagian dari ingatan Bapak yang hilang? Bagaimana Bapak bisa seyakin itu?” tanya Dr. Rahmawati dengan tidak sabar. Kali ini raut wajahnya sangat jauh dari kesan manis yang awalnya aku tangkap tadi. Galang ikut mendekat kepadaku. Melihat wajah keduanya kini, aku tiba-tiba teringat pada film tentang manusia serigala yang pernah kutonton ketika aku masih muda. Di film itu, sepasang muda mudi menyeringai kepada korban mereka sebelum mulai menggigit dan menerkam.

Persis seperti saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>