Adellia Rosa
now browsing by tag
(Sebelum) Purnama ~ @adelliarosa
Oleh Adellia Rosa @adelliarosa
Ia duduk di kursi miliknya, sambil menata buku-bukunya. Rak di depannya telah berjejalan bermacam buku. Dengan tekun ia memeriksa sampul buku-bukunya. Mengelompokkan warna. Merah dengan merah. Biru dengan biru. Hitam, ia kumpulkan di sisi terbawah.
Ia mendesis marah, menemukan kumpulan buku merahnya tersesat acak di tempat buku biru.
“Maaf, aku belum mengembalikannya ke tempat semula.” Ucapku sambil bersandar di kursinya.
“Jangan sentuh milikku.”
Jawabnya pedas.
“Sejak kapan kamu tertarik dengan serigala? Semua bukumu isinya legenda.” Tanyaku penasaran.
Bibirnya melengkung. Senyumnya bersifat rahasia. Ia bersandar di punggung kursi.
“Mari kuceritakan padamu tentang legenda.” Aku bersimpuh di kaki kursinya. Suaranya terdengar sayup.
“Pada malam-malam purnama..”
Rahangnya mulai meruncing, taring-taring mulai bermunculan di bibirnya..
Purnama ~ @adelliarosa
Oleh Adellia Rosa @adelliarosa
“Percayalah padaku.”
*
Ia menggumam dalam bahasa yang tidak kumengerti. Merapal berulang-ulang, kemudian melemparkan beras ke sudut-sudut ruangan. Memercikkan air ke pintu. Lalu merapal sekali lagi. Ia menyebutnya “penangkal”.
“Jangan sekali-sekali dengarkan siapapun. Jangan pernah membuka pintu. Aku segera kembali.”
Ia melirik kaca, dua wajah identik terpantul di sana. Ia tersenyum penuh rahasia, aku meringis -tidak mengerti di sampingnya.
“Percayalah padaku.” ucapnya kemudian. Aku mengangguk. Ia melangkah ke luar.
*
“Percayalah padaku! Bukalah!” Suaranya serak memanggil-manggil. Aku terpekur. Saudaraku sedang ketakutan -terdengar dari suaranya. Aku teringat larangannya. Jangan buka pintu!
Suaranya semakin mengiba. Aku berjalan, membuka pintu. Kosong.
Di luar sana, bulan menggantung -bulat penuh keemasan.
Ia menerkam leherku dari belakang!
Getir. Pahit. Hening
by Adellia Rosa @adelliarosa
Getir.
Aku kembali mengunyah sirih dan pinang, dibaluri kapur putih dan tembakau. Tanganku memerah. Gigiku memerah. Mataku, memerah.
Asap mulai mengepul di wajan kecil diatas api spiritus sederhana di hadapanku. Segumpal malam liat mulai mencair. Aku menatap kosong kain putih di hadapanku. Tanganku mulai meliuk, menari. Menggambar sulur-sulur corak. Batik.
Perih, pedih..
Ada suara-suara di sekelilingku. Pintu kugembok dari dalam. Kunci kubuang entah kemana. Simbok. Mbak Maya. Bu Medi. Berteriak-teriak dalam tangis. Mataku memerah menahan amarah. Telingaku berdengung menahan sumpah serapah. Jemariku, menolak berhenti. Corak-corak mulai terbentuk. Anganku membara, menembus sosok yang terbaring di peraduan beralas tikar pandan. Sebuah janji yang meraung untuk ditepati.
Tubuh itu telanjang. Sehampar kain putih
menutupi sosoknya. Aku mengunyah sirih entah untuk malam yang keberapa. Getir.
Rindu. Membara.
Jemariku melepuh. Perutku menjerit meminta jatah. Terhitung tiga hari, aku belum memejamkan mata sedikitpun. Aku tidak kuat lagi berdiri. Kakiku bertahan bersimpuh di depan kain yang alih-alih putih, tertutupi malam cokelat dengan motif-motif batik silang-menyilang di atasnya. Aku mengunyah tembakau, pinang, dan sirih. Menghalau lelah. Sebentar lagi selesai.
Gedoran di pintu sudah lama berhenti, berganti ratapan tangis putus asa Simbok dan Mbak Maya yang tak henti-hentinya memintaku membuka pintu. Aku menguatkan hati. Menatap sosok yang tak beranjak dari peraduan, semangatku menyala. Jemariku mulai meliuk diatas canting cokelat dengan malam cair menetes di ujung-ujungnya.
***
Kembar mayang bergoyang. Aku berjalan gagah seperti Senopati yang diapit para emban. Aku menelusuri beskap hitam dan jarik yang kukenakan.
Keringat mulai berbintik-bintik di dalamnya. Aku tetap tersenyum. Tenang.
Singgasana sehariku menunggu. Berkilauan. Bertabur bunga-bunga di atasnya.
Aku melihat Mayang di seberang. Cantik adalah gambaran terlalu umum untuknya. Lesung pipit di kiri terus menerus ia pamerkan, bertahtakan sebuah senyum yang berkilauan. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona saat aku menggenggam jemarinya di singgasana sehariku. Saat aku menyuapkan sendok perak yang berisi nasi kuning ke bibirnya, aku adalah pria paling bahagia di dunia.
**
Lelah. Sangat lemah
Aku limbung. Kainku sudah jadi. Ulir-uliran batik yang kugoreskan selama lima hari, menggumpalkan tinta malam di mana-mana. Seharusnya aku menjemurnya dulu hingga kering. Merendamnya. Menjemurnya lagi. Barulah kain ini bisa digunakan. Tidak. Aku tidak punya banyak waktu. Aku tidak bisa membuka pintu, kunci sudah kubuang. Sebentar lagi Simbok dan Mbak Maya, serta Bu Medi pasti akan menerobos masuk. Palang penahan pintu beserta gemboknya tidak akan kuat menahan terjangan mereka yang pastilah sudah
mengumpulkan warga. Biarlah mereka menyangka aku gila. Biarlah mereka mengasihaniku di luar sana. Aku mengunyah sirih dan pinang yang terakhir.
Bibirku memerah. Tanganku memerah. Mataku, sudah lama memerah.
Aku berbaring di sisi sosok yang terbaring kaku di peraduan beralas tikar pandan. Menempelkan bibirku di lehernya yang dingin. Kaku. Pengawet itu berfungsi. Tidak tercium apapun selain kima berbahaya itu. Aku melepas kemben yang kukenakan. Telanjang. Aku berbaring. Menyelubungkan kain yang selesai kukerjakan diantara kami berdua hingga ke kepala. Menghitung napas yang tinggal satu-satu. Membuang sebotol cairan detergen yang sudah berpindah ke kerongkonganku. Pahit. Hening.
***
“Saat aku mati, aku mau memakai batik bikinanmu.” Aku tidak pernah
menyangka, anggukanmu saat aku melamarmu itu adalah sebuah janji serius
yang kau tuntaskan tanpa main-main.
“Saat Mas mati nanti, saya ikut sampeyan, Mas.” Aku hanya tertawa menanggapi kalimat yang kuanggap gurauanmu di pinggir kali, saat aku pertama kali mengecupmu.
Aku menggenggam jemari Mayang erat, saat darah menetes-netes di kepalaku. Semesta menikung. Singgasana sehariku berubah menjadi kursi mayat, saat sesuatu menggelegar menulikan telinga. Sebuah peluru bersarang di kepalaku.
Mereka bilang peluru nyasar anggota polisi yang mengejar rampok. Maling. Teroris. Aku menatap bening mata Mayang sebelum terseret ke kumparan gelap tiada ujung. Aku tahu. Mati.
***
“Sabar, Nduk..” Bu Medi merangkulku, mengelus puncak kepalaku dengan jemarinya yang mulai termakan usia.
Ibu mertuaku itu terlihat begitu terluka, namun ia menabahkan hati dengan menghiburku. Mantunya sehari. Kulihat Simbok dan Mbak Maya berangkulan, tidak sampai hati melihatku yang menatap kosong jenazah Mas Merdi.
Aku melepas rangkulan Bu Medi. Ada sebuah janji, yang akan kupenuhi untuk Mas Merdi.
“Biarkan Mayang dan Mas Merdi sendiri, sebentar.” Suaraku parau, segumpal kesedihan menusuk kerongkongan. Aku menggiring keluargaku keluar kamar.
Beberapa pelayat menatapku prihatin. Aku bisa mambaca raut wajah mereka. Kasihan. Manten lanang mati saat resepsi. Kasihan.
Aku mengganjal pintu kamar dengan palang pintu. Menggemboknya dari dalam. Membuang kuncinya. Aku beringsut mendekati kain polos yang dihadiahkan Mas Merdi, beserta sebuah kompor lengkap berserta wajan serta cantingnya. Sebuah malam tergolek di sampingnya. Aku mulai mengunyah sirih dan pinang. Serta tembakau. Sementara jasad Mas Merdi tergolek tertutupi kain putih di kasur yang beralaskan tikar pandan. Bibirku memerah. Tanganku memerah. Mataku, memerah.
Getir..
Kunjunngi blog Adellia Rosa di link ini.
KataKami:
@PramoeAga ~ Tulisannya khas Adel. Aku bisa merasakan ada di dalam setting cerita. Kudukku berdiri dan selama semenit setelah membaca, tulisan ini masih terngiang-ngiang.
@daprast ~ Adel, ini satu lagi karya terbaikmu. Tapi tolong, “di antara” ya, bukan “diantara”. Juga “ke mana”, bukan “kemana”.
@therendra ~ Cerita yang matang. Pembaca bisa merasakan emosi bermain di sana. Dan bukan dengan cara biasa. Ini adalah cerita yang membuatku selalu ingin membacanya sekali lagi. Kekelaman berbalut kekelaman. Ada semacam kepiluan menyertai aliran diksi. Tanpa memaksa.
Gerbong
By Adellia Rosa @adelliarosa
Peluh mulai berceceran di dahi Gemi. Siang itu ia mengenakan jarik dan kebaya lusuh berwarna biru. Sebuah caping bertengger di kepalanya yang dipenuhi uban. Tangannya memeluk bakul berisi nasi pecel. Sesekali bibirnya berteriak penuh semangat menjajakan dagangannya. “Pecelnya, Pak.. Pecelnya, Bu.. Anget-anget..” Ia tak peduli, sekalipun orang-orang yang lalu lalang di peron sama sekali mengacuhkannya. Beberapa mungkin jatuh kasihan membeli sebungkus pecel, tanpa repot-repot memakannya. Kemudian sebungkus pecel yang dimasak dan dijajakan dengan susah payah oleh wanita itu hanya berakhir di tong sampah. Gemi tak pernah ambil pusing, baginya mau dimakan atau dibuang, yang penting mereka membayar. Halal. Meskipun terkadang ia sendiri mengurut dada, melihat kesombongan manusia-manusia yang untuk sesamanya enggan menghargai, apalagi berbagi. Bahkan hanya untuk sekedar nasi pecel seharga tiga ribu perak. Tiga ribu perak, seharga hidup Gemi.
**
“Las, sudah to. Bantuin Simbok dagang saja, kan sudah cukup untuk makan. Gak perlu kamu mepet-mepet lanangan di gerbong buat nyopet,” ucap Gemi kepada anaknya yang beranjak dewasa. Si anak berpenampilan sekedarnya, memakai kaos oblong hitam, celana pendek dengan ujung suwir-suwir dan sendal jepit butut satu-satunya.
“Wis to, Mbok. Dagang pecel thok mana cukup buat idup. Tiap hari masa mau makan pecel sisa jualan terus. Bosen, Mbok,” sergah Lastri, melengos. “Wis, Simbok sare. Subuh dodolan lagi to?” sambung Lastri, menyingkap selimut yang menutupi kasur tua milik ibunya, isyarat agar simboknya segera menyelinap di bawah selimut itu. Gemi meringis, getir. Setengah berharap anaknya tidak akan celaka malam itu.
**
Lastri mulai menapaki malam, mengadu peruntungannya dengan menggadaikan harga dirinya. Gerbong ekonomi yang transit selewat malam itu menjadi tujuannya. Nekat, hanya itu modalnya. Bila sangat beruntung, dia bisa mendapatkan dompet dengan memepet. Nyopet.
Kalau sedang sial saat menggerayangi korbannya, yang kebanyakan adalah pria-pria tua berwajah mesum, Lastri harus membayarnya. Di toilet kereta yang berbau pesing. Bisa bercinta sampai stasiun berikutnya, bisa cuma “karaoke”, tergantung bayaran yang ia dapat. Tetapi jika sedang sangat sial, Lastri hanya bisa meringkuk pasrah saat digelandang ke petugas keamanan stasiun, persis seperti sekarang.
“Kowe meneh, Nduk,” tegur petugas keamanan stasiun dengan logat Jawa yang kental saat Lastri digiring ke kantornya. Lastri hanya menunduk pasrah, mau diapakan saja asal tidak ke polisi. “Kemarin kowe ketangkap, sekarang kena lagi. Untung keretanya masih transit, kalo pas di stasiun lain sing gak kenal kowe, bisa masuk penjara kowe Las!” sembur petugas yang bernama Asep itu masam, kemudian mengusir pergi petugas kroco bawahannya yang menggiring Lastri.
Lastri cengengesan menatap Asep, perlahan melepas kaosnya. “Mas, mumpung sepi, gak papa ini mau ngapain aja,” ujar Lastri, sedikit merajuk. Asep, yang memang selalu meneguk ludahnya saat melihat Lastri, yang dekil namun tetap cantik, mulai terpancing. Wajahnya yang bulat berminyak menjadi kemerahan, hidungnya mulai mendengus-dengus layaknya babi. “Sing penting masalahe rampung yo, Mas..” desah Lastri. Kutang biru yang sudah tidak dicucinya selama seminggu teronggok di meja sang petugas.
**
Gemi terbangun saat kereta subuh melintasi rumahnya. Rumah miliknya hanya berupa anyaman bambu di pinggir stasiun. Dilihatnya Lastri tergolek pulas tepat di sebelahnya. Diciumnya kening Lastri, miris. Anak-anaknya tidak pernah hidup secara layak. Kedua kakak Lastri yang lain entah ke mana. Selepas remaja, kedua anak laki-laki itu pergi begitu saja. Entah ngamen, nyopet, atau malah sudah jadi orang, ia tidak tahu. Gemi tidak pernah muluk-muluk, apa yang ada, itu yang ia jaga. Hatinya terlalu banyak memikul getir. Kehilangan bukan sesuatu yang asing baginya. Dua pria pernah ada dalam hidupnya. Keduanya mati muda. Pria pertama, ayah dari kedua kakak Lastri, mati karena tertabrak saat mengayuh becaknya. Lelaki kedua, ayah Lastri, mati gantung diri.
“Kalau gak kuat hidup, ya mati saja..” sergah Gemi saat lelah mendengar keluh kesah suaminya saat itu. Tidak pernah disangkanya, lelaki yang seharusnya memberinya ketegaran, justru mengakhiri hidupnya dengan sedemikian pengecut.
Gemi tertatih mengaduk nasi yang sudah ditanaknya sejak pukul 03.00 dini hari. Bakulnya telah disiapkan, ia hanya perlu merebus sayurannya sebentar, kemudian mulai menjajakan pecelnya ke stasiun
**
Gemi meringis, belum ada satu pun pecel yang laku seharian ini. Entah manusia-manusia stasiun itu yang kelewat sombong, atau entah pecelnya memang sudah tergerus jaman. Ia melepas lelah dengan selonjoran sembari mengibas-ibaskan capingnya. Sesekali masih berteriak menjajakan dagangannya.
“Mbok, masih dodolan? Lastri dikawin saja sama Asep, jadi simbok gak usah dodol, Lastri juga gak perlu nyopet, Mbok..” tegur salah satu petugas kroco anak buah Asep. Kuping Gemi memerah, sudah lama ia mendengar desas-desus Lastri dan Asep. Juga desas-desus Lastri yang sering ketauan nyopet. Atau desas-desus Lastri yang memepet laki-laki di gerbong, lalu berakhir di toilet. Penuh rasa malu, ia menggendong bakulnya dan berlari pulang.
“Las! Simbok sudah bilang jangan deket-deket sama Asep! Dia sudah punya anak bojo!” sembur Gemi sesampainya di rumah. Lastri hanya memandangnya dengan tatapan kuyu, sedetik kemudian Lastri berlari ke depan dan muntah-muntah di sana.
“Mbok, aku belum mens tiga bulan..” ucap Lastri lirih, kemudian menunduk resah. Gemi mematung, apa yang ia punya, tak pernah bisa ia jaga…
Sebuah Cerita Klasik: Mirtha
By Adellia Rosa @adelliarosa
Mirtha meringis melihat apa yang dipegangnya. Garis biru. Positif. Setengah mengumpat ia menekan sebuah nomor. “Berapapun biayanya, keluarkan janin sialan ini dari perutku,” umpat Mirtha pada ponselnya. Rasa dingin merayapi ulu hatinya mengingat sosok pemuda yang dulu begitu dicintainya. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Menghalau memori yang mendadak membanjir. “Tabahlah!” Ia berseru pada bayangannya, kemudian menghambur kembali ke dalam klub dan menenggelamkan dirinya dalam hiruk pikuk pesta.
**
Suasana klub malam itu sesak seperti biasanya. Mirtha melenggang acuh tak peduli pada beberapa pasang yang mata melihatnya tanpa berkedip. Pilihan busananya memang berani. Minidress hitam tanpa lengan dipadu dengan heels merah yang menyala. Belum lagi punggungnya yang mulus terpampang bebas tanpa tertutup suatu apa. Mirtha segera memesan segelas bir dan mulai menyulut rokoknya. Ia memalingkan wajah saat seorang pria paruh baya mengedip genit padanya. Tiga tahun menghabiskan malam di klub membuatnya merasa terbiasa dengan suasana klub yang sarat aroma rokok dan alkohol. Serta seks. Sebuah tangan mengelus punggungnya. Mirtha terkesiap dan memalingkan wajahnya. Wajah Dito berkelip-kelip tertimpa pantulan lampu disko. Tanpa banyak kata, Mirtha menjarah bibir pemuda yang sudah dipacarinya selama empat tahun belakangan. Keduanya menggeliat semakin liat, dan seperti malam-malam sebelumnya, malam mereka berakhir di sebuah suite mewah sebuah hotel.
***
“Ma!” hardik Mirtha pada seorang wanita yang tengah mabuk berat dan dikelilingi pria-pria muda yang seusia Mirtha. Pria-pria ini semuanya tampan, dan tak mengenakan apapun kecuali selembar cawat yang menutupi kemaluan mereka. Saat itu, Mirtha yang baru saja lulus SMA masih hijau tentang dunia malam. Ia hanya penasaran dan mengajak Dito untuk sekedar nongkrong di sebuah klub tak jauh dari rumahnya. Apa yang ditemuinya sungguh tak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Pulang, Ma!” seru Mirtha dengan muka merah padam menahan marah dan malu. Tak peduli dengan tatapan ingin tahu yang menusuk dari semua pengunjung klub, termasuk Dito, Mirtha menyeret ibunya memasuki mobil dan menginjak pedal gas keras-keras. “Seharusnya aku mematuhimu untuk tak menginjakkan kakiku di tempat-tempat hiburan malam. Aku melanggarnya dan malah menemukanmu di antara pria-pria penari striptease sialan itu..”
Pada saat itu Mirtha menyadari mengapa ayahnya sering sekali berlaku kasar pada ibunya. Detik itu juga ia mendadak mengerti, mengapa ayahnya menjadi begitu pemurung dan pendiam. Ibu macam apa yang ia miliki? Mirtha menutup kedua telinganya saat ia mendengar jerit kesakitan ibunya yang ditimpali dengan raungan marah sang ayah di lantai dua. Ayahnya sedang menumpahkan kecewa dan sakit hatinya. Melalui cambukan yang berasal dari ikat pinggangnya.
***
Dito melenguh meningkahi suara ranjang yang berdecit-decit. Wanita yang sedang berada di atasnya ini memberikan sensasi yang dahsyat. Tak pernah sebelumnya ia merasakan sensasi seperti ini. Tidak pula dengan Mirtha. Dito masih melenguh saat jemari-jemari dengan kuku sewarna darah itu menggerayangi lehernya, kemudian mengecup kedua putingnya dengan lembut. “Katakan, apa kau mau menjadi pelayanku?” Dito mengangguk setengah keenakan merasakan tengkuknya tergelitik, tersapu lidah sang wanita. Dito membalikkan tubuh sang wanita, kemudian memandangi wanita paruh baya itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Wanita ini memang mirip dengan Mirtha, terutama matanya. “Jangan pikirkan Mirtha..” pinta wanita itu lagi sebelum kembali menyerang tubuh Dito dengan ciumannya yang liar.
**
Mirtha merasa begitu pening dan mual. Belakangan ia sering merasa seperti itu. Mirtha muntah-muntah ke dalam wastafel sampai tenggorokannya terasa pedih. “Dua bulan sejak haidku yang terakhir.”
Mirtha menatap cermin dengan nyalang. Rahangnya menganga melihat pantulan di cermin kamar mandi. Ayahnya tergantung dengan lidah terjulur. Ayahnya memilih mengakhiri sakit hatinya dengan seutas tali di kamar mandinya sendiri.
**
Kepedihan merangkul Mirtha dengan kuat. Suara pendeta bergaung memenuhi kepalanya. Requiem kematian ayahnya mengalun begitu perlahan, begitu menyayat hatinya. Ia menyadari, mamanya tidak berada di sisi sang ayah. Mirtha menegakkan kepala, mencari sosok sang mama yang tidak ditemuinya. Setengah memaki, ia melangkahkan kakinya dari tanah pemakaman sang ayah. Ia merasa benar-benar sendirian. Bahkan Dito tidak menjawab panggilan teleponnya!
Membeku, Mirtha melihat mobil hitam sang mama di pelataran parkir sebuah supermarket tak jauh dari tanah pemakaman tempat ayahnya dikuburkan. Ia tahu ini hanya kamuflase, sang mama tidak berada di supermarket. Mama berada tepat di seberangnya. Hotel berbintang kelas dunia.
**
“Haram jadah! Terkutuk kalian berdua!” seru Mirtha tepat saat pintu menjeblak terbuka. Dito belum mengenakan selembar pakaiannya. Begitu pula sang mama. Keduanya terperanjat begitu kuat sampai-sampai kehilangan suara. Dito bersimpuh di kaki Mirtha, sementara sang mama menangis tanpa suara memandangi lantai kayu hotel yang mereka sewa. “Kau wanita murahan yang tak pantas menjadi seorang mama!” raung Mirtha murka. “Di mana hatimu?! Suamimu baru saja kami kuburkan dan aku menemukan mobilmu di luar! Aku menerobos masuk dan aku menemukan kau! Dan kau!” seru Mirtha sembari mengacungkan telunjuknya ke arah Dito yang membeku. Mirtha melenggang keluar, tak memperdulikan tatapan sang mama yang terperanjat mendengar kabar kematian sang suami. Tidak pula mengacuhkan Dito yang memeluk kakinya memohon ampun. Kenapa bukan wanita sialan itu yang bunuh diri?
**
Mirtha menenggak lagi gelas alkoholnya yang kelima. Klub masih sarat dengan aroma pesta yang menggelora. Mirtha tidak tertarik dengan apapun. Termasuk mama yang mencarinya beberapa hari terakhir dengan mata bengkak dipenuhi penyesalan. Serta Dito yang masih memohon ampun kepadanya setiap hari seperti pengemis. Dunianya dipenuhi alkohol dan rokok. Serta obat-obatan pada akhir Minggu. Mirtha hanya tersenyum simpul, menghalau rasa mual yang kembali memenuhi dirinya. “Tiga bulan aku tidak juga mendapat haid.” Ia memutuskan ke toilet dan segera menggunakan test-pack yang sudah dibelinya beberapa hari lalu. “Semoga bukan garis biru yang muncul, Tuhan..” Doanya yang pertama, mengalir di antara kepulan rokok yang masih menggantung di bibirnya. Namun sepertinya Tuhan tidak mendengar doa di sebuah klub malam. Garis biru itu perlahan-lahan muncul..
LIDYA
By @adelliarosa
HIV! Bangsat! Germo macam apa yang bahkan sampai terjangkit HIV? Kupandangi robekan hasil analisa dokter seharga lima juta rupiah beterbangan di sekitarku. Gemetar, aku mulai merokok dan membenamkan airmata dalam kepulan asapnya.
**
“Kamu siap jual?” Tanyaku pada sosok muda di hadapanku. “Tentu. Aku butuh uang. Carikan yang berdompet tebal.” Jawabnya, meraih rokok dari jemariku. Menghisapnya perlahan sembari menutup matanya. Dan itu seksi sekali. “Benarkah?” Tantangku. Tanpa banyak bicara, ia mulai memainkan jemarinya di bawah rokku. Detik berikutnya, aku melantai, tepat di bawahnya.
**
“Germo goblok!” Umpat wanita paruh baya dihadapanku. “Kenapa? Kurang puas?” Aku berteriak tak kalah sengit. “Puas! Sangat! Tidak untuk HIV-nya!” Aku terduduk lemas. Pemuda yang kutantang itu..
Posted with WordPress for BlackBerry.
tapi..
“Mia tidak pernah percaya padaku. Kau masih percaya padaku kan? Jangan diam saja, kumohon!”
**
“Jangan makan sambil membaca, Mia. Ibumu bisa marah!”
“Iya ayah..”
“Nanti, ibumu akan memasak ayam panggang kesukaan kita. Sudah lama sekali kan dia tidak memasak?”
“Iya yah, tapi..”
**
“Jangan sentuh pakaian nyonya!”
“Maaf Tuan Ryan, Nyonya Leah..”
“Jangan banyak membantah. Selesaikan saja pekerjaanmu!”
**
“Kau jadi memasak malam ini kan?”
“Aku akan membantumu..”
**
“Ini ayam panggang buatan ibumu, Mia! Kenapa kau sangsi?”
“Aku dan Mbok Min melihat ayah memasaknya tadi sore!”
**
Solo, 04 Juni 2011
Sepertinya ayah mulai gila. Dia berpikir bahwa ibu masih ada. Belakangan aku sering melihatnya berbicara sendiri pada bingkai foto, dan sesekali pada baju ibu.
-Mia
Posted with WordPress for BlackBerry.
roy. kutang. cindy
by Adellia Rosa @adelliarosa
“Lepaskan saja sumpalan di balik kutangmu!” Bentak pria itu galak. Kalung emas melingkari lehernya dan asap cerutu mengepul dari bibirnya. “Lekaslah Cindy, aku tidak membayarmu untuk melihatmu berkutat dengan kutangmu semalaman!” Aku menelan ludah, gugup. Ini malamku yang pertama.
**
“Apa-apaan ini, Roy?!” Bentak pria itu, meninju mukaku sekuat-kuatnya. Ayahku. Aku limbung, darah menetes dari hidungku. “Inilah aku, ayah..” Bisikku lirih, dan aku mendapatkan tendangan, tepat di perutku. “Minggat sana!” Semburnya melemparkan alat-alat rias beserta kutangku. Aku berlari menjauhinya yang terus menyumpah-nyumpah.
**
“Kemarikan saja bokongmu!” Sembur pria berkalung emas itu. “Kau banci pemula?” Aku memilin-milin ujung rokku, setengah ketakutan. Pria itu tertawa, lalu mulai meremas dadaku yang setengah terbuka. “Selamat datang, Cindy….”
Inggris Raya
by Adellia Rosa @adelliarosa
“Untuk apa pindah ke Inggris? Apa yang salah disini?” Suara Jacob menggaung di telingaku. Jacob, lelaki dengan mata cokelat yang kutinggalkan di sebuah desa penghasil gandum di utara Inggris. Tidak ada yang salah disana, kecuali kematian kedua orang tuaku akibat gudang gandum yang terbakar dan menghanguskan keduanya. Setelah itu, yang kulihat di desa itu hanyalah bayangan kematian dan masa depan yang membentang suram. Aku benci menjadi petani gandum. Aku, bermimpi menjadi bangsawan Inggris, karena itu aku pindah kesini. Meninggalkan Jacob-ku, meninggalkan Ordin, kuda hitam kesayangan tuan tanah pemilik ladang gandum yang terang-terangan jatuh cinta kepadaku. Seandainya dia 25 tahun lebih muda, aku pasti mempertimbangkan lamarannya. Dia tidak terlalu buruk, bila dibandingkan dengan Jacob. Aku merasa sebutir kerikil mengganjal kerongkonganku saat memikirkan Jacob. Sampai saat ini, aku tidak tahu apakah aku mencintai pemuda itu. Yang jelas, aku sudah mengenalnya sepanjang hidupku.
**
Inggris Raya begitu sepi saat musim dingin seperti ini. Aku merapatkan syal merah yang melingkar di leherku. Satu blok lagi, dan aku akan segera sampai ke flats mungilku yang berwarna abu-abu. Dengan atap miring dan perapian yang usianya bahkan lebih tua dari ibuku.
Seharusnya si Barker sialan itu membayar upahku 2 kali lebih banyak di musim dingin seperti ini. Pelanggan bar semakin banyak saja jika malam mulai beranjak berselimut salju. Semua orang berbondong-bondong menuju bar, mulai dari pria-pria tua dari berbagai dengan bau kamper yang tajam, koboi-koboi jalanan dengan topi lebar dan muka masam, sampai wanita-wanita kesepian yang sanggup menenggak bergelas-gelas bir sampai muka mereka memerah seperti tomat matang. Dan aku hanya dibayar 3 dollar per malam, meski kakiku hampir kram karena terlalu lama berdiri dan mengantar-antar pesanan minuman. Belum lagi jika para berandalan sok jagoan itu mulai bertingkah kasar dan kurangajar. Mulai dari menepuk pantat, sampai meremas dada! Seharusnya kupatahkan saja hidung mereka! Tapi, hanya ini yang bisa kulakukan. Orang dari penggilingan gandum yang tidak pernah bersekolah seperti aku, bisa mendapat pekerjaan di kota seperti ini, adalah suatu keberuntungan. Mimpi menjadi bangsawan, masih sama kuatnya, hanya saja tidak mudah menemukan bangsawan di lingkungan buruk seperti ini. Apalagi membuat mereka jatuh cinta.
Satu belokan lagi, dan salju mulai turun selarut ini! Demi Tuhan, ini pukul 02.00 dini hari! Setanpun sudah enggan bergentayangan. Aku mempercepat langkah, coat tua peninggalan ibuku berkibar-kibar tertiup angin yang mulai terasa menampar-nampar. Ah, mati lampu rupanya! Atau, aku lupa belum membayar tagihan listrik? Aku mendapati flatsku gelap gulita. Gemetar karena dingin dan kelelahan, aku memasuki flatsku perlahan. Kurebahkan diri diatas sofa kuning di ruang depan. Terlalu gelap, apalagi aku lupa membereskan ruangan. Pasti ada kaleng-kaleng sarden yang bisa membuatku tersandung sampai mati, yang masih berserakan di lantai. Tidak ada pilihan, aku memilih berbaring di sofa dan mulai tertidur setelah menghisap batang rokok yang kelima.
Rasanya baru memejamkan mata selama dua menit, saat jam beker tua milikku menjerit kencang tepat di pukul 06.00 pagi. Aku harus segera bergegas untuk membantu Mr. Harvey memangkas tanaman-tanaman cantik miliknya. Terlambat satu menit, kau akan mendapat cakaran tepat di wajahmu! Aku melompat ke dapur, menghangatkan air dan memanggang roti. Sayup-sayup terdengar keriuhan pesta pernikahan Pangeran Inggris di radio yang dipasang keras-keras dari seberang jalan. Itu radio Miss Jonessy, wanita tua pemarah yang tuli, namun selalu mendengarkan radio keras-keras setiap pagi. Persetan, aku tak ada waktu mendengarkan. Jika kau pernah merasa 24 jam tidaklah cukup sehari, itulah yang kugugat setiap hari.
**
“Kau kupecat!” bentak Mr. Barker galak setelah aku menghajar lelaki yang mencoba meremas dadaku dengan sengaja. “Baiklah, aku tidak peduli!” Bentakku tepat ke wajahnya. Kuputuskan malam ini juga, aku tidak akan kembali ke Inggris Raya. Lebih baik aku menjadi petani gandum seperti orang tuaku! Bekerja di penggilingan gandum, mungkin menikahi Jacob, jika dia masih menungguku. Atau mungkin si tua bangka pemilik ladang gandum itu masih mau menikahiku. Menjadi bangsawan, kan bisa dimana saja! Tidak hanya di Inggris Raya!
Posted with WordPress for BlackBerry.













D5 Creation