Vira Cla

now browsing by tag

 
 

Kutuk Aku! ~ @veecla

oleh Vira Cla @veecla

 

 

Vira Cla

Aku mengutuk diriku!

 

Dulu, aku tinggal di istana. Aku senang bisa menyaksikan para anggota kerajaan melewatiku. Raja, ratu, pangeran, dan putri-putri kerajaan dengan pakaian-pakaian mereka yang mewah sangat menawan mata.

 

Aku tak ingat entah kesalahan apa yang pernah kulakukan. Aku memang sudah tua. Aku dikeluarkan dari istana. Itu menyedihkan. Namun, lebih menyakitkan ketika tubuhku didaur ulang. Aku tak lagi seanggun dan semegah dulu.

 

Di sini, di tempat yang menjijikkan! Manusia-manusia itu kadang jauh lebih menjijikkan! Masih kuingat sepasang remaja memuaskan berahi masing-masing.

 

Seseorang mengetukku. Bodoh! Putar saja knopnya! Tak ada orang di dalam sini.

 

“Eh, kosong ternyata! Duh, udah nggak tahan!”

 

Seorang lelaki. Celananya melorot. Oh, tidak!

 

Kutuklah aku jadi lapuk!

Menanti Malam ~ @veecla

oleh Vira Cla @veecla

 

Vira Cla

Aku suka malam. Hanya malam yang mampu membebaskanku dari neraka siang hari. Oh, sungguh aku tak suka dengan siang. Aku tahu aku tak perlu berpanas-panasan di bawah terik garang mentari. Ruangan yang kutempati juga berpenyejuk ruangan. Tapi, bagiku, siang bukanlah waktu yang bisa kunikmati.

 

“Ingat, ya! Laporan itu harus beres sore ini!”

 

Aku mendengar suara lirih yang tergagap menjawab, “Ya, Bu!”

 

“Jangan iya-iya aja! Camkan kalau tidak selesai, kamu bisa dipecat! Mengerti!”

 

Pintu ruangan ditutup dengan pelan—ada ketakutan dari baliknya. Aku rasakan itu. Aku juga merasakan geraman puas di atasku. Oh, sangat menjijikkan!

 

Karena itu aku suka sekali dengan malam. Ketika aku tak perlu diduduki oleh wanita gemuk galak itu.

Ulah Presiden ~ @veecla

oleh Vira Cla @veecla

 

Vira Cla

Knop pintu diputar. Sebentar lagi ia masuk ke ruangan. Ia berbicara lewat ponselnya—entah dengan siapa. Mungkin kerabatnya. Kerabatnya memang sering menghubunginya untuk diberi proyek besar. Tak pernah ia menolak. Dan aku benci itu.
Sambungan telepon berakhir. Lelaki jelang usia senja itu duduk di kursi kebesarannya.
“Banyak sekali surat-surat yang harus aku paraf,” keluhnya. Kertas-kertas bertumpuk itu ia abaikan. Lalu, ia mengambil gitar dan memetik senarnya. Ia bernyanyi!
Aku tak ingin dengar suaranya! Tapi, aku tak punya telinga yang bisa kututup dengan tangan yang juga aku tak punya.
Akhirnya, ia berhenti, kembali ke tumpukan kertas di atasku.
Sungguh, aku benci menjadi tempat transaksi KKN itu disahkan. Aku benci menjadi meja presiden.

Sendok Kopi ~ @veecla

oleh Vira Cla @veecla

 

Vira Cla

Kata ibu, aku harus mulai belajar memasak. Setiap sore, aku harus menemaninya memasak di dapur. Tak ada lagi waktu bermain di luar sana. Jengkel, tentu saja! Tapi, ibuku bilang, sebagai anak gadis aku harus bisa memasak. Ibu akan mengajari semuanya. Menanak nasi; menggoreng telur, tempe, tahu, ikan; menumis kangkung, tauge, bayam; dari yang sederhana dulu, kata ibu. Sekarang ibu mengajariku cara membuat kopi untuk ayah—pelajaran pertamaku. Tiap ayah pulang dari kantornya, secangkir kopi panas harus tersedia. Ayahku tak begitu suka kopi pahit, jadi ibu menyuruhku menambahkan gula.

 

“Berapa sendok, Bu?”

 

“Tiga.”

 

“Oh, ya, sendok makan atau sendok teh, ya, Bu?”

 

“Bapak itu minta kopi! Bukan minta teh, apalagi minta makan!”

Kosong ~ @veecla

oleh Vira Cla @veecla

 

Vira Cla

“Jadi, kau adalah pewaris rumah tua itu?”

 

Aku mengangguk. Ya, aku adalah pewaris rumah tua itu. Tua? Bukan! Antik, lebih tepatnya.

 

“Kau beruntung sekali!”

 

Aku hanya menyunggingkan senyum. Aku memang si miskin yang beruntung.

 

“Bagaimana bisa kau mendapatkan warisan sebanyak itu? Hmm, kau tentu mengerti maksudku….”

 

Mataku mendelik. Aku segera meninggalkannya. Mulutnya kebanyakan bacot. Kudengar ucapan lirihnya entah pada siapa. Si pemalas yang beruntung!

 

Lupakanlah! Itu hanya omongan orang-orang sirik. Aku kembali ke dalam rumah. Furniturnya masih lengkap. Antik semua!

 

Oh, waktunya makan siang!

 

Aku mengeluarkan piring antik dari lemari, meletakannya di atas meja makan.

 

Piring itu cantik tapi…. kosong!

 

Ya ampun! Keasyikan tinggal di rumah baru ini, aku lupa mengemis!

Simetris | @veecla

veecla

—oleh Vira Cla @veecla

Langkahku bergegas. Perban ini tak akan lama menahan serapan darah yang terus mengucur dari samping kepalaku. Toko swalayan itu semakin dekat!

Kemarin, tragedi itu terjadi. Jambret sialan! Anting berlian di cuping telingaku memancing keganasannya. Aku tentu saja melawan! Tak rela hadiah tak terlupakan dari kekasihku dicuri. Kakiku menendang! Tanganku memukul! Jambret keparat itu justru semakin beringas dengan mengeluarkan pisau lipatnya—yang matanya tak kalah berkilau dari antingku!

Telingaku putus! Satu antingku dibawa lari oleh jambret itu bersama telingaku. Tapi, sudahlah! Aku masih punya satu anting lagi.

Cangkir mungil itu cantik sekali. Kupasangkan pada bagian telingaku yang telah putus. Tapi demi kesimetrisan, aku memang terpaksa memangkas sebelahnya lagi.

Ah, itu dia cangkirnya!

Kodrat

by Vira Cla @veecla

“Silakan duduk! Keluhannya apa?”

“Hmm… anu. Eh, malu, dok!”

“Nggak usah malu. Sama dokter, keluhan pasien menjadi rahasia.”

“Iya… Ee, duh!”

“Kalau begitu, langsung saya periksa saja, ya?!”

“Tunggu, dok!”

“Mau bicara atau langsung buka mulut?”

“Buku mulut, deh, dok. Aaaaa…”

“Tidak ada lubang! Kamu pasti rajin sikat gigi, ya?! Bagus!”

“Iya, dok, nggak ada lubang. Tapi, bukan itu keluhannya.”

“Lantas apa?”

Ini dokter goblok apa? Nggak bisa lihat kekurangan gue?

“Bilang aja! Nggak usah malu!”

“Ini, dok! Saya mau pasang kawat! Gigi saya maju, jarang-jarang lagi!”

“Dasar kamu! Nggak terima kodrat! Tiger fish dari oroknya gitu! Ya udah, deh, terserah kamu. Sediakan saja biayanya 10 juta.”

“Hah? Nggak jadi, dok! Kabuuuur!!!”

Dendam Siluman

by Vira Cla @veecla

Seorang jalang berteriak panjang, mengundang orang-orang segera datang. Teriakan itu bahkan belum berhenti ketika mereka sudah menghampiri si jalang yang hanya berbikini.

Salvador segera bertanya. Si jalang berpagut pada Salvador. Lelaki lain di belakangnya celingak-celinguk mencari yang janggal. “Ada ular di balik lemari itu, Salvador!” demikian kata si jalang dengan suara manja dan gemulai yang dibuat-buat.

Salvador pun mengeluarkan pistol genggam dari balik celananya. Namun, si jalang itu tetap belum beranjak dari dekapan Salvador. Ah, si jalang itu sedang berbikini, jelas saja Salvador sulit melepasnya.

Cukup! Aku akan memagutmu, jalang! Perselingkuhan ini harus kuakhiri!

Dengan sigap aku meliuk ke arah si jalang. Bisaku telah mengalir dalam darahnya. Sesaat lagi, ia mati!

Requiem Dante

by Vira Cla @veecla

Kanker prostat stadium empat! Bangsat! Hinakah aku? Ya Tuhan, kenapa Kau pikir aku butuh penyakit itu?! Memang aku bukan penggila seks. Kau hilangkan sekalian organ vitalku itu, aku bahkan tak akan tersiksa bila memang hanya itu yang hilang. Tapi, lihatlah! Dengan penyakit yang Kau dera padaku ini telah membuatku mati rasa. Bukan karena aku tak bisa bersenggama lagi! Semua kesempatan emas telah lewat, Tuhan! Satu-satunya yang Kau sisakan untukku hanya kesempatan surga di mana Kau janjikan aku bisa selamanya berbahagia.

Hahaha… Bagaimana mungkin aku bisa tinggal di surga-Mu? Selama hidup sehatku tak sekalipun aku menyembah-Mu, Tuhan. Tuhan? Kau baru kukenal dari pendeta yang sering bertandang ke bangsal tempat pesakitanku. Katanya, aku butuh pendampingan menuju kematian yang kian dekat. Kasarnya demikian aku menangkap maksud kedatangannya. Kupikir aku tak butuh apa-apa, selain kesembuhan. Jika orang yang akan diberi hukuman mati diberi kesempatan untuk pesan terakhir, maka aku juga ingin satu. Asal Kau tahu, diagnosa dokter yang kudengar bagai putusan hukuman mati! Jadi, bisakah Kau dengar pesanku untuk terakhir kalinya? Bisa? Pasti bisa! Maukah Kau, Tuhan? Maukah Kau dengar aku? Pesanku hanya satu, Tuhan!

Aku tak mau mati!!!

Dadaku sesak! Kepalaku seakan ingin pecah! Ada sesuatu dalam tubuhku yang siap meledak. Tanpa kukatakan pada-Mu, Kau pasti sudah tahu pesanku itu. Aku hanya tak mau mati! Aku tak mau titik!

***

Dante hilang arah. Aku tahu ia sangat tersiksa. Penyakit ganas telah membuat fisiknya sangat lemah. Ia terlihat begitu ringkih. Tapi, bisa kulihat di matanya ada gejolak yang masih membara. Ia ingin melawan! Dante tak akan menyerah seperti biasanya. Ia menolak diputuskan hidup tiga bulan lagi. Dante marah! Ia terus mengamuk tiap bertemu dokter dan para perawatnya. Dari rumah sakit kanker, Dante dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Dante telah tersesat di dunianya sendiri.

“Life is begun at forty,” kata-kata yang Dante percaya. Baginya, laki-laki di usia 4o adalah laki-laki yang demikian matang, baik secara fisik dan psikis. Laki-laki yang mengenal dirinya dan tahu apa yang terbaik untuknya dan orang-orang yang disayangi. Di usia 30, Dante memulai usaha membuka bar. Sebelumnya ia adalah bartender di bar ternama di sebuah kota besar. Selama 10 tahun tiap malam, ia sibuk mencampur-aduk berbagai jenis liquor. Waktu yang cukup lama baginya untuk mengumpulkan modal membangun bar di kota kecil kelahirannya. Bar tempat orang melepas jenuh, menurut Dante. Bar tempat orang bisa bersenang-senang. Bar tempat ia bisa menghidupkan kemampuan musiknya.

Dante tak peduli anggapan orang-orang yang melecehkannya sebagai manusia bejat. ‘Balik dari rantau, bukannya membangun kampung malah mendirikan tempat maksiat!’ Dante sungguh tak peduli dengan cibiran orang-orang. Ia terus bertahan dengan usahanya. Setidaknya belasan pengangguran telah ia rekrut sebagai karyawan barnya. Puluhan perut setidaknya telah kenyang dari gaji yang ia berikan untuk semua karyawannya itu. Ratusan orang setidaknya mendapat kesenangan setiap malam, silih berganti datang dan pergi. Namun, pada tahun kesembilan duka itu datang. Dante kehilangan ratusan orang itu. Dante melepaskan para karyawannya. Bar ditutup. Dante terpenjara di bangsal rumah sakit jiwa.

“Mana gitarku?” teriak Dante dengan suara parau. Entah ia sadar, entah ia mengigau. Teriakan itu makin sering kudengar. Dari balik jendela aku mengintipnya. “Aku ingin ciptakan lagu!” Dante berujar. “Untuk perempuanku… ia menunggu…”

Perempuan itu… Aku. Dante memang telah berjanji akan menciptakan lagu cinta untukku, calon istrinya. Lima tahun aku bekerja pada Dante. Selama itulah aku mengenalnya, dari berstatus karyawan bar sebagai waitress sampai kemudian aku bisa bernyanyi di bar bersamanya. Tahun depan, kami berencana menikah. Rencana yang tak akan menjelma nyata. Selamat tinggal, Dante.

***

Tidak ada lagi teriakan dari penghuni bangsal 11. Dante telah dipindahkan ke sel khusus. Sendiri ia di sana. Menanti kematian. Hening. Bagai tempat khusus untuk menunggu malaikat pencabut nyawa datang menjemput.  Tak ada gitar yang bisa ia mainkan seperti dulu. Tak ada lagu yang ia senandungkan kala suka maupun duka. Tak ada perempuan itu, pikir Dante. Aku ditemani sunyi.

Tuhaaan!!! Jangan tinggalkan aku di sini sendiri! Bukan suara Dante yang berteriak kencang, tapi hatinya yang menjerit lirih. Ia merasakannya. Ada yang menghampirinya. Sesuatu yang ia rasa bukan Tuhan. Sesuatu yang gelap menaunginya. Dante ketakutan.

Sialan! Kenapa aku lupakan doa kematian yang pernah diajarkan pendeta itu? Hatinya mengumpat lagi. Boleh kuciptakan doaku sendiri, Tuhan? Bukankah kau senang mendengar senandung doa umatmu? Aku akan bernyanyi, Tuhan?

Lagu kematian, terpikir oleh Dante untuk menciptakan melodinya dalam hati. Barangkali ia tak akan seperti Mozart yang bisa menciptakan Requiem yang akhirnya mendunia sepanjang sejarah. Ia hanya menginginkan sunyi pergi dari dirinya. Ia ingin menjemput kematiannya dalam harmoni lagu. Tapi tak satupun kata yang terangkai, tak satu not nada yang mampu ia senandungkan. Tuhan benar-benar telah meninggalkanku. Dante memasrahkan dirinya.

Dalam ketakutan. Dalam kegelapan. Detak-detak telah melemah. Aliran darah telah melambat. Dante merasa tubuhnya terangkat dengan pelan. Sayup-sayup ia dengarkan orkestra yang mengalun syahdu. Ketenangan akhirnya menyelimuti Dante. Ia tak sendiri.

Requiem æternam dona Dante, Domine, et lux perpetua luceat Dante.*

Ribuan malaikat bernyanyi untuknya. Tuhan tak pernah meninggalkan Dante.

(end)

*Requiem (lagu kematian) Katolik: Limpahkanlah keheningan pada Dante, Tuhan, dan biarkan sinar abadi menerangi Dante.

Nasib Jadi Janda

by Vira Cla @veecla

“Aku emoh kawin lagi!” tukas Ratna.

“Kamu masih muda, Rat.” Dian, kakak perempuan Ratna, mencoba menjelaskan. “Apa salahnya kamu terima lamaran Dimas? Jarang-jarang perjaka mau sama janda!”

“Tapi, Dimas yang bikin aku jadi janda begini! Lagian, aku juga baru bercerai dari mas Surya.”

“Harusnya kamu berterima kasih sama Dimas! Udah buka mata kami, kamu aja yang ndak bisa terima kenyataan, Rat.”

Ratna tahu Dimas mencintainya sejak dulu, sebelum ia menikah dengan Surya, hingga kini. Dimas membongkar rahasia Surya. Surya menipu Ratna, mengaku masih bujangan. Istri pertama Surya memaksa Surya menceraikan Ratna, walau Ratna sudah rela jadi istri kedua. Tapi, memang nasib, Ratna terpaksa jadi janda di usia yang belum kepala dua.