Sah

oleh Merlinda Yuanika
T: @d3k_linda | IG: @d3k_nda

“Ayah, jangan lupa latihan terus, ijab kabul lho ini bukan main-main,”
“Ayah tahu, itu hari penting buat anak ayah dan juga ayah sendiri,”
“Ayah tidak pernah lupa bagaimana kisah ijab Kak Wina?”
“Iya, ayah janji, ayah akan lebih bersabar,”

Ibu mengelus rambutku. Dia tahu anak perempuan terakhirnya ini sedang dalam masa serius, berdebar menuju hari sakral yang dinanti.

“Ayah akan lebih bersabar besok, kamu juga harus memberi dukungan ke ayah,”
“Siap!” Aku tersenyum, ibu menenangkan anaknya ini.

Menikah adalah ibadah terlama, seumur hidup. Bukan karena takut sendiri atau karena tekanan media sosial bahwa jomblo itu mengenaskan tanpa kebahagiaan.

“Kamu itu seperti anak kecil yang terperangkap pada tubuh dewasa. Silahkan saja kalau berani!” Aku menangkap matanya, mata Fauzan, lelaki yang sebentar lagi menjadi kawan hidupku.
“Iya pasti aku beranikan diri, test drive siapa tahu enak bisa lanjut kalau nggak ya belajar lagi,”

Fauzan menyeringai dan aku melayangkan kepalan tangan ke arahnya. Bercanda untuk sekedar mencium pipi karena aku kalah main tebak-tebakkan isi kado.

“Apa hal terbaik yang pernah papa kamu lakukan kepadamu?” Aku bertanya.
“Mmm, apa, ya?”
“Jujur,”
“Hal terbaik ketika papa menepuk bahuku lalu bilang ‘papa bangga sama kamu,”
“Aku jadi terharu,”
“Kalau ayah kamu?”
“Belum dilakukan ayah, nanti ketika dia menikahkan aku, menyerahkan aku kepada lelaki asing, ketika jabat tangan bertabur doa seribu malaikat,”
“Dia pasti akan melakukan yang terbaik,”
Aku mengangguk, tak sanggup memikirkannya, itu pasti waktu yang luar biasa.

Setiap orang punya zona waktu sendiri, punya waktu paling tepat kapan sesuatu dalam hidupnya berjalan sesuai keinginannya.

“Saudara Fauzan Akhdianto bin Susilo Yuwono,”
“Saya,”

Mataku mengembun mendengar kalimat pembuka itu, jantungku berdebar hebat.

“Saya nikah-kan dan kawinkan anda dengan anak perempuanku Meidina Khair binti Lukman Khair dengan emas kawin perhiasan emas seberat 10,10 gram dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Meidina Khair dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Airmataku membuncah, tak terbendung, semua memelukku hangat.

“SAH,”

Gemuruh suara kata sah dari seluruh tamu undangan menjadi tanda semesta telah mengamini, penghuni langit bergemuruh, seluruh doa menghujani kami.

Aku bersiap keluar menuju pelaminan tempat akad. Airmata dihapus dengan sapuan bedak dari si perias. Gaun ditata demi kelancaran berjalanku. Aku harus tersenyum, ayah hebat tanpa cela kalimat sakral ijab qabul. Itu yang terbaik. Terimakasih.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *