Sebuah Fase

Illustration by Laura Gisela @gaulagis

oleh Regilure @regilure

“Aku bersyukur pernah jatuh hati padamu,” bisikku pelan sambil menulis kalimat tersebut di atas selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan. Suara hujan dari luar setia meramaikan malamku yang sepi ini. Gumpalan-gumpalan kertas bertebaran di lantai. Aku menyisipkan balpoinku di telinga lalu menggaruk-garuk kepala. Bingung. Aku benar-benar bingung.

Aku beranjak dari kursi lalu merebahkan diri di atas kasur. Malam ini adalah malam minggu, seharusnya aku sedang berada di mal dan bersenang-senang bersama teman-teman sebayaku. Cukup sulit untuk menjadi ‘seseorang’ di usia sepertiku. Labil, tidak gampang puas, suka membangkang, dan lain-lain. Orang-orang mengatakan bahwa ini hanyalah sebuah fase tapi semuanya sangat menyesakkan.

Aku melirik laptopku yang kubiarkan menyala di atas meja. Pesan-pesan tak terbalas. Kumpulan draf pesan yang tak pernah berhasil kukirimkan. Cemoohan orang-orang di sekolah. Fotoku yang menjadi buah bibir selama beberapa minggu ini. Aku menghela napas lalu berdiri dan bercermin.

Aku melihat pantulan wajahku. Mataku merah dan sembap. Rambutku berantakan, kaos bergambar emotikon tersenyum yang kupakai seolah mencoba menghiburku namun gagal. Aku menghela napas berat. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk.

“Gilbert, kau mau makan?” Ayahku bertanya dengan pelan dari balik pintu. Aku melirik jam dinding, waktu menunjukkan pukul delapan malam, sudah satu jam terlambat dari waktu makan malam yang seharusnya.

“Tidak,” jawabku ketus.

“Kau yakin? Nanti kau bisa sakit…”

“Aku bilang tidak.” Aku sedikit menaikkan nada suaraku. Aku bisa mendengar ayahku menghela napas berat. Aku memejamkan mata.

Mengapa semua ini sangat sulit? Hanya karena aku menyukai seseorang, aku dihakimi oleh semua orang. Bahkan yang tidak mengenalku. Aku tidak memilih untuk terlahir seperti ini, kau tahu? Kalau saja aku tidak memberitahunya saat itu setelah pertandingan basket selesai, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mungkin kami masih bisa bermain basket bersama. Aku memejamkan mataku lebih erat, dan merasakan kehangatan mengalir di pipiku. Aku menghela napas.

Aku mengambil suratku yang sudah selesai kutulis dan memasukkannya ke dalam amplop. Aku membuka pintu dan memberikan surat itu kepada ayahku sambil tersenyum.

“Tolong kirimkan surat ini besok ke alamat yang tertera, dan aku akan makan, tetapi aku ingin mandi dulu,”

“Baiklah, akan kupanaskan makanannya.” Ayahku tersenyum kecil lalu turun membawa surat itu.

Aku melangkah masuk ke kamar mandi lalu mengisi bak mandi dengan air hangat. Apakah aku akan mandi?

Mungkin.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *