Justru Karena Dia Ayahku

oleh Sari Margaretta
T: @margaretta_99 | IG: @margaretta_99

Dulu aku ditimang, katanya. Dulu aku diajak bercanda, katanya. Kini, saat ku dewasa, aku menangis mengingatnya. Tangisan kekecewaan.

“Ceraikan saja laki-laki itu. Punya apa dia, Nak?” Suara ayah saat itu memekakkan telingaku. Aku menangis.
Aku diam. Aku tak berkata apa-apa. Entah ini sudah keberapa kali ayah memintaku untuk berpisah dari suamiku. Aku tak pernah tahu alasannya. Tak pernah kutemukan jawabannya. Sama seperti ayah, dia juga tak pernah bisa menerima laki-laki itu sebagai suamiku. Padahal, dulu dia memberiku izin saat aku dilamar.

“Dia tak tanggung jawab,”

“Alasannya apa? Tolong yah, Rani sudah dewasa. Rani tahu suami Rani adalah lelaki terbaik yang Allah kasih buat Rani,”

“Kamu yang banting tulang, dia cuma honorer. Laki-laki macam apa itu!”

“Aku bekerja karena passionku. Dia bertanggung jawab sepenuhnya padaku, Yah,” suaraku bergetar hebat. Bulir mengalir deras. Aku menangis tak tahan dengan ucapan kasar ayah.

“Setelah ini Rani akan mundur dari keluarga ayah. Rani akan tetap bersama Mas Danu. Maaf, Yah,”
Aku langsung berlalu. Sejak saat itu hingga detik ini aku tak mau menghubungi ayah. Rasa sakitku sungguh menusuk.
*** *** ***

“Maafkan ayahmu, Mi,”

“Tidak,”

“Maafkan dia, ayahmu benar,”

“Apa maksudmu? Kau ingin kita bercerai?”

“Tidak. Kita akan buktikan kita sukses meskipun aku pegawai honorer,”

“Justru karena dia ayahku, aku sulit memaafkannya, Mas,”
*** *** ***

Tiga tahun berlalu dengan cepat dan masih tanpa komunikasi dengan ayah. Sesekali aku telepon ibu, tapi tentu saja tak pernah menanyakan kabar ayah. Aku dan suami kini sudah punya mobil dan rumah. Kami rasa Tuhan sudah mencukupkan hidup kami. Ujian lalu adalah tahap mendewasakan kami. Meski pahit, meski mundur dari keluargaku , aku tetap jalani. . Terakhir bertemu dengan ayah di dua November lalu. Tak disengaja. Itu pun di jalan raya. Tetap sama, ayahku dingin melihat kami. Ya, dia tidak berubah. Benar saja, manusia takkan berubah meskipun waktu berputar.
*** *** ***

“Tadi ayah melihat kita. Maafkan dia, Ran,”

“Belum waktunya,”

“Apa lagi yang membuatmu enggan memaafkannya?”

“Dia tetap dingin. Kesuksesan tak membuatnya hangat kembali,”

“Tapi, dia ayahmu, Ran”

“Sudah pernah kubilang, Mas. Justru dia ayahku, aku sulit memaafkannya. Biarkan ayah sadar sendiri, Mas.

Tok..tok..tok..

Aku membuka pintu. Ayah di depanku. Dia memelukku, mulutnya tak henti meminta maaf.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *