Ade Yusuf

now browsing by tag

 
 

Hujan ~ @sibangor

oleh Ade Yusuf @sibangor

 

Ade Yusuf

Sungai meluap lagi. Masuk ke dalam rumahku tanpa mengetuk, tanpa permisi. Membangunkan aku yang sedang dibuai mimpi. Kemudian diajak pergi. Cuma sendiri.

Aku didudukan di atas air yang mengalir deras sekali. Melewati lorong, menuju tempat indah yang persis seperti dalam mimpi tadi. Sebuah taman bunga yang wangi penuh warna-warni.  Di tengahnya terdapat kolam air mancur -tempat sungai bermuara- yang airnya sangat manis ketika kucicipi.

Lalu terdengar sapa merdu bidadari. Wajahnya mirip sekali ibu. Ah, ibu? lama sekali aku tak menyebut kata itu. Sejak sungai membawanya pergi  sepuluh tahun lalu. Tubuh mungilku menyelusup dalam hangatnya dekapan bidadari itu. Bicara dalam bahasa rindu.

Kubisiki sungai, “Tolong antarkan Buyung kemari.  Pasti sedih ditinggal pergi.”

Barok

Oleh AD Yusuf @sibangor

Seorang anak lelaki datang menghampiri Putri yang kelimpungan mencari ibunya.

“Sudah jangan menangis lagi. Sekarang kamu aman berada di rumah panti.”

“Kamu siapa? Ibu mana?”

“Namaku Barok. Aku dijual ibu ke sepasang keluarga kaya karena butuh biaya. Sejak itu, hidupku seperti di neraka. Aku sering disiksa orangtua angkatku. Kalau makan bersama, piringku ditaruh di kolong meja. Ternyata, antara orangtua kandung dan angkat, cuma beda satu cambukan. Untung ada mbok Jum, pembantu di rumah mewah itu. Aku dibawa kabur lalu dititipkan di rumah panti ini.”

Ceritanya terpotong saat dipanggil ibu pengasuh. Putri mendengar, sayup-sayup orang tua itu bicara kepada Barok di balik pintu.

“Jangan terlalu akrab. Cepat atau lambat, kita akan memakannya.”

 

Putri

Oleh AD Yusuf @sibangor

Putri adalah bocah berusia 6 tahun yang selalu dibawa oleh ibunya mengemis di perempatan kota sejak subuh. Selepas Isya, Putri sudah tak kuat lagi menahan kantuk. Ia pun terlelap.

Dalam tidurnya, Putri bermimpi melihat bulan purnama yang bergerak mendekati bumi. Ia memandangnya dengan takjub dari jendela kamar. Saat itulah ia melihat sekelompok makhluk kecil berlompatan ke halaman rumah. Awalnya lucu, sebelum masuk dan memakan ibu. Sontak ia berteriak dan terjaga dari mimpi.

Tubuhnya banjir keringat. Putri kebingungan sudah berada di sebuah ruangan besar bercat putih menyerupai barak. Diterangi temaram lampu teplok, ia melihat deretan ranjang berisi anak-anak kecil berselimut garis putih biru sedang terbuai mimpi.

“Seingatku tadi tidur di pangkuan Ibu.”

 

SMS

By Ade yusuf @sibangor

HandPhone Intan mengeluarkan sinyal tanda ada SMS yang masuk. Setelah merapikan sedikit rambutnya yang sebahu, lalu mengambil telepon genggamnya dan melihat pesan yang masuk.

FROM: ADRIAN
HALO YANG, PA KBAR ? AKU KANGEN NIH.

Intan sejenak tersenyum, kemudian menekan tanda Reply, lalu menekan tanda new, setelah itu mulai menjawab,

TO : ADRIAN
SAMA, AKU JUGA KANGEN. KMU KMANA AJA SIH, 2 HRI GAK ADA KBAR.

Kembali Intan memencet tanda Send. Meletakkan kembali HP nya, mengambil lipstik dan mulai mewarnai bibirnya yang tipis.

Tak lama kemudian terdengar lagi sinyal SMS yang masuk. Intan menyelesaikan pulasan lipstiknya. Menempelkan tisu di kedua bibirnya, meraih HP-nya, serta kembali melihat pesan yang masuk.

FROM : ADRIAN
KMAREN HBIS SURVEY UTK PLANTIKAN PMR. SORRY GAK ADA KBAR. HBIS M-DADAK. KMU GAK MARAH, KAN?

Intan mencibirkan bibirnya sambil menjawab pesan dari Adrian.

TO: ADRIAN
BOONG. PASTI PUNYA CW LAIN. JUJUR AJA DEH!

Memencet tombol send lagi, ketawa lagi dan kembali meletakan HP-nya di meja rias. Intan kemudian menyalakan tape di kamarnya. Sejenak kemudian terdengar suara merdu Dido.

Seiring lagu Thank You mengalun, untuk kesekian kalinya sinyal SMS terdengar. Intan kali ini tak bisa menahan ketawanya lagi, setelah membaca pesan di layar HP-nya.

FROM : ADRIAN
SUMPAH. CUMA KAMU YG ADA DI HATIKU. MKNYA AKU BELA 2X IN PULANG DULUAN. PDHL HRUSNYA 3 HARI. BIAR BSA MLM MNGGUAN MA KAMU. KMU KOK GAK PRCAYA SIH ?

Intan mengikuti alunan suara seksi si cantik Dido sambil memainkan jarinya yang lincah memencet-mencet tombol-tombol HP

TO : ADRIAN
IYA AKU PRCAYA KOK, YANG. TPI MLM INI AKU HRUS IKUT MA-PA MKN MLM DI RMH TMEN PAPA. NNTI MLM AJA KMU KIRIM SMS AKU YA.

Intan melangkah menuju cermin setelah membalas pesan Adrian, menatap wajah manis di depan kaca, menggoyangkan badannya pelan, menunggu pesan berikutnya. Satu menit, dua menit, tiga menit, bip…. bip… suara itu yang memang ditunggu.

FROM : ADRIAN
YAA.. AKU CPAT PULANG KRNA PNGIN NGAJAK KMU KTMU MLM INI. UDAH SBULAN KITA KNAL, SJAK AKU SLH KIRIM SMS, SMPAI KITA JADIAN, KITA BLOM PRNAH KTMU. PDHL AKU UDAH BNER 2X SAYANG SAMA KMU.

Kali ini wajah Intan sedikit berubah. Nggak seceria tadi. Suara Dido pun perlahan mulai terdengar pelan. Pesan dari Adrian rupanya bikin Intan sedikit bingung. Lalu secepatnya dijawab

TO : ADRIAN
AKU JUGA SAYANG KAMU. TPI AKU GAK BISA NOLAK AJAKAN PAPA. JGN MARAH DONG.AKU JDI SDIH.

Saking bingungnya, hampir saja Intan salah memencet tombol delete, untung keburu sadar, jadi Intan nggak harus nulis ulang untuk menjawab pesan Adrian.

Untuk kesekian kalinya Adrian mengajak ketemu, tapi untuk kesekian kalinya pula Intan menolak.

FROM : ADRIAN
AKU GAK MARAH, CUMA CARI KEPASTIAN KPN KITA BISA KTMU. AKU GAK MAU SEKEDAR PACARAN LEWAT SMS. APA KMU GAK PNGIN KTMU AKU ?

Ada nada kecewa dari pesan yang ditulis Adrian,

TO: ADRIAN
KLO KMU BNR 2X SAYANG AKU, KMU HRUS SBR NUNGGU SMPAI KITA LULUS. KLO KAMU KUAT, AKU BRSDIA KTMU KMU. AKU GAK MAU CPT KTMU TAPI TRUS KCWA KARNA PENAMPILANKU GAK SESUAI BYGN KMU ATAU SBLKNYA.  SMNTRA INI LWT HP ATAU SMS AJA. GIMANA?

Suara mama terdengar memanggil nama Intan, ketika pesan baru nongol lagi di HP-nya yang berwarna merah. Intan menunggu jawaban berikutnya dengan gelisah. Kali ini agak lama Adrian membalas pesan Intan. Hampir 15 menit menunggu, baru sinyal itu berbunyi.

FROM: ADRIAN
AKU UDAH TRLANJUR SAYANG SAMA KAMU. AKU TRIMA TWRN KMU WLPUN BERAT.

Wajah Intan kembali cerah. Bibirnya yang tersapu lipstik merah, kembali tersenyum

TO : ADRIAN
MKSH. AKU JUGA GAK MAU KEHILANGAN KAMU. YANG. AKU UDAH DI
P-GIL PAPA, NNTI MLM DI SMBUNG LAGI YA.

Selesai mengirim pesan terakhir, mama memanggil Intan untuk kedua kalinya yang memberitahukan kalo Dony sudah datang. Intan pun segera mengambil tasnya sambil memasukan HP-nya ke dalam tas.

“Ma, aku pergi dulu ya….” Intan melangkah menuju teras yang ditemani mamanya.

“Hallo, Yang… ” Dony menyambut Intan dengan kecupan di kening.

“Tante, kami pergi dulu ya, “ pamit Dony mencoba mersikap ramah di depan mama Intan.

“Hati-hati di jalan ya..” angguk Mama Intan sambil melepas kepergian putrinya yang bergandengan dengan  Dony menuju mobil .

Tapi sebelum Intan masuk ke dalam mobil, terdengar suara bip-bip sinyal sms di HP. Sejenak Intan menangguhkan masuk ke dalam mobil, untuk melihat pesan yang masuk ke HPnya,

FROM : ADRIAN
I LOVE YOU

Jakarta, 2001
(Pernah dimuat di Majalah Gadis)

Aku Si Ondel-ondel

By Ade Yusuf @sibangor

Aku si Ondel-ondel Betawi. Bermuka merah darah dengan mata belo dan rambut bercucuk hiasan kertas warna-warni, serta kumis hitam melintang di atas deretan gigi besar yang menyertai sungging senyum bibir tebal.

Terus bergerak menyusuri jalan tanah kampung, diikuti serombongan warga yang sebagian besar anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga yang berhamburan keluar rumah, begitu mendengar riuh rendah suara musik campur sorak sorai warga.

Ada yang ketakutan hingga histeris, ada yang bersorak mengejek atau kasihan pada setiap kehadiranku di kampung ini. Berbanding terbalik dengan aku yang kesal, marah, dan gemas mendapat perlakuan yang buatku bukan pujian tapi pelecehan. Pelecehan yang sudah sering kuperoleh sejak kecil.

Tapi kemarahan ini sebetulnya kutujukan pada bapak dan ibuku. Mereka bukannya membela atau bahkan melindungiku dari semua ejekan orang-orang kampung itu. Malah menjadikan aku sarana untuk mencari makan, dengan alasan uang hasil kamu menari lebih besar dari pemasukan bapak sebagai tukang sampah.

Awalnya aku rela menahan kemarahanku demi membaktikan diri pada orangtua. Tapi lama kelamaan, nuraniku berontak. Sejak 10 tahun lalu aku memutuskan kabur dari rumah. Merayakan kebebasan serta terutama melepaskan diri dari siksaan pelecehan seluruh warga kampung. Juga melepaskan diri dari deraan dan siksa bathin bapak ibuku. Mereka tak lagi melihat aku sebagai anaknya melainkan objek eksploitasi aji mumpung karena semakin hari, pemasukan kami dari hasil aku menari dan menghibur warga semakin besar. Bahkan mulai merambah ke kampung seberang. Aku benar-benar tak kuat lagi menahan beban ini.

Namaku Ondelondel. Wajahku buruk dan tubuhku besar bagai raksasa. Tapi aku bukan boneka. Aku manusia yang terlahir beda. Maafkan aku bapak dan ibu, begitu kataku sebelum meninggalkan mereka yang bersimbah darah di ruang keluarga.

Transylvania

By Ade Yusuf @sibangor

Malam begitu dingin di desa ini. Suhunya sekitar 8-10oC. Aku memasuki kedai kecil untuk mencari kehangatan. Mungkin segelas coklat panas bisa menghangatkanku.

Kulihat ada satu meja yang diisi oleh seorang perempuan dengan syal warna merah maroon dan kerudung batik. Aha! Kuhampiri dia.

“Dari Indonesia?”

Ia tersenyum dengan tatapan berbinar. Kami pun larut dalam perbincangan hangat ditemani cokelat panas. Selanjutnya aku terbangun di pagi hari yang berselimut kabut tebal. Di kamar asing dengan kepala sedikit pusing. Ah, aku ingat wanita Indonesia itu. Kerudung batiknya tergeletak di lantai. Ini pasti rumahnya. Gelap dan berbau anyir.

Kulirik perempuan di sebelahku. Lelap tanpa busana, dengan dua lubang kecil di lehernya. Sementara mulutku, penuh darah kering.

Victoria Park

By Ade Yusuf @sibangor

Hari Minggu di sekitar distrik Causeway Bay sangat padat. Maklum, daerah ini adalah salah satu pusat belanja paling beken di Hong Kong. Rusmi berlari tergesa menembus kerumunan manusia yang lalu-lalang menenteng tas belanja.

Di perempatan Yee Woo Street, ia terobos lampu merah. Hampir saja ditabrak trem. Kemudian belok kanan dan berlari sepanjang jalan Great George. Napasnya makin tersengal, ulu hatinya makin tertusuk. Tapi ia harus sampai di sana.

Tiba di Jalan Glucester ia terhenyak. Tampak lautan manusia menyesaki taman besar itu. Riuh rendah suara berbahasa Indonesia membahana. Mereka larut dalam suasana konser dangdut  yang diadakan konjen. Rusmi berjalan gontai ke tengah taman sambil bergumam,

“Percuma kukabarkan, Pulau Jawa barusan tenggelam.”

Masa Lalu

By Ade Yusuf @sibangor

Lelaki separuh baya membawa album foto dan membuka halaman pertama. Berisi empat buah foto lusuh berwarna sepia. Ia menunjukan padaku sambil tersenyum dan menunjukan potongan kenangan yang terekam dalam foto itu.

“Ini kamu, De, waktu masih berusia empat tahun.”

Aku cuma memandang kosong pada foto-foto yang ditunjukan lelaki itu. Meski berkali-kali dia mengatakan, sosok anak kecil dengan pipi gemuk dan mata belo yang asik bergaya di bawah pohon itu adalah aku.

“Kamu gak ingat ya?”

Aku menggeleng. Kemudian ia membalikan halaman berikutnya. Beberapa foto yang menempel di album itu terlihat seperti rekaman peristiwa di sebuah sekolah dasar. Ada kumpulan anak-anak kecil berseragam merah putih terlihat riang. Ada foto bersama di dalam kelas. Ada pula yang sedang berkumpul di lapangan. Lelaki itu menunjuk salah satu anak yang berdiri di pinggir dengan pose yang terlihat malu-malu.

“Nah, kalo ini kamu waktu berusia delapan tahun. Masih belum ingat juga?”

Aku kembali menggeleng. Kali ini mulai mencoba mengerutkan dahi. Tapi seolah hanya ruang gelap saja yang ada dalam benakku. Otakku seperti membentur tirai hitam. Lelaki itu nampak paham dengan apa yang kupikirkan.

“Jangan dipaksakan, De. Santai saja.”

Ia lalu mengambil satu album foto yang lain dan mulai menunjukan koleksi foto dengan menampilkan wajah-wajah remaja yang mulai mengenal cinta. Kelihatan dari pose yang berpasang-pasangan. Kecuali satu yang berdiri di belakang sendirian.

“Nah, itu kamu yang ngumpet di belakang.”

Pada saat lelaki yang mengaku ayahku ini membalik halaman berikutnya, tak sengaja selembar foto terjatuh. Kupungut dan mataku tercekat. Mendadak otakku seperti tersedot sebuah adegan film yang dipercepat ratusan kali. Foto yang kupegang ini menampilkan sosok perempuan cantik sedang mengandung. Tersenyum manis sambil duduk di teras sebuah rumah mungil.

“Ini siapa?” tanyaku.

“Ini mendiang ibumu.”

“Ibu? Wajahnya samar-samar menempel di kepalaku. Ke mana ibu sekarang?”

“Dia kan, meninggal kehabisan darah saat keguguran kamu, De,” jawab lelaki itu mulai menitikan air mata.

Tik Tok

By Ade Yusuf @sibangor

Para penghuni rumah sakit terlihat mencekam. Dokter dan suster sibuk menenangkan wajah-wajah pasien yang panik sambil menahan sakit. Mereka dibantu oleh puluhan aparat bergerak ke luar areal gedung.

Bangunan berlantai lima yang biasanya tenang, kali ini berubah seratus delapan puluh derajat. Sekitar seribuan manusia yang berada di dalam gedung, berlomba-lomba menuju pintu keluar dalam waktu singkat. Bercampur dengan lalu-lalang pasukan khusus berseragam lengkap, yang memeriksa semua ruangan, memastikan tak ada orang tertinggal di dalam.

Di ruang operasi, dokter bedah dibantu empat asistennya masih terus melakukan operasi. Mencari asal suara detak jam dalam perut seseorang, untuk diserahkan pada tim gegana yang menunggu dengan cemas.

“Masih belum ketemu, Dok?”

Waktu terus berjalan, mendekati 00:00.

Penantang Ombak

By Ade Yusuf @sibangor

Namanya Gondes, bocah berusia 10 tahun, berkulit gelap dengan rambut ikal kering setengah pirang. Bukan karena dipulas cat rambut, tapi karena warna hitamnya luntur alami. Entah akibat terlalu sering berenang di air asin atau karena rambutnya yang tipis.

Gondes, setiap pagi usai sholat subuh, pasti berlari ke pantai. Ia berdiri di atas potongan pohon kelapa yang nyaris lapuk. Menantang gemuruh ombak yang bergulung setinggi 5 meter menuju ke arahnya, seolah mulut raksasa yang menganga siap melahap dirinya. Tapi mulut itu mengatup saat mendekati pantai dan kembali tersurut ke tengah laut lepas.

Gondes berteriak keras, “Pengecuuuut! Ayo telan aku. Seperti kau menelan bapak dan ibuku.”

Ia pun mulai berenang ke tengah. Menghampirinya.