Masa Kecil

Illustration by Laura Gisela @gaulagis

oleh Regilure

T: @regilure IG: @nouvend

“Seberapa jauh kau bisa mengingat masa kecilmu?” suara dari ponselku masuk ke dalam kepalaku, memecah keheningan yang sudah dari tadi meraja di antara kami.
“Eh? Apa maksudmu?” tanyaku sambil memperbaiki posisi earphone yang hampir terlepas dari telingaku.
“Masa kecilmu. Apakah kau mengingat sesuatu tentang hidup saat semuanya masih terlihat sederhana?” tanya suara di ujung sana. Suara yang tidak kukenali siapa. Kami bertemu melalui sebuah unggahan di dunia maya. Awalnya hanya sekedar membalas komentar, namun lama kelamaan kami menjadi akrab dan mulai sering bertukar pesan.
“Apa ya…” Aku menggaruk kepalaku mencoba mengingat sesuatu dari masa kanak-kanakku. Ingatan yang sebenarnya tidak ingin kugali lagi. Ingatan yang sudah kukunci dalam sebuah peti yang tidak akan pernah kubuka lagi.
“Aku tahu! Dulu waktu aku kecil, aku pernah memarahi temanku! Saat itu adalah hari pentas seni di Taman Kanak-Kanak tempatku bersekolah dan aku ditugaskan untuk menampilkan sebuah drama pendek. Aku selalu menceritakannya kepada salah satu temanku. Tetapi dia tidak pernah bertanya apapun, hanya mengiyakan apa yang aku katakan. Menyebalkan bukan?” suara itu terus bercerita. Aku hanya tersenyum sambil duudk di tepi rooftop sambil mengayunkan kakiku. Kau tahu, model rooftop yang berupa tempat luas di atas bangunan. Aku menoleh ke bawah, melihat titik-titik manusia yang berjalan ke sana kemari.
“…. Dan kau tahu apa? Ternyata temanku itu tidak pernah peduli dengan ceritaku saat itu! Dia mengatakan bahwa dia tidak suka dengan dramaku. Lalu aku menangis sejadi-jadinya!” Dia tertawa. Aku menghela napas.
“Hei, apa menurutmu setelah orang meninggal mereka akan terlahir kembali?” tanyaku.
“Hmm.. Mungkin? Dengan begitu kita bisa merasakan senangnya menjadi anak kecil lagi, ‘kan?” jawabnya.
“Yah, kurasa cukup menyenangkan menjadi anak kecil. Hidup tanpa beban, tertawa di saat bahagia dan menangis di saat sedih. Hidup sangatlah gampang saat itu…” kataku.
“Yap, kau benar! Kadang aku merindukan masa kecilku. Omong-omong, adik sepupuku barusan datang, kurasa aku harus pergi sekarang. Bye! Jangan lupa membalas pesanku!” katanya lalu mematikan sambungan telepon.

Aku beranjak berdiri dan menghela napas. Aku memandangi pemandangan dari atas sini, melihat ke bawah, titik-titik manusia dan semua hal yang terlihat jauh lebih kecil dari atas sini.
Apakah benar ketika seseorang meninggal ia akan terlahir kembali? Aku rasa aku merindukan menjadi seorang anak kecil.
Aku lalu menutup mata dan melangkahkan kakiku.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *