ingatan (bab 6)

Si tua itu tidak ingat. Ingatannya mungkin tercecer di antara batu-batu yang menjadi alas kepalanya saat Galang menemukannya terkapar. Atau mungkin, ingatannya meleleh melalui pori-pori tubuhnya yang saat itu bersimbah darah dan peluh. Darah yang tentu saja bukan miliknya. Sedang peluh miliknya sendiri, membuat kulit keriputnya mengkilat (pemandangan itu  tidak menyenangkan), dan baunya! Astaga! Aku tidak mau menyentuhnya. Muak. Mual.

Laki-laki bodoh yang beruntung. Atau laki-laki beruntung yang bodoh. Aku meraba-raba dalam laci meja mahoni tua di hadapanku, yang kibutuhkan hanya sebatang marlboro dan lighter. Dan segelas air. Tenang. Aku harus tenang. Si tua itu harus mengingat. Ia harus menemukan ingatannya sesegera yang bisa dilakukannya. Setidaknya selama ia m.asih di sini. Di bawah pengawasan dokter Rahmawati. Ha! Aku hampir terbahak mengingat perempuan mungil itu sekarang. Tentulah ia mulai layu di dalam jurang yang curam itu.

Dan di sinilah aku, dokter Rahmawati yang baru. Menunggu si tua bodoh menemukan ingatannya lagi. Demi kebebasanku yang paling abadi… .

 

Tunggu, siapa yang memanggil Pakcik tadi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>