Ingatan (bagian 3)

oleh Dian Harigelita @harigelita

“Galang” kuulangi namanya perlahan. Sekiranya bunyi, gerak mulut dan rasa nama bisa memicu bilik-bilik ingatan untuk membuka pintu. Sayangnya nama ini tidak.

Pemuda itu melepas jaket dan tasnya lalu disampirkan di kursi yang ada. Gerak-geriknya begitu tertib dan teratur.

Ia mengenakan kemeja lengan pendek putih bercorak kotak-kotak biru halus dan pantalon abu-abu tua. Licin, seperti baru diseterika lima menit yang lalu. Tubuhnya tinggi dan tegap, meski cenderung kurus.

Dr. Rahmawati tidak mengenakan jaket putih pun tidak ada stetoskop menggantung dari lehernya. Ia mengenakan blus putih bersulam dan kulot biru tua yang menutupi lutut. Sebuah syal batik dari sutra melingkari lehernya. Rambutnya pendek sekali, seperti rambut para pixie di folklore-folklore. Ditambah badannya yang mini, menjadikannya seperti masih anak-anak. Dia, benar seorang dokter?

Model rambut Galang tidak kalah membingungkan bagi ‘manula’ seperti saya. Rambut sisi kiri dan kanan kepalanya dipotong sangat dekat dengan kulit kepala. Apa istilahnya saya lupa. Rambut bagian tengah dibiarkan panjang kemudian dikuncir di bagian belakang kepalanya. Kali ini saya diingatkan pada potongan para daimyo Jepang jaman Edo.

“Mba Rahma, eh maksud saya, Dr. Rahma adalah kakak dari senior saya di kampus. Saya ingat dia memiliki fasilitas di sini.”

“Di ‘sini’ itu di mana?” potongku, menatap keduanya bergantian.

“Kaliurang.” jawab keduanya bersamaan. Lalu tertawa bersamaan pula.

“Jogjakarta?” menyebut nama kota itu hati saya seperti dicubit. Mulut saya seakan kerap menyecap nama itu dengan mantap.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>