Arco Transepto

now browsing by tag

 
 

Ayat Ayat Atnic

Oleh Arco Transepto @kawancuk

Jika sepasang tangan menggelantung bisa menggantikan airmata

Apakah airmata akan terus biasa dalam tadahan tangan?

Teruntuk Tuhan pendengar dzikir yang terlempar melalui sepuluh jari
Aku miris…

Mereka lebih menangisi cinta dunia daripada cinta abadi
Seakan telah memporakporandakan dinding antara batas kefanaan dan batas keabadian

Tuhan tersenyum
Sesungguhnya, apakah Aku hanya datang karena airmata mereka?
Apakah Aku berada antara pikiran manusia yang skeptis?

Jika Tuhan menangis, hancurlah kita dan cinta.
Bukan karena tangisanmu
Namun karena kita menuntut yang seharusnya tak terjadi.

Kekasihmu adalah aku dan Tuhan
Jaga kami berdua,dalam doa.

Sebuah Pertanda

by Arco Transepto @Arco999

Mukaku melusuh, aku mencoba tuk keluar dari kerumunan pekerja yang hendak pulang ke rumah. Entah ini sebuah pertanda atau bukan.

“Esok, tempat ini akan lebih ramai,” begitu hati kecilku berkata.

Tapi entah semua terasa berbeda. Jaringan telepon seluler selalu tak bisa menjangkau telepon di rumah, tempat di mana istriku selalu termangu dengan gelisah menunggu aku pulang, sambil meninabobokkan kedua anakku.

Aku harap dia takkan cemas di rumah, bisa dibilang ini latihan awal sebelum dia merelakan waktunya untuk menikmati hujan dan menyesap kopinya sendiri, nanti.

Hingga aku berdiri di depan pintu rumah, aku masih merasa asing. Ini bukan rumahku lagi. Darah dan perban sudah melarangku pulang setelah lima peluru memberondongku dengan keras.
*Note: Diangkat dari lagu terakhir John Lennon yang berjudul “I’m Losing You”

Mengenangku Dalam Kenanganmu

by Arco Transepto @ArcoKimzy

Pada suatu masa di mana dia telah bahagia. Aku merasakan kebahagiaannya. Begitu bahagia… karena kebahagiannya bukan sementara, tapi tawa yang selama-lamanya.

Aku selalu rindu bagaimana rasanya merindukanmu. Rasanya memimpikanmu saat matahari mulai menyirami pagiku dengan senyummu. Yaah, aku rindu bermimpi tentangmu.

Di sebuah pantai dengan senja. Matahari jingga tepat hanya setengah tubuh tenggelam di lautan. Aku melihat dia duduk bercengkrama dengan tawa dan senyuman mesra.

Mereka saling memandang dengan hangat dan genggaman tangan yang begitu erat, seolah tak ingin lepas karena sepasang mata yang iri melihat sepasang makhluk Tuhan yang sedang mabuk asmara.

Sementara aku…aku masih berdiri dari kejauhan bertahan dengan sebatang pohon yang memasrahkan tubuhnya untuk menjadi tempatku bersandar. Sedikit sunggingan senyum selalu diiringi dengan kelopak mata yang mengecil, “Percuma saja aku cemburu.”

Mereka berlarian dengan tawa yang menggelegar hingga menyakitkan telinga yang mendengar. Semakin ramai dan bahagia ketika riuh teriakan ombak dan percikan air menyentuh tubuh mereka.

Sementara aku…masih dalam senyum beku yang kian kaku. Menatap dalam setiap garis senyuman yang dulu menjadi santapanku. Dia yang pertama kali mengenalkanku pada cinta dan luka.

Angin, pohon, dan ombak pun membiarkan aku mengharu dalam kenangan. Seiring terbenamnya matahari, aku pun berlari menjauhi. Membiarkan kepalanya bersandar di bahu kekasihnya kini.

Ini tahun ke-enam setelah kepergianku dari dunia. Aku masih menunggumu di surga.

Ada Keajaiban Singkat Di Sana

by Arco Transepto @Arcokimzy

Aku berharap malam tanpa batas.
Seperti ketika aku tak malu pada dunia.
Menyangsikan kita bercumbu.
Bagaimana burung-burung tetap bernyanyi saat bibir kita menyatu.
Dan pepohonan semakin riuh tertiup angin saat lidah kita menari.

Ada keajaiban di sana
Di mana jantung kita ingin keluar dari tubuh karena detak begitu keras.
Di mana mata kita terpejam dalam ciuman yang menghanyutkan.
Seperti menambah volume ukuran hati kita.
Seperti menanam kembali cinta yang ada.

Di balik nafas yang menderu
Biarkan Lidah kita menari
Biarkan Bibir kita saling mengatup
Aku tahu,
Ada keajaiban di sana..

Jarak Itu Kejam, Sayang…

by Arco Transepto @Arcokimzy

Jarak itu kejam….
Mereka memakan habis rasa.
Menguras hati untuk menangis.
Memaksa tangan meraba diri sendiri.

Jarak itu kejam…
Seolah Tuhan menabur kerikil
Hingga hati kita kian mengecil
Batu yang seharusnya terlompati
Tapi menjadi sebuah luka yang menganga.

Jarak itu kejam…
Semakin malam, kita semakin mengerang
Menghabisi cinta dan kepercayaan
Menelan rindu dengan warna abu-abu.

Jarak itu kejam…
Karena genggaman kita perlahan menjadi lambaian.
Karena aku kini menjadi yang ketiga
Memaksa aku lagi untuk berdoa

Jarak itu kejam…
Karena bayanganku telah sesap olehmu
Karena ikatan bukan sebuah penantian
Membulir sendi-sendi jiiwa dan hati
Ketika janji sehidup semati untuknya.

Jarak itu kejam, sayang…
Demi kau,dia dan aku yang kini menjadii orang ketiga.

Apel Merah Di Sekolah

by Arco Transepto @transepto

Namaku Aka, Lahir dari keluarga yang sederhana. Aku besar dan tumbuh sebagai anak dengan kepala keluarga yang berpikiran mirip halnya dengan militer. Padahal hanya kakekku saja yang pernah menjadi militer di bawah kekuasaan NKRI, dan itupun dulu saat zaman sebelum kemerdekaan Indonesia. Tidak banyak yang aku ingat setelah kebakaran
besar menghabisi rumah yang kami tinggali. Kehidupan kami drastis berubah. Ayahku kehilangan pekerjaannya dan kami pun harus berpindah-pindah tempat tinggal. Karena terdesak biaya kontrak rumah yang makin lama makin membengkak.

Aku hanya mampu bersekolah sampai  SMA. Masa sekolah yang bagiku tidak terlalu aku nikmati dengan teman-teman sekolah, karena aku banyak menghabiskan waktu di luar sekolah saat jam pelajaran dan setelah aku menyelesaikan pendidikan SMA, aku mulai kehilangan semua teman-teman sekolahku satu persatu. Hanya beberapa gelintir saja yang
bisa aku temui untuk saling berbagi bagaimana kehidupan kami setelah meninggalkan masa-masa remaja yang sangat suram. Berlari-larian saling kejar dengan guru saat jam pelajaran, minum-minuman keras saat jam istirahat dan masuk ke kelas dengan muka kami yang mirip dengan pendekar yang berjalan dengan jurus mabuk. Untungnya, semua yang kami lakukan itu berbuah manis, karena kami mendapat nilai tinggi saat pembagian raport penentuan kami lulus atau tidak. Menjelang perpisahan kami, sekolah mengadakan acara tahunan seperti sebuah acara silaturahmi tahunan, yaitu acara perpisahan kami sebagai kakak kelas dengan adik-adik kelas. Aku sendiri sudah merencanakan sesuatu untuk
membuat moment yang mungkin bisa mereka ingat suatu saat nanti setelah kami tidak akan bertemu lagi. Siti, wanita yang saat sekolah dulu selalu membuat aku ketakutan saat berhadapan langsung. Layaknya remaja lain, aku diam-diam pun menyukai Siti. Siti wanita berjilbab yang berkulit putih dan memiliki hidung yang tidak terlalu panjang (mancung) seperti halnya wanita keturunan arab. “Aku yakin dia bukan keturunan Arab atau semacamnya.”

Siang itu sebelum bel pulang sekolah, semua wajah tampak muram, kusut dan kebanyakan dari mereka memiliki posisi aneh, yaitu menciumi bau meja yang penuh dengan tipe-x. Tapi anehnya cuma Siti sendiri yang masih sibuk dan bahagia denngan kertas dan pena menyelesaikan pekerjaan meringkas. Tingkahnya yang kadang membuat pipiku merah merona, yaitu saat dia selalu melihat ke arah meja tempat dudukku yang berada dibarisan belakang sebelah kanannya di kelas sambil menebarkan senyum kecil yang bagiku sebuah santapan nikmat untuk aku lahap selain
pelajaran meringkas di akhir jam pelajaran yang cukup membosankan.

Tidak banyak yang bisa aku lakukan untuk dia saat masih sama-sama duduk di bangku SMA. Setiap hari, aku selalu berusaha untuk datang lebih pagi dari murid-murid sekolah yang lain, karena saat itulah kami berdua selalu saling melempar senyum malu-malu sebelum teman-teman satu kelas datang dan mulai mengejek pekerjaan kami yang cukup
memalukan itu.  Dan aku tahu saat itu juga hormon dopamine itu sudah mulai menjalari aliran darahku. Oia, dopamine itu salah satu alasan ilmiah kenapa orang bisa merasakan jatuh cinta. Dopamine itu sejenis hormon yang cara kerjanya seperti morphin. “Sudah pernah merasakan morphin?” Jangan,nanti ketagihan…!!

“Met Pagi Siti…” Hanya itu sapaan yang aku ucapkan untuk mewakili perasaanku yang sebenarnya adalah sebuah puji-pujian  untuknya seperti menyamai pujian untuk seorang Ibu yang selalu aku hormati. Sungguh wajahnya seperti buah apel yang baru saja di petik dari pohon. Pipi dan bibirnya yang merah segar itu sungguh kadang membuat aku tak bisa
bergeming lagi setelah dia membalas sapaanku yang sederhana itu.

“Wa’alaikum salam, ka..” balasnya sambil berjalan setengah menunduk seperti orang Jawa yang ramah dengan tata krama. Pelan-pelan dia melewati aku, sedangkan aku berdiri mematung. Pernah juga aku tertangkap basah saat sedang menghisap daun haram di belakang mushola sekolah. Saat itu juga aku mulai merasa tidak pantas dan malu hingga
aku berusaha untuk terbiasa tak menikmati senyumannya lagi. Lama tak menyantap apel merah yang segar, saat itu aku memutuskan pelan-pelan untuk mulai meninggalkan pekerjaan sampingan di sekolah yang cukup merugikan, sangat merugikan sekali. Aku seperti membuang sia-sia detik per detik waktu yang sebenarnya tersedia untuk menyantap apel merah itu daripada menghisap bakaran daun haram keparat itu. SHIT FOR MARIJUANA!!!

Sebelum tiba saat satu minggu sebelum acara perpisahan sekolah, aku merencanakan untuk sedikit mengukir lidahku dengan penuh kata-kata cinta tapi tidak gombal. Menyatakan cinta yang selama ini berhasil aku pendam sendiri itu sama saja seperti menyimpan gas beracun dari hasil pembuangan limbah makanan di dalam tubuh alias kentut. Tapi sayang sekali, rencana itu tak berjalan mulus seperti dugaan. Ajakanku untuk bertemu di kantin belakang sekolah saat perpisahan itu gagal. Aku tak menemui dia di sana. Aku teronggok keras setelah berlarian turun dari panggung usai mengisi acara musik di panggung perpisahan itu. Acara musik yang awalnya hanya bermain sebagai penggebuk drum, namun berubah, permintaan teman-teman saat itu menyuruh aku untuk menyumbangkan suara, dan mau tidak mau aku menuruti semua permintaan teman-teman saat itu. Tidak cukup dengan satu lagu, teman-teman dari kelas lain yang saat itu kekurangan personil meminta aku untuk mengisi tempat yang kosong itu. Alhasil, waktuku habis untuk menghibur teman-teman sekolah. Aku melupakan janji satu jam sebelumnya, yaitu untuk bertemu dengan Siti.

Siang itu cuaca yang sangat amat panas seperti matahari yang sedang marah dan tiba-tiba berubah menjadi mendung saat aku sampai di kantin.

“Kenapa,nak?” Tanya ibu penjaga kantin kepadaku yang duduk termangu sendirian di kantin itu. “Nak?” teguran ibu kantin sambil menyentuh sedikit kulitku dan membuat aku tersadar kalau aku sudah sekitar setengah jam diam di sana. “nggak apa-apa,bu” jawab dari lidahku yang lemas karena tak ada jawaban lain yang bisa aku ceritakan pada ibu
kantin yang saat itu sedang sibuk membereskan jualannya. “Kamu nggak pulang,nak? Teman-teman kamu sudah pulang dari setengah jam yang lalu.

Atau kamu sedang menunggu seseorang?” Pelan-pelan ibu kantin mengajakku untuk berbincang ringan. “Iya bu, beberapa jam yang lalu aku…” Tiba-tiba ibu kantin itu memberiku sebuah kertas seperti memo yang berisi catatan. “Coba baca ini! Apakah ini dari orang yang kamu tunggu?” Tidak banyak bicara, aku mulai membuka lipatan demi lipatan kertas putih itu dan berisi tulisan, “maaf ka,aku nggak punya waktu lama untuk sesuatu yang nantinya akan sia-sia.” Setelah membaca catatan kecil itu, aku mengucapkan terima kasih pada ibu kantin dan langsung bergegas meninggalkan kantin. Sambil berjalan pelan, aku membuka dan membaca ulang tulisan rapi yang ada di dalam lipatan
kertas itu.

“Aka…Aka…!!” Teriakan itu tiba-tiba terdengar dari seberang jalan di tengah kumpulan anak-anak berbaju putih abu-abu.

“Aka….nyanyi lagi dong!”

“ Woii ka…!” Aku tahu itu suara dari teman-temanku yang sering menggodaku.

“Hei Ka, mau langsung pulang atau mau jalan dulu?!” tanya Budi,  teman sebangkuku yang tiba-tiba muncul dari belakang dan suka mencolek pundakku  dari atas motornya.

“Aku langsung pulang bud,” jawabanku pun masih seperti biasa saat diberikan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Seperti itulah beberapa tahun sebelum aku kehilangan teman-teman sekolahku setelah acara perpisahan sekolah. Aku pikir saat pembagian raport dan ijazah kelulusan aku bisa menemui mereka lagi,tapi ternyata tidak. Hanya beberapa gelintir saja, Siti pun tak bisa lagi aku temui. Bisa saja aku mencari alamat rumahnya, tapi aku selalu membaca ulang memo kecil itu sebagai petunjuk. “Seandainya saja aku bisa menghargai per detik waktu yang berjalan, mungkin aku tidak akan menyesal seperti sekarang ini.”

Kenang aka si pesimistic yang optimis, sambil menutup laptop dan meraih sepotong apel merah yang selalu ia siapkan di dalam tasnya dan menggigit pelan-pelan mengikuti perjalanannya di atas kereta yang akan membawanya untuk menemui cinta sejatinya tanpa melupakan cinta pertamanya yang ia beri julukan ‘Apel Merah’.

Pada Satu Cangkir Kopi

by Arco Transepto @arcokimzy

Siapa lagi… Penuang kopi setiap aku usai bercengkrama dengan Tuhan untukmu?
Setiap hirupan adalah sebuah harapan.
Setiap tetes airnya adalah imajinasi.

Aku masih setia pada satu cangkir.
Satu cangkir hadiah pernikahan kita.
Dalam nanar mata kosong.
Dalam kecapan lidah cairan hitam

Ada tangan yang tak kukenal meraba.
Ada lukisan wajamu setelah hujan.
Seandainya aku bisa terlahir kembali.
Mungkin aku takkan berusaha tenang dengan cara ini.

Aku takkan hanya bisa bermimpi tentangmu.
Takkan berbuah barisan aksara seperti malam.
Siapa lagi… Penuang kopi usai aku terlelap dalam seluruh pagi lalu.

Jika kau terlahir kembali dan bertanya apa yang aku lakukan selama engkau pergi.
Maka aku akan memberimu secangkir kopi. “Ada kita di sana”

Merancang Surga

by Arco Transepto @arcokimzy

Sebuah kata yang tidak ingin bergaung lagi di telingaku. Aku telah salah menerka maksud lembaran. Malam selepas senja, aku ciumi setiap ujung sehelai sapu tangan pemberian ibu yang telah berbulan-bulan beliau sulam di atas kursi rodanya.

Jarum sulam dan benang wol seolah menjadi alat bantu pengharapan hidup agar bisa tegar setelah kepergian ayah. Ada banyak sekali harap yang dijejalkan dalam tiap tisiknya. Seolah beliau sedang merancang sebuah tempat untuk disinggahinya menemui ayah.

“Ini surga nak,” jawaban ibu, setiap aku bertanya ibu sedang apa. Selalu begitu. Garis keriput dan senyumnya cerah sekali setelah sehelai sapu tangan diberikan ibu padaku malam itu sebelum fajar yang menjemput beliau untuk duduk menemani ayah di surga.

Wanita Penjaja Cinta

by Arco Transepto @arcokimzy

Sorot lampu kota berpendar terpecah gerimis.
Di seberang jalan sepasang mata berpadu gincu.
Merah merona ketika rintik demi rintik menyentuh bibirnya yang lentik.
Berdiri genit berbagi senyum tak pelit.
Tersimpan setitik air mata di balik garis demi senyum terlempar.
Banyak misteri mengapa Ia seperti tonggak.
Ia bagai kapal tertahan jangkar dan mengakar.
Menjajakan bibir dan cinta semata.
Sesaat tubuh usai meliuk resah dan mendesah.
Tak peduli tubuh memar.
Tak peduli dosa mengumbar.
Tak peduli jiwa aus menggelepar.

Menjilati gincu sesaat semua usai.
Tertatih tapi tak letih.
Tak menemui gerimis yg sudah amis.
Seperti tangis rahasia yang tak habis-habis.

Tuhan tahu ia sedang berjuang.
Tuhan tahu ia selalu mengerang.
Sebagaimana takdir tergariskan.

Pecahan Cermin

by Arco Transepto @arcokimzy

Hujan..
Aku bercermin menemui diri. Dari setiap tetes menyapa lembut wajah. Suaranya bak senandung pemecah sunyi.

Hujan…
Kita, puisi dalam setiap rintiknya. Kita, rindu dalam kekeringan. Menjauhi gurun pasir di mana kita pernah kehausan.

Hujan…
Di tengah kota aku berkaca dalam derai senja. Menjejaki setiap potongan tubuhmu menapaki tempat aku berdiri.

Hujan…
Membawa otakku berputar melewati masa. Tanpa terkecuali terulang sama. Setiap bongkahnya merupakan cahaya pancaran matakku.

Hujan…
Akankah tubuhmu meraba setiap garis wajah. Walaupun sadar aku tak di bumi. Masih bisakah aku bercermin pada masa lalu saat terbujur kaku.

Hujan…
Aku rindu tatapan mataku di potongan tubuhmu. Tempatku aku berkeluh berlatih senyum menghadapi setiap pecahan dari sesuatu terjawab. Siapa aku?