Lelaki Terakhir

Malam itu, Papa menamparmu begitu keras, sampai-sampai kau terhuyung jatuh.

“Bikin malu keluarga! Kau, anak yang Papa banggakan, lelaki yang seharusnya menjadi contoh adik-adikmu, malah mencoreng muka keluarga dengan kotoran!”

Kau hanya diam saja mendengar makian Papa. Lalu suara tangis kekasihmu mengalihkan amarah Papa.

“Katakan pada orang tuamu, kami akan datang melamar secepat mungkin.” Setelah berkata demikian, Papa meninggalkan kalian berdua.

“Kau tak harus melakukan ini, Bim. A-aku tak bisa menerimanya.” Pecah tangis kekasihmu menyayat, lantas kau memeluknya hangat.

“Aku ikhlas, Rin.”

“Bim, aku tak mau mengorbankanmu. Kau … kau masih punya banyak kesempatan.”

“Ssh, aku mencintaimu. Jadikan aku lelaki terakhirmu.”

Lalu kau mengusap perut kekasihmu, yang telah terisi benih lelaki lain.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>