Naomi Arsyad
now browsing by tag
Almost Fictional | @NaomiArsyad
― oleh Naomi Arsyad @NaomiArsyad
My dearest friend,
I know this whole letter might sound cheesy. But I decided to just write to you. I know you wouldn’t judge or hate me. Or would you? What I know is, I trust you. I think this is that “now or never” moment. I know you’re the easiest person to talk to, but I can’t talk to you about this. You know I write everything I can’t say.
So there’s this guy. You probably know him. I don’t know how to describe him with words. What? I know you’re surprised because you think I can always paint the right words, eh? This time I can’t. But I’ll try. Okay. He is… Almost fictional. Before I met him, I thought a guy like him only can be found in books or movies. But then, yeah, I met him.
Almost fictional. Mixture of amazing personality and extraordinary brain. Brave and different. I don’t say this because I like him. I’m saying the truth. Objectively. Even though love shouldn’t be objective, should it? You gotta see him when he talks about things. He comes up with unique opinios. People would gave him strange looks, but, I would be overwhelmed. He laughs over the stupidest thing, but people laughs at him. He doesn’t judge people, but people judge him. I don’t know why people could be so mean sometimes, especially to someone who I thought didn’t exist in real life. He is one in a million. What I know is, if he walked away from my life, I would not be lucky enough to find anyone like him.
So… Am I in love? Because I don’t know about my feeling. I haven’t even tell myself about this. What I know is I went to sleep memorizing every moment we had and woke up thinking about him running his hand through his wavy-and-messy hair. And it’s weird how he plays with my mood in a blink of an eye. Wow look what he has done to me. I guess that’s all I wanna say. I’m sure you’re wondering why I can’t say this to you in person when you told me things about your crush, and you’re wondering why I don’t tell you details about this guy.
Well, I’m gonna tell you why.
It’s because you might know him better than I do. Because you live with him in your entire life and I just met him.
Because he is you.
Much love
-Me
Ambang Pintu ~ @NaomiArsyad
oleh Naomi Arsyad @NaomiArsyad
“Jangan suka berdiri di ambang pintu! Nanti susah dapat jodoh!”
Orang tua selalu berkata begitu. Ah, itu hanya takhyul. Buktinya kamu berlutut di hadapanku. Tanganmu menggenggam kotak berlapis beludru merah, sebuah cincin berlian bertahta indah di dalamnya. Kau ingin aku mendampingimu dalam hidup, aku tersipu malu. Aku bilang iya, kau bilang cincin itu lebih indah di jari manisku. Kakikku gemetar menahan haru, aku bersandar di ambang pintu depan rumahku.
Hari ini aku pulang kerja jauh lebih awal. Sedan mungilmu sudah terparkir manis di halaman, ternyata kau juga pulang cepat. Dengan hati gembira, bergegas kubuka pintu kamar kita. Kakikku gemetar menahan pilu, aku bersandar di ambang pintu. Kulihat kamu asyik mencumbu sahabatku.
Tidak Lebih Baik
By Naomi Arsyad @NaomiArsyad
Kumainkan Angry Birds di iTouch-ku setengah hati. Ya, aku ingin punya iTouch sejak lama, namun tak pernah kukira saat kulihat kantong berlambang Apple di kamarku aku tak akan tersenyum. Asap teh madu panas favoritku sudah lama melayang, namun aku belum juga menyentuhkan cangkir di bibirku. Setelah kalah beberapa kali, aku menyerah dan berbalik ke menu musik. Sekejap saja iTouch-ku sudah menyenandungkan suara David Archuleta.
Helaan nafasku memecah keheningan. Hari ini genap tiga tahun sejak aku didiagnosis gagal ginjal. Tiga tahun sudah umur iTouch yang dibelikan orang tuaku sebagai penghibur agar aku tegar menghadapi cobaan ini. Sudah selama itu namun belum juga ada donor yang menghampiri, dializer masih harus dihubungkan ke tubuhku empat kali dalam seminggu, masing-masing enam jam. Jadi anggaplah aku membusuk di rumah sakit ini.
Decitan pintu membuatku tersentak, namun orang yang berdiri di belakang pintu membuatku tersenyum. Kakak laki-lakiku, Hector, menerobos masuk. Seperti biasa, senyumnya membuat matahari malu, rambut coklat gelapnya masih tetap acak-acakan. Kak Hector-lah yang membuat proses hemodialisis ini tetap menyenangkan. Cuma dia yang masih bisa mencetuskan lelucon tentang gagal ginjal saat aku didiagnosis. Mungkin itu sesuai dengan namanya yang berarti tabah.
“Helonia! Apa tuh cemberut ajaa… Cerah gini.. Nih kakak bawa film!”
“Diary of a Wimpy Kid: Rodrick Rules” Setiap kali hemodialisis, Kak Hector suka membawa macam-macam film. Ia menjauhkan semua drama penguras air mata yang dulu jadi kesukaanku dan membawakan film-film komedi, bahkan horor sebelum akhirnya ditegur suster. Katanya, aku sudah terlalu banyak menangis. Semua orang yang ada di ruang hemodialisis selalu menunggu-nunggu kedatangan Kak Hector. Gara-gara kakakku itulah ruangan suram ini jadi ceria.
Hari ini kebetulan hanya aku sendiri yang dicuci darah. Jadi, aku menonton film itu berdua dengan Kak Hector saja. Setelah berjam-jam frustasi aku akhirnya bisa tertawa lagi. Film itu juga membuatku bersyukur. Bersyukur karena Kak Hector baik sekali pada adiknya, tidak seperti Rodrick.
***
Seisi ruangan hemodialisis bersorak gembira. Alvin, salah satu teman seperjuanganku akhirnya mendapat donor ginjal. Berarti, Alvin akan meninggalkan penjara membosankan ini dan aku akan kehilangan teman ngobrol. Padahal Alvin lah yang paling dekat denganku. Sebenarnya, aku bisa saja dapat donor dari kemarin dulu. Kak Hector punya ginjal yang cocok sekali dengan milikku, tapi aku tak mengizinkannya mendonor. Lebih baik dicuci darah bertahun-tahun daripada menerima resiko aneh-aneh. Daripada membiarkan kakakku punya satu ginjal gara-gara aku.
“Tenang, tenang… Semua akan dapat bagian! Antri-antri! Lagian kalo cepet-cepet pergi dari sini nanti kangen lho sama aku!” Kak Hector menghibur seisi ruangan saat Alvin pergi dan wajah-wajah penderita gagal ginjal ini mulai tampak air muka irinya.
“Ya… Ya… Berarti jika Helonia dapat donor, kita semua juga harus dapat lho! Kan, kamu nggak ke sini lagi, Hector!” canda nenek di sebelah tempat dudukku.
Berbulan-bulan setelah Alvin dapat donor, belum ada lagi yang seberuntung itu. Aku juga sudah malas berharap. Apa bedanya berbulan-bulan setelah tiga tahun? Alvin saja baru dapat donor di tahun keempatnya. Dan hari ini, seperti hari-hari sebelumnya, aku terkurung di ruang hemodialisis dengan dializer terhubung ke tubuhku. Baru lima jam, masih ada satu jam lagi. Masih ada beribu-ribu jam lagi di kemudian hari. Teman-teman seperjuangan sudah kehabisan obrolan dan berakhir tenggelam dalam novel, koran, atau ponsel masing-masing. Satu lagi yang menyebalkan, Kak Hector belum juga datang.
Pintu dibuka dengan tiba-tiba membuat setiap kepala mendongak dengan penasaran, berharap ada berita baik yang akan disampaikan.
“Helonia, kamu… dapat donor!” Sang suster tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
Tepukan tangan terdengar di seisi ruangan. Aku tak bisa membendung kegembiraanku. Apakah ayah dan ibu sudah tahu? Apakah Kak Hector sudah tahu? Aaah, mana Kak Hector? Harusnya ia di sini dan bersorak bersamaku. Bahkan mungkin Ia sudah melompat-lompat kegirangan.
Ayah dan ibuku masuk ruangan. Aku segera mengoceh panjang lebar mengungkapkan betapa bahagianya aku. Tidak kusadari wajah orang tuaku tak sebahagia aku. Ibu langsung memelukku dan berbisik,”Kak Hector kecelakaan, sebelum pergi ia pesan agar ginjalnya diberikan padamu.”
Karena Makhluk-makhluk Penunggu Dapur
by Naomi Arsyad @NaomiArsyad
Bau gosong mulai tercium, belum lagi teriakkan kakak yang terus-terusan terngiang. Akhirnya aku cuma bisa duduk di lantai dapur, membiarkan kakak menyiram teflon berisi telur orak-arik yang menghitam, bahkan mulai berapi karena aku dengan bodoh menaruh lap di dekat kompor.
“Aku nggak bisa dan nggak mau bisa masak, Kakaaaak!”
“Ini sih belum masak, baru telur orak-arik!”
”Whatever lah, tapi kan masih megang teflon juga.”
“Kamu tuh gimana mau kuliah di Australia? Pintar sih iya, makanya dapat beasiswa, tapi terus makan di sana gimana? Emang mau beli terus, hah?! Boros!”
“Iya, tapi sama sekali nggak bisa, Kak! Mau diapain dong? Tuh, cuma telur aja hampir kebakaran!”
Kakakku, Allison, sangat pandai memasak. Dia bisa membuat kue-kue super lezat dan masakan-masakan dari berbagai negara. Bahkan, Ia selalu membuat pastanya sendiri, bukan memakai pasta instan seperti orang lain. Dapur sudah jadi rumah kedua baginya. Oleh karena itulah aku tak pernah menyentuh alat masak apapun. Dapur jadi tempat terakhir yang kudatangi sebab Allie—begitu ia biasa kupanggil—selalu mengisi meja makan dengan berbagai hasil kreasinya dan aku sungguh-sungguh tak bisa memasak. Bahkan membuat mie instan pun tak begitu lancar.
Ternyata Allie belum menyerah. Sekarang, Ia memaksaku membantunya untuk membuat black forrest. Huh, asal kalian tahu, walaupun cuma membantu, aku bisa menghancurkan segalanya. Aku memperhatikan Allie yang membuat adonan dengan acuh tak acuh. Sungguh, aku tak akan mau memasak dengan alasan apapun.
“Amanda! Bengong aja! Ini aduk adonannya!” kata Allie mengagetkanku.
Kuaduk adonan itu setengah hati. Siapa pula yang begitu niatnya membuat black forrest saat di Australia nanti. Paling-paling aku hanya akan membuat sandwich, telur dadar, atau hal-hal mudah semacam itu. Eh, tapi aku juga belum lancar membuat masakan mudah. NAH! Jadi kenapa membuat black forrest?
“AMANDAAA!!! Lama-lama amat ngaduknya?! Nanti udaranya keluar semua, kue kakak nggak ngembang. Ih! Udah ah, kamu nanti aja belajar lagi.
Satu lagi yang kubenci dari belajar masak bersama Allie, dia super duper sangat ultra galak. Jangankan ingat apa yang dia ajarkan, mendengarkannya saja butuh usaha ekstra. Sudahlah, yang penting aku boleh makan black forrest-nya nanti. Hahaha!
***
Aku sedikit merindukan rumah. Ya, aku sudah berada di Sydney sekarang. Di flat kecil menyenangkan. Betapa leganya waktu aku menyadari ini artinya tidak ada lagi Allie yang memaksaku ke dapur. Masalah makanan bisa kuatasi dengan makanan instan dan kadang-kadang membeli. Atau mengajak sahabat baruku dan membiarkan dia membuat sandwich atau sesuatu. Chanel, sahabat baruku, betul-betul mirip Allie, seorang penunggu dapur. Yang jelas tidak separah aku. Dia juga suka menawarkan aku untuk belajar masak, tapi sudah jelas aku anti-memasak.
Suasana sore di sekitar tempat tinggalku begitu menyenangkan. Orang-orang berlalu lalang, bersiap untuk pulang ke rumah. Tiba-tiba ada suara yang memanggil Chanel. Kami pun menegok kebelakang dan melihat seorang laki-laki sekitar umur 20 tahunan dengan rambut dirty-blond.
“CHANEL!”
“CALLUM! Wow, udah lama nggak ketemu! Apa kabar?”
“Baik. Ini aku mau ke rumah kamu tau, kamu malah di sini.”
“Amanda, ini Callum, sepupuku. Callum, ini Amanda, temanku dari Indonesia.”
Kami berbincang-bincang sebentar. Callum sungguh teman yang baik. Dia juga baik dan aku suka sekali matanya. Aku sebenarnya tidak begitu mendengarkan apa yang dia ucapkan dan cuma asyik memperhatikannya. Tiba-tiba topik mulai beralih ke arah kuliner. Ternyata Callum juga seorang penunggu dapur.
“Oh ya, besok aku mau ngajarin anak-anak elementary school masak gitu. Ikut yuk! Aku suruh bawa temen yang jago masak juga. Kamu bisa masak kan, Amanda?”
“Hah.. Iya, bisa bisa.”
“Sip deh, besok ketemu di sini lagi aja ya. Aku bareng Chanel. Yuk ah! Chanel, aku tungguin di rumah ya, belum ketemu orang tua kamu. Hehehe.”
Sepeninggal Callum, Chanel mulai tertawa terbahak-bahak.
“Amanda, terus kamu besok gimana?”
“Gimana apa?”
“Iya si Callum kan nanya bisa masak apa nggak, mau ngajarin gitu, ih!”
“WAH?! Dia ngajak aku NGAJARIN juga gitu?”
“Iyaaaa apaan dong tadi?!”
“Ah, paling cuma nyusun sandwich gitu kan? Cuma anak-anak gitu. Si Callum nggak sejago kamu juga kan?”
“HAHAHA! Bercanda kamu?! Dia runner-up Masterchef Australia tahun lalu tauuuu! Serius nggak tau?”
“WAH?! Ya gatau lah aku baru di Aussie berapa bulan? Parah aku gimanaaa? Dia tau aku nggak bisa masak bisa-bisa turn-off. Tadinya aku naksir tuh sepupu kamu! AH! Nggak mungkin ngajarin aku dalam semalam ya, Chanel?”
Saat itulah aku berharap Allie ada di sana berteriak di telingaku dan mengajariku memasak tanpa ampun dalam semalam.
Kami Bukan Manekin
by Naomi Arsyad @naomiArsyad
Rambut hitam panjang mengilap ter-blow rapi, kulit selembut sutra, tubuh semerbak wangi parfum, wajah cantik dengan selapis tipis bedak, handphone keluaran terbaru, tas-tas mahal yang terlihat sangat tipis (oh ya, tentu saja, tidak ada buku di dalam sana). Please, ini sekolah. Kau kira apa? Tempat pamer?
Aku melewati sekumpulan manekin ini, membiarkan bisik-bisik tidak mengenakkan itu lewat begitu saja. Ya, aku bukan manekin. Aku jelas bukan salah satu dari mereka. Aku tidak mau jadi manekin, aku tidak mau jadi orang-orang yang setiap hari hanya bisa menyakiti hati orang lain dengan lidah setajam silet itu. Aku tidak mau punya “teman” yang suka membicarakanku di belakang, lalu berubah baik di depan, lalu mengadu domba. Cantik? Ya. Populer? Ya. Tidak punya hati? Ya. Manekin.
Aku dan teman-temanku adalah anak SMA biasa. Kami, bisa dibilang, kaum minoritas sekolah ini. Dimana anak-anak lainnya hanya manekin, atau, berusaha menjadi manekin. Kami tidak kasat mata. Oh ya, tidak ada yang suka berlama-lama diam bersama kami. Siapa yang mau dicap aneh? Siapa yang mau jadi minoritas? Tapi toh peduli apa? Aku tahu, kami punya satu sama lain. Kadang-kadang aku tak habis pikir kenapa Melanie mau saja dijadikan “pembantu” oleh Helena. Helena bisa menyuruh Melanie melakukan apa saja. Dan Melanie bisa menghamburkan uangnya hanya untuk terlihat seperti manekin, layaknya Helena.
Semua ingin jadi seperti Helena dan teman-temannya. Tapi tak ada yang mau jadi seperti aku dan teman-temanku. Memang aneh. Baru kusadari anak-anak di sekolah ini bodoh semua. Mau saja jadi pecundang. Mereka kira aku dan teman-temanku lah yang pecundang. Tapi mereka mau bergabung dengan anak-anak yang sehari-harinya hanya membicarakan hal-hal dangkal, menghabiskan uang orang tua, membuat orang merasa minder hanya untuk membuat mereka terlihat lebih baik.
“Yang cantik itu seringkali tidak ada gunanya” ucap Artemis, salah satu sahabatku, suatu hari.
“Kenapa?” tanyaku.
“Ya lihat saja manekin-manekin itu?! Dan Darren? Ya, memang cakep setengah mati tapi tidak menghargai perasaan cewek yang naksir dia hanya karena ceweknya bukan manekin!!!”
“Wow, tenang. Kamu cantik, Artemis. Kita cantik. Dan jelas kita berguna.”
“Nggak. Kita nggak cantik.”
“Kita cantik. Kamu harus percaya kita cantik. Di situlah kita bisa menyingkirkan semuanya. Kita bisa percaya diri, menghalau dunia. Manekin tidak cantik, mereka tidak punya hati. Dingin. Cuma seonggok barang kosong.”
Artemis tersenyum. Betul. Kami cantik dan berbeda. Kami bukan Barbie yang berjejer-jejer jadi ikon sekolah ini, yang membuat sekolah ini dicap orang luar sebagai sekolah yang murid-muridnya orang kaya sombong. Bolehlah kita tidak dilihat sekarang, tapi suatu hari, manekin-manekin itulah yang akan memohon-mohon pada kami. Please, Lady Gaga dulu dianggap aneh oleh teman-temannya. Lihat siapa yang jadi diva sekarang?
Kami tidak akan pernah jadi manekin. Biarlah manekin-manekin itu menertawakan kami di belakang dan menggunakan topeng-topeng manis mereka di depan kami. Kami cantik, benar-benar cantik. Karena cantik itu adalah saat kau berteman dengan tulus, saat kau mencoba mengerti orang lain, saat kau mengangkat kepalamu diantara anak-anak populer itu, saat kau bangga menjadi dirimu yang berbeda, saat kau bisa menghargai orang lain dan kekurangan-kekurangan mereka, saat kau bisa menyantuni orang lain, saat kau tidak merasa dirimu lah yang terhebat, saat kau tidak peduli apa yang cewek-cewek plastik itu pikirkan tentang kamu. Cantik itu bukan soal hidung yang mancung atau bulu mata yang lentik. Jangan pernah merasa tidak cantik saat para manekin menggunjingmu. Angkatlah dagu, berjalanlah tegak, dan katakan,”Aku Cantik”. Kami cantik dan menjadi manekin, sama sekali tidak cantik.
Mati Beku
by Naomi Arsyad @NaomiArsyad
Tubuhnya beku sempurna, bibir membiru. Ditemukan di lemari pendingin di toko dagingnya sendiri. Bekas pukulan benda keras di kepala. Waktu kematian pukul dua belas malam.
“Aku nggak sengaja, Pak! Aku pengen bantuin mama ambil daging yang digantung!”
“Papa, maafin aku! Aku mau Mama kembali, Pa!”
“Papa! Tolong, Pa! Papa tahu aku mau bantuin Mama!”
Aku diam. Kuisyaratkan agar bocah itu dibawa pergi.
Orang-orang pengurus anak bermasalah itu segera membawa anakku yang masih kecil, ia masih terus menangis. Meronta memintaku menolongnya. Anak bodoh. Mau saja ia kusuruh menolong ibunya di lemari pendingin.
Dan lagi, ia bukan anakku. Ia anak si wanita laknat yang terpaksa kusingkirkan tadi malam dengan selingkuhannya, di toko dagingnya.
Dikejar Waktu
by Naomi Arsyad @naomiarsyad
Cahaya lampu memantul dari pisau yang kupegang. Suasana begitu hening, menegangkan. Kupandangi tubuh kecil di hadapanku, terlentang tidak berdaya di bawah pengaruh obat bius. Jari-jarinya meronta lemah. Dengan hati-hati kudekatkan pisau ke dadanya. Masih sunyi, hanya terdengar detakan jarum jam.
Kutorehkan pisauku di dadanya, terus ke bawah hingga merobek perutnya. Ah, itu dia, jantung yang berdenyut pelan. Tidak lama lagi jantung itu akan berhenti berdenyut, selamanya. Tatapanku menelusur ke bawah, isi perutnya terburai.
PRAAANG! Kaget, kupalingkan wajah dari makhluk tak berdaya ini. Ternyata temanku memecahkan botol berisi cairan biuret. Dia selalu saja panik saat ujian praktikum Biologi. Aku tidak perduli. Aku harus menggambar seluruh organ tubuh katak ini. Waktunya sebentar lagi.












D5 Creation