Impian

oleh Taufan Sulaeman

T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Semua mata tertuju padanya. Bak iklan televisi yang sedang tayang, dia berlenggok laksana peragawan, persis di hadapan sudut pandang seluruh pemirsa.

Sejak remaja, dia memahat tubuhnya. Ototnya kering sempurna, tanpa banyak lemak tubuh, hasil disiplin beberapa kombinasi diantara niat, motivasi, olahraga, pola makan, juga konsistensi. Usia belasan pun dihabiskannya dengan begitu banyak kegiatan berpeluh keringat, baik di dalam ruangan, maupun di lapangan terbuka.

Tiada yang instan dalam hidupnya, termasuk bagaimana para sponsor mendanai seluruh gaya hidupnya, yang melampaui standar kesehatan jasmani cukup tinggi. Tidak ada yang gratis di dunianya, semua ada harganya. Dan kisah tentang bagaimana dia pada akhirnya mendapatkan dukungan, khususnya finansial, tidak banyak diketahui oleh para pemirsa yang budiman.

Semua bermula pada malam perayaan pesta ulang tahunnya di usia kepala dua. Bergaung gema sayup suara Taylor Swift, dia bersenandung bersama beberapa kawannya di sebuah tempat karaoke ternama di ibukota.

“I don’t know about you, but I’m feeling twenty two…,” serenada mereka, tak sepenuhnya sesuai pitch control, tapi siapa pula yang menghiraukan.

Mereka semua bernyanyi dalam keadaan setengah sadar. Tiada seperempuan pun di dalam ruangan kedap suara itu. Tempat duduk berbahan kulit nan panjang melingkar, cukup untuk sepuluh orang, adalah saksi bisu kejadian pada malam itu.

Pesta pun berlanjut ke sebuah ruangan hotel yang tidak kalah besarnya. Jumlah manusia yang sama dari tempat karaoke, kini bertambah dua kali lipatnya, masih tidak ada satu pun perempuan yang bergabung ke dalam kawanan itu. Selanjutnya, adegan yang biasa tersebar viral di dunia maya pun terjadi. Semua mata di dalam kamar hotel itu, saling tertuju satu sama lain dengan pasangan sejenisnya masing-masing.

Dia sudah menyadari bahwa dirinya hanya tertarik dengan sesama lelaki sejak belia. Bukan tanpa konflik batin, tatkala sekelas menjodohkannya dengan bunga sekolah. Tiada rasa berdegup ketika beberapa perempuan bergantian jadi kekasihnya. Hingga pada malam tahun ke-22 hidupnya itu, barulah ditemukannya sang belahan jiwa. Sejak itulah, ia makin semangat memahat tubuhnya, menjaga pola makannya, dan berprasangka baik akan hidupnya. Ditengah mabuk asmaranya itu, beberapa prestasi lomba model pria hingga ajang pencarian bintang iklan susu kesehatan pun dia menangi.

Tak terasa, sepuluh tahun pun berlalu, dan impian sedekade bolong itu harus bertemu kenyataan. Kekasih lelakinya memberikan sebuah surat undangan tanpa torehan namanya, berbisik tersedu:

“I Love You 3000.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *