Mungkin Bukan Sekarang

oleh Rani Amalia Busyra

T: @kekasihpuisi | IG: @kekasihpuisi

Fata membuka pintu ruangan di ujung lorong panjang di sayap kanan gedung.
“Di sini pun kalian masih bisa bersantai,” ucap Fata setelah matanya menyapu seluruh ruangan dan menemukan dua orang remaja tanggung berbaring santai dan tenang di atas meja-meja dalam ruang detensi itu, “Sembara, Sabiru.”

“Apa maumu datang ke sini, Bang? Menertawakan kami?” ketus Bara.

Fata menatap salah satu adik kembarnya itu sambil menggeleng prihatin, “Apa lagi eksperimen kalian untuk pesta itu?”

“Ramuan mengedip, ramuan tertawa, ramuan jatuh cinta,” jawab Biru polos, yang langsung disikut oleh Bara, tapi terlambat.

Fata tersenyum mengingat kejadian ketika Kepala Penasehat Kerajaan membuka sesi acara dansa sambil mengedip liar ke seluruh orang. Membuat para wanita merasa seram dan bergerak mundur satu-dua langkah setiap kali diajak mengobrol oleh lelaki itu. Tiba-tiba keningnya sedikit berkerut.

“Ramuan jatuh cinta, siapa yang meminumnya? Atau belum sempat kalian pakai?”

“Putri Alura dari Kerajaan Bernoa. Tapi sepertinya ramuan itu gagal, karena tidak terjadi apa-apa ketika dia menatapmu.”

Mata Fata membulat akan marah, “Kalian!” tapi urung, “Ah, tak apa. Toh tak terjadi apa-apa.”

“Abang menertawakan ramuan gagal kami?” gengsi Bara, “Setidaknya ramuan tertawa juga sukses besar, walau pun aku sendiri korbannya.”

Sedikit menyesal dan malu Bara mengungkit hal itu. Dia ingin mempertahankan harga diri namun malah seperti mempermalukan diri sendiri. Teringat oleh Bara ketika dia mulai tertawa tak henti dan hampir menggila. Seluruh isi ruangan pesta mulai menontonnya ketika Biru menariknya keluar dari tempat pesta itu. Kemudian entah bagaimana Raja Sabilan mengetahui perihal ramuan-ramuan racikan mereka, dan memanggil guru alkemis untuk memberhentikannya. Bara dan Biru yang menyanjung dan mengidolakan guru tersebut memohon-mohon kepada raja agar mereka saja yang dihukum asalkan posisi guru alkemis tidak digantikan oleh orang lain.

“Setidaknya Paman Aria tidak diganti,” desah Bara pelan.

Fata tersenyum. Bersyukur adik-adiknya yang nakal itu masih peduli pada orang-orang di sekitar mereka.

“Ngomong-ngomong, pertanyaanku belum dijawab. Untuk apa Abang ke sini?”

“Aku menjemput kalian. Detensi sudah selesai. Kalian ditunggu di meja untuk makan malam. Tidak perlu mandi dulu, nanti saja.”

Mata Bara dan Biru berbinar. Mereka langsung melompat dan berlari ke luar ruangan. Fata menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kedua adiknya.

***

Malam hangat. Semua orang tertidur nyenyak. Seorang putri memimpikan tangannya digenggam lembut oleh seorang laki-laki dalam sebuah ruang gelap.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *