Adyta Purbaya
now browsing by tag
Arumanis Terakhir
by Adyta Purbaya @dheaadyta
“Ini untukmu…”
Dia menyerahkan sebungkus arumanis.
Aku tersenyum sangat lebar. Kekasihku ini selalu romantis memang.
Lalu kami mulai bertukar cerita tentang banyak hal hingga malam semakin larut.
“Kamu tidur gih, udah malem” katamu
Aku memasang wajah tidak rela.
Meskipun mengantuk tapi aku yakin bisa tahan mengobrol dengan mu hingga pagi.
Aku bergelayut manja di tanganmu.
“Ayo dooong, jangan bikin aku jadi tambah ngerasa berat gini” kamu mengelus lembut kepalaku.
Aku tidak ingin malam ini berakhir. Tolong. Aku tidak ingin pagi menjelang, dan kamu pergi.
“Aku juga harus istirahat. Besok acaranya jam 7 pagi. Kamu tentu tidak mau aku mengantuk saat ijab kabul kan?”
Dadaku sesak.
Mulai besok, aku akan menyebutmu kakak ipar.
Sirkus Hari Jadi
by. Adyta Purbaya / @dheaadyta
…
Sudah lima tahun aku dan dia rutin menonton pagelaran sirkus yang sama setiap tahun, tepat di hari jadi kita.
Karena disinilah pertama kali dia menyatakan cinta nya padaku.
Meski aksi sirkus yang itu-itu saja dan kami sudah sangat hafal, tapi kami selalu tertawa menontonnya.
Sudah dua tahun ini dia hanya datang sendirian.
Menonton dalam diam di tengah riuh tawa penonton lainnya. Masih duduk dibangku yang sama yang selalu kami duduki. Minus kacang dan orange juice.
Sudah dua tahun ini pula aku hanya menatapnya dari jauh, tidak menemaninya menonton.
ingin sekali aku mendekat dan duduk di sampingnya, menertawakan kekonyolan para pemain sirkus.
Tapi apa daya, kecelakaan dua tahun lalu memisahkan alam kami.
Meragu
by Adyta Purbaya / @dheaadyta
“Kamu mau bertemu pacarmu?” suara berat seorang wanita mengejutkan.
Aku menoleh. Peramal.
Aku mengangguk. Aku memang janjian bertemu Rinda di Mall ini.
“Boleh aku pinjam tanganmu?”
Ragu, tapi ku sodorkan juga tanganku.
“Dia selingkuh. Temanmu sendiri. Putuskan dia!”
Aku tersentak. Cepat ku tarik tanganku.
Aku bukan orang yang percaya ramalan. Tapi peramal itu benar, bukan sekali dua aku memergoki Rinda jalan sama Tio, sahabatku.
Aku kembali meragu.
***
“Psst… Mbak… Sudah?” Rinda keluar dari balik dinding. Peramal wanita itu mengancungkan dua jempolnya.
Rinda menyelipkan beberapa lembar ratusan ribu ke tangan peramal itu dan berlalu pergi. Sambil berdoa semoga Agung yang baik hati itu akan berfikir untuk memutuskannya setelah mendengar ramalan tadi.
Kejutan
by Adyta Purbaya @dheaadyta
Kami berjanji bertemu lagi sore ini. Katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan.
Aku sudah berada disini sejak setengah jam yang lalu. masih ada setengah jam sebelum dia tiba.
Aku sengaja datang satu jam lebih awal. Supaya ada banyak waktu untuk menyesuaikan dengan keadaan.
Aku punya feeling dia akan mengejutkan aku dengan apa pun yang ingin dia sampaikan itu.
Setengah jam berlalu cepat. Dia datang.
Kemeja biru, jeans. Tampan.
Wanita yang berjalan di sebelahnya juga tampak cantik. Siapakah?
Aku merasakan hawa tidak enak menerpa. Jutaan jarum seakan siap memecahkan balon kebahagiaan yang sejak tadi bersemayam di hatiku.
“Hai, Ney. Udah lama?”
Aku mencoba tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Kenalkan, ini Rina. Istriku”
Pacar siapa?
by Adyta Purbaya @dheaadyta
“Kamu naksir dia yaaaa?? ciyeeee…,” suara menggoda Nina mengejutkan aku yang sedang menatap lurus, terpesona, ke arah cowok tampan yang baru saja lewat.
Aku tersenyum malu. Masih mengarahkan mataku pada sosok tampan yang semakin menjauh.
“Namanya oki..,” Nina memberitahu tanpa ku tanya.
Aku menoleh cepat kearahnya dengan tatapan ingin tahu. “Kamu kenal?” tanyaku, penasaran. Setahuku, aku dan Nina selalu bersama di kampus ini. Orang yang Nina kenal, pasti aku kenal juga. Tapi ini?
Nina mengangguk pelan. Sibuk mengulum lolipop stroberi kesukaannya.
Aku masih menatapnya dengan tatapan ingin tahu.
Nina balas menatap dengan kerlingan jahilnya.
“Dia anak Tambang. Ntar aku kenalin.”
Itu saja! Aku bahkan tidak bertanya lebih dimana Nina mengenal cowok itu. Tidak ada interogasi lebih jauh. AKu tersenyum sumringah menyambut tawarannya.
Nina memang selalu bisa di andalkan.
Aku kembali menerawang, membayangkan sosok tampan tadi. Ahh… ganteeeeeengggg…
***
Sabtu sore, pulang kuliah.
Aku baru saja masuk kamar, belum melepaskan atribut kuliahku, ketika Handphone bergetar. Panggilan masuk.
Aku melihat nomor asing tertera di sana. Mengernyit karena merasa tidak mengenal nomor itu sama sekali. Lalu memutuskan untuk menerimanya.
“Hallo…”
“Tata yaaa?” tanya suara berat di seberang.
Cowok!
“I..yaa… siapa yah?”
“Hai, ini aku. Oki..”
Jleb! Oki?
“Eh? Oki yang…”
“Aku dapet nomor kamu dari Nina.”
Jleb! errrr… kenapa Nina nggak bilang-bilaaaaang. Setidaknya kan bisa persiapan..
“Oh.. eh.. ada apa?”
Terdengar tawa renyah dari ujung telpon.
“Nelpon aja, emang gak boleh?” tanya suara itu.
Aku merasakan jantung ku melompat-lompat kencang.
“Bo..Boleh… hehe… aneh aja gitu…,” aku terbata. Untung lah masih ada suara yang bisa diajak kompromi.
“Lagi dimana?”
“Di rumah nih, baru aja sampe, pulang kuliah”
“Oh… nanti malem kemana?”
“Hah? Maksudnya?”
“IYa… nanti malem ada rencana kemana? sama siapa? ada yang ngapelin?” dia memberondong ku dengan pertanyaan.
Aku mulai kesulitan bernafas.
“Engg… nggak ada kayaknya. Kenapa?”
“Baiklah. Siap-siap yah. Dandan yang cantik. Aku dateng jam 7.”
“Tapi….”
KLIK. sambungan terputus.
“Emang kamu tau rumah ku?” Aku melanjutkan sendiri. Pelan. Deg-degan.
Oki? Ngapel? Malem ini?
***
“Ninaaaaaa…..”
aku baru saja tiba di kampus dan segera berlari mencari sosok Nina. tak susah, karena aku tau tempat-tempat dia biasa nongkrong.
“Hei. Ngagetin aja…,” Nina tersenyum, mengelus dada ala kadarnya. Dia sedang membaca buku.
Aku memeluknya kencang sampe dia gelagapan.
“ada apa nih? Seneng banget kayaknya?” Nina bertanya. Tak bisa menyembunyikan penasarannya.
Aku tertawa kecil.
Pelan, mengalirlah cerita bahagia itu. Semalam, Oki datang kerumah ku, tampan, rapi, wangi, bersih. Kita mengobrol banyak hal di beranda rumah ku. Tentang keluarga, kuliah, hingga beberapa hal masa lalu. Hingga akhirnya…
“Jadi dia nembak kamu?” ada nada aneh dari pertanyaan Nina itu. Tapi aku mengabaikannya.
Aku mengangguk kencang, bersemangat.
“Jadi sekarang kalian udah pacaran?”
Aku mengangguk lagi, makin bersemangat.
“Selamat, ya…”
Hanya itu yang keluar dari mulut Nina. Aneh memang. Karena biasanya Nina akan menyambut sumringah setiap aku membawa kabar bahagia untuknya.
Tapi aku mengabaikannya. Aku memeluk erat si Nina, sahabat ku. Sahabat terbaikku.
***
Hari ini, dua bulan sudah aku menjalin hubungan dengan Oki. Semua terasa indah, berjalan pelan rasanya. Meskipun beberapa kali masalah datang menghampiri, tapi aku bisa mengalah, dan semua kembali baik-baik saja.
Hari ini, dua bulan hari jadi kami. Aku berencana memberikan sedikit kejutan untuk nya. Seperti dia yang mendadak datang kerumahku malam-malam, membawa boneka putih besar, dan mengucapkan “selamat satu bulan sayang”
Ah. Indah sekali.
Maka hari ini, aku sudah siap dengan kue tart besar berhiaskan foto kami berdua. Aku mengenakan pakaian terbaikku. Dan mendatangi rumahnya.
Aku memang tidak memberitahukan apapun kepada dia tentang rencana ini. Namanya juga surprise. Haha..
Sampai di depan rumahnya, aku lega mendapati motornya terparkir rapi di garasi. Itu berarti dia tidak pergi, dan ada di rumah.
Aku melangkah masuk, pelan, hati-hati.
Terdengar suara ketawa beberapa orang dari dalam rumahnya.
Pasti deh lagi kumpul sama anak-anak.
“Surpraiiiiii…,” teriakan ku tertahan…. “isssss…,” melanjutkannya pelan. Sangat pelan.
Semua di hadapanku berjalan slow motion.
Aku melihat Oki, pacarku. Memeluk dan menciumi seseorang. Mereka beradu nafsu. Mengulum bibir satu sama lain. Dan tertawa cekikikan.
Aku melihat oki, pacarku. Dan gadis disebelahnya itu…
Nina.
Kakakku Cantik
by. Adyta Purbaya / @dheaadyta
Gadis cantik itu kakakku.
Aku selalu suka setiap saat dia mengenakan seragam kerja biru tua, dan syal kuning itu. Cantik, anggun.
Dia seorang banker. Cita-citanya sejak kecil.
Dia bilang banker itu anggun.
Dulu aku tidak tahu apa artinya itu, tapi setelah melihat kakakku, aku tahu apa yang dimaksud anggun. Seperti dia.
Kakakku pintar, lulus S1 Akuntansi hanya dalam waktu 3,7 tahun. Cumlaude.
Aku masih ingat hari ketika kami menghadiri upacara wisudanya.
Saat itu kakak juga tampak cantik.
Kakakku memang selalu cantik. Tak peduli baju apa yang ia kenakan.
Kakakku seorang pekerja keras, dia selalu berusaha keras untuk semua apa yang dia inginkan.
Termasuk cita-citanya.
Aku juga masih ingat jelas tangis bahagianya saat dinyatakan lulus bekerja di bank itu.
Dia bahkan membicarakannya sepanjang waktu. Dan aku tak pernah bosan mendengarnya.
Aku suka setiap cara kakakku berbicara. Suara jernihnya, ekspresi lucunya.
Dia bekerja setiap hari. Berangkat subuh pulang malam, dan tak pernah mengeluh.
Bahkan dia tetap cantik meskipun dandanannya sudah luntur, wajahnya berminyak, baju dan jilbab yang sudah kusut.
Senyum manisnya membuat dia selalu terlihat cantik.
Gadis itu kakakku.
Sudah hampir dua bulan dia berada di sini, mama bilang kakak lebih baik di sini. Meski sejujurnya aku ingin kakak tetap di rumah, menemaniku. Tapi aku tahu, kakak harus berada di sini.
Aku menatap kakakku miris, perih.
Bahkan dalam kondisi seperti ini pun dia tetap terlihat cantik. Yah. walaupun minus senyum manis yang biasanya tak pernah lepas ia sunggingkan.
Aku pun masih ingat jelas kejadian itu, dua bulan yang lalu, saat dia pulang dari bank tempat dia bekerja, dengan selembar surat di tangannya.
Surat pemutusan hubungan kerja.
Dia di-PHK.
Dia menangis sepanjang malam, dan tidak mau makan apa pun. Matanya bengkak, wajahnya bersimbah air mata. Itu pertama kali aku melihat kakakku tidak cantik.
Waktu itu aku tidak tahu apa artinya PHK, dan kenapa surat yang dibawa kakak membuatnya menangis sepanjang malam.
Mama sudah menjelaskan, tapi aku tetap belum mengerti.
Hingga akhirnya ketika aku melihat kakak tidak pernah berangkat kerja lagi, dia tidak pernah mengenakan seragam biru favorite-nya lagi.
Kakak menangis setiap hari. Membanting apa saja yang bisa dibanting.
Kakak tidak mau makan. Dia melempar semua makanan yang aku bawakan untuknya.
Hingga akhirnya, semua kesadarannya menghilang. Dia sering mengamuk tiba-tiba, dan sejurus kemudian tertawa kencang. Atau bisa saja dia tiba-tiba menangis histeris, dan beberapa saat kemudian dia terdiam dengan pandangan kosong.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya. Tapi mama dan Ayah memutuskan membawanya ke sini.
Di sini banyak orang yang seperti kakak. kadang menangis, kadang tertawa.
Tapi tidak ada yang cantik seperti kakak. Mereka semua menakutkan, sementara kakak tidak.
Bahkan dalam kondisinya yang begitu pun, kakak masih terlihat cantik.
Aku sayang kakak.
Kakak cepat sembuh!
…..
Aku yang Aneh
by. Adyta Purbaya / @dheaadyta
Kau boleh menganggapku aneh. aku tidak pernah suka dengan yang namanya keramaian. Bunyi bising itu sangat menganggu bagiku.
jangan harap menemukan ku di Mall, Bioskop, atau tempat hiburan lainnya saat liburan. Aku akan lebih memilih berdiam diri di dalam kamar sempit ku, membaca buku, sepanjang hari.
Aku suka membaca buku, tapi tidak apabila di perpustakaan.
Oke, perpustakaan tidak pernah bising. Tapi aku benci keraiaman. Perpustakaan ramai, banyak orang. Aku tidak suka.
Aku lebih suka membaca buku di dalam kamar ku, sekali lagi, meski sempit. Tapi jauh dari bising, apalagi keramaian..
Tapi sekarang,
aku sudah sangat jauh dari kebisingan. Aku bahkan (mungkin) tidak akan pernah terganggu dengan keramaian lagi.
Seminggu yang lalu, sebuah truk menabrak tubuhku yang hendak menyebrang jalan. Sangat kencang. dan, Sakit.
Aku lupa apa yang terjadi setelahnya. aku tidak ingat apapun. Hanya sakit yang terasa.
Dan ketika aku tersadar kemudian.
Semua nya Gelap dan Hening..
Aku buta… dan tuli…
Kecelakaan itu merusak indera pendengaran dan penglihatan ku.
Haruskah aku bersyukur? Karena akhirnya sekarang aku tidak akan pernah terganggu karena bising dan keramaian?
Pelangi
by Adyta Purbaya @dheaadyta
Hari ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Saya dan kamu hanya mengandalkan handphone sebagai penyampai rindu.
Hari ini, sama seperti sebelumnya, saya dan kamu sama-sama tidak bisa bertindak lebih jauh untuk hati kita.
Hari ini, masih sama seperti sebelumnya, saya dan kamu masih bertahan dengan keadaan rumit ini.
***
From : Pelangi (+62856642****)
Lagi apa? Udah makan? :)
Bukan Sekali sms bernada seperti itu masuk ke handphone saya. Bahkan rasanya sudah terlalu sering. Sekitar 5 atau 6 kali dalam sehari. Eh? Bahkan Rasanya setiap detik setiap hari.
Saya tersenyum membaca barisan sms itu, segera saya menekan tombol reply dan membalas sms itu.
To : Pelangi (*0856642****)
Lg kangen kamu. Haha. udh makan ko. kamu? lg apa?
Menunggu kamu membalas sms itu, saya menerawang. Melihat deretan nama ‘Pelangi’ memenuhi inbox handphone saya.
Saya mengingat-ingat, berapa lama kita berada dalam semua ini.
Satu bulan kah?
Dua bulan? Tiga bulan?
Ah.. rasanya sudah setahun ini ya?
Kamu masih tetap sama, nggak pernah berubah. Selalu perhatian, selalu peduli.
Kamu nggak pernah lupa untuk mengirimi saya sms-sms manis setiap harinya.
Kamu selalu ada setiap saat saya harus membagi sedih dan bahagia.
Handphone saya bergetar, satu sms masuk lagi.
From : Pelangi (+62856642****)
Gombaaaaal!!!
Belom xD lg maen nih. .
Lagi-lagi saya tersenyum. Entah kenapa, setiap sms kamu selalu membawa jutaan kupu-kupu yang memaksa saya berada dalam mood baik dan senyum terus.. (Makasih untuk itu, yaa.. :D)
Saya membalas sms itu dengan cepat. Secepat detak jantung saya yang nggak bisa ditahan.
To : Pelangi (+62856642****)
wkwkwkwk itu serius dodol! :D Maen apa?
Saya melihat layar handphone yang memproses pengiriman sms itu.
Pikiran saya kembali melayang ke suatu masa, saat kamu dan saya belum seperti ini. Rasanya, kita nggak pernah peduli ada atau nggak ada nya satu sama lain dalam masing-masing hari.
Saya bahkan nggak peduli kamu udah makan apa belum, kamu lagi ngapain, gimana ujian kamu, kapan kamu mudik, dan lain lain.
Tapi sekarang rasanya beda. Saya selalu ingin tahu apa yang sedang kamu lakukan. Saya selalu ingin tau kamu lagi dimana, dan sama siapa. Saya selalu ingin memastikan kamu baik-baik saja.
Handphone saya bergetar untuk yang kesekian kali. Saya buru-buru membacanya.
From : Pelangi (+62856642****)
Loh? td knp gak sekolah?
jangan lupa makan yaa :D
Saya mengernyit bingung membaca sms itu, kok rasanya nggak nyambung sekali dengan sms sebelumnya yaa?
Kamu memang ahlinya mengalihkan topik pembicaraan. Tapi kali ini, benar-benar jauh melencengnya dari topik.
Sekolah? Hallo….
Masih dalam kebingunan penuh, handphone saya bergetar lagi, satu sms masuk lagi.
From : Pelangi (+62856642****)
Haduh maap, slh kirim :D
JGAR!!! jutaan kilat mendadak menyambar-nyambar diatas kepala saya. Senyum yang sedari tadi mengembang mendadak luntur. Semestinya saya sudah tau dari tadi…
Ini yang selalu saya hindari, kenyataan bahwa kamu sudah ada yang memiliki. Seorang gadis manis berambut panjang itu adalah seorang pemilik hatimu yang sah.
Sementara saya? saya hanyaa…
Saya menekan tombol reply dan membalas sms mu.
To : Pelangi (+62856642****)
Gapapa.. itu buat Andin, ya?
Saya menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa kamu sudah nggak sendiri lagi.
Saya menyadari sesadar-sadarnya bahwa sudah ada gadis lain yang memiliki hati kamu.
Tapi, entah kenapa, saya selalu berusaha menepis kenyataan itu.
Saya selalu nyaman tiap ada deket kamu. Kamu tau gimana caranya membalikkan semua mood baik ketika saya merasa kehilangan itu semua. dan, yang paling saya suka, karena bersamamu, saya selalu tidak pernah merasa sedih. (kecuali saat menyadari ‘kenyataan’ yang saya hindari itu)
Handphone kembali bergetar menandakan ada pesan baru dari mu. Saya membacanya dengan hati yang setengah terluka.
From : Pelangi (+62856642****)
Lg apa skg?
Tuh kan! Kamu emang ahli nya mengalihkan topik pembicaraan.
Bahkan dulu… waktu saya tanya kejelasan tentang “kamu yang katanya baru jadian” pun kamu masih mengalihkan untuk setiap pertanyaan saya.
Fiuh!
Saya mengumpulkan tenaga untuk membalas sms kamu itu.
To : Pelangi (+62856642****)
Lagi tiduran aja, smsan :)
Saya sengaja tidak menyisipkan pertanyaan atas sms saya, tapi saya tau, kamu pasti membalas sms itu.
Kamu hampir tidak pernah mengabaikan sms-sms saya, sekalipun sms itu nggak penting.
Kamu selalu membalasnya.
Handphone kembali bergetar. Saya tersenyum.
From : Pelangi (+62856642****)
Pasti smsan sama cwo ganteng xD
Eh, traktiran nya mana? :D
Senyum yang sempat luntur kembali mengembang. Benar kan, kamu memang selalu tau caranya membalikkan mood baik saya.
Saya melihat jadwal untuk besok. Kosong. Nggak ada rencana apa-apa, maka saya membalas sms mu dengan ajakan nonton bareng, sekalian melunaskan utang traktiran saya yang sempat tertunda lama.
To : Pelangi (+62856642****)
Besok ada rencana apa? kami kosong! kami traktir nnton, yuk? :)
Saya inget waktu kita pernah bikin janji untuk nonton berdua beberapa bulan yang lalu.
Kita memang nggak pernah pergi keluar berdua.
Tapi malam itu, kita bikin janji nonton bareng, berdua aja, untuk besok harinya.
Hari itu saya excited sekali menyambut hari. Saya bangun lebih pagi, berangkat kekampus dengan senyum lebar. rasanya semua mood baik sedang meliputi seluruh badan saya.
Siangnya, kamu sms bilang mau mudik. Seketika itu juga mood baik saya segera menghilang. Kamu kok lupa dengan janji semalam?
Saya balas sms itu seadanya, dan kamu nggak respon lagi.
Beberapa jam kemudian, kamu sms lagi pamitan mau mudik. Saya mengernyit bingung, perasaan tadi kamu sudah sms pamitan, kenapa ini pamit lagi? lagi-lagi saya hanya membalas seadanya.
untuk menghilangkan semua rasa nggak enak dalam hati, saya membuka akun facebook, niatnya mau mencurahkan sedikit kekesalan via update statusnya. Tapi, mata saya terbelalak ketika melihat aktivitas pertama di home saya. Beberapa menit yang lalu. Status kamu.
Nungguin ajakan orang yang kemaren ngajak nonton. Tapi sampe sekarang nggak ada. Mudik duluuuu :)
Saya tersentak begitu mendapati status facebook milik mu itu. Baru saya sadari kenapa tadi kamu berulang-ulang pamitan sama saya. Saya tau kamu mengharapkan saya menahan rencana mudik mu dan mengingatkan akan janji nonton itu.
Seketika tubuh saya rasanya lemas, penyesalan memuncak memenuhi rongga dada saya.
Saya menulis sesuatu untuk facebook saya sebelum akhirnya mengirimi mu sebuah sms. saya menulis “Ya Tuhan, hari ini saya bodoh sekali! *menyesal*”
Kemudian mengirimi mu sms, kurang lebih begini. “Kamu tau kami ngga peka dengan sindiran semacam itu. Kenapa gak nanya langsung aja sih? :(“
Dan kamu hanya membalas dengan kalimat singkat. menyatakan bahwa mungkin belum jodohnya kita untuk bisa nonton bareng.
Saya hanya tersenyum kala itu.
Getaran Handphone untuk kesekian kali nya menyentakkan saya dari lamunan.
From : Pelangi (+62856642****)
berdua aja?
Saya mengetik balasan dengan cepat.
To : Pelangi (+62856642****)
Iya, knpa? takut pacar mu marah kalo tau?
Saya kembali merasakan rasa sakit menghujam jantung, sesak nafas rasanya. Mengingat kenyataan kamu sudah dimiliki orang lain.
Balasan darimu datang lebih cepat, dan saya segera membacanya.
From : Pelangi (+62856642****)
Pacar kamu itu looooh :(
Kalimat itu kembali mengiris hati saya. Bahkan sekarang rasanya hati itu berdarah.
Ini… Ini yang bikin kita kesulitan menjalani hubungan ini.
Bukan hanya karena kamu sudah dimiliki gadis lain, tapi karena juga sudah ada pemilik sah untuk hati ku.
Bukan karena lupa dan sindiran yang bikin kita jadi berkali-kali batal pergi berdua, tapi karena sebelum mengutarakan ajakan, kita selalu memikirkan perasaan masing-masing pasangan kita.
Hubungan ini memang rumit.
Kamu dan saya memang nggak pernah menjalin hubungan lebih dari sekedar TEMAN.
Saya nggak pernah nanya ke kamu, dan kamu nggak pernah meminta ke saya.
Tapi, apa yang kita lakukan. sms-sms ini, telpon-telpon dan semua perhatian satu sama lain, cukup membuat kita untuk merasakan jadi lebih dari sekedar teman.
Tapi nggak ada yang bisa kita lakukan, selain bertahan dalam hubungan yang rumit ini.
Nggak ada selain menikmati ‘sedikit waktu’ yang bisa kita lewati sama-sama.
Saya memang nggak pernah meminta mu memperjelas hubungan kita. Kamu pun nggak pernah melakukan hal yang sama.
Saya dan Kamu, hanya bisa menikmati apa yang kita jalani.
Kamu, kadang bisa jadi sosok sangat baik, bahkan lebih dari pemilik hati saya yang sah. menghadirkan bahagia dan membagi rasa nyaman.
Tapi kemudian kamu juga yang menghilangkan semua rasa itu serta melunturkan senyum saya ketika kamu mulai bercerita atau bahkan lebih memilih pemilik hatimu yang sah.
Saya tau ini salah. Kamu juga tau.
Kita tau dengan pasti.
Tapi, rasa nyaman yang dihadirkan dari semua kesalahan ini, membuat saya (rasanya juga kamu) nggak rela mengkahirinya.
Saya (mungkin kah juga kamu?) hanya bisa berharap agar bisa terus ada dalam hubungan yang ‘salah’ ini.
Saya (mungkin kah juga kamu?) hanya bisa berdoa.. semua terus berjalan lancar, seperti ini.
Kamu memang pelangi. Setia membagi indah sehabis hujan.
Kamu memang pelangi, yang akan menjadi sesuatu yang ‘salah’ ketika kamu muncul ketika hujan sama sekali tak berniat turun.
Kamu memang pelangi…
Mohon tinggal lah lebih lama, temani aku, dan buat semua ini jadi tak salah lagi.
Cukup Satu Tahun
by Adyta Purbaya @dheaadyta
Di koridor perpustakaan ini kita berjanji bertemu.
Berdua saja.
Duduk disana dalam diam diantara orang-orang yang sibuk berlalu lalang di sebelah kita.
Aku melirik sekilas kearah mu.
Masih seperti kemarin.
Rahang kokoh dengan lesung pipi itu, Mata tajam penuh keteduhan itu.
Andai bisa, aku ingin memeluk mu erat-erat, agar kamu nggak pergi lagi dari ku.
“Maafin aku, Hil…”
Katamu dengan suara pelan. Kamu masih menunduk.
Aku berusaha menahan desakan air mata yang ingin membanjiri wajah. Aku hanya nggak pingin terlihat lemah di hadapan mu.
“Kamu baik. Aku pingin kamu dapet cowok yang lebih baik dari aku”
Kalimat penolakan yang klise. Aku tersenyum sinis. Yang harus kamu pelajari adalah, jangan pernah bilang seorang cewek itu baik kalo kamu masih nggak bisa menerima dia dalam hatimu!
“Aku nggak cukup baik buat kamu, hil…”
Lagi-lagi kalimat klise. Itu kan hanya menurut mu. Bukan menurut ku. Bagi mu mungkin kamu nggak cukup baik, sementara bagiku kamu adalah pelengkap hidup yang sangat aku butuhkan.
“Aku sayang kamu, hil…”
“Hahahahaha… Aku tertawa dalam hati. Sayang katamu? Untuk apa kamu bilang sayang sementara kamu nggak bisa jadikan aku satu-satu nya yang ada di hatimu?
“Tapi, aku nggak bisa…”
Aku muak mendengar semua penjelasanmu. Yang aku inginkan sekarang adalah berlari pergi jauh dari hadapanmu, dan menangis sekencang-kencangnya.
Atau kalau aku lebih kejam, aku ingin menampar wajah tampan8mu supaya kamu tau rasa sakitnya.
Oh, tidak! sakit hati ku ini berjuta kali lipat lebih sakit dari tamparan yang –mungkin- akan aku hadiahkan kepadamu.
Aku diam. Aku takut air mata mendesak keluar kalau aku berbicara. Aku takut terlihat lemah.
Aku menatap kosong ke dinding panjang di hadapanku.
Kamu masih menunduk.
Laki-laki kah itu? Yang bahkan tidak berani menatap mata seorang wanita yang telah di sakitinya!
Aku beranjak dari dudukku dengan tiba-tiba. Aku bisa merasakan keterkejutanmu.
Aku melangkah pelan meninggalkanmu.
Baru dua langkah, dan panggilan mu menghentikan langkahku.
“Hil…”
Aku berhenti, tanpa menoleh. Air mata sudah tidak bisa dibendung lagi.
Aku menangis.
“Kamu marah?” tanyamu.
Aku menahan sesegukanku. Hanya butiran deras air mata yang terus membasahi wajahku.
“Hil?” Panggilmu lagi.
“…”
“Aku minta maaf. Aku sayang kamu…”
“Cukup Rif!”
Akhirnya aku berhasil mengeluarkan suara. Tanpa menoleh karena aku takut kamu melihat air mata ini.
“Cukup semua omongan mu. itu Malah bikin aku sakit, tau nggak!” Aku membentakmu.
Aku nggak bisa melihat ekspresi wajahmu, tapi aku rasa kamu pasti terkejut.
Mengingat aku adalah gadis lemah lembut yang hanpir tak pernah marah, apalagi membentak orang lain.
Mengingat cara bicara ku yang sopan dan tidak pernah kasar kepada orang lain.
“Hil…”
Muak aku mendengar panggilan mu. Muak aku mendengar suara mu. Aku muak sama kamu!
“Yang harus kamu tau, rif…”
Aku mengumpulkan kekuatan untuk menyampaikan sesuatu.
“Nggak penting kamu SAYANG atau NGGAK sama seseorang. Itu nggak penting!”
Aku mulai sesegukan.
Aku benci diriku yang cengeng. Aku benci terlihat lemah dihadapanmu.
“Yang terpenting adalah. BISA atau NGGAK kamu menerima seseorang yang katamu kamu sayangi itu masuk dalam hidupmu!”
Aku semakin sesegukan. Masih enggan menoleh.
Aku takut luluh lagi kalau melihatmu.
“Maafkan aku, hil…”
“Kamu nggak salah apa-apa, rif! Aku yang bodoh, membiarkan diriku larut dalam perasaan menyayangi mu yang begitu dalam”
Kalimat yang keluar dari mulutku semakin terasa kasar dan membentak.
Tapi aku nggak peduli. Kamu pantas untuk itu.
“Aku…”
“Aku nggak butuh kamu jelaskan apa-apa, Rif. Semua omongan kamu, hanya memupuk rasa sakit dalam hati ini!”
“…”
“Aku cuma pengen tau, kenapa nggak bsisa Rif?”
“…”
“Karena aku terlalu baik?” Aku tertawa sinis. “Klise!”
“…”
“Dan karena kamu nggak cukup baik untukku? sama klise nya, rif!”
Aku menghapus butiran air mata yang kian banyak. Rasanya mataku sekarang sudah membengkak.
Rasanya aku sudah ingin lari saja dari sini. menjauh darimu.
“Aku…”
Kamu speechless.
Aku tau kamu nggak punya alasan yang tepat.
Aku tau penolakan ini hanya karena aku nggak cantik.
Aku tau penolakan ini hanya karena aku nggak seksi.
Argh!
Ingin rasanya aku mencabik-cabik muka mu, sama seperti kamu mencabik-cabik hatiku.
“Satu lagi, Rif…”
Aku menarik nafas dalam. dan menghembuskannya dengan berat.
“Kalo dari awal kamu tau kamu nggak bisa, terus kenapa kamu biarkan aku larut dalam perasaan ini? satu tahun, Rif! bukan waktu yang sebentar untuk memupuk rasa sakit itu”
Air mata mulai membanjiri wajah ku lagi.
Aku masih enggan menoleh kearahmu.
“Kamu tega bikin aku nunggu sesuatu yang nggak jelas, padahal kamu tau mengulur-ulur hanya akan menambah rasa sakit!”
Aku mendengar mu menarik nafas berat.
“Kenyataan pahit itu semestinya dikatakan di awal. Agar rasa sakitnya nggak semakin menggumpal”
“Aku bisa jelaskan, Hil…”
Aku diam.
“Aku nggak ada maksud membuatmu menunggu”
Aku masih diam.
“Aku hanya menunggu rasa untuk kamu itu hadir dalam hatiku”
Aku tetap diam. Sesegukan.
“Tapi sampe sekarang tetep nggak ada, Hil…”
Aku makin sesegukan.
“Aku nggak bisa kasih alasan yang jelas. Tapi aku benar-benar nggak bisa. Please ngerti…”
Itu! Itu yang bikin aku selalu luluh setahunan ini. Nada memelasmu yang khas itu.
Itulah alasan kenapa aku begitu menyayangimu.
“Iya aku ngerti…”
Aku lagi-lagi menghapus bulir-bulir air mata diwajahku. Menghela nafas berat. Dan akhirnya membalikkan badanku menatap sosok tampan kamu di sana.
Aku merasakan semua kerapuhan yang kamu rasakan.
Andai bisa, aku ingin memelukmu dan mengusir kerapuhan itu. Tapi, kamu nggak pernah kasih kesempatan untuk aku mengisi hatimu.
“Aku ngerti, Rif. Dan aku nggak pernah maksa kamu kok”
Kamu yang tadinya menunduk, kini mengangkat wajah mu. Aku melihat raut bersalah itu.
Kita saling tatap. Lebih lama lagi begini, aku akan luluh lagi padamu.
“Mulai sekarang, kita jalan sendiri-sendiri ya? Nggak saling ngurusin satu sama lain”
Aku membuat suatu keputusan yang berat. Aku lihat raut kaget yang muncul dari ekspresi mu. Tapi aku berusaha mengabaikannya.
“Aku pingin kita jauhan aja, Rif. Deket kamu aku malah semakin sayang”
Kamu seperti hendak protes. Tapi aku menghalangi dengan mengatakan.
“Aku sayang kamu, Rif. Selalu. Meskipun kamu udah beginiin aku”
Aku merasakan mataku kembali memanas.
“Tapi kamu jangan jadi jauh ya? Jangan jadi beda sama aku”
Nada memohon mu yang khas. Aku benci itu.
“Jelas bedalah. Aku kan tadi udah bilang kalo aku pingin kita jauhan”
Aku mendengar lenguhan penolakanmu.
“Please, Rif. Ngertiin aku!”
Aku mengulang kalimat permohonanmu. Air mata semakin mendesak ingin keluar.
“Makasih ya, Rif.. Untuk semua penantian dan rasa sakitnya”
Aku mengatakan itu, dan membalikkan badan.
Berjalan lurus tanpa menghiraukan panggilanmu di belakang ku.
Aku nggak akan pernah berhenti lagi untuk apapun demi kamu.
Cukup satu tahun ini ya, Rif.
Aku tetep sayang kamu, rif. Selalu.
Someday we’ll know If love can move a mountain.
Someday we’ll know Why the sky is blue .
Someday we’ll know why I wasn’t meant for you
***












D5 Creation