Ekastri

now browsing by tag

 
 

Senyum Ayah

by Ekastri @ekastri

Setahun yang lalu jenasah ayah ditemukan di danau dekat rumah dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya terpotong menjadi dua bagian. Bagain pinggang ke bawah hilang dan belum ditemukan hingga sekarang.

Kami, anak-anaknya menginginkan agar jenasah ayah segera disemayamkan agar arwahnya bisa tenang di sana. Tapi ibu bersikukuh menyimpan dan mengawetkan jenasah ayah di rumah. Menurut ibu, arwah ayah tak akan tenang jika bagian tubuhnya yang hilang belum ditemukan. Akhirnya kami menuruti keinginan ibu.

Di rumah, ibu memperlakukan jenasah ayah seolah masih hidup. Awalnya kami canggung, tapi seiring berjalannya waktu kami pun mulai terbisa.

Kini kami sering melihat wajah ayah tersenyum samar sehabis ibu  menceritakan beberapa kisah kesehariannya kepada ayah sebelum ibu pergi tidur.

Ketika Malam Datang

by Ekastri @ekastri

Langit sebentar lagi gelap.
Tiap matahari tenggelam aku harus merelakanmu pergi bekerja hingga larut malam.

Setiap malam dengan hati miris kulihat kau bersolek.
Memulas setiap sudut wajah agar terlihat sempurna.
Paras cantik dan menarik merupakan keharusan untuk menarik pelanggan.
Sosokmu sehari-hari yang bersahaja kau sembunyikan dengan baik di balik riasan tebal.

Memang profesimu bukan pekerjaan yg dapat dibanggakan.
Orang-orang sekitar sering mencibir dan menatapmu sinis.
Tapi tak satupun yang kau indahkan.
Bagimu aku dan anak-anakmu adalah yang terpenting.

Dan seperti malam-malam yang lain.
Ketika pria-pria itu datang menjemput aku pun bergegas masuk dan memanggilmu.

‘Langgananmu datang, kamu sudah ditunggu, Pak.’

Balon untuk Anakku

By Ekastri @ekastri

Dorrr!!!

Lagi-lagi balon yang terikat di pegangan pintu itu meletus.

Anakku yang terbaring di ranjangnya menoleh lemah ke arah balon-balon itu.

‘Ibu, masih ada balon yang tergantung di sana?’

‘Masih banyak nak. Tadi pagi Tuhan menitipkan balon-balon baru kepada ibu.’

Aku pun duduk dengan sabar di samping ranjang menungguinya sampai tertidur.

Begitu ia tertidur cepat-cepat aku keluar dan meniup balon-balon baru. Entah sudah berapa ratus balon yang kutiup sejak ia terbaring lemah di ranjangnya.

Aku takut apa yang selalu dikatakan anakku akan menjadi kenyataan. Sudah puluhan kali ia mengatakan hal itu kepadaku.

‘Ibu, jika balon-balon itu habis, Tuhan akan menjemput dan mengajakku pergi berjalan-jalan untuk membeli balon baru yang lebih bagus.’

Senyuman dari Balik Puing

by Ekastri @ekastri

Malam itu bayangan bulan yang melingkar sempurna tampak sangat elok dari jendela kecil di rumah tua tempat aku menunggu Aldo kekasihku.

Sudah hampir setahun ini  aku dan Aldo menjalani hubungan kami secara sembunyi-sembunyi. Meskipun kami saling mencintai, tapi latar belakang keluarga kami yang berbeda, membuat orang tuanya tak setuju Ando menjalin kasih denganku. Aldo adalah putra satu-satunya dari keluarga kaya dan terpandang di kotaku. Sedangkan aku hanya anak seorang buruh kecil.

Rumah tua ini merupakan tempat favorit kami berjumpa. Letaknya yang terpencil dan bentuk bangunannya yang tertutup, membuat kami dapat bertemu dan melepaskan rindu  tanpa perlu khawatir orang luar akan mengetahuinya. Rumah tua ini adalah salah satu rumah milik keluarga Aldo yang lama tak dihuni. Meskipun tak berpenghuni, kondisinya masih terawat. Ada seseorang yang ditugasi oleh orang tua Aldo untuk rutin membersihkannya.

***

Seperti malam-malam yang lain, lagi-lagi aku datang terlalu awal ke rumah tua ini. Keinginan untuk dapat melepaskan rindu dengan Aldo selalu membuatku ingin segera berada di rumah ini. Dalam keheningan malam tiba-tiba aku merasakan bumi tempatku berpijak bergetar hebat dan sebuah balok kayu jatuh menimpa kepalaku. Kegelapan pun menyelimuti seluruh pengelihatanku.

Aku tak tau telah berapa lama aku tergeletak tak sadarkan diri di lantai rumah tua ini. Ketika sadar aku masih merasakan sakit di kepalaku, seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkramnya.

Rupanya semalam telah terjadi gempa. Kini aku terkurung seorang diri dalam rumah ini, seluruh jalan keluar tertutup oleh reruntuhan batu. Berbagai cara kucoba untuk dapat keluar dari rumah ini. Mulai dari berteriak sekuat tenaga dengan harapan ada orang lewat yang mendengarnya. Sampai usaha menyingkirkan bebatuan yang menutupi jalan keluar. Tapi karena kondisiku yang lemah semua usaha yang telah kulakukan sia-sia belaka.

Setelah beberapa hari terkurung di rumah tua ini, badanku mulai terasa lemas. Tak ada sesuap makanan pun yang masuk ke perutku sejak aku terjebak di sini. Dan tak ada air yang dapat kuminum sama sekali di rumah ini. Tenggorokanku yang kering serasa semakin panas karena tak ada setetes air pun yang membasahinya.

Dalam kondisi yang sangat lemah aku hanya dapat pasrah menunggu Aldo datang menyelamatkanku. Hanya dia yang tahu keberadaanku di rumah ini.

***

Sore itu, sayup-sayup kudengar suara Aldo memanggil.

‘Rika.. Rika… di mana kau?’

‘Aldo.., kau kah itu?’ kukerahkan seluruh tenaga untuk menjawab panggilannya. Tubuhku yang lemah tergeletak di lantai, suaraku terdengar lirih dan serak.

‘Rika.., maafkan baru sekarang datang menjemputmu.’

Begitu kulihat wajahnya, senyumku pun langsung mengembang. Entah kekuatan dari mana aku langsung berdiri dan memeluknya erat.

‘Rika, mari ikut aku pulang.’

‘Pulang!! Kamu yakin??’

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku lalu menggenggam tangannya dan mengikutinnya dari belakang. Sebelum meninggalkan ruangan ini, mataku menyapu semua sudut ruangan, aku ingin mengenangnya untuk terakhir kali.

Di dalam ruangan kulihat tubuhku tergeletak kaku di lantai. Seulas senyum terlukis di wajahku yang sudah pucat.

Ani yang Tekun

by Ekastri @ekastri

‘Ani, jangan lupa nanti sore kamu ada latihan tari daerah,’ ujar ibu kepada Ani.

‘Iya bu, Ani inget kok,’ jawab Ani.

Ani adalah seorang murid kelas lima di SD Harapan. Sudah sejak kecil ibu mengikutkannya latihan tari daerah di sanggar menari dekat rumah. Awalnya Ani tak terlalu suka saat ibu mengikutkannya latihan tari daerah. Lama-kelamaan kesukaannya akan tari daerah mulai tumbuh. Sedikit demi sedikit Ani mulai mempelajari berbagai macam jenis tarian daerah. Seperti tari serimpi yang berasal dari Jawa Tengah, tari merak dan jaipong yang berasal dari Jawa Barat, tari kecak dan pendet yang berasal dari Bali. Dan masih banyak tarian daerah yang dipelajari oleh Ani.

Di sekolah tidak semua temannya menyukai tari daerah. Beberapa temannya bahkan mengejeknya.

‘Ani, buat apa kamu belajar tarian daerah. Hanya orang tua yang menyukai tarian daerah. Anak-anak seperti kita lebih cocok menari balet.’

Ani pun diam saja dan hanya tersenyum mendengar perkataan temannya. Dia tetap tekun mempelajari tarian daerah.

***

Suatu hari Ani pulang dari latihan menari dengan wajah berseri-seri. Ani pun segera mencari ibu untuk menyampaikan kabar gembira.

‘Ibu, sanggar tempat Ani latihan menari diundang  ke Roma, Itali untuk tampil di festival seni internasional. Dan Ani terpilih sebagai salah satu penari yang ikut tampil,’ kata Ani dengan antusias.

‘Ooo.. ya.., ibu turut senang untukmu nak. Kapan kamu berangkat?’ tanya ibu.

‘Bulan depan Bu. Ibu tolong bantu Ani untuk persiapan pergi ke Roma ya bu,’ ujar Ani.

‘Iya nak, ibu pasti bantu kamu. Ibu bangga melihat ketekunanmu berlatih nak,’ jawab ibu sambil tersenyum.

***

Kabar terpilihnya Ani sebagai salah satu duta yang mewakili Indonesia di festival seni internasional Roma segera menyebar di sekolah. Sekolah dan teman-temannya pun bangga memiliki murid dan teman seperti Ani. Kini tak ada lagi yang mengejek kesukaan Ani menari daerah.

Kisah Antara Kami

by Ekastri @ekastri

Pertemuan dan perkenalan singkat malam itu mengawali kisahku dengannya. Meskipun setelah itu jarak ratusan kilometer terbentang antara kami, hal itu tak bisa memupuskan rasa yang telah tumbuh.

Telepon, SMS dan chatting kami manfaatkan untuk mengusir rindu yang menyesakkan dada. Bercengkerama dengannya semalaman serasa tak pernah cukup. Pembicaraan antara kami pun hangat dan penuh gairah. Kisah tentang masa lalu, saat ini dan impian masa depan terkuak di sana. Banyak kesamaan dan kecocokan yang telah kami temukan. Seakan kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama.

Sayang, ada satu hal yang tak mungkin kami miliki, masa depan hubungan ini.
Di jari manis kami masing-masing sudah tersemat cincin yang tak mungkin kami tanggalkan untuk dapat bersatu.

Surat dari Ayah

by Ekastri @ekastri

‘Nak, ayahmu kirim surat lagi. Ayah titip salam kepadamu.’

Setiap bulan ibu selalu mengatakan hal itu padaku. Sudah dua tahun ini ayah pergi dari rumah. Ibu tak pernah tahu kemana ayah pergi. Ayah pergi hanya dengan meninggalkan sepucuk surat kepada kami.

Ayahku memang bukan seorang ayah yang baik. Ia sering memukul dan melecehkan kami. Tapi ibu selalu bisa memaafkan dan tetap mencintainya. Aku tahu ibu tetap menantikan kepulangan ayah.  Sering kulihat ibu tersenyum sendiri membaca ulang surat-surat yang dikirim oleh ayah.

Satu hal yang ibu tak tahu. Ayah tak pernah meninggalkan rumah kami. Tubuhnya telah kukubur di taman belakang rumah. Dan hanya dengan surat-surat itu aku dapat membuat ibu tetap tersenyum.

Tempat yang Layak

by Ekastri @ekastri

Tempat apa ini? Panas sekali. Mengapa  orang-orang itu berteriak sangat keras? Mengganggu ketenanganku saja.

Berani sekali mereka menaruhku di tempat seperti ini. Milyader seperti aku tak pantas berada di tempat seperti ini.
Aku sanggup membayar mahal untuk mendapatkan tempat yang lebih layak. Tidak tempat kumuh seperti ini.

Lihat saja kalau pemilik tempat ini datang aku akan menawarkan uang dalam jumlah besar agar ia mau memindahkanku dari sini. Apa sih yang tidak bisa dibeli oleh uang?

‘Pak, ayo pindahkan saya dari sini. Tempat ini tak pantas untuk saya. Berapa pun yang bapak minta saya bayar.’

‘Maaf uangmu tidak berlaku di sini. Tempat ini sudah sesuai untukmu. Dosamu di dunia sudah terlalu banyak.’

Saputangan Putih

by Ekastri @ekastri

Di cafe ini aku menatapnya dalam hening. Tangannya menggenggam saputangan putih milikku. Air mata mengalir deras membasahi pipinya. Tak ada yang bisa kulakukan selain menemaninya. Sebagai sahabat aku selalu setia menemaninya di kala patah hati.

Rina sahabatku sejak kecil. Sahabat yang diam-diam kucintai.

‘Tom, jangan merusak persahabatan kita dengan cinta.’

Itu yang selalu dikatakannya. Membuatku selalu memendam perasaan padanya.
Aku tak ingin kehilangannya. Biarlah aku hanya menjadi sahabatnya.

***

Di cafe ini aku hanya dapat termenung.

‘Oh, Tom.. betapa bodohnya aku. Baru sekarang aku sadar, aku mencintaimu.’

Air mata pun menetes lagi di pipiku. Kehilangan Tom untuk selamanya sungguh menyakitkan. Saputangan dalam genggamanku ini akan selalu kusimpan, sebagai kenangan terakhir akan sahabatku.

Bekas Lipstik di Baju Suamiku

by Ekastri @ekastri

Lagi-lagi kutemukan bekas lipstik di baju suamiku.

‘Perempuan mana lagi yang menggoda suamiku. Tega benar dia merusak rumah tangga orang.’

Sepanjang masa pernikahan kami, suamiku sangat penyayang dan perhatian terhadap keluarga. Keluarga kami pun hidup berkecukupan. Semua keinginanku selalu dipenuhi oleh suami. Karena itu aku berusaha mengabaikan bekas lipstik yang beberapa kali kutemukan di bajunya.

Aku tak ingin terjadi perceraian dalam rumah tanggaku. Bagaimana nasib anakku jika orang tuanya bercerai?

Pagi itu ketika aku membersihkan ruang kerja suamiku kulihat laci meja kerjanya tak dikunci. Iseng kubuka laci kerjanya. Aku pun hanya dapat tertegun melihat apa yang disimpan suamiku di laci kerjanya.

Beberapa batang lipstik, peralatan rias dan wig tergeletak di sana.