Meliana Indie

now browsing by tag

 
 

I Will Survive

by Meliana Indie @melianaindie

inspired by I Will Survive – Gloria Gaynor

<small>At first I was afraid
I was petrified
I kept thinking
I could never live without you by my side</small>

Hujan mulai reda. Sisa titik-titik air yang menggaris di langit masih menyisakan sedikit gerimis. Kutengadahkan tanganku, seperti hendak menakar takdir hujan di sore abu-abu ini. Jalanan panjang di hadapanku mulai bergerak. Sketsa perjalanan yang masih berputaran, tentang antara menuju dan yang tersendat di sela-sela.

<small>But then I spent so many nights
Just thinking how you’d done me wrong
And I grew strong
I learned how to get along</small>

Baiklah, sudah saatnya. Aku berdiri. Sesaat mendapati tali sepatuku lepas dan berjongkok membetulkannya. Lantas dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku, aku memulai langkah pertama.

<small>So now you’re back
From outer space
I just walked in to find you here
Without the look upon your face
I should have changed my f-ing lock
I would have made you leave your key
If I’d have known for just one second
You’d be back to bother me</small>

Satu, lalu dua, dan seterusnya. Aku menghitung jumlah langkah yang tertinggal di jejak con-block basah trotoar. Satu ayunan kaki kanan ke depan. Satu kepingan dirimu yang kujatuhkan ke belakang.

<small>Oh now go,
Walk out the door
Just turn around now
You’re not welcome anymore
Weren’t you the one who tried to break me with desire
Did you think I’d crumble
Did you think I’d lay down and die</small>

Sementara hujan masih rinai. Merintik menjadi tempias di wajahku, yang pernah kau tangkupkan dengan kedua tanganmu sepenuh hati. Ah, cinta. Ia adalah langit yang lembut melingkupi lingkaran waktu kita. Puisi yang terlipat menjadi tangkai-tangkai bebungaan yang kita tanam ketika hujan. Seperti sore ini.

<small>Oh no, not I
I will survive
As long as I know how to love I know I’ll be alive
I’ve got all my life to live
I’ve got all my love to give
I will survive
I will survive
Yeah, yeah</small>

Adakah yang lebih mengajari irama ketukan luka hati selain dari gerimis sore hari yang semakin mengabur? Sedikit ke kiri. Buat lompatan lebar. Ada beberapa hal yang memang sebaiknya dielakkan. Seperti genangan air di depan. Atau tentangmu. Pernah kukatakan kepadamu, hidup ini adalah birama. Maka gambarkan saja tangga nada dan kita berloncatan di atasnya.

“Naik dan turun?”, tanyamu.

“Seperti jatuh cinta dan patah hati’, kataku.

<small>It took all the strength I had
Just not to fall apart
I’m trying hard to mend the pieces
Of my broken heart
And I spent oh so many nights
Just feeling sorry for myself
I used to cry
But now I hold my head up high</small>

Aku kembali mengambil nada. Berjingkat dalam lompatan, sedikit berputar, mempertemukan kedua tapak kaki di udara. Kepingan-kepingan dirimu semakin berjatuhan, berserakan dalam kenangan yang tertinggal di genangan air belakang. Ah, sepertinya perlu kunyanyikan sebuah serenada untuknya. Tentang sedih yang baiklah kusulang menjadi cinta yang indah untuk selanjutnya.

<small>And you see me
With somebody new
I’m not that stupid little person still in love with you
And so you thought you’d just drop by
And you expect me to be free
But now I’m saving all my loving
For someone who’s loving  me</small>

Hujan sore hari yang semakin menipis seperti mengajakku berlari. Kutarik keluar kedua tanganku dari saku dan kurentangkan mereka serupa sayap yang membentangi langit. Aku berlari. Merasakan angin dan titik-titik air beriapan di wajah dan helai-helai rambutku, riang gembira. Kepingan besar dirimu yang terakhir terlepas dan terburai di udara. Aku berhentii. Mengambil nafas dan mendengar jantungku bernyanyi dalam momentum pencapaian. Kutatap lenggang jalan yang terlihat tak berujung di hadapanku. Seorang perempuan berpayung pelangi melintas melewatiku, menyiratkan aroma senja dari ujung gaunnya yang melambai. Aku tersenyum, mengepalkan jemari dan kembali berlari.

<small>I will survive
I will survive
Yeah, yeah…</small>



Sepucuk Janji Kita Yang Sampai ke Meja Kerjaku Pagi Ini

by Meliana Indie @melianaindie

Surat itu sekarang tergeletak di atas meja kerjaku, di samping tumpukan berkas-berkas yang menunggu tanda tanganku. Tadi pagi, ia diserahkan langsung ke tanganku oleh pengacara yang juga adalah sahabat masa kecilku. Aku mengangkat surat bersampul coklat itu, membaca sebaris nama yang tertulis di atasnya dengan nanar. Hati-hati dan perlahan, kusobek pinggiran surat yang bersegel itu, mengeluarkan selembar kertas dengan tulisan tangan yang sudah sangat kuhafal. Tubuhku seperti kehilangan gravitasi, limbung dalam gamang yang panjang ketika kubaca kata demi kata yang seolah kini sedang mengejarku dengan janji dan panji-panji.

Kepada aku,

Selamat!

Hari ini kamu resmi dilantik menjadi anggota tim penyelidikan di KPK. Masih ingat dengan semua perjuangan berorasi menentang rezim orde baru ketika kamu masih berstatus mahasiswa? Ideologi mewujudkan Indonesia baru yang kamu doktrinkan diam-diam melalui surat edaran dan selebaran-selebaran? Perjuanganmu siang dan malam mengerjakan semua ketikan terjemahan demi biaya melanjutkan pendidikan S2? Semuanya terbayar hari ini!

Bagi orang lain, mungkin kamu hanya seorang anggota KPK biasa yang tidak bergaji tinggi. Tapi bagiku, kamu adalah seorang pahlawan, yang akan membantu mewujudkan Indonesia bebas dari korupsi! Kamu akan memastikan semua kekayaan yang diambil dari tanah pertiwi di negeri ini akan dikembalikan kepada rakyat dan tidak diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, siapapun itu. Kamu akan menyelidiki instansi yang dicurigai terlibat dalam penggelapan dana, mengumpulkan bukti-bukti dan mengejar mereka sampai ke belahan dunia terjauh sekalipun!

Dalam tugasmu mewujudkan cita-cita Indonesia yang bebas dari korupsi, tentunya kamu akan menghadapi banyak tantangan, juga godaan. Tapi aku tahu kamu akan selalu mengingat idealisme yang membakar dadamu dan rekan-rekanmu dengan warna merah dan putih Indonesia. Kamu akan menemu keteguhan dari Tuhan dan genggaman tangan istrimu, istri kita, yang berjilbab dan berhati lembut seperti awan di langit. Kamu akan memandang mata kedua putramu dan mengingat janji masa depan negeri yang akan kamu wariskan kepada mereka, dan juga kepada jutaan anak-anak lainnya di negeri ini. Aku tahu kamu akan menepuk dada dengan bangga, mengatakan TIDAK dan hanya TIDAK kepada segala bentuk sogokan dan tawaran untuk menjual hati nuranimu!

Sepuluh tahun dari sekarang, kita akan bertemu di Indonesia yang lebih baik. Indonesia yang bebas dari korupsi!

Dari aku, untukmu, seperti darimu selalu untukku.

[Indonesia, 2003]

Sebutir besar air mata jatuh di atas surat yang masih berada dalam genggaman tanganku. Aku mengenang kembali semangat yang kulipat bersama sepucuk surat yang kutitipkan kepada pengacaraku yang sekaligus sahabat karibku untuk diserahkan kembali kepadaku sepuluh tahun kemudian. Semacam pengingat atas idealisme dan cita-cita agar tak tergerus oleh waktu dan keserakahan.

Tanganku gemetar. Kurobek-robek surat yang kembali dari masa lalu itu dengan perasaan yang tak terlukiskan, menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi membentuk. Aku merasa seperti ada yang hilang dan menjelma bagian kosong dari dalam dadaku.

Nuraniku! Aku telah menjualnya…

Samudera Badai

by @melianaindie

“Tuhan!” lelaki tua itu berseru dengan segenap gemuruh suara yang seperti berasal dari rongga dadanya yang terjauh. Teriakannya terdengar sayup di antara degap derai butiran  hujan yang rapat menjatuhi laut yang gamang oleh ayun gelombang. Angin seperti kehilangan arah. Lesatnya meresah dalam deru yang saling berbenturan, serupa suara galau, yang tak lagi tersembunyikan di mata lelaki-lelaki yang kini sedang merapal doa.

Lelaki yang paling muda mencoba menggerakkan dayung mengikuti alunan ombak yang kini mendorong perahu kecil mereka dalam satu sentakan besar ke depan. Tapi laut, seperti cuaca yang suka menyimpan rahasia, kembali menerjangkan ombaknya, membuat perahu seperti berderak dalam lambungan tinggi yang lalu menghempaskannya kembali ke semula. Seketika itu juga, dayung yang dipegang oleh lelaki yang paling muda itu terlepas dari genggaman dan menghilang di antara lembah-lembah ombak.

“Sialan! Ayo nyala!”, lelaki yang paling tinggi mengguncang-guncang senter darurat yang terdapat di perahu penyelamat kecil mereka. Senter itu, seperti juga banyak hal yang mendadak bersiasat mengkhinatimu dalam masa-masa tersulit, tidak juga menunjukkan tanda-tanda lampu yang dinantikan. Sementara langit menggambar badai di samudera dengan kelebat kilat yang seolah-olah mencari titik temu dengan perahu kecil mereka. Lelaki tinggi itu merapatkan jaket pelampungnya, berusaha menyibukkan tangannya yang gemetar sembari mengucapkan kalimat cinta terakhir kepada ibu yang dadanya selalu ia rindukan.

“Bantu aku menguras perahu!” teriakan lelaki yang paling tua menarik kembali kedua lelaki lainnya dari gamang horizon di hadapan yang tak terbaca mereka. Lelaki yang paling muda dan lelaki tinggi, seperti badai yang turut mengamuk, menciduk air yang masuk ke dalam perahu dengan kedua tangan mereka. Di atas kepala mereka, langit menurunkan guntur yang menggelegar, titik-titik hujan yang besar menghujam kulit mereka. Di hadang mereka, laut adalah sketsa masai ombak-ombak yang seperti gunung, menggelung harapan mereka yang berlepasan satu persatu.

Sebuah ombak besar mendadak menghantam lambung kanan perahu mereka. Terhuyung-huyung, lelaki yang paling tua berteriak, “Pegang tali di sisi luar badan perahu!”, tepat sebelum perahu penyelamat mereka berhadapan dengan gelombang tinggi yang menyerupai dinding air, menjelma ketakutan yang menyeruak keluar lewat teriakan lelaki-lelaki yang ditaklukkan oleh badai di samudera malam itu.

Seperti kedatangan dan kepergian yang menjadi biasa, laut menyimpan misterinya dalam petanda-petanda yang sering tak terbaca. Perlahan, hujan menipis menjadi rinai lalu berhenti. Di tepi langit sebelah timur, matahari muda mulai menampakkan dirinya, menampilkan larik-larik cahaya dari langit yang menerbos sisa mendung yang masih sedikit menggumpal di langit.  Gelombang, seperti dimantrai, mereda dalam tenang yang mengayun-ayun. Lelaki yang paling tua itu segera mengeluarkan kompas dari kotak perkakas perahu dan membacanya.

“Kita pulang”, ujarnya pendek sambil tersenyum, menatap kedua rekan lelakinya yang telah bersamanya mengikat tali persaudaraan dalam badai semalam.

Di hadang mereka, di sudut pertemuan langit dan samudera, sebuah pelangi melengkung dalam gradasi warna-warni yang menumbuhkan harapan.

The Art of Doing Nothing 2

by Meliana Indie @melianaindie

Berdiam tanpa melakukan apapun adalah pergerakan rotasi arah yang demikian riuh, membadai dari sunyi dan puisi yang saling menandai garis tepi.

Seperti lingkaran yang mengitari perbatasan takdir dan avatar, demikianlah diam memulai perjalanannya yang kesekian.

Maka matikan semua tanda seru! Lengkungkan kurva dengan satu titik menyerupai tanya yang terlempar pada punggungmu. Dalam liukan pelan, kita maknai kesejatian jawaban-jawaban yang terlambung ke langit, lantas pecah menjadi hujan yang mengawang.

Berdiam. Tanpa melakukan diam apapun.

Diam yang mendengar. Seperti malam yang memetik suara air mata. Seperti sunyi yang memainkan serenada di notasi waktu. Demikianlah diam mengajarkan kuantum yang bergerak, melampaui semua rupa kata-kata dan rasa.

Sebab dengan tanpa melakukan apapun, kita melihat semesta dan menangkupnya ke dalam hati kita yang mengingat, serupa hampa yang memenuhi rahim sedemikian penuh.

Seperti pernah dihikayatkan kepada orang-orang yang berdiam dalam semestanya, perjalanan menuju diam adalah pencarian awal yang tidak menemu nadir. Sebab dengan tanpa melakukan apapun, semua kisah mengulang dan jalan-jalan menjulang, menisik cinta dan kekasih dalam sunyi perjalanan. Abadi.

Oh, jalan sunyi ini! Seni perjalanan dalam diam. Istirah yang menjura pada pencarian peta matahari, ujung lengkung dedaunan yang melahirkan anak-anak embun, pun pada angin yang mencintai musim dan mural warna pelangi. Semesta yang menghembuskan hidup dalam tarian cinta.

Semestaku dan semestamu yang menemu semesta jiwaNya.

Sebab dalam diam dan tidak melakukan apapun, huruf-huruf dan tanda baca pecah menjadi partikel yang menarik jemari-jemariku dalam lompatan-lompatan yang merinai irama.

***

[dialog sunyi. dalam diam. tanpa melakukan apapun]

 

Surat Terbuka Kepada Ibu Peri

by Meliana Indie @melianaindie

Ibu peri yang baik hati,

Tentunya ibu peri masih mengingat seorang perempuan muda yang anda sulap menjadi putri cantik jelita supaya ia dapat menghadiri pesta dansa dan memikat hati sang pangeran, bukan? Perempuan itu, adik tiri saya, sekarang menjadi istri tercinta dari putra makhkota yang kelak akan memimpin negeri ini -semoga kelak mereka akan memperhatikan kesejahteraan rakyat dan memimpin negeri ini dengan bijaksana-. Pesta pernihakan mereka adalah pesta termewah dalam sejarah dongeng, diselenggarakan tujuh hari tujuh malam, mengundang penguasa-penguasa dari negeri tetangga sebelah, Putri Salju, Putri Jasmin dan suaminya Alladin, sampai Rapunzel yang rambutnya sekarang dipotong pendek dan dibentuk shaggy. Semua rakyat juga larut dalam kegembiraan dan kemeriahan pesta. Tapi, ibu peri, saya tidak melihat anda sama sekali. Apakah anda tidak diundang?

Oh, maafkanlah saudara saya, ibu peri yang cantik. Saya yakin ia tidak bermaksud melupakan semua kebaikan yang pernah ibu peri hadiahkan kepadanya. Semua keajaiban sepatu kaca, gaun biru muda yang keperakan seperti butiran intan dan kereta labu yang mewah. Maksud saya, siapa yang tidak akan terpesona pada sosok perempuan yang datang terlambat ke pesta dengan segala atribut yang mencengangkan itu? Orang-orang terpesona pada romantisme cinta pada pandangan pertama mereka –saudara perempuan saya dan sang pangeran. Mereka tidak tahu, sebelumnya pangeran telah beberapa kali melihat saudara perempuan saya di pasar, tanpa sedikitpun memberinya lirikan tanda tertarik. Jadi ketika saudara perempuan saya yang sederhana menjelma menjadi seorang putri yang rupawan karena didandani sihir dan berhasil membuat hati pangeran terjungkir balik, pantaskah saya mempertanyakan arti cinta sejati mereka yang kononnya menjadi inspirasi bagi gadis-gadis muda di luar dunia kita?

Sementara saya sendiri, satu-satunya saudara perempuannya, meski kita berlainan ibu, digambarkan sebagai perempuan yang culas dan iri hati yang kerjanya hanya bermalas-malasan dan menyiksa saudara perempuan saya? Demi semua pohon yang bisa bicara di hutan pelangi, tanggung jawab membereskan pekerjaan rumah memang kami serahkan kepada saudara perempuan saya, sementara saya dan ibu bekerja keras menangani perusahaan peninggalan ayah tiri saya yang hampir bangkrut. Bukannya saya tidak mengijinkan saudara perempuan saya membantu, tapi tahu apa ia tentang saham, negosiasi bisnis atau likuidasi? Rumah kita yang besar juga perlu disapu dan dibersihkan, sementara kita tidak lagi sanggup menggaji pembantu seorangpun. Kalau bukan saudara perempuan saya yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah, siapa lagi yang dapat kami harapkan?

Ibu peri yang penyayang, mohon jangan salah paham. Saya memang mencintai sang pangeran, tapi saya tulus ikut berbahagia menjadi pendamping saudara perempuan saya yang menikah dengannya. Mencintai seseorang tidak berarti mesti memilikinya, bukan? Saya sendiri sekarang telah menemukan cinta sejati saya, seorang juru dongeng yang romantis dan baik hati. Karena dorongan kekasih saya yang tercinta, maka saya memberanikan diri menulis surat ini kepada ibu peri. Saya tidak meminta sihir keadilan agar karakter saya dikembalikan sesuai dengan citra diri saya sesungguhnya. Biarlah kenyataan dongeng hanya mewujud di semesta kita. Saya percaya orang-orang di luar dunia imaji kita lebih memerlukan penokohan cerita yang hitam putih, sebab bukankah gelap hadir hanya untuk memberi pembenaran kepada cahaya? Saya hanya berharap, dengan surat ini, ibu peri yang baik budi dan ibu-ibu peri lainnya akan lebih mencermati ayunan tongkat sihir kalian hanya kepada orang-orang yang tepat. Sebaiknya ditelusuri juga latar belakang dan sejarah hidup mereka. Jangan gampang tersentuh pada permohonan yang sarat disertai dengan derai air mata. Kabarnya, cara ini banyak dipakai oleh para penjahat sekarang ini.

Semoga ibu peri sehat dan ceria selalu. Terima kasih.

Salam dari saya,

Chantallope

Saudara tiri Cinderella

Pemisalan Tentang Orang Gila yang Sombong dan Bahagia

by Meliana Indie @melianaindie

-satu-

“Menjadi gila adalah pencapaian terbesar dalam hidupku,” katanya sambil memasuki sebuah kubikel putih dengan lantai, dinding dan langit-langit putih. “Senang rasanya terbebas dari ikatan kewarasan yang selama ini memasungku.”

Lelaki itu lalu menari dalam putaran tiga kali, meneriakkan sesuatu yang telah lama tak terdengar dari negeri ini, “Merdeka! Merdeka! Merdeka!”

-dua-

Setiap hari Minggu sore, sekelompok pemuda yang menamakan diri mereka Komunitas Anti Kemapanan berkumpul di bawah sebatang pohon akasia di depan kompleks perumahan. Di sana, mereka mengenakan topeng kegilaan, menandak-nandak serupa pemain kuda lumping yang kesurupan. Esok harinya, masing-masing seperti biasanya, mengenakan dasi mereka, berangkat kerja dan menyebut diri mereka sebagai eksekutif muda.

-tiga-

Pernah, aku bertanya pada orang gila yang sering nongkrong di pasar, “Apa tidak bosan menjadi orang gila?”

Ia seketika tergelak, “Aku pernah hendak menjadi pengemis, tapi memasang tampang memelas pada akhirnya hanya akan memutuskan saraf kebahagiaanku. Lagian, aku ingin bebas, tidak dilindungi oleh Undang Undang Dasar 1945.”

-empat-

Kabarnya, ia menjadi gila setelah gagal menjabat sebagai bupati di daerahnya. Ketika kutemui sedang menghirup segelas susu di warung kopi, lelaki tua itu terlihat begitu bahagia. Katanya, “Aku menolak menjadi pejabat dan memilih menjadi gila. Kukorbankan diriku sendiri supaya rakyat tidak menjadi gila karenaku.”

-lima-

Siapa bilang orang gila tak perlu identitas? Di jaman sekarang ini, banyak yang suka berpura-pura gila. Untuk menjadi seorang gila yang diakui negara, maka serangkaian tes dan ujian perlu dilewati.

“Mulai detik ini aku resmi menjadi orang gila,” katanya sambil memperlihatkan Kartu Tanda Gila yang baru ditandatangi Pak Camat. “Sekarang aku berhak menjadi bahagia.”

-enam-

Apa bedanya orang kaya dengan orang gila?

Orang kaya mempunyai rumah besar, istri yang cantik dan uang yang melimpah. Mereka kerap terlihat bergerak sibuk dan gelisah.

Orang gila mempunyai semesta sebagai rumahnya, Dewi Persik sebagai istri dan tak pernah dipusingkan oleh uang. Mereka selalu berjalan santai dan terlihat sangat bahagia.

-tujuh-

Aku menatap formulir isian untuk laporan kelulusanku dengan gamang. Di kolom cita-cita, aku berhenti lama sekali. Haruskah kujawab dengan jujur atau mengikuti sebagian besar temanku, yang memilih menjadi pejabat koruptor, politikus perampok, atau pengacara pemeras?

Gemetar, kugerakkan pulpenku menulis dengan huruf besar-besar. Cita-cita: menjadi GILA.

-delapan-

Seorang pendatang baru di kampung kami yang katanya datang dari negeri yang jauh, sukses menjadi orang kaya dalam waktu dua bulan. Ia membuka kursus. Di depan rumahnya, berdiri sebuah plang kayu bertuliskan: Kursus Menjadi Orang Gila yang Bahagia.

-sembilan-

Orang gila itu menatapku dengan marah. “Kau pikir orang gila itu tak punya harga diri?”

Itu, ketika kutawari ia menjadi pemeran utama di filmku dan kujanjikan akan mengorbitkannya menjadi seorang selebriti.

-sepuluh-

Gila itu romantis. Bahagia itu gila. Gila itu gila. Gila itu tak mengerti. Untuk apa dimengerti kalau gila? Gila yah gila. Aku gila. Kau mau ikutan gila kah?

Gila! yg nulis ini
(lebih gila lagi yang baca)

 

Malaikat-Malaikat Marja

by Meliana Indie @melianaindie

Seperti pernah dikisahkan, pada tiap persimpangan perjalanan, Tuhan mengutus orang-orang tertentu sebagai bintang penanda yang menyemati hati yang sunyi. Orang-orang tersebut, bisa saja hanya singgah sesaat, beberapa mungkin akan menetap dalam waktu yang lama, untuk kemudian bergerak bersama musim dan menghilang bersama putaran cuaca. Marja percaya, orang-orang tersebut, yang membawa cinta bersama kehadiran mereka, adalah malaikat-malaikat yang memang dihadirkan Tuhan dalam hidupnya.

When all the clouds darken up the skyway

There’s a rainbow highway to be found

Leading from your window pane

Just a step beyond the rain

Malaikat pertama dalam hidup Marja adalah Bik Suti, seorang perempuan berdada hangat yang dari mulutnya berloncatan keluar peri-peri penghuni bebungaan, bajak laut bermata satu, juga kancil dan kelinci yang bisa bercakap dalam bahasa manusia. Saat itu tengah malam, hujan membadai di luar jendela dan lampu padam. Marja kecil yang ketakutan berayun dalam dekap senandung Bik Suti tentang pelangi yang akan dilukis di langit seusai hujan dan burung-burung yang melintas di antara lengkung warna-warninya. Saat itulah, dalam gelap kamar tidurnya, Marja melihat sepasang sayap muncul dari belakang punggung Bik Suti, bersinar lembut seperti cahaya keperakan dari bintang di atas pohon terang.

Somewhere over the rainbow

Way up high

There’s a land that I heard of once

in a lullaby

Setelahnya, Marja menemukan malaikat-malaikatnya yang lain, dalam rupa guru Bahasa Indonesianya yang berambut seperti alunan ombak, tukang kebun yang menanamkan perdu mawar untuk Marja di petak samping rumahnya dan juga orang-orang yang bersinggungan sesaat dalam lingkaran hari-hari Marja. Semua malaikat Marja selalu sama, memiliki sepasang sayap berbinar yang indah, yang hanya dapat dilihat olehnya.

Somewhere over the rainbow

Skies are blue

And dreams, the dreams that you dare to dream

Really do come true

Demikianlah Marja mempercayakan cinta pada sepasang sayap yang tumbuh dari belakang punggung sembarang lelaki, entah itu seorang suami yang telah memiliki dua bidadari kecil, seorang dosen yang hanya menginginkan cinta dari tubuhnya, atau bahkan seorang pemusik jalanan dengan ukulele yang menyanyikan lagu Somewhere Over the Rainbow pada pertemuan pertamanya dengan Marja.

Someday I wish upon a star

And wake up where the clouds are far behind me

When troubles melt like lemon drops

Away above the chimney tops

That’s where you’ll find me

Awan, nama lelaki itu, adalah malaikat dengan sayap terindah yang pernah dijumpai Marja. Bukan hanya berwarna perak dengan sedikit gradasi keemasan, sayap Awan adalah sayap yang demikian besar dan lembut, menenggelamkannya dalam cinta yang berwarna-warni, seperti dongeng tentang pelangi yang masih kerap diminta Marja untuk Awan nyanyikan, terutama pada malam-malam yang berhujan badai.

Somewhere over the rainbow

Bluebirds fly

Birds fly over the rainbow

Then why, oh, why can’t I?

Marja mengagumi sayap yang membentang dari belakang punggungnya pada pantulan cermin di sebuah kamar sewaan. Sepasang sayap malaikat keperakan yang tadinya adalah milik Awan. Tidak. Kali ini, Marja tidak akan pernah merelakan sayap malaikat terindah itu menjadi redup untuk kemudian menghilang seperti pada malaikat-malaikat yang sebelumnya hadir dalam hidupnya. Marja menatap lembut Awan yang sedang terbaring dalam diam. Dengan sepasang sayap malaikat baru yang kini dimilikinya, Marja siap untuk terbang, menari-nari di antara pelangi dan langit biru, tempat semua sepi adalah mimpi yang tak menjadi.

If happy little blue birds fly

Beyond the rainbow

Why, oh, why can’t I?

 

h.k.m

by by Meliana Indie @melianaindie

Selamat datang kembali,

hantu kata mimpi yang bermimpi menjadi kata-kata yang menghantui mimpi-mimpiku sementara aku bermimpi menjadi hantu yang kata-katanya adalah mimpi seperti mimpimu yang menghantui setiap huruf dalam dunia kata-kataku yang selalu memimpikanmu ada tidak sekedar menjadi hantu tidak sekedar menjadi kata-kata tetapi ada seyakin katamu tentang hantu yang mendiami mimpimu yang berderet dalam barisan berbelok kiri dari huruf h a n t u dan m i m p i.

demikianlah.

00.00.00

by Meliana Indie @melianaindie

Di dunia ini, waktu bergerak dalam dimensi abstrak, kadang terbelokkan oleh sepotong alur yang muncul tak terduga, seperti angin yang mendadak bertiup dan menggoyang luruh sehelai daun kering dari reranting pohon. Kadang atau nanti, daun yang jatuh bisa saja tanpa akan pernah menemu bumi. Dunia yang tidak mengenal sebab-akibat ini adalah kosmis di mana semua kejadian berulang, dari masa silam pun masa depan.

Orang-orang berjabat tangan dan berkenalan, menyeberangi jalan, menikmati secangkir kopi yang hangat di sore yang hujan, dipecat dari pekerjaannya, juga menangis tersedu di dalam gereja. Mereka berjalan dengan hati-hati, menatap wajah-wajah yang ditemui dalam gerbong kereta dan bis kota, menebak-nebak apakah pernah saling mengenal di suatu waktu.

Seperti saat ini, seorang ibu muda berjalan di bawah matahari senja, menggandeng kuat-kuat tangan anak lelakinya yang berloncatan riang, sementara tangannya yang satu lagi menggegam sebatang permen loli warna pelangi yang sesekali dijilatinya dengan bahagia. Perempuan itu dan anak lelakinya saling melempar senyum, menikmati setiap detik kebersamaan mereka, sebelum entah bagaimana dan kapan, waktu akan terpelanting dan melemparkan mereka ke masa depan yang sebenarnya, ketika anak lelaki berambut ikal seperti ombak pasang di laut itu mesti meninggal karena sakit jantung.

Di dunia di mana waktu berputar dalam gerakan tidak konstan ini, semua rahasia tidak lagi menjadi misteri. Semua hasil pertandingan telah tertebak oleh orang-orang yang menjelajahi masa depan dan kembali. Orang-orang tahu kapan mereka meninggal dan telah mempersiapkan perayaan kematian mereka sendiri jauh hari sebelumnya. Sepasang kekasih bercinta untuk pertama kalinya, menikmati getaran yang memabukkan, terus mengulang, hingga perpisahan yang menyakitkan pun kembali terjadi, berulang-ulang.

Perlahan, orang-orang menarik diri dan menghindari berbicara dengan orang lain tak dikenal. Semakin banyak mengenakan busana abu-abu atau hitam, berusaha untuk tidak menonjolkan diri. Lompatan kuantum waktu yang tak terprediksi di dunia ini membuat mereka kerap merasakan déjà vu yang melelahkan. Mereka menjadi bagian dari sejarah dan saksi atas berbagai peristiwa di masa depan, tanpa pernah bisa mengubahnya. Orang-orang yang sedang tersesat dalam perjalanan waktu sering ditemukan meringkuk dalam kegelapan, menunggu arus waktu membawanya kembali pada masa miliknya sendiri.

Satu-satunya waktu ketika orang benar-benar memiliki waktu sendiri adalah apabila mereka tertidur dan bermimpi. Saat itu, waktu mengalir dalam alur yang seirama, detik ke menit ke jam, membias dalam segmen yang terbaca dengan plot maju sempurna yang tidak terprediksi. Semua kejadian dalam mimpi menjadi semacam petualangan yang demikian mendebarkan, sekaligus menyenangkan. Semakin banyak orang-orang memutuskan untuk tidur lebih lama dan menikmati mimpi mereka. Akibatnya, dunia semakin murung dan sepi, terutama di malam hari, dan menjadi tua sebelum waktunya.

Peri-Peri Bersayap Pelangi

by Meliana Indie @melianaindie

Peri-peri bersayap pelangi itu membentuk kelompok lingkaran yang besar. Bibir mereka yang kuncup mawar menyanyikan ode yang terdengar seperti untaian syair bergelombang di udara. Sayap-sayap kecil mereka, mengepak dan beriapan dalam riuh, membuat harmonisasi pendar warna pelangi yang begitu memabukkan.  Dari mata mereka yang embun jatuh tetesan air yang bunyinya berdenting-denting, memantul dan jatuh di hamparan reremputan untuk lalu menumbuhkan bebungaan kecil berwarna putih. Bisakah kau bayangkan sebuah padang rumput yang luas dengan langit biru dan awan-awan putih yang melayang-layang serta titik-titik putih yang serupa serpihan salju berserakan di antara permadani hijau di bawahnya? Seperti itulah gambarannya.

Negeri kecil peri-peri pelangi terletak di antara cahaya dan senja. Di sana, mereka merayakan kematian dengan nyanyian dan syair-syair yang indah. Peri-peri itu percaya bahwa setiap jiwa yang meredup pergi dari sayap mereka akan terbang melintasi angkasa dan pelangi, menjadi bintang yang berpijaran di langit malam. Bintang-bintang yang lahir dari jiwa peri mempunyai tugas untuk menjaga semesta pada malam hari, terutama untuk memetik kesedihan-kesedihan dari hati anak-anak kecil, agar mereka tidak merasa terlalu kesepian. Dan pada saatnya, bertahun-tahun dongeng setelah bintang-bintang di langit menunaikan tugas dengan sempurna, satu persatu dari mereka akan menua, lalu jatuh menjadi cahaya ke bumi. Kau tahu? Kita bisa memanjatkan sebuah permohonan yang baik setiap kali kilasan cahaya sebutir bintang yang terlahir dari jiwa peri itu mati dan tertangkap oleh mata kita.

Bintang yang jatuh menjadi cahaya, stt.. ini rahasia, akan terlahir kembali menjadi cinta yang tumbuh dari hati manusia yang jujur dan tulus. Cinta itu, akan berkembang menjadi besar, begitu besar hingga ia menulari dan melingkupi semesta dengan cinta-cinta yang lain. Dan setiap kali cinta yang baik hati itu terluka, hati yang tetap mencintai akan meluruhkan air matanya, melahirkan peri-peri bersayap pelangi yang tinggal di antara cahaya dan senja.

***

Perlahan, aku menutup buku dongeng tua bergambar peri-peri yang sedang terbang di antara bebungaan jingga dan merah muda itu. Kutatap seraut wajah kecil yang terlelap di sampingku. Bekas air mata masih terlihat sedikit mengalur di wajahnya yang bulat seperti bidadari. Ah, bidadari kecilku. Baru malam ini ia dapat terlelap dengan damai, setelah malam-malam sebelumnya terus menangis, bahkan menjerit dalam tidurnya, memanggil-manggil ayahnya yang tidak akan pernah lagi kembali dan menemaninya bermain ayunan di pekarangan belakang rumah kami yang berpagar warna pelangi.