Kapsul Waktu

oleh Riffa JP

IG: @riffa.jp

Aku sudah tidak tahan lagi menghadapi segala cobaan ini.
Kenapa masalah datang bertubi-tubi padaku? Ya Tuhan, apa sebenarnya yang Engkau rencanakan?
Bulan lalu, pertunanganku dengan Rico terpaksa harus putus di tengah jalan. Setelah kebersamaan 5 tahun kami yang ia nodai dengan perselingkuhan.
Minggu lalu, ibu masuk rumah sakit karena kanker payudara. Hingga kini, kondisinya masih belum cukup pulih pasca operasi.

Dan hari ini, ada kabar burung yang mengatakan bahwa kenaikan jabatanku akan ditunda. Alasannya, karena akan ada perubahan posisi manajemen level atas di perusahaan.
Sedangkan, tekanan pekerjaan semakin membuatku lelah secara fisik dan mental. Sungguh, bekerja di bank bukanlah passion-ku. Aku berkarir disini hanya karena masalah materi, fasilitas dan jabatan yang mereka berikan.

Sepertinya, aku butuh liburan panjang. Ingin pergi ke suatu tempat yang sepi dan terpencil. Menikmati kesendirian, melupakan sejenak hiruk-pikuk Jakarta dengan kemacetannya yang luar biasa. Dan menghentikan waktu untuk sementara.
Tiba-tiba aku teringat akan surat yang pernah kutulis dan kutanam di halaman depan rumah lama orang tuaku. Sudah cukup lama. Sekitar 20 tahun yang lalu, pada saat aku masih berusia 15 tahun.

Rasa penasaran menghampiriku. Apakah surat itu masih tersimpan dengan aman didalam tanah? Sebenarnya apa isi suratnya?
Keinginan untuk membacanya semakin menggebu.
***

Akhirnya, aku tiba dirumah yang dahulu pernah ditinggali oleh kedua orang tuaku sejak aku lahir hingga SMP, dimana Krisis Moneter terjadi dan membuat kami semua harus hijrah ke ibukota.
Rumahnya sudah berbeda. Dahulu catnya berwarna hijau daun, kini biru langit. Tanaman hias di halamannya pun berganti dengan tanaman hidroponik.

Beruntung, nenek yang menempati sangat baik. Memperbolehkanku untuk datang berkunjung. Sekedar untuk mengobati rasa rinduku dan Ibu pada rumah ini, terutama setelah Bapak meninggalkan kami 8 tahun yang lalu.
Segera aku menuju sudut halaman dan mulai mengeruk tanahnya dengan menggunakan sekop. Sampai akhirnya, terlihat sebuah kotak berwarna putih yang kemudian kubuka dengan perlahan.

Dear kamu di masa depan,
Bersyukurlah atas semua yang telah kamu dapatkan. Karena di masa lalu, hidupmu sangatlah susah. Begitu susahnya, hingga untuk makan esok hari saja kamu tidak yakin ada.
Impianmu sangat banyak. Namun aku percaya kamu bisa meraih semuanya di kemudian hari. Karena itu, bersemangatlah!
Kamu pantas mendapatkan segala yang terbaik.
Semua akan indah pada waktunya!

Aku tertegun malu. Betapa dewasanya diriku di masa lalu.
***

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *