Ketika Hujan Rasanya Asam

Hujan turun lagi. Ini sudah keempat kalinya dalam hari ini. Tidak begitu deras, jadi kami semua tidak mempermasalahkannya.

“Vel, keluar, yuk!” ajak sahabatku, Zuzu. Aku mau-mau aja.  Toh, pertama, kelas kami dalam keadaan ‘tanpa guru’ dan kedua, jam sudah menunjukkan bahwa kegiatan belajar di sekolah ini akan segera berakhir. Daripada bengong, mending mandangin hujan. Mitosnya, kalo mandangin hujan bisa menimbulkan rasa galau loh. Betul nggak ya?

Walau kami baru saja beberapa menit memandangi rintikan hujan yang turun, rasanya sudah seperti berjam-jam. Buktinya, puisi yang kami ciptakan bersama sudah mencapai ribuan kata. Biasanya kami mencapai jumlah tersebut dalam waktu berjam-jam kemudian. Aku dan Zuzu saling berlomba mencari tiap kalimat puitis yang berhubungan dengan hujan. Ujung-ujungnya, tiap kalimat yang kami lontarkan disatukan menjadi sebuah puisi.

Andaikan jika ia adalah hujan, hatiku lah yang akan menjadi siraman tiap rintiknya.” Zuzu mengucapkan sebuah kalimat. Aku tidak memasukkannya ke dalam tulisan. Sudah kuduga, pasti tentang dia lagi.

“Sampai kapan kamu mau move on, Zuzuku sayang?” lontarku. Bertepatan sekali, bel sekolah berbunyi. Zuzu, tanpa menjawab pertanyaanku langsung masuk ke kelasnya dan langsung cabut setelah mengucapkan salam perpisahan denganku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Kututup buku tulisku.

Aku berjalan dalam rimbunan hujan. Hujan gerimis. Jadi aku tidak perlu mengeluarkan payung untuk melindungi kepalaku yang tertutup jilbab. Dan juga aku tidak ada kegiatan tambahan hari ini, jadi, ya, santaiiii saja. Nikmati jatuhnya embun-embun yang pernah membasahi tubuhmu sebelumnya. Kalian pasti pernah mandi hujan, kan?

“Adek! Berlindung! HUJAN ASAM!” Seseorang meneriakiku tiba-tiba. Aku tidak tahu siapa, tapi mendengar kata ‘Hujan asam’ aku langsung bereaksi. Mencari tempat perlindungan. Dan tidak kusangka, orang yang meneriakiku juga berada di tempat yang sama dengaku.

“Da…dari mana abang tahu kalau ini hujan asam?” tanyaku terengah-engah. Aku juga bingung, padahal selama aku berjalan dari sekolah ke rumah, kulit telapak tanganku tidak merasakan apapun selain basahnya air hujan.

“Coba adek rasa air hujan ini?” Dan aku langsung menampung air hujan dengan kedua tanganku dan menjilatinya. Rasanya, ASAM!!! Aku refleks meludahi jilatanku sendiri saking asemnya. Kok bisa-bisanya air hujan rasanya seasem ini? Lebih asam dari lemon!

“Kok bisa asem kali, sih, Bang?” Aku protes. Abang di sebelahku cuman bisa ngangkat bahu.

“Menurut berbagai sumber yang kubaca, kita akan tahu bahwa hujan asam terjadi jika : Kulit kita memerah dan gatal-gatal ketika terkenanya, begitu juga dengan cat-cat kendaraan, mereka otomatis luntur akibat siraman air hujan asam. Dan, berdasarkan hasil pengamatan barusan kita lihat, semuanya normal saja. Kulitku tidak melepuh atau merasakan sakit. Cat-cat mobil dan motor terlihat normal saja, tidak luntur. Jadi,hasil : Bukan HUJAN ASAM!” kataku panjang lebar. Abang itu hanya mengangguk-angguk.

Tapi…. Mengingat rasanya, kok, jadi ragu, ya? Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu sampai hujan reda. Santai saja, aku tidak ada kegiatan lain pun.

Hebatnya, tidak hanya aku saja yang curiga dengan hujan hari ini. Adikku, mamaku, papaku, bahkan pembantuku juga menceritakan hal yang sama! Hujan yang rasanya asam, tapi jelas bukan hujan asam. Aneh, bukan? Aku harap di sekolah tidak ada topic beginian. Dan harapanku tidak terkabul.

“Vellllaaaa!!! Ko tadi ngerasain nggak, hujan kemarin ama hari ini?” tanya Zuzu panik. Perlu kalian ketahui, jika dibandingkan antara aku dan Zuzu ‘seberapa besar cintamu kepada hujan?’, Zuzulah pemenangnya. Jelas saja dialah yang pertama panik ketika ia mengetahui rasa air hujan menjadi asam. Sedangkan yang lainnya, cuman berespon seperti, “Ah, peduli amat! Pokoknya bukan hujan asam betulan, kan?”

Hari itu, durasi hujan menjadi lebih panjang daripada kemarin. Ketika pulang sekolah, hujan masih deras dan rasanya semakin asam. Orang-orang tetap beraktivitas seperti biasa, walau mereka menyadari asamnya air hujan. Begitulah hasil pengamatanku hari ini. Apakah besok beneran terjadi hujan asam? Pertanyaan itu selalu menetap dalam pikiranku. Aku harap itu tidak terjadi.

~~~

            Ini memang bukan hujan asam. PH meter ini jelas tidak berbohong. Deretan angka 6 terpapar dalam monitor, artinya air hujan tersebut masih normal. Jadi adek itu benar, hujan hari ini dan kemaren bukanlah fenomena hujan asam. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Aku pulang.” Pintu terbuka dan adikku masuk dalam keadaan basah kuyup. Aku bisa melihat ekspresinya yang jengkel.

“Tumben jengkel? Dulu suka mandi hujan, kan?” tanyaku. Ingatanku kembali ke masa lalu, ketika aku masih kelas 2 SMP dan adikku, Zuzu, masih kelas 1 SD. Walau ibu kami sudah berteriak habis-habisan memanggil namaku dan namanya, tetap saja Zuzu menarik tanganku, menjauh dari suara ibu sambil tertawa sekeras yang ia bisa. Aku hanya bisa ikut saja karena hanya inilah waktu yang Tuhan berikan agar aku bisa memanfaatkannya bersama adikku. Di luar itu aku sibuk luar biasa.

“Kan, dulu, Bang! Sekarang hujan makin lama makin deras! Seragam Zuzu tetap aja basah walau sudah pake payung!” sungut Zuzu seraya masuk ke kamarnya. Wajahnya yang dulunya begitu imut kekanak-kanakan, sekarang menjadi masam semasam orang tua.

Eh, bicara soal masam, apa inikah yang membuatmu sebal, Hujan? Begitu banyak orang yang di depan orang mengatakan menyukaimu, tetapi di belakang orang-orang itu mereka mencacimu. Inikah yang membuat wujudmu masam?

Profile photo of Fina

Fina

Hello, ohayo gozaimasu.... My nick name is Fina. I was born in Jakarta, and now live in Batam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>