Pedang Sayang

oleh Ninda Syahfi | @nindasyahfi

Leherku tegang. Mataku mulai lelah. Aku tidak sadar sudah berapa lama napasku tertahan. Jantungku berdegup kencang. Bahaya! Ia menatapku. Pedang itu! Pedang yang jadi senjata kebanggaannya kembali ia acungkan dengan garang.

Aku sadar, gerakan sekecil apapun yang aku buat akan mengacaukan misiku. Aku harus bertahan. Ya, … Lanjutkan membaca…

Racun Manyun

oleh Ninda Syahfi | @nindasyahfi

Menjelang pagi, semakin ramai orang berlalu lalang. Dengan riang, mereka menyulap pekarangan istana. Calon pengantin tidak sanggup menahan debar di dada, begitu juga Piatu. Dari balik jendela dapur, tampak jelas ia gemetar menyambut datangnya hari ini.

“Stoples paling kiri. Sejumput saja, ya, Cu.”

“Aku sudah dengar. … Lanjutkan membaca…

Panah Salah

oleh Ninda Syahfi | @nindasyahfi

“Sudah, Nang, biar Ibu saja.”

“Tidak apa, sedikit lagi rampung. Ibu tidur sana, sudah tengah malam.”

“Andai saja bapakmu ada, kamu tidak perlu repot-repot membantu Ibu bekerja.”

Lanang tidak menjawab lagi. Tangan kekarnya cekatan merapikan batang-batang panah yang sedari senja ujung-ujungnya ia asah hingga sangat runcing. … Lanjutkan membaca…