Mega Dian
now browsing by tag
Darah Itu..
by Mega Dian @me_gaa
Pagi ini cukup indah, seusai subuhan aku bergegas menyiapkan sarapan. Nasi goreng adalah menu favorit suamiku.
Kami pengantin baru, dan menyiapkan sarapan untuk suami tercinta adalah pengalaman baru yang menyenangkan. Apalagi dia sangat menyukai masakanku. Mirip masakan ibunya katanya.
“Sayang, mandinya sudah selesai apa belum? Sarapan sudah siap,” teriakku, agar dia mendengar panggilanku.
Kebiasaan suamiku, kalau mandi lama sekali. Lebih lama dari aku.
“Sayang, cepetan dikit dong mandinya, nasi gorengnya keburu dingin” Sekali lagi aku memanggilnya.
Tak ada jawaban juga, aku segera menuju kamar mandi.
~Tok.. Tok.. Tok..
“Sayang..” Aku memanggilnya
Tak ada jawaban lagi, kubuka pintu kamar mandi, darah berceceran di lantai. Tiba-tiba kepalaku berat, lalu semuanya gelap. Aku pingsan.
Gadis Kecil
by Mega Dian @me_gaa
Sudah tiga jam aku mencari ibuku, tak kunjung juga aku temukan. Area karnival ini terlalu luas.
Untuk gadis kecil 9 tahun sepertiku, tempat ini sangat menyeramkan. Apalagi jauh dari kota tempat tinggalku.
Ibu tiba-tiba saja menghilang di tengah keramaian saat aku dan ibu akan menuju arena sirkus.
Aku terus mencari ibu, kutanyakan pada penjual balon dan arum manis di sudut lapangan. Hasilnya nihil.
Aku mulai panik, lalu tiba-tiba seorang badut mendekatiku. Dia berkata tahu di mana ibuku berada. Aku mengikutinya masuk ke sebuah mobil caravan, lalu badut itu memperkosaku. Aku jatuh pingsan.
***
Sepucuk surat diberikan badut itu padaku.
Maaf nak, ibu terpaksa menjualmu pada badut itu. Baik-baik di sana ya.
Love,
Ibumu
Ibuku Sayang
by Mega Dian @me_gaa
Ibu sedang bersolek, saat kecil aku tak tahu untuk apa harus bersolek.
Alas bedak, menutupi kerutan di wajah beliau yang memasuki usia 45 tahun. Terlihat cantik dan menarik meski terlalu tebal.
Gincu rona merah merona beliau pakai, terkesan menantang setiap orang untuk mencium bibirnya.
Pemulas mata, perona pipi mulai beliau oleskan. Menambah wajahnya yang putih menjadi merona.
Beliau mulai menyasak rambutnya, menambahkan sanggul kecil di balik kepalanya.
Baju broklat merah yang beliau kenakan menambah aura cantiknya semakin terlihat, tak lupa selendang merah favorit beliau pakai juga.
***
Sepuluh tahun sudah ayah meninggal, inilah pekerjaan ibuku. Menjadi seorang Ronggeng. Tapi aku tak malu menjadi putrinya.
Sekarang aku menjadi sarjana juga berkat pekerjaan beliau.
Kembang Api di Tahun Kedua
by Mega Dian @me_gaa
Ayah
by Mega Dian @me_gaa
Ayahku seorang single father, orang yang memperkenalkanku pada dunia sirkus. Dia sering mengajakku menonton pertunjukan sirkus.
Kami memang berasal dari keluarga miskin, meskipun begitu ayah tetap selalu berusaha mencari uang hanya untuk sekedar mengajakku menonton sirkus.
“Belinda, ayah punya uang cukup buat kita besok nonton sirkus” Begitu kurang lebih ucapannya.
***
Sirkus memang hidupku, sekarang aku menjadi pemain sirkus terkenal.
Aku melupakan ayah karena kesibukanku. Dalam benakku selalu menyalahkannya karena kemiskinan kami, hingga ibu meninggalkanku dan dirinya.
Kemarin malam, aku mendapat kabar Ayah sedang sakit keras. Tapi aku masih terlalu sibuk untuk mempersiapkan pertunjukan minggu depan hingga tak sempat menengoknya.
Terlambat, pagi ini aku mendapat kabar Ayah telah tiada untuk selamanya.
~Inspired by Hurt – Christina Aquilera’s song
Ulang Tahun Istimewa
by Mega Dian @me_gaa
Besok adalah hari paling membahagiakan dalam hidupku, usiaku memasuki seperempat abad. Dua puluh lima, angka yang istimewa buatku. Sepertinya akan ada banyak kejutan. Aku harap.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 23.55.
“Kurang lima menit lagi!” bisikku dalam hati.
Aku masih berbaring di peraduanku sembari sesekali menatap layar ponsel, menunggu beberapa ucapan. Semua orang sudah memberiku ucapan, mama dan papa yang sedang di luar kota juga sudah menelponku. Hanya Ryan kekasih baruku yang belum memberi ucapan.
“Mana ucapan dari Ryan?” aku bergumam sendiri.
~Ting Tong
Aku membuka pintu, mendapati sosok Mickey Mouse membawa kue tart, lalu aku jatuh pingsan.
***
Ternyata sosok badut itu Ryan, yang tidak mengetahui jika aku penderita Clown Phobia.
Balon Biru
by Mega Dian @me_gaa
Kesedihanku, karena cinta tak pernah sirna. Aku masih menangis di taman itu saat dia memberikanku sebuah balon biru.
“Nona manis, lepaskanlah balon biru ini agar membawa pergi semua kesedihanmu,” ucapnya sambil tersenyum.
Erlang namanya, dia hanya teman biasa. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba saja dia datang dalam hidupku. Selalu ada mengisi hari-hariku. Selalu berusaha menghapus air mataku ketika kristal-kristal itu membasahi pipiku. Hari-hari yang kujalani indah bersamanya. Kecupan, sentuhannya, menghapus laraku.
***
Sekarang Erlang jatuh cinta, bukan padaku, pada yang lainnya. Hariku jadi sebiru balon yang pernah dia berikan. Tapi aku yang salah, melupakan pesan yang pernah dia ucapkan:
“Aku boleh minta sesuatu? Jangan pakai perasaan, ya?”
Sekarang, aku memilih pergi.
Meira
By Mega Dian @me_gaa
Aku, Meira gadis cantik, mahasiswi hukum semester akhir. Kecelakaan itu, telah merenggut semuanya dariku..
Aku, ayah, ibu dan kedua adikku memang telah merencanakannya jauh-jauh hari untuk berlibur ke Jogja. Kami sekeluarga berkeliling di kota Gudeg itu, mulai dari Taman Sari, Malioboro, Parang Tritis, Baron, Kukup, Krakal dan beberapa pusat perbelanjaan. Tiga hari kami habiskan untuk bersenang senang disana. Sebenarnya, aku bersikeras menunda kepulangan kami dua hari lagi, karena masih ingin menemui beberapa teman disana dan perasaanku tidak enak jika harus pulang hari itu juga. Ayah dan ibu tetap tak mengabulkan keinginanku, maka pulanglah kami hari itu juga ke kota Semarang. Perjalanan kami lancar, hingga memasuki kota Semarang di jalan curam yang bernama Gombel, tiba-tiba truk di belakang kami kehilangan kendali menabrak beberapa mobil di depan termasuk mobil kami dan semuanya menjadi gelap.
***
Aku siuman setelah tak sadarkan entah berapa lama. Tangan dan kakiku mati rasa, kurasakan mukaku perih seperti terbakar, leherku dipasang penopang. Aku melihat langit-langit putih bersih, kukenali sebagai rumah sakit karena bau obat yang menyengat masih dapat kucium. Aku sekuat tenaga menggerakkan tanganku, akhirnya tanganku bisa bergerak dan membuat seseorang yang kepalanya bersandar didekat tanganku terbangun, menengok ke arahku. Ternyata dia tante Rini adik ibuku, dia lalu memelukku, dan memanggil dokter untuk mengecek keadaanku. Kata tante Rini, aku sudah koma selama dua bulan, dan saat kutanya nasib kedua orang tuaku dan adikku, Tante hanya menangis terisak. Mereka meninggal di tempat kejadian kecelakaan, dan hanya aku yang selamat. Langit rasanya runtuh saat mendengar kabar itu, kini hanya ada aku sendiri. Meski ada tante Rini adik ibuku satu-satunya, tetap saja berbeda. Ditambah lagi berita tentang kerusakan wajahku, tulang rahang kananku hancur , kakiku lumpuh sementara, dan kekasihku meninggalkanku, rasanya aku ingin mati saja menyusul orang tuaku dan adikku.
***
Aku dibawa ke Singapura, untuk menjalani operasi lanjutan rekonstruksi wajah, dan terapi untuk penyembuhan kelumpuhan kakiku. Kebetulan Om Toni suami tante Rini sedang tugas disana, jadi beliau yang menjagaku selama aku di Singapura. Operasi demi operasi kujalani, sebenarnya aku sudah tak tahan, rasanya nyeri menusuk-nusuk wajahku. Aku harus menjalani lima belas kali operasi untuk mengembalikan wajahku hingga sempurna. Belum lagi aku menjalani terapi kaki agar dapat berjalan lagi. Delapan bulan lebih aku berjuang mengembalikan kondisi tubuhku. Hanya saja kondisi psikisku belum kembali. Sesekali tante Rini menengokku, anak-anak dan pekerjaan membuatnya tak dapat mendampingiku. Om Toni, hanya dia yang selalu menyemangatiku, memperhatikanku. Kini aku merasa tak sebatang kara lagi.
“Mei, ayo bangun.. kita berangkat terapi sayang” Sapa Om Toni sambil mengecup keningku.
“Iya om..” Aku bergegas bangun dan memeluk Om Toni. “I Love you Om..” Bisikku padanya.
Rahasia Amelia
by Mega Dian @me_gaa
Mawarku layu, kelopaknya beguguran di taman mimpiku.
Namaku Amelia, kecantikanku jelas tak perlu diragukan lagi. Menjadi wanita panggilan, tentu bukan profesi yang kuinginkan. Sebenarnya aku mahasiswi kedokteran semester 5, anak baik-baik, model untuk beberapa majalah. Dan semua berubah saat Ayah dipecat dari pekerjaannya dan sampai saat ini belum mendapat pekerjaan pengganti. Aku harus membantu mencari nafkah. Dan kedua orang tuaku, tentu saja tak tahu pekerjaan baruku itu.
~CRING!!
Kubuka Blackberry Messenger-ku
Nadia Putri :
“Mel, Room 208 seperti biasa”
“Mr. Douglas Smith, ekspatriat, seperti pesananmu”
Amelia Chandra :
“Oke Nad, Thank You”
“Jangan lupa pesan keduaku ya”
Nadia Putri :
“Sipp, pastilah.. “
***
Aku sudah berada di depan kamar 208 ini, perasaanku selalu saja seperti ini, menginginkan ini segera berakhir.
~TING TONG
“Ya, silakan masuk. Pintunya tidak dikunci” Jawab seseorang didalam kamar itu dengan logat bule-nya yg kental.
“O-oke” Jawabku.
Jantungku berdegup kencang, kupegang gagang pintu yang tak dingin itu namun membuat sekujur tubuhku kaku. Kuputar perlahan, lalu kubuka. Mataku menyapu seisi ruangan, menemukan Doug yang tengah duduk di pojok ruangan. Dia tampan, pria paruh baya seusia Ayahku.
“Hello, I’m Amelia” Aku memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
“ Saya Douglas, panggil saja Doug. I can speak bahasa, jadi santai aja” Jawabnya ramah.
“Oh, oke. Kita mulai sekarang ?” Tanyaku.
“Tentu saja” Doug berdiri, lalu mulai membuka kemeja putihnya hingga aku bisa melihat dengan jelas perut six pack-nya
“Wait, aku siapkan wine dulu” Pandanganku tertuju pada sebotol wine di sampingku.
“Baiklah” Jawabnya.
Aku menuangkan Red Wine itu, lalu kita bersulang. Mungkin ini semacam merayakan pertemuan kita yang menyenangkan. Kami berciuman, Doug mulai mencumbuiku. Kecupannya sempurna mendarat di leherku, membuat gairahku naik. Kulepaskan bajuku satu per satu, lalu aku mulai melepaskan ikat pinggang di celana Doug, membuka celananya. Doug masih mencumbuku, lalu mendorongku perlahan hingga jatuh di ranjang. Lalu dia pingsan.
Selamat pagi Doug sayang,
Maaf aku meninggalkanmu terlebih dahulu, aku sudah menyiapkan secangkir kopi untukmu di meja.
Semoga kamu menikmati permainan kita semalam. Oh, aku lupa kalau kau pingsan ! Ya, obat tidur semalam bekerja dengan baik.
Oh iya sayang, kau tahu ? Aku putri dari Alex Chandra. Lelaki yang kau fitnah hingga dia dipecat dari pekerjaannya. Pintaku hanya satu, sebaiknya kau mengakui kesalahanmu, agar ayahku dapat kembali lagi bekerja disana. Jika tidak kau lakukan, akan kukirim foto-foto kejadian semalam pada istrimu dan bossmu. Aku dan Nadia sudah menyiapkannya untukmu.
Love,
Amelia
***
“Ada kabar baik, aku diminta kembali bekerja. Douglas keparat itu dipecat, dia mengakui semua kesalahannya” Pekik Ayah setelah menerima telepon.
Aku, Ibu dan adikku sontak berlari memeluk Ayah.
“Aku sangat menyayangimu Ayah..” Bisikku dalam hati.
Cerita Cinta Pertamaku
by Mega Dian @me_gaa
Ini benar-benar kisahku, yang seharusnya sudah terkubur lama..
Perkenalkan, namaku Dian Megawati. Cerita ini terjadi saat aku menginjak bangku Sekolah Menengah Atas. Awalnya, aku merasa menemukan sahabat yang sesungguhnya saat memasuki bangku SMA, mereka ada 6 orang : Ira, Dina, Lalan, Wiwin, Ani, Uki. Saat SMA pula aku merasakan yang sebenar-benarnya jatuh cinta, bukan hanya cinta monyet belaka. Dia, Arief Anthadi Putera, lelaki hitam manis, penuh pesona, jago futsal dan aku lebih mengenalnya saat memasuki bangku kelas 3 karena takdir mempertemukan kita dalam kelas yang sama. Ternyata cinta yang awalnya hanya lewat mata karena aku sangat mengagumi parasnya tidaklah salah, setelah mengenalnya aku semakin menggilainya. Aan, begitu semua orang memanggilnya ketimbang memanggilnya dengan sebutan Arief, tapi aku suka memanggilnya dengan sebutan spesial : “77”. Itu nomor punggung futsal yang dikenakannya saat aku pertama kali melihatnya. Dia ternyata lelaki yang cerdas, lucu, menyenangkan, tidak merokok, taat beribadah. Sangatlah tak salah aku mencintai kepribadiannya. Aku sering bercerita tentang yang aku rasakan pada Aan kepada keenam sahabatku itu. Mereka mendukungku untuk mendapatkan cinta Aan. Hanya saja ada satu kebodohanku, aku mencintainya dalam diam, tak pernah kuungkapkan perasaanku padanya.
***
“Dew, Aan cakep ya…,” bisikku pada Dewi, salah satu temanku di kelas 3 IPA 5.
“Hah ? Iya sih, tapi kan dia sekarang udah punya cewe Meg,” jawab Dewi.
“Masa sih ? Serius ? Siapa ?!” tanyaku mendesak Dewi
“U-K-I ! Masa kamu nggak tau ? Dia kan sahabatmu..,” jawab Dewi yang menghunjam tepat ke hatiku.
***
Kini Uki sudah berkeluarga dan punya seorang putra, bukan dengan Aan dia menikah. Tapi, meski aku telah memaafkannya, persahabatan kita tak lagi sama.












D5 Creation