Gadis Kecil Berambut Perak

oleh: Rafya

T: @opiloph

Pada suatu hari—mungkin belum terlalu usang untuk disebut “zaman dahulu”, di permukaan batu besar di tengah padang luas, duduklah seorang gadis kecil berambut perak yang helainya sehalus gerimis. Di pipinya, air mata meninggalkan jejak kelabu, bagai sungai mungil yang hening alirnya. Di sekelilingnya, terhampar kekar hutan bambu, beradu rayu dengan bayu. Dia sudah ada di sana untuk waktu yang sangat lama, lebih lama dari yang mampu kauduga—sebab tubuhnya mulai sedikit transparan.
Berabad-abad lampau, dia menumpang di sebuah rumah di tengah hutan, bersama keluarga kecil yang bersahaja. Sang ibu dan tiga anaknya bisa melihatnya, tapi sang ayah tidak. Konon, saat kita beranjak dewasa—entah apa arti “dewasa”, kamu tahu?—mata kita kehilangan kemampuan untuk menangkap fenomena-fenomena di luar dunia trimatra. Hanya beberapa yang mampu mempertahankannya, seperti sang ibu. Dan aku. Tapi mari kita kembali pada dongeng ini.

Dulu, dia bahagia berada di sana, bermain bersama anak-anak dan membantu sang ibu memasak atau mengerjakan pekerjaan rumah. Sayangnya, manusia ditakdirkan menua, sakit, dan mati, sementara dia—sebagai peri—dianugerahi waktu yang tak berbatas. Bagaimanapun, selama rumah itu masih berdiri dan ada orang yang mendiaminya, dia merasa cukup.

Namun, penghuni terakhir pun akhirnya pergi dan dia mulai kehilangan keberadaan. Tanpa ada yang mampu dilayaninya, kulitnya semakin pudar dan tubuhnya sedingin dinding-dinding rapuh yang terkikis cuaca. Gadis itu memutuskan pergi. Tapi ke mana? Dia sudah terlalu lama tinggal di sana, dan dia tak punya tujuan lain. Di bawah purnama yang berkilau terik, dia duduk dan menangis. Air matanya mengalir di pipi.
Tentu saja, tahun-tahun sudah lama berlalu, apa yang dulu kuncup telah jadi pohon tinggi, ketika perempuan pemilik toko buku menemukannya. Dia mendekatinya, duduk di sisinya, dan tanpa basa-basi langsung bertanya, “Sungguh Banshee yang cantik. Maukah kau tinggal bersamaku?”

Perempuan berambut perak tertegun, mulutnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar, hanya isak tertahan.
“Benar, meskipun sudah dewasa, aku bisa melihatmu. Dan aku tahu kamu sudah lama merindukan rumah. Kamu boleh menetap di rumahku, meski hanya gubuk kecil di bukit, toko buku bekas yang hampir tak memiliki pembeli.”
Perempuan berambut perak menatapnya penuh harap. Dia lalu diselubungi cahaya dan lenyap begitu saja. Gadis itu—sang pemilik toko buku—hanya tersenyum. Dia yakin ada yang menantinya di rumah saat dia pulang.

Dan, begitulah, kami pun tinggal bersama.

(5-11-2019)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *