Naomi Arsyad

now browsing by tag

 
 

Almost Fictional | @NaomiArsyad

naomiarsyad

― oleh Naomi Arsyad @NaomiArsyad

 

My dearest friend,

I know this whole letter might sound cheesy. But I decided to just write to you. I know you wouldn’t judge or hate me. Or would you? What I know is, I trust you. I think this is that “now or never” moment. I know you’re the easiest person to talk to, but I can’t talk to you about this. You know I write everything I can’t say.

So there’s this guy. You probably know him. I don’t know how to describe him with words. What? I know you’re surprised because you think I can always paint the right words, eh? This time I can’t. But I’ll try. Okay. He is… Almost fictional. Before I met him, I thought a guy like him only can be found in books or movies. But then, yeah, I met him.

Almost fictional. Mixture of amazing personality and extraordinary brain. Brave and different. I don’t say this because I like him. I’m saying the truth. Objectively. Even though love shouldn’t be objective, should it? You gotta see him when he talks about things. He comes up with unique opinios. People would gave him strange looks, but, I would be overwhelmed. He laughs over the stupidest thing, but people laughs at him. He doesn’t judge people, but people judge him. I don’t know why people could be so mean sometimes, especially to someone who I thought didn’t exist in real life. He is one in a million. What I know is, if he walked away from my life, I would not be lucky enough to find anyone like him.

So… Am I in love? Because I don’t know about my feeling. I haven’t even tell myself about this. What I know is I went to sleep memorizing every moment we had and woke up thinking about him running his hand through his wavy-and-messy hair. And it’s weird how he plays with my mood in a blink of an eye. Wow look what he has done to me. I guess that’s all I wanna say. I’m sure you’re wondering why I can’t say this to you in person when you told me things about your crush, and you’re wondering why I don’t tell you details about this guy.

Well, I’m gonna tell you why.

It’s because you might know him better than I do. Because you live with him in your entire life and I just met him.

Because he is you.

Much love

-Me

 

 

Ambang Pintu ~ @NaomiArsyad

oleh Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Naomi Arsyad

 

“Jangan suka berdiri di ambang pintu! Nanti susah dapat jodoh!”

Orang tua selalu berkata begitu. Ah, itu hanya takhyul. Buktinya kamu berlutut di hadapanku. Tanganmu menggenggam kotak berlapis beludru merah, sebuah cincin berlian bertahta indah di dalamnya. Kau ingin aku mendampingimu dalam hidup, aku tersipu malu. Aku bilang iya, kau bilang cincin itu lebih indah di jari manisku. Kakikku gemetar menahan haru, aku bersandar di ambang pintu depan rumahku.

Hari ini aku pulang kerja jauh lebih awal. Sedan mungilmu sudah terparkir manis di halaman, ternyata kau juga pulang cepat. Dengan hati gembira, bergegas kubuka pintu kamar kita. Kakikku gemetar menahan pilu, aku bersandar di ambang pintu. Kulihat kamu asyik mencumbu sahabatku.

Skycraper

By Naomi Arsyad @naomiarsyad

“Dan akhirnya, Kevin menjauh dan menjauh. Tak kulihat lagi punggungnya, meski mata telah terpicing.” Gladys membaca kalimat terakhir di cerpen karanganku sebelum akhirnya mulai menggulung-gulung rambut hitam berkilau di jari telunjuk sambil melempar tatapan menghina.

“Umm, kamu serius mau kirim ini ke majalah? Emang bakal dimuat ya?” Gladys tersenyum dingin. Saat itu sedang istirahat, jadi kelas lumayan kosong. Hanya ada Gladys dan beberapa temannya sesama gadis-SMA-sempurna. Tahu? Gadis-gadis dengan rambut panjang yang tertata indah, wangi parfum semerbak, dan wajah cantik. Kalau di film-film barat mereka akan mengenakan seragam pemandu sorak atau semacamnya dengan rambut pirang.

“Hmm, ya sudah deh aku mau ke kantin dulu. UPS! Maaf naskahnya jatuh.” Gladys melenggang keluar kelas meninggalkanku merapikan naskah yang sudah terinjak beberapa halaman olehnya dan dayang-dayangnya. Oh ya, mereka selalu begitu. Meremehkan orang-orang yang “berbeda” dan merasa diri mereka adalah Ratu. Dan aku heran kenapa gadis-gadis itu mau saja mengikuti Gladys. Gladys jelas-jelas hanya memanfaatkan mereka.

“Olinda? Kenapa kamu?”

“Hm? Nggak apa-apa, ini naskahku jatuh tadi.”

Reza segera menolongku membereskan naskah cerpen itu, bahkan langsung memasukkannya ke amplop coklat yang sudah bertuliskan alamat.

“Sudah, aku saja yang kirim ya!”  katanya cerah sambil meninggalkanku di kelas.

Reza dalah sahabatku. Ia selalu mendengar keluhanku tentang apapun. Menyenangkan punya teman seperti dia saat anak laki-laki yang lain lebih suka mengejek gadis berkacamata tebal dengan pakaian kebesaran lungsuran kakaknya dan cuma dibekali uang jajan pas-pasan oleh ibunya yang tukang kue. Seperti aku. Waktu aku mendapat beasiswa di SMA mentereng ini, aku tahu akan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari anak-anak bergelimang uang namun miskin sopan santun di sini. Malah aku mengira hanya akan menemukan segelintir anak perempuan yang mau menemaniku. Nyatanya ada Reza yang bisa dibilang seperti jin yang tinggal kugosok lampunya, maka ia akan muncul kapan pun dibutuhkan.

Sebenarnya aku sudah sering menulis tentang Reza. Kusamarkan dirinya dalam cerita-ceritaku. Yah, siapa yang tidak akan jatuh cinta pada kloningan Zac Efron yang sangat baik padamu di saat dunia menghimpitmu? Reza jelas inspirasi utamaku saat menulis. Ia juga yang menyemangatiku untuk menulis novel yang kini sedang kukerjakan.

***

Hari demi hari berlalu, tak terasa tiba-tiba tahun terakhir di SMA tiba. Anak-anak sibuk mengurusi prom nite bahkan sebelum Ujian Nasional tiba. Kepalaku menjauh dari dunia tulis-menulis sementara demi lulus Kimia, Fisika, Matematika, dan kawan-kawannya. Namun, anak-anak di sekolah malah repot memikiran apakah sepatu Guess mereka akan cocok dengan gaun yang sedang dijahit. Atau apakah sebaiknya mengenakan gaun merah atau ungu. Dasar anak-anak ajaib. Tapi mau tak mau aku juga ikut memikirkan itu dengan segala perbincangan anak-anak di sekelilingku. Apakah Reza akan mengajakku ke prom? “Ah, aneh-aneh saja kau Olinda. Kalaupun iya, kau akan pakai apa? Gaun bekas kakak lagi? Dan selop ibu? Memangnya ini tahun berapa? Kau akan terlihat baru datang dengan mesin waktu!” batinku kecut.

Akhirnya kuputusan untuk fokus pada Ujian Nasional saja. Kuhiraukan bisikan-bisikan mengenai prom dan belajar dengan tekun. Lagipula masa murid beasiswa tidak dapat nilai bagus di UN? Memalukan!

Namun tentu saja, waktu terus berjalan tanpa pernah terasa. Akhirnya Ujian Nasional tiba dan berlalu begitu saja. Ocehan tentang prom nite semakin menjadi-jadi. Artinya, makian-makian tak mengenakkan hati dengan deras menghujaniku. Kata mereka, aku tak akan bisa ikut prom karena tak mungkin aku punya pakaian yang sesuai. Gladys suka sekali membahas tentang ini.

“Hmm, Olinda? Bajumu bakal kayak gimana buat prom? Eh, maaf, sepatu pun kamu cuma punya satu ya?” ucap Gladys sambil terkikik diiringi derai tawa teman-temannya.

Lama keadaan terus berlangsung seperti itu. Hingga kesabaranku habis dan kuputuskan untuk bercerita pada Reza. Aku menangis sejadi-jadinya. Tiga tahun sudah menerima perlakuan seperti itu, walaupun biasanya aku cuek, pertahananku runtuh juga.

“Aku. Nggak. Akan. Pergi. Ke. Prom,” isakku di samping Reza

Hening menyusul.

“Kamu pergi, nggak?” tambahku setelah beberapa lama kecanggungan mengisi keadaan

“Umm… yah… sebenernya… minggu lalu, aku… ngajak Gladys ke prom sih,” ucap Reza takut-takut.

Hatiku resmi menjadi serpihan kecil. Kutampar wajahnya sekeras mungkin. Huh! Ternyata semua sama saja! Jadi selama ini apa maksudnya Reza baik kepadaku? Cuma jadi mata-mata Gladys agar tahu kekurangan-kekuranganku? Jadi dari si brengsek Reza itu Gladys tahu tentang kehidupan keluargaku? Kurang ajar. Pertahanan terakhirku hancur sudah. Baru saja dilempar martil oleh orang yang selama ini kukira sahabatku. Orang yang selama ini kuharapkan jadi pacarku. Semua sama saja, pribadi-pribadi busuk bertopeng menawan. Aku terus berlari meninggalkan Reza yang memanggil-manggil namaku, berusaha menjelaskan. Omong kosong!

***

“Jadi, Olinda sudah berapa lama suka menulis?”

“Oh, sudah lama, sejak SMP. Tapi novel ini saya buat saat lulus SMA. Sebenarnya saya mengerjakannya sejak kelas 2, namun saat lulus…. Yah, saya merombak habis-habisan.”

“Wah, sekarang Olinda baru 19 tahun ya? Berarti novel ini selesai dalam kurang lebih setahun ya?”

“Benar. Saya sangat merasakkan apa yang terjadi di novel itu, kok. Itu sebabnya saya dapat menulis dengan cepat.

“Olinda memang keren banget! Bagi yang belum membaca, Skyscraper ini tentang kehidupan anak SMA yang mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-teman di sekolahnya, tapi itu tidak menghambatnya menjadi apa yang dia inginkan.”

Ratusan orang bertepuk tangan. Tidak menyangka, akhirnya novel pertamaku akan menjadi best-seller seperti ini. Mungkin karena kisahnya begitu dekat dengan kehidupan para remaja. Dan sekarang, talk show-ku dihadiri banyak sekali orang. Aku sendiri tidak menyangka mereka semua adalah penggemarku.

Acara dilanjutkan dengan Meet & Greet. Beberapa orang memintaku untuk menandatangani novelku, Skyscraper, beberapa ingin foto bersama. Aku menikmatinya. Tanpa mereka, aku tak akan menjadi penulis sebesar ini. Antrian bertambah pendek seiring berjalannya waktu, dan tibalah dua peserta terakhir. Kedua orang itu membawa Skyscraper di tangan mereka. Aku menatap wajah mereka dan tersenyum. Aku tahu ini akan datang. Kutandatangani novel yang mereka bawa “Untuk Gladys” dan “Untuk Reza” kutambahkan “Terimakasih telah menjadi konflik utama dalam novel ini.”

Mereka juga ingin foto bersama. Tapi aku sudah kulewat lelah. Jadi kukatakan pada mereka,”Maaf, waktunya habis. Semoga kalian masih menyimpan foto saat kita SMA. Ups, kita tak pernah berfoto bersama saat SMA ya?”

Tidak Lebih Baik

By Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Kumainkan Angry Birds di iTouch-ku setengah hati. Ya, aku ingin punya iTouch sejak lama, namun tak pernah kukira saat kulihat kantong berlambang Apple di kamarku aku tak akan tersenyum. Asap teh madu panas favoritku sudah lama melayang, namun aku belum juga menyentuhkan cangkir di bibirku. Setelah kalah beberapa kali, aku menyerah dan berbalik ke menu musik. Sekejap saja iTouch-ku sudah menyenandungkan suara David Archuleta.

Helaan nafasku memecah keheningan. Hari ini genap tiga tahun sejak aku didiagnosis gagal ginjal. Tiga tahun sudah umur iTouch yang dibelikan orang tuaku sebagai penghibur agar aku tegar menghadapi cobaan ini. Sudah selama itu namun belum juga ada donor yang menghampiri, dializer masih harus dihubungkan ke tubuhku empat kali dalam seminggu, masing-masing enam jam. Jadi anggaplah aku membusuk di rumah sakit ini.

Decitan pintu membuatku tersentak, namun orang yang berdiri di belakang pintu membuatku tersenyum. Kakak laki-lakiku, Hector, menerobos masuk. Seperti biasa, senyumnya membuat matahari malu, rambut coklat gelapnya masih tetap acak-acakan. Kak Hector-lah yang membuat proses hemodialisis ini tetap menyenangkan. Cuma dia yang masih bisa mencetuskan lelucon tentang gagal ginjal saat aku didiagnosis. Mungkin itu sesuai dengan namanya yang berarti tabah.

“Helonia! Apa tuh cemberut ajaa… Cerah gini.. Nih kakak bawa film!”

Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules” Setiap kali hemodialisis, Kak Hector suka membawa macam-macam film. Ia menjauhkan semua drama penguras air mata yang dulu jadi kesukaanku dan membawakan film-film komedi, bahkan horor sebelum akhirnya ditegur suster. Katanya, aku sudah terlalu banyak menangis. Semua orang yang ada di ruang hemodialisis selalu menunggu-nunggu kedatangan Kak Hector. Gara-gara kakakku itulah ruangan suram ini jadi ceria.

Hari ini kebetulan hanya aku sendiri yang dicuci darah. Jadi, aku menonton film itu berdua dengan Kak Hector saja. Setelah berjam-jam frustasi aku akhirnya bisa tertawa lagi. Film itu juga membuatku bersyukur. Bersyukur karena Kak Hector baik sekali pada adiknya, tidak seperti Rodrick.

***

Seisi ruangan hemodialisis bersorak gembira. Alvin, salah satu teman seperjuanganku akhirnya mendapat donor ginjal. Berarti, Alvin akan meninggalkan penjara membosankan ini dan aku akan kehilangan teman ngobrol. Padahal Alvin lah yang paling dekat denganku. Sebenarnya, aku bisa saja dapat donor dari kemarin dulu. Kak Hector punya ginjal yang cocok sekali dengan milikku, tapi aku tak mengizinkannya mendonor. Lebih baik dicuci darah bertahun-tahun daripada menerima resiko aneh-aneh. Daripada membiarkan kakakku punya satu ginjal gara-gara aku.

“Tenang, tenang… Semua akan dapat bagian! Antri-antri! Lagian kalo cepet-cepet pergi dari sini nanti kangen lho sama aku!” Kak Hector menghibur seisi ruangan saat Alvin pergi dan wajah-wajah penderita gagal ginjal ini mulai tampak air muka irinya.

“Ya… Ya… Berarti jika Helonia dapat donor, kita semua juga harus dapat lho! Kan, kamu nggak ke sini lagi, Hector!” canda nenek di sebelah tempat dudukku.

Berbulan-bulan setelah Alvin dapat donor, belum ada lagi yang seberuntung itu. Aku juga sudah malas berharap. Apa bedanya berbulan-bulan setelah tiga tahun? Alvin saja baru dapat donor di tahun keempatnya. Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku terkurung di ruang hemodialisis dengan dializer terhubung ke tubuhku. Baru lima jam, masih ada satu jam lagi. Masih ada beribu-ribu jam lagi di kemudian hari. Teman-teman seperjuangan sudah kehabisan obrolan dan berakhir tenggelam dalam novel, koran, atau ponsel masing-masing. Satu lagi yang menyebalkan, Kak Hector belum juga datang.

Pintu dibuka dengan tiba-tiba membuat setiap kepala mendongak dengan penasaran, berharap ada berita baik yang akan disampaikan.

“Helonia, kamu… dapat donor!” Sang suster tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

Tepukan tangan terdengar di seisi ruangan. Aku tak bisa membendung kegembiraanku. Apakah ayah dan ibu sudah tahu? Apakah Kak Hector sudah tahu? Aaah, mana Kak Hector? Harusnya ia di sini dan bersorak bersamaku. Bahkan mungkin Ia sudah melompat-lompat kegirangan.

Ayah dan ibuku masuk ruangan. Aku segera mengoceh panjang lebar mengungkapkan betapa bahagianya aku. Tidak kusadari wajah orang tuaku tak sebahagia aku. Ibu langsung memelukku dan berbisik,”Kak Hector kecelakaan, sebelum pergi ia pesan agar ginjalnya diberikan padamu.”

Aku Benci Sarah

By Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Gadis ini memasuki pintu toko dengan perlahan-lahan sambil memandang sekeliling. Cantik, hanya saja pakaiannya begitu sederhana. Hanya selembar t-shirt hitam, jeans abu-abu, dan jaket yang juga abu-abu. Rambut panjangnya diurai begitu saja. Aku tidak mungkin berpenampilan seperti itu. Baju-bajuku selalu mengikuti model terakhir, rambut coklatku juga selalu bergelombang indah, terkadang behiaskan topi-topi yang cantik.

“Ayo, Sarah. Masuk saja, yang lain sudah menunggu!” panggil Ardi dari tangga.

Ardi adalah anak lelaki yang tinggal di atas toko ini. Orang tuanya lah yang memiliki toko ini. Saat ini, teman-teman Ardi sedang mengerjakan tugas kelompok di atas. Ardi menyambut Sarah yang terlambat datang dan segera menggiringnya ke atas.

Ardi selalu begitu bahagia jika melihat Sarah datang. Mata teduhnya yang bewarna hitam itu langsung berbinar-binar saat melihat gadis tomboy ini. Apapun yang dibicarakannya selalu Sarah, Sarah, dan Sarah. Aku benci Sarah. DIa tidak menyamai separuh kecantikanku, tubuhnya juga tidak seindah tubuhku. Dan siapa lagi yang mengenal Ardi sebaik aku? Akulah yang tinggal seatap dengannya. Aku juga yang setiap hari mendengarnya membicarakan betapa ia menyukai Sarah dan aku tidak mengeluh sedikit pun. Aku terus tersenyum tanpa bicara sepatah kata pun, tidak peduli betapa kesalnya aku.

Aku suka Ardi. Dia anak lelaki yang baik. Saat anak lelaki lain sibuk di luar sana bermain dengan teman-temannya, Ardi lebih memilih di toko untuk membantu orang tuanya. Ia juga yang paling sering bicara denganku dan meperhatikan aku. Orang tuanya hanya mengacuhkan aku begitu saja. Tapi Ardi selalu tersenyum saat melewatiku. Ia juga sering bercerita banyak hal padaku, mungkin  karena ia adalah anak yang sulit mempercayai orang. Dia tahu aku bisa menjaga semua rahasianya. Dia juga yang mengingatkan orang tuaku agar aku selalu enak dipandang mata.

Menurutku, Sarah tidak pantas mendapatkan lelaki sebaik Ardi. Sarah cuma tersenyum lemah saat Ardi berbicara dengan berapi-api padanya. Sarah menjauh dari Ardi saat Ardi berusaha mendekatinya. Aku benci dia karena menyia-nyiakan cinta dari lelaki seperti Ardi. Coba aku adalah Sarah, aku pasti akan selalu ada untuk Ardi. Jika aku jadi Sarah, aku bisa membalas semua perkataan Ardi, bisa memeluknya, bisa menggenggam tangannya. Oke, Aku IRI pada Sarah.

Kerja kelompok telah selesai. Satu-persatu teman-teman Ardi pulang. Sarah turun paling akhir. Ia melihat-lihat seiisi toko dan berhenti di hadapanku. Aku ingin merenggutkan wajahku padanya tapi yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum.

“Dia cantik kan?” Ardi tiba-tiba muncul di belakang Sarah.

“Ya,” jawab Sarah lesu.

“Dia favoritku,” jelas Ardi ceria.

“Aku pulang dulu.” Sarah beranjak dengan air muka keruh.

Aku senang sekali Ardi memujiku di hadapan Sarah. Huh, dasar gadis tak tahu diuntung. Mengapa dia bisa sekejam itu meninggalkan Ardi begitu saja? Lihat Ardi sekarang! Wajahnya begitu memilukan hati! Dan gara-gara dia, aku tidak mendapat senyumannya malam ini. Aku benci pada Sarah. Dia menyia-nyiakan kesempatan yang tak akan pernah aku dapatkan sampai akhir dunia.

***

Siang ini, teman-teman Ardi akan meneruskan kerja kelompok yang belum terselesaikan kemarin. Teman-teman Ardi belum datang, jadi ia menjaga toko di bawah. Beberapa saat kemudian kemudian, aku melihat gadis yang sangat kubenci di ujung jalan. Ha! Tumben dia datang begini awal? Namun kali ini penampilannya begitu mengejutkan. Ia mengenakan pakaian yang kugunakan kemarin! Rambutnya juga dicat coklat seperti rambutku! Kapan dia membeli gaun santai modis berbunga-bunga itu? Apa kemarin saat Ardi mengganti pakaianku?  Ya, ya! Pasti saat itu! Ia tak mungkin membelinya saat Ardi menjaga toko!

Sarah melenggang memasuki toko. Senyumnya begitu lebar sampai-sampai aku cukup yakin Sang Surya merasa disaingi oleh kecerahan ekspresinya. Ardi mengangkat wajah dari pembukuan toko yang sedang ditelitinya. Seketika wajah Ardi tercengang.

“Sa…rah?” Mulut Ardi masih setengah menganga.

“Hei, Ardi! Kita jadi kerja kelompok, kan?” Sarah mengedip-ngedip centil

Aku mulai sangsi. Siapa gadis ini dan apa yang dia lakukan pada Sarah?

“Sarah, kenapa kamu berdandan… seperti itu?” Ardi masih terbata-bata.

“Kamu nggak suka?” Senyum Sarah mulai menghilang.

“Bukan… bukan begitu…”

“KAMU NGGAK SUKA? Aku sudah susah-susah merubah penampilan! Menghabiskan tabungan untuk gaun konyol dan cat rambut bodoh ini! AKU INGIN MEMBUAT KAMU TERPESONA! Kamu bilang manekin jorok ini favoritmu! Aku ingin jadi cantik, seperti dia! Aku iri padanya!”

“Sarah… Kamu nggak perlu melakukan itu. Kamu sudah cantik apa adanya!”

“KAMU BOHONG! Aku cuma cewek jelek yang nggak bisa bersaing bahkan dengan sebuah manekin! AKU IRI PADANYA!”

Aku tidak bisa mempercayai pendengaranku. Sarah iri padaku. Sarah iri padaku karena aku cantik dan bisa terus-menerus ada di dekat Ardi. Sarah iri padaku karena Ardi memujiku. Gadis bodoh. Coba dia mau mendendengarkan Ardi sekali saja. Bukannya terus minder dan menghindar lalu kembali menjadi sesuatu yang bukan dirinya.

Sarah berlari keluar toko sambil menangis, tidak memperhatikan sekelilingnya. Dia tidak melihat ada sebuah mini-bus yang melaju kencang dan seketika menghantam tubuhnya, menghempasnya ke ujung jalan, memecahkan kepalanya, mewarnai gaun barunya dengan cairan merah pekat.

Aku benci Sarah. Sejak kehilangan gadis bodoh tidak tahu terimakasih itu, Ardi memindahkan aku ke gudang. Aku manekin yang bahkan tidak hidup ini disalahkan atas kematian gadis dungu tidak berotak yang tidak tahu arti bersyukur itu. Untuk Ardi, aku mengingatkannya akan Sarah. Sarah yang iri padaku. Padahal aku iri pada Sarah. Bodoh. Seandainya Sarah mau bersyukur sekali saja, seandainya ia mau mendengarkan Ardi bukannya kalah oleh rasa rendah diri, Ia bisa jadi gadis paling beruntung di dunia. Aku benci Sarah

Karena Makhluk-makhluk Penunggu Dapur

by Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Bau gosong mulai tercium, belum lagi teriakkan kakak yang terus-terusan terngiang. Akhirnya aku cuma bisa duduk di lantai dapur, membiarkan kakak menyiram teflon berisi telur orak-arik yang menghitam, bahkan mulai berapi karena aku dengan bodoh menaruh lap di dekat kompor.

“Aku nggak bisa dan nggak mau bisa masak, Kakaaaak!”

“Ini sih belum masak, baru telur orak-arik!”

”Whatever lah, tapi kan masih megang teflon juga.”

“Kamu tuh gimana mau kuliah di Australia? Pintar sih iya, makanya dapat beasiswa, tapi terus makan di sana gimana? Emang mau beli terus, hah?! Boros!”

“Iya, tapi sama sekali nggak bisa, Kak! Mau diapain dong? Tuh, cuma telur aja hampir kebakaran!”

Kakakku, Allison, sangat pandai memasak. Dia bisa membuat kue-kue super lezat dan masakan-masakan dari berbagai negara. Bahkan, Ia selalu membuat pastanya sendiri, bukan memakai pasta instan seperti orang lain. Dapur sudah jadi rumah kedua baginya. Oleh karena itulah aku tak pernah menyentuh alat masak apapun. Dapur jadi tempat terakhir yang kudatangi sebab Allie—begitu ia biasa kupanggil—selalu mengisi meja makan dengan berbagai hasil kreasinya dan aku sungguh-sungguh tak bisa memasak. Bahkan membuat mie instan pun tak begitu lancar.

Ternyata Allie belum menyerah. Sekarang, Ia memaksaku membantunya untuk membuat black forrest. Huh, asal kalian tahu, walaupun cuma membantu, aku bisa menghancurkan segalanya. Aku memperhatikan Allie yang membuat adonan dengan acuh tak acuh. Sungguh, aku tak akan mau memasak dengan alasan apapun.

“Amanda! Bengong aja! Ini aduk adonannya!” kata Allie mengagetkanku.

Kuaduk adonan itu setengah hati. Siapa pula yang begitu niatnya membuat black forrest saat di Australia nanti. Paling-paling aku hanya akan membuat sandwich, telur dadar, atau hal-hal mudah semacam itu. Eh, tapi aku juga belum lancar membuat masakan mudah. NAH! Jadi kenapa membuat black forrest?

“AMANDAAA!!! Lama-lama amat ngaduknya?! Nanti udaranya keluar semua, kue kakak nggak ngembang. Ih! Udah ah, kamu nanti aja belajar lagi.

Satu lagi yang kubenci dari belajar masak bersama Allie, dia super duper sangat ultra galak. Jangankan ingat apa yang dia ajarkan, mendengarkannya saja butuh usaha ekstra. Sudahlah, yang penting aku boleh makan black forrest-nya nanti. Hahaha!

***

Aku sedikit merindukan rumah. Ya, aku sudah berada di Sydney sekarang. Di flat kecil menyenangkan. Betapa leganya waktu aku menyadari ini artinya tidak ada lagi Allie yang memaksaku ke dapur. Masalah makanan bisa kuatasi dengan makanan instan dan kadang-kadang membeli. Atau mengajak sahabat baruku dan membiarkan dia membuat sandwich atau sesuatu. Chanel, sahabat baruku, betul-betul mirip Allie, seorang penunggu dapur. Yang jelas tidak separah aku. Dia juga suka menawarkan aku untuk belajar masak, tapi sudah jelas aku anti-memasak.

Suasana sore di sekitar tempat tinggalku begitu menyenangkan. Orang-orang berlalu lalang, bersiap untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba ada suara yang memanggil Chanel. Kami pun menegok kebelakang dan melihat seorang laki-laki sekitar umur 20 tahunan dengan rambut dirty-blond.

“CHANEL!”

“CALLUM! Wow, udah lama nggak ketemu! Apa kabar?”

“Baik. Ini aku mau ke rumah kamu tau, kamu malah di sini.”

“Amanda, ini Callum, sepupuku. Callum, ini Amanda, temanku dari Indonesia.”

Kami berbincang-bincang sebentar. Callum sungguh teman yang baik. Dia juga baik dan aku suka sekali matanya. Aku sebenarnya tidak begitu mendengarkan apa yang dia ucapkan dan cuma asyik memperhatikannya. Tiba-tiba topik mulai beralih ke arah kuliner. Ternyata Callum juga seorang penunggu dapur.

“Oh ya, besok aku mau ngajarin anak-anak elementary school masak gitu. Ikut yuk! Aku suruh bawa temen yang jago masak juga. Kamu bisa masak kan, Amanda?”

“Hah.. Iya, bisa bisa.”

“Sip deh, besok ketemu di sini lagi aja ya. Aku bareng Chanel. Yuk ah! Chanel, aku tungguin di rumah ya, belum ketemu orang tua kamu. Hehehe.”

Sepeninggal Callum, Chanel mulai tertawa terbahak-bahak.

“Amanda, terus kamu besok gimana?”

“Gimana apa?”

“Iya si Callum kan nanya bisa masak apa nggak, mau ngajarin gitu, ih!”

“WAH?! Dia ngajak aku NGAJARIN juga gitu?”

“Iyaaaa apaan dong tadi?!”

“Ah, paling cuma nyusun sandwich gitu kan? Cuma anak-anak gitu. Si Callum nggak sejago kamu juga kan?”

“HAHAHA! Bercanda kamu?! Dia runner-up Masterchef Australia tahun lalu tauuuu! Serius nggak tau?”

“WAH?! Ya gatau lah aku baru di Aussie berapa bulan? Parah aku gimanaaa? Dia tau aku nggak bisa masak bisa-bisa turn-off. Tadinya aku naksir tuh sepupu kamu! AH! Nggak mungkin ngajarin aku dalam semalam ya, Chanel?”

Saat itulah aku berharap Allie ada di sana berteriak di telingaku dan mengajariku memasak tanpa ampun dalam semalam.

Kami Bukan Manekin

by Naomi Arsyad @naomiArsyad

Rambut hitam panjang mengilap ter-blow rapi, kulit selembut sutra, tubuh semerbak wangi parfum, wajah cantik dengan selapis tipis bedak, handphone keluaran terbaru, tas-tas mahal yang terlihat sangat tipis (oh ya, tentu saja, tidak ada buku di dalam sana). Please, ini sekolah. Kau kira apa? Tempat pamer?

Aku melewati sekumpulan manekin ini, membiarkan bisik-bisik tidak mengenakkan itu lewat begitu saja. Ya, aku bukan manekin. Aku jelas bukan salah satu dari mereka. Aku tidak mau jadi manekin, aku tidak mau jadi orang-orang yang setiap hari hanya bisa menyakiti hati orang lain dengan lidah setajam silet itu. Aku tidak mau punya “teman” yang suka membicarakanku di belakang, lalu berubah baik di depan, lalu mengadu domba. Cantik? Ya. Populer? Ya. Tidak punya hati? Ya. Manekin.

Aku dan teman-temanku adalah anak SMA biasa. Kami, bisa dibilang, kaum minoritas sekolah ini. Dimana anak-anak lainnya hanya manekin, atau, berusaha menjadi manekin. Kami tidak kasat mata. Oh ya, tidak ada yang suka berlama-lama diam bersama kami. Siapa yang mau dicap aneh? Siapa yang mau jadi minoritas? Tapi toh peduli apa? Aku tahu, kami punya satu sama lain. Kadang-kadang aku tak habis pikir kenapa Melanie mau saja dijadikan “pembantu” oleh Helena. Helena bisa menyuruh Melanie melakukan apa saja. Dan Melanie bisa menghamburkan uangnya hanya untuk terlihat seperti manekin, layaknya Helena.

Semua ingin jadi seperti Helena dan teman-temannya. Tapi tak ada yang mau jadi seperti  aku dan teman-temanku. Memang aneh. Baru kusadari anak-anak di sekolah ini bodoh semua. Mau saja jadi pecundang. Mereka kira aku dan teman-temanku lah yang pecundang. Tapi mereka mau bergabung dengan anak-anak yang sehari-harinya hanya membicarakan hal-hal dangkal, menghabiskan uang orang tua, membuat orang merasa minder hanya untuk membuat mereka terlihat lebih baik.

“Yang cantik itu seringkali tidak ada gunanya” ucap Artemis, salah satu sahabatku, suatu hari.

“Kenapa?” tanyaku.

“Ya lihat saja manekin-manekin itu?! Dan Darren? Ya, memang cakep setengah mati tapi tidak menghargai perasaan cewek yang naksir dia hanya karena ceweknya bukan manekin!!!”

“Wow, tenang. Kamu cantik, Artemis. Kita cantik. Dan jelas kita berguna.”

“Nggak. Kita nggak cantik.”

“Kita cantik. Kamu harus percaya kita cantik. Di situlah kita bisa menyingkirkan semuanya. Kita bisa percaya diri, menghalau dunia. Manekin tidak cantik, mereka tidak punya hati. Dingin. Cuma seonggok barang kosong.”

Artemis tersenyum. Betul. Kami cantik dan berbeda. Kami bukan Barbie yang berjejer-jejer jadi ikon sekolah ini, yang membuat sekolah ini dicap orang luar sebagai sekolah yang murid-muridnya orang kaya sombong. Bolehlah kita tidak dilihat sekarang, tapi suatu hari, manekin-manekin itulah yang akan memohon-mohon pada kami. Please, Lady Gaga dulu dianggap aneh oleh teman-temannya. Lihat siapa yang jadi diva sekarang?

Kami tidak akan pernah jadi manekin. Biarlah manekin-manekin itu menertawakan kami di belakang dan menggunakan topeng-topeng manis mereka di depan kami. Kami cantik, benar-benar cantik. Karena cantik itu adalah saat kau berteman dengan tulus, saat kau mencoba mengerti orang lain, saat kau mengangkat kepalamu diantara anak-anak populer itu, saat kau bangga menjadi dirimu yang berbeda, saat kau bisa menghargai orang lain dan kekurangan-kekurangan mereka, saat kau bisa menyantuni orang lain, saat kau tidak merasa dirimu lah yang terhebat, saat kau tidak peduli apa yang cewek-cewek plastik itu pikirkan tentang kamu. Cantik itu bukan soal hidung yang mancung atau bulu mata yang lentik. Jangan pernah merasa tidak cantik saat para manekin menggunjingmu. Angkatlah dagu, berjalanlah tegak, dan katakan,”Aku Cantik”. Kami cantik dan menjadi manekin, sama sekali tidak cantik.

Sebelas Hari Menjelang Ujian Nasional

by Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Hanya tersisa sebelas hari sebelum hari itu datang. Hari penentu anak-anak berseragam putih-abu tahun terakhir se-Indonesia. Ujian Nasional. Namun nilai matematika, biologi, kimia, dan fisika-ku  tidak lebih dari jumlah jari-jari tanganku. Aku menyerah. Toh, tempatku bukan disini. Aku cuma anak yang tersesat di kelas berbau rumus-rumus sains tidak jelas yang penuh profesor cilik.

“Jadi, yang di dalam akar itu dimisalkan… misalnya ini U begitu ya,” papar Pak Aji semangat. Tapi materi-materi matematika ini sudah memantul begitu saja saat menyentuh kepalaku. Betapa aku muak pada angka-angka yang tidak jelas apa gunanya jika kuhitung. Menghitung uang masih mending, angka-angkanya nyata dan jelas ada gunanya. Tapi apakah Transformasi Geometri akan membantuku sukses? Tidak juga bukan? Buktinya Pak Aji yang expert Transformasi Geometri, Vektor, Matriks, Program Linear, Permutasi, dan saudara-saudaranya itu pun hanya jadi guru SMA

Jelas aku harus lulus SMA. Tidak mungkin aku mendekam di penjara kurang ajar ini dengan kemeja putih dan celana abu-abu setahun lagi. Tidak mungkin juga jika “PAKET C” lah yang tertera di Ijazahku. Tapi tidak mungkin juga semua membuat rumus matematika dan fisika betah di kepalaku dalam waktu 11 hari. 11 HARI.

Aku tak pernah mau masuk jurusan IPA. Aku lebih cocok di IPS. Atau Bahasa sekalian. Yah, tapi tahu sendiri bagaimana pandangan orang-orang, kan? Masuk IPS dianggap bodoh lah, pembuat onar lah. Apalagi Bahasa. Rasanya masuk kelas Bahasa seperti masuk ke gang penuh preman pasar. Orang tuaku juga beranggapan seperti itu. Waktu kubilang aku tidak mau masuk IPA mereka langsung berteriak-teriak murka, membuat tetangga berpikir aku baru saja menghamili anak orang atau semacamnya, membuat tikus-tikus yang sering bersembunyi di dapur kabur semua. Yah, apalagi ayahku lulusan TEKNIK SIPIL dan ibuku seorang DOKTER SPESIALIS JANTUNG. Mungkin genku ini memang resesif. Atau aku memang anak pungut. Yang pasti aku lebih tertarik pada sastra atau politik sekalian, supaya bisa jadi pemerintah negeri ini, merubah negeri ini. Dan yang pasti, membebaskan anak-anak tak berdosa dari yang namanya UJIAN NASIONAL yang penuh ketidakadilan ini. Belajar tanpa minta selama 3 tahun dan hanya ditentukan selama 12 jam di ruang ujian. Eh, tung
gu! Jangankan belajar tanpa minat, aku memang tidak belajar sama sekali.

Surya bersinar dengan garangnya di luar sana, seakan Integral tidak cukup menyiksaku siang ini. Dan seakan itu semua belum merupakan neraka, saat bel berbunyi pelajaran matematika akan dilanjutkan dengan FISIKA! Pak Aji meninggalkan ruangan dan masuklah Pak Dito. Percayalah, bila kau menderita insomnia, panggil Pak Dito. Melihat wajahnya saja sudah cukup untuk mengantarmu ke alam mimpi. Aku sudah tidak tahan, dengan dalih pergi ke WC, aku meninggalkan ruangan laknat itu dan pergi ke belakang kantin. Ya, belakang kantin. Guru-guru jelas akan mengecek kantin, tapi belakangnya? Itu tempat teraman di dunia permabalan.

Dewa Apollo benar-benar mengendarai mataharinya terlalu dekat dengan bumi. Peluh membasahi kening dan leherku. “BANG! ES KELAPA SATU! GAK PAKE LAMA!” teriakku tak sabar pada tukang es yang biasa mangkal di sana. Aku duduk menunggu sambil bersandar di tembok sekolah Sunyi. Nyaman.

“WOY JANUS!” teriak seseorang di seberang jalan. Aku menengok ke arah datangnya suara. Eric dan Ryan. Sahabat-sahabatku dari kelas IPS.  Mereka menghampiriku dan duduk mengapitku.

“Heh, Nus! Kita punya berita bagus niih..”

“Apaan?”

“Kita punya…. Ah lo aja yang kasih tau, Yan”

“Kita kenal orang yang jual soal UN taun ini.. Lo mau gak?”

“Soal UN? Wah serius lo? Dapet darimana?”

“Ya lo gak perlu tau. Yang pasti dijamin deh isinya. Itu emang soal UN taun ini.”

“Ya, Nus.. Mau gak lo. UN sebelas hari lagi nih, bro. Lo kan belum bisa apa-apa.”

Dilema. Di satu sisi, aku memang butuh sekali cara cepat. Sebelas hari menguasai materi tiga tahun dari empat pelajaran paling sulit di SMA memang sama tidak mungkinnya bersin dengan mata terbuka. Tapi di satu sisi juga aku tidak mau berbuat securang itu. Mencontek teman, okelah. Tapi membeli soal? Itu terlalu… ekstrim.

“Jadi gimana, Nus? Mau gak?”

“Iya Nuuus.. Beli ajaa.. Gak bisa nyontek kali lo, tipe soalnya ada lima, man!”

“Bener tuh si Eric, beli ajalah.. Ada lima-limanya nih. Lagian lo butuh MIPA aja kan? Inggris, Indonesia sih lo jagonya. Secara si Janus tuh the next Chairil Anwar. Ya ga, Ric?

Huh. Persetan dengan kejujuran. Toh, tak akan ada yang tahu aku membeli soal. Orang-orang cuma peduli pada hasil akhirnya kan? Anak tidak lulus artinya bodoh, memalukan keluarga. Tidak peduli sesungguhnya si anak bukannya tidak berusaha, hanya memang tidak bisa. Tidak peduli sebenarnya si anak lebih memilih membaca seluk beluk G-30-S/PKI di kelas IPS daripada memahami bagaimana tepatnya fotosintesis terjadi di kelas IPA.

“Sip. Gua beli deh!”

“NAAAH! Gitu dooong…”

“Kalian beli juga? IPS bukannya gampang?”

“Ya buat lo gampang, Nus! Buat kita?”

“Yaaah, lo sih kelewat belet semuanyaaa.”

“Heeh, kurang ajar lo, Janus! Hahahaha”

***

Hari ini Ujian Nasional dilaksanakan. Oh ya, ada dua pengawas di kelas nanti. Tapi ada 1001 cara mencontek di kepalaku. Aku sudah mengerjakan soal-soal gelap itu. Yah, sebenarnya, ayahku yang “mengajarkan” dan mengisinya. Aku cuma mengangguk-angguk. Kemudian aku menulis jawaban-jawaban itu di semua tempat tersembunyi yang bisa dengan mudah kucuri lihat, tapi tak akan terlihat pengawas. Aku tidak mau buang-buang waktu menghafal jawaban lima tipe soal berbeda dari empat mata pelajaran.

Tiba-tiba masuklah dua sipir penjara, eh, maksudku, pengawas ujian dengan setumpuk soal dan setumpuk kertas jawaban. Mereka membacakan segala peraturan-peraturan standar ujian di manapun dengan wajah seakan-akan yang mereka bacakan itu adalah perintah penting dari Raja.

Soal dibagikan. Tertera diatasnya “Dokumen Negara-Sangat Rahasia”  lalu dibawahnya, “UJIAN NASIONAL –TAHUN PELAJARAN 2010/2011” Kubuka lembar pertama. Soal yang familiar, persis sama dengan yang kubeli. Aku tertawa dalam hati, pesta kembang api di kepala. Good bye, High School. Adios, stupid Science Class!

Mati Beku

by Naomi Arsyad @NaomiArsyad

Tubuhnya beku sempurna, bibir membiru. Ditemukan di lemari pendingin di toko dagingnya sendiri. Bekas pukulan benda keras di kepala. Waktu kematian pukul dua belas malam.

“Aku nggak sengaja, Pak! Aku pengen bantuin mama ambil daging yang digantung!”

“Papa, maafin aku! Aku mau Mama kembali, Pa!”

“Papa! Tolong, Pa! Papa tahu aku mau bantuin Mama!”

Aku diam. Kuisyaratkan agar bocah itu dibawa pergi.

Orang-orang pengurus anak bermasalah itu segera membawa anakku yang masih kecil, ia masih terus menangis. Meronta memintaku menolongnya. Anak bodoh. Mau saja ia kusuruh menolong ibunya di lemari pendingin.

Dan lagi, ia bukan anakku. Ia anak si wanita laknat yang terpaksa kusingkirkan tadi malam dengan selingkuhannya, di toko dagingnya.

Dikejar Waktu

by Naomi Arsyad @naomiarsyad

Cahaya lampu memantul dari pisau yang kupegang. Suasana begitu hening, menegangkan. Kupandangi tubuh kecil di hadapanku, terlentang tidak berdaya di bawah pengaruh obat bius. Jari-jarinya meronta lemah. Dengan hati-hati kudekatkan pisau ke dadanya. Masih sunyi, hanya terdengar detakan jarum jam.

Kutorehkan pisauku di dadanya, terus ke bawah hingga merobek perutnya. Ah, itu dia, jantung yang berdenyut pelan. Tidak lama lagi jantung itu akan berhenti berdenyut, selamanya. Tatapanku menelusur ke bawah, isi perutnya terburai.

PRAAANG! Kaget, kupalingkan wajah dari makhluk tak berdaya ini. Ternyata temanku  memecahkan botol berisi cairan biuret. Dia selalu saja panik saat ujian praktikum Biologi. Aku tidak perduli. Aku harus menggambar seluruh organ tubuh katak ini. Waktunya sebentar lagi.