Berdamai dengan Diri

oleh Riffa JP

IG: @riffa.jp

Assalammualaikum, bundaaa.. ujarku ketika memasuki rumah dan menutup pintu di belakangku.
Waalaikumsalam. Jawab bunda begitu kucium tangan kanannya. Ayo bebersih. Bunda sudah siapkan makan malam kesukaanmu.
Aku mengangguk. Sebelum aku masuk ke kamar mandi, bunda menyerahkan selembar kertas padaku.
Ada undangan reuni SMP kamu, Hana.
Aku terkesiap.
Bunda tahu perasaanmu, sayang. Tapi menurut bunda, ini sudah waktunya kamu bisa memaafkan teman-temanmu. Berdamailah dengan mereka.
Bunda memeluk diriku dan mengusap kepalaku dengan lembut.
Namun dalam lubuk hatiku, aku merasa tidak bisa. Aku masih tetap dengan pendirianku.
***

Hah! Aku benci masa-masa remajaku. Aku benci masa-masaku di SMP.
Seandainya aku bisa menghilangkan ingatanku dari masa itu saja.
Masa dimana aku tidak nyaman dengan perubahan bentuk tubuhku. Masa dimana aku tidak nyaman bergaul dengan lawan jenis. Masa dimana aku tidak bisa mengikuti trend agar dapat terlihat sama dengan teman-teman yang lain. Masa dimana aku sering dipanggil guru Wali Kelas hingga Wakil Kepala Sekolah karena orang tuaku sering tidak bisa membayar uang SPP-ku tepat waktu.
Masa dimana puncaknya adalah aku secara sadar dan tidak sadar di bully oleh teman-teman dan juga beberapa guruku.
Tak terasa air mata mengalir dipipiku. Sudah 10 tahun berlalu, tapi rasa kesal dan sakit hati itu datang lagi.
Betapa perundungan selama 3 tahun dalam masa SMP begitu merubah sebagian hidupku. Makin membuatku merasa tertindas dari tahun pertama ke tahun-tahun berikutnya.
Bahkan membuatku merasa trauma untuk memiliki seorang teman apalagi seorang sahabat. Rasa ketidakpercayaan dan ketidaknyamanan berdekatan dengan orang lain. Serta keenggananku untuk dapat bersikap hormat dengan orang yang lebih tua juga orang-orang yang berada dalam posisi lebih tinggi dariku.
Dan kini mereka mengirimkan undangan reuni lagi padaku, setelah bertahun-tahun aku menolak untuk datang.
Bagaimana bisa aku datang melenggang begitu saja ke reuni itu? Sedangkan hatiku masih terasa sakit. Sedangkan, tak ada satupun dari mereka yang mengucapkan kata maaf padaku. Setelah semua yang telah mereka lakukan padaku.
Tapi di satu sisi, aku juga sering bertanya-tanya. Sampai kapan semua rasa kesal dan sakit hati ini berakhir? Kapan aku bisa menyembuhkan traumaku?
Aku belum menemukan jawabannya hingga kini. Aku merasa tersiksa.
Apakah benar yang bunda katakan? Sudah waktunyakah aku memaafkan mereka? Sudah waktunyakah aku berdamai dengan mereka?
Kurasa yang lebih tepat adalah sudah waktunya aku berdamai dengan diriku sendiri.
***

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *