Subur

oleh Taufan Sulaeman
T: @KataTaufan | IG: @KataTaufan

Pasangan itu sudah menikah selama beberapa tahun, tapi belum juga seanak pun yang dikandung sang istri.

Sampai sang suami pun terpikir, apa perlu dia mencarikan donor sperma jikalau memang dia mandul, tak sanggup buat istrinya sendiri hamil. Istrinya pun tak keberatan dengan ide gila itu, selama dia tak perlu bersetubuh dengan sang pemilik sperma.

Sang suami pun teringat akan seseorang, satu-satunya lelaki yang sangat diangankannya untuk membina rumah tangga bersama. Sayangnya, di negeri heteronormatif ini, pernikahan pasangan sejenis sangatlah tidak mungkin. Pada akhirnya, dia harus menyerah pada pernikahan konvensional, terlebih calonnya yang dijodohkan langsung oleh kedua belah pihak keluarga yang bersatu.

Keduanya, sang suami juga istri, belum pernah mengenal satu sama lain, bahkan kala pesta pertunangan berlangsung. Sempat, pada pesta yang sama, sang calon suami mengenalkan mantan kekasihnya kepada sang calon istri.

“Kenalkan, ini sahabatku, namanya…”

“Putra, nice to meet you,” sapa sang mantan kepada calon istri.

“Ayu, nice to meet you too, Putra. So you’re going to be my future husband’s best man also for the wedding?” tanya sang calon istri.

I can’t promise, since have to work at the same day of your wedding,” kilahnya.

Ah, I see then. Thanks for coming, Putra.”

Congrats for you and Dimas, ya.”

Thank you, Putra. Kalau kamu kapan? I can’t wait to attend your wedding day.”

We, me and my partner, can’t having a marriage here, Ayu. Both of us are husbands, no wives included,” jawabnya penuh satir, dengan pandangan nan miris kepada Dimas.

Okay, but promise me. Wherever and wherever it is, let us know, ya.”

“I will, but can’t promise there will be any. We realize that we’re not into marriage. Actually, what we have right now, is more than enough for us. A deep committed relationship is better than a marriage.”

Dimas hanya bisa tersenyum hampa mengenang hari itu. Dan kini, dia harus menghubungi mantan kekasihnya lagi, demi bisa menghamili istrinya, dengan sperma lelaki lain.

Diputarnya nomor kontak Putra yang tak pernah berubah, dan nada sambung pun langsung disambarnya segera.

“I miss you, Dimas,” hatinya tercurah begitu deras.

Perasaannya begitu lebat, bak hujan di penghujung musim panas. Hujan yang jadikan tanah gersang subur, siap ditanami benih asmara, hingga buah hati siap dipanen nantinya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *