Obrolan Malam

oleh Dini N. Rizeki
T: @nyimazzz | IG: @nyimazzzdini

“Tuhan, aku mau cerita!”

“Silakan, Anakku.”

“Eh, mau bertanya. Boleh?”

“Apa yang mau ditanyakan, Sayang?”

“Ada seseorang yang sudah cukup lama kukenal. Dia baik. Sangat baik. Dia tidak terlalu tampan. Tapi memesona dengan caranya sendiri.”

“Hmm, kau suka dengannya?”

“Iya. Hehe. Dia sabar menghadapi aku yang terlalu manja ini. Bisa mengingatkanku untuk tetap berpijak di tanah saat imajinasi dan egoku sudah terbang terlalu tinggi.”

“Lalu?”

“Dia itu pemain basket di sekolah kami, dia kaptennya. Aku juga sering melihatnya bermain gitar di halaman belakang sekolah. Kami sudah berteman sejak kecil tapi aku baru tahu kalau dia bisa memainkan gitar.”

“Dia pandai berteman?”

“Iya, temannya banyak.”

“Apa ada masalah?”

“Akhir-akhir ini dia sering terlihat kesal. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.”

“Kenapa tidak kau tanyakan langsung?”

“Tidak, Tuhan. Aku tidak bisa menemukan kalimat yang tepat. Aku takut hal itu malah akan membuatnya kesal. Aku takut dia berbalik membenciku.”

“Tidak akan ada kebencian bila saling terbuka. Prasangkalah yang akan mendatangkan kesalahpahaman.”

“Baiklah, akan aku coba tanyakan. Aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku, Tuhan. Kenapa aku merasa gelisah bila dia jauh dariku? Kenapa aku sedih kalau dia lebih asyik dengan kesibukannya daripada berbincang denganku? Aku bingung kalau dia tidak menghubungiku. Ada apa sebenarnya?”

“Katamu kau menyukainya, tentu saja seperti itulah rasanya.”

“Apakah wajar anak seumurku merasakan ini?”

“Kenapa tidak? Perasaan nyaman saat menyayangi seseorang itu bisa dirasakan oleh siapa saja dan itu wajar, Sayang.”

“Menyayangi? Aku menyayanginya begitu? Aku kira hanya suka saja.”

“Tanyakan pada hatimu, bukan kepadaku”

“Orang dewasa juga merasakan ini?”

“Semua orang bisa merasakannya, Abbey.”

“Juga papa dan mamaku yang sudah berpisah?”

“Ya, mereka juga. Tapi konsep menyayanginya sudah berbeda. Nanti akan ada saatnya kau akan mengerti.”

Abbey menghela napas. Masih banyak hal yang membuatnya penasaran.

“Satu lagi, Tuhan. Apa Kau mengijinkan malaikat-Mu itu  menemaniku makan di kantin sekolah? Hmm, besok? Sepulang sekolah? Aku ingin menanyakan beberapa hal padanya seperti yang kubilang tadi.”

“Tentu.”

Abbey tersenyum, “Terima kasih, Tuhan.”

“Nah, sekarang tidurlah Abbey. Sudah larut.”

“Boleh aku menghubungi-Mu lagi besok malam? Aku akan punya banyak cerita kan?”

“Tentu saja boleh, Abbey. Tidurlah.”

“Terima kasih lagi, Tuhan.”

“Anytime, Abbey.”

“Selamat malam, Tuhan.”

“Selamat malam.”

Abbey menutup aplikasi pesan instan di gawainya.
Logout.
Lalu memejamkan mata.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *